
Polisi sudah mengerumuni tempat kejadian. Warga sekitar pun banyak yang berdatangan karena penasaran. Di waktu yang sama, Aira saat itu sedang berhadapan dengan dua orang polisi yang sedang bertanya beberapa pertanyaan pada Aira yang bisa dikatakan sebagai saksi. Aira menceritakan semuanya secara terang-terangan. Tak ada yang dikurangi, tak ada yang ia lebih-lebihkan. Senjata palu dan sepatu sebelah kanan pelaku telah Aira serahkan sebagai barang bukti.
Rida POV
Ditengah malam yang dingin ini, aku terbangun karena suara getaran ponselku yang terus mengganggu. Aku benar-benar kesal karena itu.
Hingga aku memutuskan untuk mengangkat telepon itu dan segera menghentikan suara getaran yang mengganggu tidurku. Mengingat suasana sekitar yang mana semua teman-temanku tertidur pulas, tentu saja aku tak ingin mengganggu mereka. Aku memutuskan untuk keluar dari tenda dan segera mengangkat telepon dari seseorang yang sebenarnya ku tunggu-tunggu.
"Halo?"
"Kenapa ngangkat telepon gitu aja lama?" Sudah kuduga dia akan memarahiku.
"Sabar lah. Aku masih sama yang lain"
"Emangnya kamu dimana?"
"Bukannya aku udah bilang kalau aku mau ke pantai sama yang lain?"
"Kapan?"
"Kebiasaan kan!"
"Besok aku jemput!"
"Jemput gimana? Jangan macem-macem. Yang ada mereka bakalan tahu!" Kataku.
"Bodo amat!"
Setelah mengatakan kata itu, dengan tanpa permisi ia menutup teleponnya begitu saja. Itu sudah menjadi kebiasaan untukku. Tetapi meski demikian, ia akan meninggalkan pesan untukku dan berhasil membuatku tersenyum sendiri.
"Selamat malam" pesannya yang diikuti dengan tanda emoji hati.
"Aku hari ini mendapat dua poin sekaligus!" Pesan baris kedua yang ia kirimkan.
"Apa kamu menikmatinya?" Balasku.
"Iyalah! Masa ya nggak!" Tulisnya.
"Udah malem, cepetan tidur! Aku beresin urusanku dulu" tulisnya sebelum ia benar-benar pergi.
Setelah saling membalas pesan dengan seseorang yang istimewa, ceilahhhh. Aku berjalan kembali ke tenda. Belum juga aku sampai ke tenda, aku melihat sinar biru yang berkelap-kelip menyilaukan mata. Rupanya ada mobil polisi yang terparkir di sana. Aku penasaran dengan apa yang terjadi, sampai-sampai polisi datang ke pantai di tengah malam begini. Begitu aku mendekat, aku melihat kerumunan warga sekitar disana. Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena kerumunan itu menutupi pandanganku.
Aku berjalan membelah kerumunan warga, melihat bungkusan plastik yang memanjang sepanjang tubuh manusia. Terdapat bau amis dan banyak darah disana. Saat itu dalam pikiranku terus bertanya-tanya.
Siapa yang melakukan ini?
Tak jauh dari tempat bungkusan mayat itu, aku melihat Aira yang sedang berbincang dengan dua orang polisi lain. Aku dengan rasa penasaranku itu berjalan menghampiri Aira dan langsung bertanya dengan kejadian ini.
Author POV
Rida yang datang dari arah berlawanan itu datang menghampiri Aira dengan menepuk bahunya pelan.
"Ra?" raut kebingungannya terlihat jelas.
"Ada apa ini?"
"Panjang Da ceritanya" jawab Aira.
"Kamu kelihatan pucet banget. Kembali ke tenda aja yuk"
"Udah selesai kan interogasinya?"
"Udah kok, cuman besok aku dipanggil lagi jadi saksi" jelas Aira.
Rida menggandeng tangan Aira kembali ke tenda. Begitu sampai, orang yang pertama kali ia cari adalah Tama. Aira terus memanggil nama Tama dikala dirinya sedang lemas dan pucat. Sayangnya, tenda yang ditempati Tama hanya ada Elang yang tidur seorang diri. Tama tak ada didalam.
"Tama kemana?" Tanya Aira pada Rida yang juga tak tahu keberadaan Tama.
"Emang ditendanya nggak ada?" Rida malah balik bertanya.
