Strange School

Strange School
Setitik Informasi


__ADS_3

"Raaaa, bangun. Udah pagi. Kamu nggak telat kesekolahnya?" Bernan membangunkan Aira yang masih nyenyak dalam tidurnya.


"Hah?!!" Aira tiba-tiba terbangun.


"Jam berapa nih!"


"Wuaa!!! Jam setengah tujuh?!!!"


"Edan edan edan!!! Aku telaaaaattt!!!" Aira segera beranjak dari kasurnya.


"Ayah anterin ya, nanti kamu makin telat" kata Bernan.


---


"Da ayah, belajar yang rajin jangan malas!!" ucap Aira dengan terburu-buru karena telat.


Bernan hanya tersenyum kecil melihat tingkah anaknya itu.


Pukul 06.58, satpam nyaris menutup pagar sekolah.


"Pak! Pak! Pak! Paaaaaak!" teriakan melengking Aira keluarkan.


"Hehe, makasih pak! Muahhh!!" Aira mencium jauh satpam sekolah.


Di kelas yang seperti biasa, pagi-pagi sudah rusuh, Aira mencoba mengembalikan deru nafasnya yang terengah-engah.


"Hah...hah...hah...hufffhhhh...capek banget lari sebentar aja" celotehnya.


"Untung nggak telat!" celoteh Rida.


"Eh, gimana. Kamu udah gabung laman daring?" tanya Rida.


"Udah, baru kemaren" jawab Aira.


"Mulai sekarang was-was ya" sahut Henna.


"Kenapa harus was-was?" Aira bingung.


"Karena semua anak-anak disini setelah gabung dengan laman daring itu ngerasa ada yang ngebuntutin. Kayak dimata-matai gitu. Aku juga ngalamin itu kok, Rida juga. Iya kan Da?" kata Henna.


"Kenapa aku malah penasaran sama yang buat laman itu ya? Emangnya kalian nggak penasaran gitu, coba-coba cari tahu gitu" kata Aira.


"Pernah banget!" Henna menjetikkan jari.


"Tapi ya itu Raaa! Data diri kita kesebar tau nggak!!"


"Kok bisa? Emang kalian nyari tau nggak diem-diem?" Aira heran.


"Malah kita itu nyari informasi diluar sekolah. Kita juga udah diem-diem! Tapi entah siapa yang tahu, besok paginya data diri dan foto-foto aib kita itu udah ada di laman! Gila nggak sih, malunya" jelas Henna.


"Bener banget, muka udah kayak di bejek-bejek" sahut Rida.


---


Istirahat kedua, Aira kembali pada bangku pohon beringin sekolah, membawa buku note kecil miliknya, dan membawa satu cap plastik minuman.


"Kira-kira siapa ya kandidat yang patut aku curigai sebagai pencipta laman itu?" Aira menempelkan bolpoinnya di dagu.


"Bian masuk kandidat nggak ya?"


"Okee, pertama Bian"


"Terus kedua siapa ya?"


"Hmmmm, cewek mungkin nggak sih?"


"Mungkin aja kali ya? Tapi siapa ya?"


"Cewek populer disini itu...."


"Oh! Mayang 12 IPS 4 kali ya?"


"Oke, kedua Mayang"


"Lagi ngapain?" seseorang datang dari belakang.


Terkejut, Aira buru-buru menutup buku note kecilnya dan memasang raut wajah yang gugup.


"Ng..nggaak..." Aira menyembunyikan notel kecil itu.


"Kamu nggak bawa sepeda kan?" tanya Bian, yang kepalanya masih dibalut perban.


"Kok tau kalau aku nggak bawa sepeda?"


"Pulang bareng aja"


"Itung-itung ucapan terima kasih kemarin" kata Bian.


"Tapi aku-"


"Nggak boleh nolak! Harus iya!" kata Bian memotong perkataan Aira dengan muka datarnya.


"Lah? Kok maksa?" dahi Aira mengernyit.


"Biarin lah!"


"Pulang sekolah di parkiran!"

__ADS_1


"Nggak, nggak, nggak"


"Jangan diparkiran. Yang ada timbul GOSIP!" Aira menekankan kata "Gosip".


"Yaudah, 10 meter dari luar sekolah. Gimana?" Bian menawarkan.


"Ok..oke.." Aira menjawab ragu.


"Nih!" Bian menyodorkan bungkusan coklat.


"Apanih maksudnya?" Aira heran.


"Menurutmuu?!"


"Nggak ah! Nggak suka coklat! Yang ada gigi aku ngilu!" kata Aira.


