Strange School

Strange School
Sabtu Malam


__ADS_3

Deg!!


Sebuah tangan berurat menangkap tangan Aira.


Aira langsung diam dan membeku seolah dia melakukan suatu kesalahan.


"Siapa kamu?" laki-laki itu mengulang pertanyaannya.


Menyerah, perlahan Aira menyingkap tudung kepala dan menoleh kearah laki-laki pemilik tangan berurat itu. Nampaknya, Aira tidak mengenali wajah yang ada dihadapannya kini. Aira belum pernah melihatnya.


"Kamu anak baru itu?" kata laki-laki itu.


"I...iyaa"


"Kamu siapa ya?" tanya Aira balik.


"Ngapain kamu disini?" tanyanya.


"Ini, flashdisk-ku ketinggalan di ruang bk. Makanya aku ambilnya sekarang, soalnya ini penting" Aira menjawab itu penuh ragu.


"Sepenting apa sampai kamu rela ngambil malam-malam begini?"


"Em...emangnya....kamu...harus tau...ya?" Aira bertanya dengan nada yang masih ragu.


"Sekarang urusanmu udah selesai kan?" tanyanya dengan wajah dingin.


Aira mengangguk.


"Cepat pergi!" laki-laki itu melepas tangan Aira


"Ya?" Aira menaikkan alisnya bingung.


"Pergi!" kata laki-laki yang belum Aira tahu siapa dia.


"Uhm, i...iya...iya ini mau pergi"


"Permisi"


Begitu Aira perlahan menghilang dari hadapannya, laki-laki berwajah dingin itu mendapati handphonenya yang terus bergetar menerima panggilan masuk.


"Hm?" jawabnya.


"Hm (iya)"


"Aku sudah ketemu perempuan itu" ujarnya, sembari melirik kearah menghilangnya Aira.


Di sisi lain, Aira menggerutu sendiri. Bertanya-tanya siapakah laki-laki yang barusan ia temui.


"Dia tadi siapa ya?"


"Apa iya satu sekolah sama aku?"


"Tapi kok nggak pernah lihat? Apa gara-gara sikap dinginnya itu ya?" jemari Aira mengusap dagu.


"Udah ketemu dek?" satpam itu mengagetkan Aira.


"Ehehehe kaget ya?"


"Bapak ah! Lagian gelap gelap kayak gini tiba-tiba aja datang pake senter dimuka yang kayak gitu!" ledek Aira.


"Ehehehe" bapak satpam malah cengengesan.


"Kalau gitu saya pamit dulu ya pak. Makasih udah dibolehin masuk" ucap Aira.


"Iyaaa, sama-sama. Lain kali dicek dulu kalau mau pulang" nasehat satpam.


"Iya pak, da bapak!" Aira melambaikan tangannya.


Aira kembali mengayuh sepedanya kerumah. Lagi-lagi Aira mendapati rumahnya yang sepi penghuni. Seperti biasa ayah Aira belum pulang sampai saat ini. Aira pun mendesah kesal dengan ayahnya. Kali ini Aira benar-benar naik pitam.


"Hufhh! Pulang telat mulu tapi makannya juga selalu telat kan pasti!" gerutu Aira.


Karena mengkhawatirkan ayahnya itu, Aira bergegas ke dapur dan berperang dengan alat dapur. Aira berniat membawa bekal untuk ayahnya dan berkenan untuk mengantarkan bekal itu ke kantor ayahnya bekerja.


Gedung yang tinggi serta memiliki puluhan lantai itu adalah kantor tempat Bernan bekerja. Hanya bermodalkan pakaian yang Aira kenakan tadi, Aira dengan percaya diri masuk ke kantor besar yang mayoritas penghuni disana berdandan rapi.


"Mbak, pak Bernan-nya ada?" tanya Aira pada meja informasi.


"Kalau boleh tau mbaknya ada perlu apa dengan pak Bernan?"


"Saya anaknya"


Mendengar perkataan Aira, mbak pusat informasi itu seperti kebingungan.


"Anaknya? Sepertinya pak Bernan tidak punya anak perempuan"


Aduhhh iya ya, aku kan nggak pernah ke kantor ayah. Pasti teman-teman kantornya kebingungan siapa aku.