"Nggak" jawab Aira lesu.
"Kemana tuh anak. Yaudah kamu duduk aja dulu disini, ya" Rida menuntun Aira untuk duduk diatas batu besar.
Author POV
Henna yang terbangun dari tidurnya itu mendapati kedua temannya tak ada disampingnya. Wajahnya langsung kebingungan. Terlebih lagi ia paling takut jika harus tidur sendirian di tempat gelap dan terbuka seperti saat ini. Lantas Henna keluar tenda dan menghela nafas panjang begitu mengetahui dua temannya ada disana. Kekhawatirannya mulai memudar. Namun itu hanya berlaku beberapa detik saja. Kekhawatiran itu kembali mencuat setelah melihat wajah Aira yang pucat pasi dan terlihat sekali jika tubuhnya lemas.
"Lah? Aira kenapa? Kok pucat?" Henna berjalan cepat menghampiri mereka.
"Kenapa? Ada apa?" Henna merangkul Aira.
"Jangan ditanya dulu. Besok aja biar dia cerita sendiri" bisik Rida pada Henna.
"Kalian kenapa berisik sekali?" Keluarlah seorang Elang yang masih memejamkan mata sembari menggaruk kepalanya.
"Woy! Temanmu mana?" Tegur Rida.
"Giliran dicariin aja dia nggak ada" lanjutnya.
"Lah iya ya kemana dia?"
"Yeeee, ditanya malah balik nanya!" Ucap Rida.
"Disana ada apa kok rame-rame?" Suara yang mereka tunggu-tunggu terdengar.
"Tuh! Wajahnya pucat tapi masih sempet nyariin kamu!" Kata Rida.
"Kenapa?" Begitu mendengar jika Aira pucat, wajah khawatir langsung tersirat diwajah Tama.
"Nggak papa, cuma rada pusing aja"
"Mungkin gara-gara dia habis lihat mayat kalik!" Rida ceplas-ceplos.
"Mayat?!" Elang, Henna dan Tama terkejut bersamaan.
Setelah sepatah kata yang Rida lontarkan itu, terjadilah saling lempar tatapan antara Henna, Elang dan Tama. Henna menatap curiga kearah Elang, sementara Elang melemparkan lirikannya pada Tama.
"Waduh! Santai aja kalik! Kok kayak mau ngeroyok" kata Rida.
"Mayatnya siapa?" Tanya Henna.
"Buru-buru nggak?" Kata Rida
"Aku tanyakan dulu sama mayatnya" lanjutnya dengan wajah datar.
"Lagian pertanyaannya. Emangnya aku kenalan dulu sama mayatnya?"
"Masih pusing?" Tama bertanya dengan nada yang sangat rendah.
"Sedikit"
"Lang, ambilin minyak aroma terapi di tasku dong"
Elang menjalankan perintah.
"Nih!" Melemparnya kepada Tama.
Tutup botol minyak ia buka. Beberapa tetes ia tadakahkan ke tangannya. Tama memijat pelipis Aira dengan pelan. Tampak dari reaksi Aira jika ia merasa nyaman dengan pijatan kecil itu.
"Sekarang dibuat tidur ya. Biar besok udah hilang pusingnya" Tama mengantar Aira masuk tenda.
Elang POV
Aku yang sedang tidur nyenyak itu merasa terganggu dengan suara mereka yang sangat keras hingga membuat gendang telingaku bergetar.
"Kenapa kalian berisik sekali?" Keluarlah aku dari tenda dengan mata yang masih tertutup sembari menggaruk kepalaku yang tak keramas selama tiga hari.
"Woy! Temanmu mana?"
Pertanyaan itu seketika membuatku melek. Bagaimana tidak, baru saja aku keluar sudah disambut dengan nada yang lumayan tinggi. Aku melihat Aira yang pucat duduk diatas batu dan dua temannya yang sedang mengkhawatirkannya.
Jujur aku juga khawatir dengan keadaan Aira yang padahal sebelumnya dia baik-baik saja bahkan tadi masih bisa tertawa lepas. Aku berusaha menyembunyikan rasa khawatirku agar suasana tidak menjadi panik dan tegang. Aku mencoba merilekskan tubuhku.
