
Aira Pov
Pagi ini aku menatap gambar diriku dari kaca cukup lama. Aku bertatapan mata dengan pantulanku. Aku terus berpikir. Apa aku bisa membongkar semuanya? Apa aku cukup berani?. Sempat ingin berhenti, tapi aku terlanjur masuk kedalam lingkaran itu.
"Aku bertemu Bian dulu, atau Damar dulu?" Aku menggigiti bibir bawahku.
"Kayaknya aku harus menyelesaikan masalahku dengan Bian dulu. Karena dari kemarin aku belum tahu keadaannya setelah ia mengiris telapak tangannya"
"Oh iyaa, aku juga belum ngomong apa apa sama Rida soal kemarin. Dia kan lagi marah sekarang. Aku juga harus menemui Rida berarti"
Aku keluar dari kamar mandi dan menjumpai Henna yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk sekolah.
"Yakin Ai mau masuk sekolah?"
"Kan kamu belum baik beneran keadaannya" katanya.
"Yakin, ya kalau nggak kuat ke UKS aja" jawabku enteng.
"Yaudah deh, terserah kamu aja"
"Ayok bantu aku buat sarapan!" ajakku.
"Iyaaa, nanti aku susul" Henna masih sibuk dengan persiapannya.
Author Pov
Rupanya Tama sudah siap dan menunggu mereka di ruang tengah lantai dua sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Tama? Udah siap ternyata?" sapa Aira.
"Hmmm. Henna mana?"
"Itu lagi siap-siap" jawab Aira.
"Bentar aku bikin sarapan dulu ya" pamitnya.
"Oiya, kamu mau kopi?" tawarnya pada Tama begitu masuk ke area dapur.
"Boleh deh. Jangan terlalu manis ya"
Disaat Aira mengaduk secangkir kopi untuk Tama. Terlintas dipikirannya saat Tama hendak keluar malam malam. Bibir Aira seakan ingin terbuka untuk menanyakan hal itu tapi hati Aira mengurungkannya dengan alasan Tama juga membutuhkan privasi. Tapi semakin Aira berusaha untuk melupakannya, semakin dalam rasa penasarannya.
"Tam?" bibir dan hati Aira sedang tidak bisa bekerja sama.
"Hm?"
"Kemarin malam, kamu kemana?" tanya Aira.
Tama yang saat itu sedang asyik men-scroll handphonenya itu berhenti sejenak dan melirik kearah Aira.
"Kemarin malam?" alis Tama terangkat.
"Hmmm"
"Aku lihat kamu pergi kemarin malem. Emangnya kamu pergi kemana malam malam begitu?"
"Biasaaa, Elang ngajakin ke base camp. Kalo nggak percaya ini ada buktinya kok. Dia whatsapp aku ngajakin kumpul. Nih!" Tama menarik kepercayaan Aira dengan menunjukkan percakapan whatsapp-nya dengan Elang.
"Ohhh, yaudah. Kirain mau kemana" kata Aira sedikit lega.
"Kirain aku ketemu cewek lain?"
"Hah? Ng...nggak. Siapa yang ngira begitu" Aira mulai salah tingkah.
"Mulutmu emang nggak ngomong. Tapi matamu nggak bisa bohong!" goda Tama.
"Emangnya apa urusanku kalau kamu mau ketemu sama cewek? Orang aku nggak ada urusan. Ngapain juga ngurusin?!" Aira mulai sewot.
"Siapa bilang nggak ada? Kan sebentar lagi kamu ganti marga" Tama menaik turunkan alisnya menggoda Aira.
"Tuh...tuhhh.. Pipimu merah, hahahah" godanya lagi.
"EKHEM!" Henna datang dengan deheman.
"Nggak lupa kan sama yang disini?!" sindir Henna.
"Lagian pagi-pagi udah romantis-romantisan"
"Iri bilang bos!" Tama memukul lengan Henna.
"Sakit gubluk!" umpat Henna.
Aira Pov.
Hari ini, Rida nggak masuk sekolah. Aku dan Henna sebagai sahabatnya pun tidak tau dia kemana. Dia juga tidak mengabari kami semua atau bahkan membalas pesan dari kami. Aku semakin khawatir jika semua ini terjadi karena kesalahanku. Pikiranku mulai terbayang-bayang hal yang diluar kepala.
Aku tak henti-hentinya menyalahkan diri karena perkara ini. Agar segera tenang, aku harus cepat-cepat menyelesaikannya sebelum masalah ini menjadi runyam.
Begitu bel istirahat berbunyi, aku langsung beranjak dari tempat dudukku. Tanpa berpikir panjang, aku meninggalkan kelas dan berjalan menghampiri kelas Bian.
"Ra? Mau kemana?" Henna memanggilku tapi kuabaikan.
