Strange School

Strange School
Kamar 32


__ADS_3

"Tama?"


"Aira?"


Mereka berdua saling memanggil nama secara bersamaan.


"Kamu ngapain disini?!" nada Tama seperti orang yang dikejar.


"Kam-"


Belum sempat Aira menjawab, Tama sudah menariknya lebih dulu keluar dari kerumunan pengunjung yang bersorak ria membawa Aira pada lorong ruangan.


"Kamu ngapain ada disini?!" tanya Tama lagi.


"Kamu sendiri ngapain?" Aira balik bertanya.


"Ini bukan saatnya bertanya kenapa aku disini Ra. Yang penting sekarang adalah kamu!!"


"Kamu ngapain ada disini?"


"Airaaaaaa?" seseorang memanggil-manggil nama Aira dari ujung lorong.


Aira sontak menoleh ke sumber suara.


Rupanya Bian. Lantas, Bian mendekat ke arah Tama dan Aira dengan raut wajah yang sengit.


"Ra, acaranya udah mau mulai tuh, yuk!" ajak Bian.


Aira mengangguk mengerti, hendak berjalan mengiktui Bian.


Hap!


Tama bergegas mencegah Aira untuk pergi.


Alis Aira menyatu, dahinya mengerut. Aira tetap saja kebingungan dengan sikap Tama akhir-akhir ini. Tama berusaha membuat Aira mengerti, namun Aira tetap saja tidak mengerti apa maksud Tama.


Tama memberinya isyarat agar tidak kembali masuk ke dalam dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Jelas sekali dari raut wajahnya bahwa Tama benar-benar takut sesuatu akan terjadi.


Aira menjadi bimbang, dia harus mempercayai siapa sekarang? Sedangkan wajah Tama sudah tidak bisa diragukan lagi cemasnya. Tetapi jika dia beralih pada Tama, bagaimana dengan Bian?


"Ra? Ayo!" Bian bersikeras untuk mengajak Aira masuk ke dalam. Begitu pun dengan Tama yang bersikeras agar Aira tidak ikut ke dalam.


Ra, jangan, batin Tama.


Aira yang sedang dilema itu memandang kearah Bian dan Tama secara bergantian. Selang beberapa detik untuk Aira berpikir, kaki Aira melangkah pelan kearah Tama.


Hufffhhhh.....untunglah, batin Tama lega.


Deg!!


Aira menggenggam tangan Tama erat dan melemparkan tatapan penuh arti.


"Tam, maafin aku ya. Aku harus ikut dengan Bian kali ini"


"Ra?" ekspresi yang sempat lega itu kembali cemas.


"Kamu tahu kenapa aku berani mengambil langkah ini?"


Tama hanya terdiam.


"Karena aku percaya kamu akan melindungiku" Aira mendekatkan mulutnya ke daun telinga Tama dan membisikkan kata-kata itu.


Genggaman tangan berurat Tama itu kian melepas. Tatapan mata tak ingin saling lepas. Uluran tangan yang sudah menanti digenggam itu telah Aira genggam. Tama ia tinggalkan berdiri terdiam ditempat.


Topeng mata yang sempat ia lepas dikenakan kembali begitu masuk ruangan VIP.


"Halo para tamu undangan yang berbahagia, APA KABAAAAAARRR?" teriak pembawa acara yang sangat bersemangat.


"PASTI SEHAT KAAAAAAN. Iyalaaaah kalau nggak sehat kan nggak mungkin disini, hehehehe"


"OKE!! Sekarang kita mulai langsung saja pestanya bagaimana? SETUJUUUUU. Pasti setuju dong yaaaa"


"Wuuuuuuuuuuu......." pengunjung bersorak secara kompak.

__ADS_1


"Kita hitung sampai tiga yaaaaa"


"Lah, kok pakai acara itung-itungan? Ini nggak lagi les matematika kan?" gerutu Aira kebingungan.


SATU


DUA


TI.......


GA!!!


Lap!!


Lampu yang sengaja dimatikan menambahkan rasa heran pada benak Aira.


Namun rupanya, tak hanya Aira saja. Melainkan sebagian dari pengunjung perempuan. Tunggu, kenapa hanya sebagian? Bagaimana dengan sebagian yang lainnya? Apa mereka sudah tahu dengan acara apa sesungguhnya? Entahlah.


"Ada apa ini?"


...


"Kenapa dimatikan?"


...


"Ini mati lampu atau sengaja sih?"


Terdengar bisikan-bisikan dari mereka yang tampak kebingungan.


Lap!!!


Lampu kembali dinyalakan. Namun, lampu yang saat ini berwarna merah.


Anehnya lagi, di ruangan yang seperti berwarna merah ini hanya tersisa pasangan perempuan. Lalu? Kemana para laki-laki yang telah mengajak pasangannya kesini?


"Hah? Ada apa ini?"


...


...


"Ini acara apa sih sebenarnya?"


...


Blablabla


Aira pun tak ketinggalan seperti yang lain, yang ikut berbisik-bisik mengenai pesta yang tak pasti ini.


"Loh? Bian kemana?"


