
Aira Pov
Sepulangnya dari persidangan, aku meminta ayah untuk mengunjungi seseorang terlebih dahulu sebelum aku pergi membuka lembaran baru.
Sambil dituntun ayah, aku berjalan menuju tempat seseorang yang kutuju. Aku telah sampai menghampiri orang tersebut. Orang yang telah istirahat dengan tenang didalam sana. Aku mengusap batu nisan yang bertuliskan namanya berkali-kali. Aku juga sudah menaburkan bunga-bunga yang membuatnya tampak lebih segar dan cantik.
Sekembalinya dari makam, aku harus bersiap-siap lagi untuk urusan lain. Sesudah dirasa semua sudah selesai dan siap, aku duduk di ujung ranjang menghadap jendela sembari menjawab telepon.
"Iyaaa, hati-hati" jawabku melalui telepon.
"Airaaa?" Ayah memanggilku.
"Iya yah?"
"Yuk! Nanti telat!"
"Eh, udah dulu ya. Ketemu disana nanti" aku menutup telepon.
Aku membawa serta sebuah koper yang lumayan besar bersamaku. Begitu pun dengan ayah.
---
Bandara
__ADS_1
Aku dan ayah duduk di kursi tunggu. Terhitung 10 menit lagi pesawatku akan berangkat. Aku mulai gelisah dan cemas karena dia tak kunjung datang.
"Airaa, ayo!" Ayah sudah mengajakku untuk masuk, namun aku masih ingin menunggunya datang.
"I-iya yahh" ucapku lesu karena dia tidak jadi datang.
Berjalan dengan malas dan lesu.
"Airaaaaaa"
Mendengar panggilan yang melengking itupun dengan antusias aku menoleh kebelakang. Akhirnya yang kutunggu datang!
"Hennaaaaa" aku berbalik berjalan kearahnya segera.
Langsung memeluk erat satu sama lain.
"Ya ampun Airaaaa, kok kamu bisa kayak gini siiiih" Henna tak kuasa menahan tangisnya. Air matanya menetesi bahuku.
"Hen, maaf ya kalo selama ini aku ada salah sama kamu" ucapku selagi masih dalam pelukan Henna.
"Apasihhh, kamu nggak ngapa-ngapain kok. Malah aku yang banyak salah sama kamu"
"Sekarang kamu malah mau pindah jauh ninggalin aku sendirian" sedihnya.
__ADS_1
"Tahan satu tahun lagi ya"
"Tahun depannya lagi, kamu nyusul aku ke Kanada. Kita kuliah disana bareng-bareng, gimana?" Ucapku dengan semangat.
Henna yang tidak memiliki pemikiran yang sama denganku langsung terkejut senang.
"Kenapa aku nggak kepikiran itu sama sekali?" Celotehnya.
"Aku mau bangeeeet!" Henna melompat-lompat kecil.
"Yaudah, sana! Nanti ketinggalan!" Henna mempersilahkanku masuk.
Aku berjalan perlahan berbalik pada ayah yang sudah menungguku disana. Diujung pandangan Henna, aku menyempatkan berbalik badan dan melambaikan tangan. Kami berdua sama-sama melemparkan senyuman.
"TUNGGU AKU DUA TAHUN LAGI!" teriak Henna lantang dan bersemangat. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya itu. Sungguh gadis tak tahu malu. Banyak orang yang melihatnya tapi ia tetap sesantai itu.
Aku telah sampai dikursiku. Aku sangat suka tempat yang kududuki ini. Duduk dekat jendela adalah favoritku, dan pastinya juga favorit semua orang. Aku jadi bisa melihat semua yang ada diluar. Begitu pesawat telah lepas landas, aku melihat rumah-rumah warga mulai mengecil. Pandanganku dominan dengan warna langit yang cerah nan cantik. Dan kurasa, inilah saatnya aku menampilkan aku yang baru.
Perlahan aku menutup mataku, mengucap janji dalam hati. Bahwa aku akan melewati semua ini dengan tanpa mengeluh. Aku akan menutup lembaran lama, dan tentu saja bersiap untuk membuka lembaran baru. Tidak, aku tidak akan melupakan lembaran dan cerita lama itu. Namun, aku sudah melewatinya. Jadi kini saatnya, aku memulai cerita baru di lembaran baru.
Ahahaha, lihatlah! Kawanan burung itu pun menyambut lembaran baruku dengan ocehan merdu mereka.
Selamat tinggal :)
__ADS_1