Ditengah-tengah suasana itu, jawaban Rida yang spontan membuatku membelalakkan mata dan langsung melemparkan lirikan bola mata kearah Tama. Sebenarnya saat itu aku merasakan ada lirikan lain yang melirikku. Namun aku berusaha tenang agar suasana tidak semakin kacau.
__ADS_1
Aku menarik Tama agar segera masuk kedalam tenda dan menjawab pertanyaan yang hendak aku tanyakan padanya.
"Apaansih Lang?" Tama yang risih karena aku menarik lengan bajunya itu menghempaskan tanganku.
"Ulahmu?" Kata Elang memastikan.
Tama hanya diam, memutar bola matanya menghindari tatapan dariku.
"Kenapa kamu nggak hati-hati? Gimana kalau Aira melihat aksimu dan tahu orang seperti apa kamu itu?"
Pertanyaan yang aku ajukan itu sepertinya menjadi beban untuk Tama. Semenjak aku bertanya itu, Tama menjadi murung memikirkan pertanyaan itu dalam-dalam.
"Tapi tadi dia lihat bagaimana aku mengayunkan paluku" Tama mengaku.
"Haaaa?"
Kami mendengar suara itu. Suara yang berasal dari luar tenda. Aku dan Tama saling tatap dan memiliki pemikiran yang sama.
Henna POV
Mendengar ungkapan Rida, secara reflek mataku tertuju pada Elang. Itu seolah aku menyalahkan Elang atas kejadian itu. Tapi aku kurang yakin.
Saat itu juga, aku melihat gerak-gerik Elang yang seperti tergesa-gesa menyuruh Tama keluar dari tenda perempuan. Dalam diriku mulai tumbuh benih-benih kecurigaan. Makadari itu, aku mengendap-endap berjalan mendekati tenda mereka tanpa sepengetahuan yang lain. Aku mendengar percakapan mereka bahkan sangat jelas walaupun mereka berbisik.
Satu kalimat terakhir yang Tama ungkapkan itu membuatku tak bisa menyembunyikan rasa heran. Aku membuka mulutku dan tertegun. Kurasa mereka mendengarku karena tiba-tiba mereka terdiam tak ada suara.
"Hen!" Rida yang mendapatiku sedang berjongkok di samping tenda Tama dan Elang menepuk bahuku.
"Ngapain?" Tanyanya.
"Nggak ngapa-ngapain, hehe" jawabku mengalihkan.
"Cepetan balik tidur!" Kata Rida.
"Iy...iyaaaa, iyaaaa ini juga mau tidur kok" kataku.
Author POV
Pagi buta, Aira menyiapkan api untuk memasak mie instan. Sementara yang lain, masih terlelap didalam tenda.
"Udah bangun, Ra? Udah enakan?" Henna berjalan menghampiri Aira sembari mengucek matanya yang masih lengket.
"Udah"
"Heyooooo everybodyyyyyyy"
Datang suara gemuruh yang mengejutkan semuanya. Seseorang yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan sekaligus ajakan. Tahu-tahu datang gitu aja.
"Bian?" Aira mengernyitkan dahi tak menyangka jika Bian datang ke tempat camping mereka yang padahal tidak ada satupun yang mengajak ataupun memberitahu Bian.
***
"Besok aku jemput!"
"Jemput gimana? Jangan macem-macem. Yang ada mereka bakalan tahu!"
***
"Ternyata kalian camping disini?" katanya.
"Kok...kok kamu bisa tahu?" Aira mendadak gagap.
"Wahhhhh lagi bikin mie yaa? Mau dong!" Bian merebut spatula dari tangan Aira.
"Pagi-pagi kok udah berisik aja sih?!" Keluarlah Tama dan Elang dari tenda.
Mati aku, kalau mereka sampai berantem disini gimana, batin Aira.
"Ngapain ada disini?!" Tama mulai emosi.
"Suka-suka aku dong!" Dengan percaya diri Bian merentangkan tangan dan membusungkn dadanya.
Melihat tingkahnya itu, semakin membuat Tama geregetan.
Untungnya, Aira yang menyadari itu dengan sigap menggenggam tangan yang mengepal dan membisikkan lembut di telinganya.
Setelah bisikan dari Aira itu emosi Tama memang sempat mereda. Tetapi ternyata, Tama lebih memilih meredamkan emosinya sendiri dengan menjauh dari Bian. Tama berjalan pergi begitu saja tanpa memberitahu kemana.
"Tama?!" Panggil Aira.