"Jadi ini ditolak nih?" Bian menaikkan alisnya.


"Eh, eh, eh!" Bian memanggil siswi kelas sepuluh yang kebetulan lewat.


"Nih, coklat. Buat kamu" dengan nada yang sedikit menggoda.


"Hissss....liat! Siapa yang ganjen sekarang?" Aira menggerutu.


"Waaaah, beneran kak?" siswi itu kegirangan sekaligus kepedean.


"Hmmm, kak!"


"Boleh min....ta nomor kakak nggak?"


"Aduh, kalau itu maaf ya. Nanti ada yang ngambek" kata Bian menolak.


Entah apa yang Bian lakukan, Bian membuang tatapannya itu pada Aira yang memang sekarang sedang memanyunkan bibirnya serta membuang mukanya, dengan maksud yang ia sebut "Ngambek" adalah Aira.


Aira yang tersadar sedang ditatap tiga pasanh mata, Bian, dan dua siswi kelas sepuluh itu membelalakkan matanya.


"Apa?!" Aira melampiaskan pada Bian.


"Tuh kan! Galak orangnya" Bian sedikit berbisik pada dua adik kelas itu.


"Yaudah kalau gitu kak, permisi. Makasih ya coklatnya" lalu pergi.


Kok tatapannya kayak gitu? Apa dia ngomong yang aneh-aneh ya?, batin Aira yang masih belum sadar jika mereka bertiga sedang membicarakan Aira.


Aira beranjak dari tempat duduknya.


"Mau kemana?" tanya Bian


"Bukan urusanmu!!" jawab Aira ketus.


"Issssss, tuhkan!! Timbul gosip lagi!!!" Aira menghentak-hentakkan kakinya kesal.


"Bodo ah!" Aira mencoba mengabaikan.


Sebelum kembali ke kelas, Aira pergi ke toilet untuk buang air kecil. Saat itu, keadaan toilet sangat sepi. Hingga tiba saat Aira hendak keluar bilik toilet, Aira mendengar seseorang yang datang dengan menghentak-hentakkan kakinya dan seperti berbicara dengan telepon.


"Kok cuma aku yang salah? Kamu juga kan?"


"Kalau kamu nggak ngajak dia di jembatan itu dia nggak akan mati konyol!!!"


Mati konyol? Siapa yang dia maksud?, batin Aira.


Karena Aira penasaran siapa gadis yang berbicara itu, Aira mengintip pada celah pintu kamar mandi. Namun, yang dapat ia lihat hanyalah sepasang sepatu putih dan kaki kanan yang terlihat memiliki tanda lahir. Untuk mennadi bukti apa yang ia lihat barusan, Aira memotret diam-diam sepatu dan kaki bertanda lahir itu.


"Terus siapa yang nyebarin foto itu di laman daring?"


Foto? Laman daring?


"Apa dia ngomongin Shinta yang tewas itu ya?"


"Jangan-jangan dia pelaku yang sebenarnya?" Aira membisik dengan dirinya sendiri.


"Kalau cuma aku yang salah ya aku nggak terima lah!!! Kita sama-sama salah!!!"


"Kenapa harus aku aja yang salah si?!!!" gadis itu seperti gelisah.


"Kalau yang terjadi di foto itu jelas-jelas bukan aku aja pelakunya!!" tak henti-hentinya gadis itu melontarkan ucapan yang penuh amarah.


"Pokoknya, bukan aku aja yang salah disini, TITIK!!" lalu gadis itu mengakhiri panggilannya dengan seseorang yang entah siapa.


"Hufffhhhh" gadis itu meniup poninya.


"Yang nyebarin foto itu di laman daring pasti cowok sialan itu!!" gerutu gadis itu didepan cermin toilet.


Cowok sialan? Siapalagi tuh?, batin Aira.


Tak lama kemudian, gadis itu pergi. Aira yang telah memastikan keadaan sudah aman terkendali, keluar dari bilik toilet. Aira keluar toilet sembari menerawang siapa gadis yang baru memasuki toilet dengan perasaan marah. Aira pun melihat satu per satu sepasang sepatu setiap ada gadis yang lewat. Namun tidak Aira temukan gadis yang ia cari.


Kembali ke kelas, Aira melamun memikirkan siapa gadis yang di toilet itu.


"Siapa ya cewek itu?"


"Apa mungkin dia menyebabkan Shinta mati?"


"Terus cowok sialan yang dia maksud penyebar foto Shinta di laman daring siapa ya?"