Namun disaat aku semakin dekat dengan kelasnya, tubuhku tiba-tiba gemetar dan tubuhku kaku. Tanganku menggenggam erat rok abu-abuku.
"Ayo Airaaa. Jangan payah! Kamu sudah terlanjur kesini!" aku mencoba menyemangati diriku sendiri.
Tanpa kupanggil, ternyata Bian keluar terlebih dulu. Ia keluar bersama teman-temannya hendak pergi ke kantin bersama. Darisini aku memutuskan, ya! Aku harus bicara dengannya. Aku mulai berjalan mendekatinya tak peduli tatapan mata teman-temannya.
"Aku mau bicara" kataku dengan wajah datar.
"Noh! Di samperin noh! Senyum dulu dong!" goda teman-temannya.
__ADS_1
"Ke taman belakang aja" kata Bian.
"Ke gudang aja sekalian mantap-mantap! Bwahahaha!" goda temannya begitu aku dan Bian menjauh.
Di taman belakang, Bian langsung duduk di bangku, menumpukan kaki kanan diatas kaki kiri dengan santai.
"Ada apa?"
"Hmmm..." aku yang ragu itu ikut duduk perlahan disampingnya namun tetap menjaga jarak.
"Tangan kamu nggakpapa?" tanya ragu.
"Luka kecil doang ini mah"
"A..aku.. Minta maaf soal kejadian kemarin" ucapku seraya menundukkan kepala merasa bersalah.
"Tapi kenapa kamu bener-bener nglakuin itu? Kamu masih punya akal sehat kan?" -Aira.
"Bukannya kamu yang ngomong kalau kamu bakal maafin aku kalau aku teteskan darahku di tanganmu?" -Bian.
"Memangnya apa yang mengganggumu kalau aku tidak memaafkanmu? Aku kan nggak ada pengaruhnya dalam hidupmu" -Aira
"Awalnya memang nggak!" -Bian.
"Terus?"
Bian hanya melirik kearahku sebentar lalu beranjak dari bangku sembari menghembuskan nafas kasar.
"Kalau nggak ada lagi yang dibicarakan, kita sudahi" katanya.
"Tunggu!" aku menghentikan langkah Bian.
"Dari kemarin Rida nggak ada kabar sama sekali. Kamu pasti tahu kan?" -Aira.
"Nggak!" jawabnya singkat.
"Nggak mungkin kamu nggak tahu. Terus hubungan kalian selama dua tahun itu apa?" -Aira.
"Karena aku udah nggak ada hubungan lagi sama dia!" Bian membalikkan badannya dan sedikit meninggikan nada suaranya.
"Kenapa begitu?" aku terus melontarkan pertanyaan.
"Apa jangan-jangan selama ini kamu hanya memanfaatkan dia?"
"Kamu nggak liat tatapan tulusnya?"
"Atau jangan-jangan dia cuma kamu jadikan pelampiasan nafsu?!" aku pun sedikit meninggikan nada suara.
"KARENA KAMU!" jari telunjuk Bian mendarat tepat didepan mata aku yang siap mencolok mataku kapanpun.
"Aku?" aku kebingungan.
"Kenapa kamu harus pindah dan datang kesini, datang dihadapanku yang padahal masih banyak tempat lain dan orang lain yang bisa kamu temui?!"
"Kenapa kamu menyapaku di hari pertamamu?"
"Kenapa kamu mau mengobati lukaku?!"
"Kenapa kamu menunjukkan senyumanmu?!"
"Hah?" mulutku menganga lebar.
"Emangnya apa salahnya dengan itu?"
"Apa itu sebuah kejahatan?"
"Aku juga melakukan itu ke semua orang. Tapi jika dilihat-lihat dari semua orang yang aku perlakukan begitu cuma kamu tuh yang nggak terima" kataku.
"AKU MULAI MENYUKAIMU, DASAR BODOH!" Bian dengan nada tingginya mengatakan dengan itu secara spontan, membuat mataku terbelalak lebar.
"Aku sudah mengatakan itu pada Rida!"
"Aku mengaku padanya!"
"Kemarin aku bertemu dengannya. Dia mengobati lukaku"
Flashback On
Author Pov
Bian masih terdiam ketika melihat punggung Aira mulai menjauh. Bian pun masih terdiam ketika Tama memukulnya didepan semua orang. Bian pun tetao membiarkan tangannya meneteskan beberapa darah yang jatuh di lantai lapangan.
Yang kemudian, tiba-tiba saja Bian ditarik oleh seseorang dan membawanya keluar dari area lapangan, pergi ke UKS.
"Kamu udah nggak ada otak ya?" ucap Rida begitu mendudukkannya ke kasur UKS.
"Issss, mana lagi obat merahnya?!" omel Rida pada sekotak obat.