Melihat Tama pergi, Aira melirik kearah Elang dan memberi isyarat, apakah dia harus menyusul Tama atau diam disini saja. Ternyata Elang menyuruh Aira untuk menyusul Tama dan menenangkannya. Baiklah, Aira menuruti perintah Elang untuk menyusul Tama.
"Aarrrggghhhh!!!" Ranting pohon yang ada dihadapannya itu ia tendang sebagai pelampiasan emosi.
"Benar! Tendang aja semua pohon-pohon disini, daripada lihat kamu berantem lagi, terluka lagi" Aira menyilangkan kedua tangannya.
"Kenapa dia bisa tahu kita ada disini?" Tanya Tama sedikit emosi.
"Aku juga nggak tau tuh!" Jawab Aira enteng.
"Udahlah yuk, aku lapar nih!" Aira memegangi perut.
Tama menuruti perkataan Aira untuk kembali ke tenda dan menahan emosinya sejenak.
"Bomnya udah jinak?" Begitu melihat Tama yang kembali bersama Aira, Bian lagi-lagi berusaha menyulutkan api.
Tentu saja itu membuat Tama geram. Kepalan tangannya seperti hendak terbang mendarat kearahnya.
"Nggak!" Dengan sigap Aira menangkap tangan itu.
Suasana hari ini menjadi berbanding terbalik daripada suasana kemarin. Saat ini suasana menjadi hening dan tegang karena dua diantara mereka sedang tidak akur. Aira yang benar-benar tidak tahan terjebak dalam suasana ini mencoba mencairkan kembali dengan mengajak mereka bermain.
"Hmmmm, gimana kalau kita main truth or dare?"
"Nah! Boleh juga tuh! Daripada diem-dieman gini kan nggak enak!" Sahut Rida.
"Oke kalau gitu, kita taruh botol ditengah sini, lalu diputar. Yang ditunjuk sama botol ini berarti harus memilih truth atau dare yaaa" jelas Aira.
"Satu....dua....tiga"
Botolnya berputar, dan....
hap!
Ujung botol menunjuk Henna sebagai pemain pertama.
"Hah?! Aku?" Henna terkejut.
"Hmmmm, truth aja deh!"
"Siapa cowok disini yang paling mendekati kriteriamu?" Tanya Rida.
"Hah?! Cowok disini?" Henna memandangi satu persatu wajah dari Elang, Tama, dan Bian.
"Hmmm....Bian aja deh! Soalnya yang dua ini nggak bisa kupilih!" Jawab Henna pasrah.
"Kok gitu? Emangnya apa ada yang salah dari kesempurnaan kita?" Tama mengusap dagunya dengan percaya diri.
"Justru itu, kalian tuh terlalu sempurna! Nggak bisa akutu, nggak kuat!"
"Oke lanjut! Kita putar lagi botolnya" kata Aira.
Berputar, dan,
Hap!
Botol itu berhenti menunjuk Aira.
"Truth!" Kata Aira.
"Aku itu apa sih untukmu?" Tama bertanya.
"Hmmmm, sahabat?"
Mendengar jawaban Aira wajah Tama menjadi murung.
__ADS_1
"Sahabat hidup, ehehe" lanjut Aira disertai tertawa kecil.
"Ehem! Ehem!!! Ehem!!!" Semua menggoda Aira dan Tama.
Selepasnya bermain, mereka bersiap untuk membubarkan tenda, memasukkan barang mereka masing-masing kedalam tas, serta membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitar mereka. Tak terkecuali dengan Bian. Bian yang datang paling akhir dan tak membawa barang apapun itu turut membantu mereka memunguti sampah dan membubarkan tenda.
Saat membantu membubarkan tenda anak perempuan, gerak-gerik Bian terlihat berusaha mendekati Rida yang saat itu juga sibuk dengan tenda.
"Aku tunggu di mobil" bisik Bian pada Rida.
"Hah? Sekarang?" Jawab Rida dengan berbisik juga tentunya.
Bian mengangguk mengiyakan.
"Guys! Aku balik dulu ya, maaf nggabisa bantu banyak. Makasih udah diijinin gabung walau cuma bentar. Duluan yaaaa" Bian melambaikan kedua tangannya.
"Iyaaaa, hati-hati yaaaa" jawab mereka semua hampir bersamaan, namun Tama dalam pengecualian.