"Maksud saya, saya anaknya pembantu dirumah pak Bernan. Saya disuruh istrinya ngantar makan malam untuk pak Bernan"


"Istrinya? Bukannya pak Bernan sudah berce-?"


Hap!!


Rekan kerja dari salah satu mbak pusat informasi itu membungkam mulut seperti ada yang di sembunyikan.


"Hah?" Aira mengerutkan kening.


"Nggak ada apa-apa mbak, biasa. Teman saya ini suka ngelantur omongannya, hehe. Silahkan ke ruangan pak Bernan mbak" kata temannya.


"Iya mbak, makasih ya"


Aira berjalan menjauhi meja informasi namun masih dengan raut binggungnya. Sedangkan dua perempuan penjaga meja informasi itu sedang meributkan suatu hal.


"Kamu gimana sih?! Ngomongin hal pribadi orang ke orang lain!!!!" temannya memukul lengan mbak yang menyambut Aira tadi.


"Ya maaf! Tapi dia siapa ya?" tanyanya.


"Iya juga ya, siapa ya? Masa iya anak pembantu istrinya. Kan udah cerai, ngapain peduli banget sama mantan suaminya?" temannya balik tanya.


Karena Aira yang masih belum bisa untuk naik lift, Aira terpaksa menaiki tangga satu persatu menuju lantai 11. Tak terbayang seberapa lelahnya Aira ketika tiba.


Tok...tok....tok...


Mengetuk pintu


"Iyaaaa masuk!" suara Bernan dari dalam.


Begitu Aira membuka pintu, Aira menjumpai ruangan kerja ayahnya yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.


"Woaaahhh!" Aira berdecak kagum.


"Aira?" Bernan terkejut dengan kedatangan Aira secara tiba-tiba.


Bruk!!


Aira menaruh kotak makan di meja ayahnya dengan keras.


"Ayah pulang malam terus tapi makan malam juga selalu telat kan?!" Aira memarahi ayahnya.


Melihat kekhawatiran anaknya itu, Bernan menampilkan senyuman kecil.


"Iya iyaaaaa ayah ngaku deh" kata Bernan menyerah.


"Yaudah ini dimakan!"


"Harus habis!"


"Yaudah kita makan bareng aja ya. Kamu juga belum makan kan?"


"Belum sih yah, hehehe"


Makanan buatan Aira malam ini terlahap habis. Karena tak tega dengan anaknya, Bernan memutuskan untuk pulang bersama Aira.

__ADS_1


"Tama kok nggak main kesini?" tanya Bernan didalam mobil.


Seketika Aira memasang wajah bingung. Bingung harus menjawab apa, yang padahal tadi sore Tama sempat datang kerumah walau dengan keadaan yang kacau.


"Sibuk mungkin yah, kan mau ujian akhir semester" jawab Aira asal.


"Oh gitu"


"Yah!!! Ada toko accesories baru loh!!!" kata Aira, beberapa kali melirik ke arah Bernan memberikan kode.


"Ngode nih ceritanya?" kata Bernan.


Aira hanya cengengesan.


"Yaaaa mampir yaa, oke? Okelaaaaah" Aira membujuk Bernan.


"Iya iyaaaaa"


"Aaaaaaa, hehehehe" Aira antusias.


Disebuah toko bertembok kaca, berlampu terang dan banyak accesories berjejeran rapi, Aira menerawangi seluruh sudut toko.


"Woaaahhh! Lucu lucu banget accesoriesnya" gumamnya.


Pada rak yang menjadi tempat bergantungnya beberapa gantungan kunci yang lucu-lucu itu Aira sambangi. Yang menarik perhatian Aira adalah gantungan kunci berbentuk bulan sabit. Bulan sabit yang memiliki pipi merona, kedua mata yang besar, serta garis senyum yang indah. Tak sadar bibir Aira pun ikut tertarik melihat gemas kearah gantungan kunci tersebut.


Namun tiba-tiba, senyuman itu sirna ketika seseorang hadir tepat dihadapannya. Lebih tepatnya diseberangnya. Orang itu telah memandangi Aira lebih dari 4 detik tanpa berkedip. Dari sinilah mood baik Aira tiba-tiba memburuk bahkan menghilang.