"Tunggu disini! Aku ambil obat merah dulu!" kemudian Rida pergi keluar.
Disaat Rida kembali, kebetulan pula Henna melihatnya. Ya, saat dimana Henna melihat orang yang mirip sekali dengan Rida masuk ke UKS dengan raut paniknya, dan tanpa Henna ketahui jika itu memanglah Rida sahabatnya.
Disaat Rida meraih tangan Bian hendak mengobati lukanya, Bian malah menepis tangan Rida.
"Nggak usah!" katanya.
"Nggak usah sok kuat!"
"Darahmu udah keluar banyak!"
"Mukamu juga pucat!" kata Rida yang khawatir.
__ADS_1
"Walaupun begini, apa dia mau memaafkan aku?" tatapan sendu Bian menatap mata Rida.
"Memangnya kenapa kalau dia tidak memaafkanmu?"
"Bukannya dari awal kamu tidak tertarik padanya selain untuk melakukan rencanamu itu?" -Rida.
"Aku mulai menyukainya"
"Aku mulai menyukainya"
"Tidak, aku menyukainya"
"Aku sudah menyukainya"
"Aku menyukainya!"
Bian terus mengatakan kalimat yang sama dengan tatapan sendu serta lamunan dan nada yang rendah.
"Aku anggap nggak denger perkataanmu itu!" Rida.
"Kita berakhir saja" ucap Bian enteng.
"Maksudmu?!" -Rida.
"Kamu memang bodoh atau nggak ada otak?"
"Justru dari awal aku tidak tertarik padamu!"
"Aku hanya melampiaskannya padamu!" -Bian.
"Apa karena Aira?" -Rida
"Kamu mulai menyukainya?!" -Rida.
Bian hanya diam dengan tatapannya yang masih sendu.
"Kamu nggak serius kan ngomong gini?!"
"Kamu nggak inget kita udah nglakuin apa aja?!"
"Kamu bahkan mendapatkan banyak uang dariku! Dari campur tangan bisnis gelapmu itu!"
"Aku bahkan terjun langsung melayani pelangganmu itu dan memberikan seluruh uangnya padamu!" -Rida.
"Aku bahkan selalu disampingmu ketika kamu mabuk dan mengantarmu pulang!"
"Tapi dari segala yang aku lakukan untukmu tidak ada satupun yang kamu sukai dariku?" -Rida.
"Sama sekali!" -Bian.
"Perasaan saat melihat senyumanmu pun nggak bisa menyamakan perasaan saat melihat senyum Aira!"
"Bahkan perasaan saat kamu mengobati lukaku dengan Aira yang mengobatinya sudah berbeda!" -Bian.
"Kamu membedakan aku dengan perempuan sialan itu?!" -Rida.
"Hahaha, benar juga, hahah" Bian tertawa kecil.
"Perempuan sialan, haha"
"Dia memang perempuan sialan yang berani membuatku menyukainya"
"Apa kamu pikir aku nggak waras?"
"MEMANG! Memang aku ini sedang nggak waras!"
"Kamu pikir aku nggak bingung gitu kenapa bisa kayak gini?!" -Bian.
"BRENGS*K!!" Rida memukul kepala Bian yang kemudian pergi dengan amarahnya yang memuncak.
Flashback Off.
Aira Pov
"Aku mengatakan padanya kalau aku menyukaimu!"
"Aku mengatakan semuanya!"
"Mengatakan alasan aku menyukaimu, bagaimana perasaanku saat kamu mengobati lukaku, bagaimana perasaanku saat kamu tersenyum padaku!"
"Aku mengatakan semuanya!" -Bian.
"HAH?!"
"BODOH!" aku membalas olokan Bian dengan nada tinggi pula.
"Kamu merusak pertemananku, SIAL!" umpatku
"Kenapa?"
"Apa itu juga sebuah kejahatan? Hah?!"
Tak memperdulikan kalimat terakhirnya, aku langsung saja membalikkan badanku hendak pergi meninggalkannya yang terlanjur gila. Aku tidak ingin berurusan dengannya lagi. Cukup hari ini yang terakhir.
Pikiranku sekarang menuju pada Rida, Rida, dan Rida yang pastinya sedang marah besar kepadaku. Aku ingin segera menemui Rida dan meluruskan semuanya.
Disaat aku mulai melangkah menjauh dari tempat Bian berdiri, aku melihat seseorang yang mengintip dibalik tembok. Aku menyipitkan mata melihat siapa orang itu.
"Henna?!" seketika mulutku menganga lebar.
Sejak kapan Henna berdiri disana? Apa dia mendengar semua pembicaraanku? Aku harap tidak. Tapi itu tidak mungkin jika dia tidak mendengarkan semuanya. Wajahnya saja terlihat sangat terkejut saat ini.
__ADS_1