"Hiiiissss, sebenernya nggak penting juga sih. Aku aja nggak kenal siapa Shinta, gimana wajah aslinya. Tapi rasa penasaranku terlalu besar"

__ADS_1


"Apa aku harus ikut campur lagi agar bisa tahu siapa dalang dibalik semua ini?"


"Aaaarrrghhh, kenapa harus aku lagi sih yang mau ikut campur? Kenapa juga aku mau ikut campur? Kenapa aku? Aku kenapa?" Aira mengacak-acak rambutnya.


"Ra?"


"Ngapain?"


"Stres?" Henna melihat tingkah Aira sedari tadi.


"Gatau!!" Henna malah ikut terkena imbasnya karena hal ini. Aira menjawab ucapan Henna dengan ketus.


"Buset!"


"Galak bener, lagi ada apa sih? Ada masalah?" tanya Rida.


"Tau ah!! Sakit ni kepala!" Aira memukul kepalanya sendiri.


---


Pulang sekolah, Aira berjalan kesepanjang koridor sekolah dengan santai.


Tring...


Dari "Bian"


"Aku udah di radius 10 meter"


"Oiya lupa, aku nggak bawa sepeda dan aku dengan bodohnya ngomong kayak gitu ke Bian?" Aira menepuk dahinya.


"Gimana dong?" Aira menggigiti bibir bawahnya.


"Alah.. Yaudahlah! Itung-itung taksi gratis, ehehe" celoteh Aira.


Aira berdiri didepan pagar sekolah, menerawang suasana sekitar yang masih ramai. Aira berwaspada kalau-kalau ada yang melihatnya masuk ke mobil Bian. Kalau ada yang melihatnya, tamatlah riwayat Aira.


"Celingak celinguk, ngapain sih?"


"Masih tanya ngapain? Sebenernya ngerti nggak sih yang aku omongin dari kemarin?"


"Aku nggamau ya seisi sekolah ngomongin berita yang nggak bener tentang aku!" celoteh Aira.


"Kalau kamu bertingkah kayak gitu, serasa kita ini kayak kencan rahasia tau nggak?" kata Bian.


"Idiihhhh... Amit-amit najis mugholadoh!" Aira memasang raut wajah geli.


"Nonton yuk!" Bian berkata spontan.


"Haa?!!! Tiba-tiba?" kata Aira.


"Iyalah. Terus kenapa? Ada masalah?"


"BANYAK!!!" keluarlah senjata ngegas dari Aira.


"Tau gitu aku pulang aja naik taksi online!!"


"Emangnya kamu nggak mau naik mobil mewah kayak gini? Jarang-jarang loh yang naik mobil mewah, sama orang ganteng lagi. Iya nggak?" dengan percaya diri, Bian memainkan kerah bajunya.


"Amit amit, amit amit" Aira memukul-mukul dahinya.


Bian menginjak gas mobilnya, melaju pelan melewati jalanan beraspal yang ramai pengemudi.


"Emangnya kamu udah ngurus di kantor polisi?"


"Trus mobil kamu yang itu kemana?" Aira bertanya.


"Beres semua"


"Di bengkel lah, masa di konter!" jawab Bian.


"Nyesel deh aku nanya!" gerutu Aira.


Aira yang merasa bosan dengan udara dingin dari AC, memencet tombol agar kaca mobil terbuka.


Wusss....


Angin berhembus sangat kencang, membuat Aira yang merasakannya ingin terbang. Angin itu dengan mudahnya menyibakkan rambut Aira yang panjang. Senyuman lebar yang menyebabkan barisan-barisan gigi itu menampakkan diri, menambahkan aura baik dari diri Aira.


Garis senyumnya seakan terlihat sempurna saat sinar matahari terik mengenai dirinya. Bulu mata yang lentik, mata coklat yang indah, senyuman yang cantik membuat Bian tak henti-hentinya mencuri pandang pada Aira.


Aduhh senyumannya, batin Bian yang salah tingkah dengan sendirinya.


Di persimpangan jalan yang berjarak kurang lebih 2km dari rumah Aira, Bian membanting setirnya belok ke kiri. Dari sinilah Aira membelalakkan matanya bingung.


"Ngapain belok kiri?" tanya Aira.


"Kan aku udah bilang tadi"


"Tapi kan aku nggak bilang mau" celoteh Aira.


"Tadi aku bilang apa?" Bian balik bertanya.


"Nonton yuk" jawab Aira dengan polosnya.


"Ayuk!" jawab Bian.


"Ya-" Aira terlalu salah tingkah untuk melanjutkan ucapannya, sementara Bian senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2