"Loh? Kok senyumnya ilang?" orang itu memasang ekspresi sok sedihnya.


"Senyum lagi dong!" Bian mencubit pipi Aira gemas.


"Issssss....." Aira menepis tangan yang mencubit pipinya hingga merah itu.


"Kamu mau beli apa? Ambil aja. Mau yang mana? Itu? Apa itu?" kata Bian.


"Ngapain sih disini? Ganggu aja" Aira seakan-akan ingin menerkam Bian.


"Ya suka suka aku lah! Emangnya nggak boleh?" kata Bian dengan sombongnya.


"Cepetan ambil apa aja yang kamu mau. GRATIS!!"


"Jangan bilang toko ini punyamu?!!!"


Bian menanggapinya hanya menaikkan alis dan bahu lebarnya.


"Isssss.... Tau gini aku nggak mau nginjek disini!!!" Aira mengembalikan gantungan bulan sabit itu ke tempatnya.


Aduuuhhh, sebenarnya pengen gantungan itu tapi gengsi!!!


Aira berjalan keluar dengan mood yang sudah hilang, sementara itu Bian mengambil kembali gantungan kunci bulan sabit yang sempat menarik bibir Aira itu.


"Nih! Ambil aja! Jangan sampe kamu nyesel nggak punya barang yang kamu mau!" Bian langsung memasukkan gantungan itu di saku jaket Aira.


"Makasih!" kata Aira jutek, lalu masuk kedalam mobil.


Dalam mobilnya, Aira mengambil gantungan itu dari saku dan memandanginya gemas. Gemas dengan bentuk gantungan itu, gemas pula dengan sedikit kejadian saat ia hendak membeli gantungan itu sendiri.


"Kenapa? Kok senyum senyum sendiri? Karena laki-laki yang ngasih gantungan itu?" Bernan membuka suara menyadarkan lamunan Aira.


"Hah?! Ng...nggakk...gantungannya lucu aja bentuknya, hehe"


---


Hari-hari selanjutnya Aira jalani dengan biasanya tanpa ada suatu hal yang istimewa. Di hari-hari itu juga, Aira berusaha mencari siapa dalang dari matinya Shinta namun tidak membuahkan hasil. Aira hampir menyerah karenanya.


Hingga hari Sabtu tiba. Sabtu yang cerah, sebab Aira terbebaskan dari berangkat pagi dan sekolah. Begitu Aira terbangun dari tidurnya, Aira mengawali paginya dengan bersepeda ria disekitar taman dekat rumahnya.


Awan yang cerah, burung-burung berkicauan, bunga-bunga yang bermekaran menjadi teman Aira mengayuh sepedanya.


"Hufffhhhhh.....capek juga ya ternyata" Air mengeluh begitu sampai rumah.


Aira yang kelelahan itu merebahkan dirinya diatas sofa ruang tamu, dengan deru nafas yang masih terengah-engah. Disaat itu, Aira membuka ponselnya. Disana terlihat wallpaper foto dirinya bersama Arumi, ibunya.


Di kunci layar ponselnya tersebut terdapat tulisan pemberitahuan bahwa


09.36


"Ini hari sabtu ya?"


"Kira-kira, Tama jadi ngajak jalan nggak ya setelah kejadian itu?"


"Alahhh kok berharap banget gitu ya?"


"Jelas jelas akhir-akhir ini nggak ada kontak. Mungkin sama sama gengsi untuk memulai obrolan duluan" gerutu Aira.


"Apa aku terlalu berlebihan ya?"


"Apa dia tersinggung ya?"


"Kenapa aku jadi merasa bersalah gini"


"Atau aku memang salah?"


"Aku chat duluan apa gimana ya?"


"Ahhh nggak deh! Terlanjur malu" Aira menutupi mukanya.


"Tapi kalau kayak gini kapan baikannya?" sambungnya.


Tululit...tululit...


Panggilan telepon.


Karena baru saja Aira memikirkan Tama, Aira berharap telepon itu adalah dari Tama. Aira pun terlanjur senang dan jantungnya berdegup senang.