"Kok tinggal yang perempuan aja yang disini?"


"Ini pesta apaan sih?"


"Untuk kalian semua wahai para perempuan, dimohon baris dengan rapi" seketika pembawa acara yang semula heboh, mengeluarkan suara yang bernada sangat rendah.


Walaupun dilanda kebingungan, Aira tetap melakukan perintah dari sang pembawa acara tersebut. Aira berketepatan berbaris paling belakang.


"Untuk tamu undangan, silahkan mengambil satu kertas secara acak" kata pembawa acara.


Sekitar 3 orang perempuan pembawa toples kaca berisi kertas-kertas itu berkeliling. Aira mengambil satu kertas dari toples kaca itu. Instruksi selanjutnya, kertas itu tidak boleh dibuka terlebih dahulu sebelum aba-aba.


"Dalam hitungan ketiga, buka bersama-sama"


SATU


DUA


TI.....


Hap!!!

__ADS_1


Aira belum sepenuhnya membuka lebar kertas digenggamannya, melainkan telapak tangan yang besar membungkam mulutnya dan terdengar bisikan.


"Jangan dibuka"


Orang itu perlahan menyeret Aira ke belakang, menuju pintu keluar. Beruntung, keadaan dalam ruangan itu sangatlah gelap sehingga apa yang mereka lakukan tidak ada yang tahu.


Aira kembali pada lorong gedung yang sama. Disini kening Aira seakan tidak bisa lagi untuk lurus. Sejak awal ia masuk gedung ini hingga sekarang, kening Aira terus mengernyit.


"Tama?" kata Aira begitu melihat siapa orng yang telah menariknya keluar.


"Ini pesta apasih Tam?" tanya Aira, menerawangi gedung.


"Kamu nggak akan ngerti kalau kamu belum membuka kertas itu dan melakukan perintah selanjutnya" jelas Tama.


"Terus kenapa kamu menyeretku keluar?"


"Ini bahaya Airaaaa"


"Tam, kamu tahu kan gimana sifatku? Semakin kamu larang aku akan semakin penasaran" terang Aira.


"Kali ini jangan cari tahu dengan apa yang terjadi. Cukup jaga diri kamu aja. NGERTI? tolong lah Ra, turuti perkataanku ini sekaliiiii aja, ya?" Tama memohon.


"Dan sekali kamu terjerat dengan ini, kamu tidak akan bisa keluar Ra" kata Tama.


"Tam" panggil Aira pelan.


"Aku percaya kamu bisa melindungi aku. Jadi aku minta, kalau ada apa-apa sama aku, aku harap kamu ada untuk aku" kata Aira yang sungguh dramatis.


"Sekarang, kamu kasih tau aku. Apa yang harus kulakukan setelah membuka kertas ini" sambungnya.


Kertas yang dililit itu perlahan dibuka oleh Aira. Begitu kertas itu terbuka separuh, disana menampilkan angka 3, dan begitu separuh kertas lagi terbuka menampilkan angka 2.


"Tiga puluh dua?" Aira terheran.


"Kamu harus memasuki ruangan yang bernomor tiga puluh dua" jelas Tama dengan nada yang tak rela.


"Dimana ruangan itu?"


"Ra, kamu serius mau melakukan ini?" Tama tidak tega melepaskan Aira.


"Tam, aku serius!" pekik Aira.


Aira sudah berdiri di ujung lorong lantai paling atas. Banyak bilik kamar yang bersandingan dan berseberangan. Mulailah Aira mencari kamar yang bernomor 32 sesuai dengan tulisan yang ada di kertas miliknya.


Ketemu!


Dengan begitu, Aira langsung membuka pintu kamar 32 tanpa ragu.


Krieeeeetttt....


Suara pintu terbuka.


Begitu Aira masuk kedalam, Aira tidak menjumpai siapapun didalam. Aira hanya sendirian di kamar itu. Hingga satu hal yang Aira sadari,


"Tunggu"


"Kenapa aku kayak nggak asing sama kamar ini ya?"


Terburu-buru Aira mengambil ponsel dari tas selempangnya.


Sebuah gambar yang menampilkan Shinta, yang mana gambar yang tersebar dari laman daring, tepat sebelum Aira bergabung dengan laman daring itu. Aira mendapatkan gambar itu dari temannya, yang tak lain dan tak bukan adalah, Henna.


"Ini persis!"


"Aku yakin ini tempat yang sama!" gumam Aira.


Jantung Aira semakin berdegup kencang dan tidak beraturan. Lantas, Aira berusaha bergegas pergi sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi padanya.


Begitu Aira membalikkan badannya,


Ciluk baa!!!


Sebanyak empat orang terlanjur masuk kedalam kamar yang Aira masuki pula. Aira tidak tahu siapa mereka. Yang Aira tahu hanyalah pakaian dari mereka masing-masing. Bahkan dari suaranya, Aira tidak mengenalinya sama sekali. Siapa mereka?

__ADS_1


Lalu, apakah Shinta mengalami hal yang sama sebelumnya mengingat foto yang tersebar di laman daring?


__ADS_2