"Aduh.... Tama bukan ya? Tama bukan ya?"


"Yesss... Akhirnya dia nelpon duluan"


Aira mengangkat telepon dengan sngat antusias. Saking antusiasnya, Aira langsung mengangkat telepon tanpa melihat nama kontak di layar ponselnya.


"Halo?" jawab Aira dengan senyum senyum sendiri.


"Ih! Tumben suaranya gemesin gitu"


Mendengar suara dibalik telepon itu, senyuman Aira seketika lenyap seperti kehilangan harapan. Aira menjauhkan ponselnya dari daun telinga dan melihat nama kontak yang sedang meneleponnya.


"Bian" tercantum dalam layarnya.


"Ck!!"


"Hilang harapanku" Aira menggerutu.


"Kenapa?!" mode juteknya kembali.


"Idihhh baru aja suara gemesnya keluar. Kok sekarang balik lagi?"


"Suka-suka lah!"


"Hari ini sibuk nggak?"


"BANGET!"


"Boleh keluar nggak?"


"NGGAK!"


"Jalan yuk!"


"OGAH!!"


"Aku udah diluar rumahmu loh!"

__ADS_1


"HA!!!!" Aira keteteran berlari keluar rumah.


Benar saja, Bian sudah berdiri didepan rumah dengan motor.


"Katanya sibuk, sibuk rebahan?" kata Bian, masih tersambung pada telepon.


"Bawa apaantuh?" Aira melihat plastik kresek yang Bian bawa.


"Aku bawain bubur ayam, hehe"


"Tau aja lagi lapar?"


"Yaudah, sini masuk!" masih berbicara melalui telepon.


Bian berjalan mendekati Aira yang berada didepan pintu.


"Kita ngomong lewat telepon itu ngapain sih sebenarnya?" celoteh Bian, yang padahal telepon masih tersambung.


"Kan kamu yang ngajarin!"


"Yaudah, kita hitung sampai tiga, nanti tutup bareng ya" kata Bian.


Aira hanya tertawa kecil melihat tingkah Bian.


"1....2....3!" Bian memberi aba-aba.


"Sini!" Aira menengadahkan tangannya, dengan maksud meminta plastik kresek hitam itu dari Bian.


Bian memasrahkan plastik hitam berisi bubur ayam itu di tangan Aira dengan tulus.


"Udah! Sekarang kamu boleh pulang" celoteh Aira setelah mendapat bubur ayam.


"Lah? Jadi kamu cuma nyari makanannya aja?"


"Nggak butuh teman makan?"


"Hmmmmm"


"Awalnya sih iya. Tapi setelah dipikir-pikir kalau teman makannya kayak gini, nggak aja deh! Babaaaay"


Aira yang hendak menutup pintu itu berhasil Bian gagalkan dengan tangannya yang mengganjal pintu. Akibatnya, Aira dan Bian bertatap muka begitu dekat.


Jedug...jedug...jedug


Kelopak mata Aira seakan membeku tak bisa berkedip, begitu juga dengan Bian yang seperti terpesona dengan aura Aira yang masih berkeringat.


"Ehemmmm" Aira berdehem menyadarkan lamunan mereka, yang kemudian langsung menjauh dari pintu membiarkan Bian untuk masuk.


Bian duduk di sofa, sementara Aira duduk di lantai agar bisa menikmati bubur ayam pemberian Bian. Sebab posisi mereka yang berseberangan, Bian menjadi bisa melihat ekspresi Aira saat sedang makan.


"Apa?!" Aira yang melahap bubur ayam merasa terganggu dengan tatapan Bian.


"Ihhh kenapa, orang nggak kenapa-kenapa. Yeeeee pede amat!" kata Bian.


"Nanti jam 7 harus sudah siap ya" kata Bian tiba-tiba.


"Hah? Kemana emang?"


"Udah ikut aja. Dandan yang cantik ya"


"Yaudah aku nggak ikut kalau kamu nggak ngasih tau kemana" Aira merajuk.


"Yaudah iyaaaa. Ke acara temen. Ceritanya semua lagi pamer gandengan. Kalau nggak bawa gandengan nggak boleh ikut"


"Idih! Acara apaantuh! Nggak ah, nggak tertarik!" kata Aira.


"Tapi kan aku tertarik. Terus aku ngajak kamu, kamu harus mau dong!"


"NGGAK!!"


"Bodo amat aku nggak peduli! Pokoknya jam 7 harus siap!"


"Maksa banget sih?!" Aira geram.


"Emang, wle!!" Bian menjulurkan lidahnya.


Sorenya, Aira kebingungan memilih baju yang cocok untuknya nanti malam.


"Aduuuuhhh pakai apaan ya?"


"Pakai dress? Ahhh nggak mau ah"


Jam 7 tepat.


Aira yang lebih memilih gaya casual itu telah bersiap menunggu kehadiran Bian.


Tin!!!


Suara klakson dari luar.


"Astaga, Ra! Kamu serius dandan begitu?" ejek Bian.


"Lah? Emang kenapa?"


"Pakai dress kek apa kek. Ini acara besar loh Ra. Ini party, pesta" kata Bian.


"Harus ya pakai dress? Kan aku nggak nyaman"


"Pokoknya harus ganti pakai dress, terus pake make up!" kata Bian.


"Ck!!" Aira berdecit kesal, berbalik arah untuk mengganti pakaiannya.


Tap...tap....tap


Suara langkahan yang dikarenakan sepatu higheels.


"Woaaaahhh!" Bian berdecak kagum melihat Aira yang sekarang.


Dress hitam yang panjangnya selutut Aira padukan dengan higheels hitam pula. Rambutnya yang ia urai, serta wajah yang sedikit ia poles. Meski begitu, Aira tidak meningglkan gelang tali pemberian Tama.


Aira nampak malu-malu saat keluar rumah dengan pakaian yang tidak biasa ia kenakan.


"Kenapa? Aneh ya?"


Sementara Bian terdiam membisu saking kagumnya.


"Bian!!" Aira menyadarkan lamunan Bian.


"Ah, ya? Yok berangkat"


Rupanya, Bian mengajak Aira di sebuah gedung privat yang tak sembarang orang bisa masuk. Bahkan ketika Bian masuk, ia harus menunjukkan sebuah bar kode dari ponselnya.


"Yan? Ini tempat apa sih kok kayak sepi banget"


"Nanti kamu pasti tahu" katanya.


Saat masuk gedung lebih dalam lagi, Aira menjumpai dua wanita penjaga pintu masuk ruangan. Dua wanita itu memberikan dua topeng mata untuk Bian dan Aira.


"Untuk apa ini?" tanya Aira.


"Udah pake aja, bawel!"


Begitu tirai yang mengantar Aira masuk ke ruangan lain itu ia lewati, Aira mendengarkan suara dentuman musik yang amat keras dan kumpulan orang yang sedang bersorak. Aira masih bertanya-tanya dengan tempat yang ia datangi ini, dan apa acara yang dimaksud oleh Bian.


Begitu banyak orang berpasangan yang juga mengenakan topeng mata seperti halnya Bian dan Aira. Aira yang masih kebingungan dengan acara apa yang sedang ia hadiri itu melewati beberapa pengunjung. Sementara Bian terhadang dengan seorang temannya dan mengobrol di dekat pintu masuk.


Begitu Aira sampai di tengah kerumunan pengunjung, Aira bertemu dengan seseorang yang menghadang jalannya. Aira dan orang itu saling bertatap heran, sementara mereka tidak bisa melihat wajah dari mereka masing-masing dengan jelas. Namun, ketika orang itu melihat pergelangan tangan Aira yang terikat oleh gelang tali, orang itu langsung meraih tangan Aira dengan ekspresi terkejut.


Rupanya, di pergelangan tangan orang yang sedang meraih tangan Aira itu juga terikat dengan gelang tali yang sama seperti milik Aira. Dari sinilah Aira pun terkejut membelalakkan matanya.


Dengan telepati yang kuat, Aira dan orang itu melepas topeng mata secara bersamaan.


"Tama?"

__ADS_1


"Aira?"


Mereka berdua saling memanggil nama secara bersamaan.


__ADS_2