Begitu sekiranya Bian telah sampai pada mobil yang terparkir, Rida menyusul.
"Aku kebelet pup nih! Pasti gara-gara makan mie pedes banget tadi. Bentar ya" Rida berakting memegangi perutnya.
"Iya iya udah sana, keburu gembol disini" kata Henna.
Rida POV.
Sebenarnya aku ragu untuk menyusul dia ke mobil disaat mereka sedang sibuk mengurus tenda. Sebab, aku takutnya mereka malah menanam curiga padaku dan mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi entah mengapa aku selalu tak bisa menolak permintaannya.
Aku mencari alasan untuk pergi menyusulnya. Aku pakailah cara yang klise itu. Tapi untungnya mereka mempercayaiku. Kupegangi perutku untuk menumbuhkan bumbu meyakinkan. Mereka tak mencurigaiku . Aku yang lega dengan itu langsung menghela nafas ketika sudah tak berada di pandangan mereka.
Dan benar, dia sedang duduk di kursi pengemudi menungguku datang. Pintu mobil itu kubuka, dan masuklah aku kedalam.
"Ada apa?"
"Mereka tahu nggak?" Tanyanya.
"Nggak. Emang kenapa sih kamu minta ketemu sekarang? Udah dibilang nggakusah nyusul"
Author POV
Saat mereka memunguti sampah, mereka merasa ada yang kurang. Ternyata kantong plastik mereka kurang untuk menampung semua sampah mereka.
"Aku ambilin di mobil dulu deh" Aira mengajukan diri.
Disaat Aira hampir sampai di tempat mobilnya terparkir, Aira melihat Rida sedang berada didalam mobilnya Bian bersama Bian tentunya. Aira bertanya-tanya dengan hal itu.
"Bian belum pulang?"
"Rida ngapain di mobilnya Bian?"
"Mereka ngomongin apa kok kayak serius gitu?"
Rida POV
"Siap-siap nanti terima hukuman dariku!" Katanya dengan senyum smirk membuatku merinding.
"Hukuman apa? Aku kan nggak ada salah"
"Kamu kan belum pamit ke aku kalau mau camping sama yang lain"
"Ya ampun udah! Aku udah pamit ke kamu, iss!" Aku mulai kesal.
"Yang harusnya dapat hukuman itu kamu!"
"Kok aku? Apa salahku?"
"Emangnya aku bodoh? Aku buta? Aku lihat kamu lagi nglihatin Aira dengan senyuman nyengir dan tatapan matamu yang biasanya kamu tujukan ke aku!" Aku mengungkapkan semuanya.
"Apa artinya itu?" Tanyaku dengan cemberut.
"Dipikir aku nggak lihat apa? Kamu ngelihatin Aira kayak gitu. Mata tuh nggak bisa bohong, ditambah lagi kamu reflek smirk kan wak-"
Belum rampung aku menghabiskan kalimatnya, tiba-tiba saja Bian mendekati wajahku dan,
Hap!
Dia menciumku. Dia mencium bibirku. Tidak, tidak hanya itu. Dia melumatnya. Ah sial, aku terlalu larut dengan suasana ini. Aku seperti tak bisa melepasnya. Kuakui aku suka yang seperti ini. Oh tidak, dia sangat agresif saat ini. Dia memegang leherku dengan kencang seolah tak ingin lepas.
"Hmmm...hmmmm..." Aku mencoba menasehatinya namun apa daya dia tidak mau melepaskan ku.
Kudorong badannya agar menjauh dan melepaskan ciumannya. Tapi dia tetap melakukannya. Aku tak bisa menahannya. Akhirnya aku sendiri yang melepaskan ciumannya itu dan memalingkan wajah darinya. Nafasku terengah-engah karena nafas yang sempat tertahan beberapa menit karena ciuman agresif darinya.
Bug!
Kupukul dadanya.
"Hampir mati aku kehabisan nafas!. Lagian kalau yang lain lihat gimana?" Tegurku.
Aira POV
Aku berdiri pada radius kurang lebih 10 meter dari mobil. Aku melihat gerak-gerik mereka yang sedang membicarakan sesuatu. Namun sikap mereka seperti ada sesuatu yang lebih dari sekedar adik kelas dan kakak kelas. Mereka seperti memiliki hubungan spesial.
Aku terus memantau dari jarakku ini. Terlihat jelas jika Rida sedang cerewet dan memasang wajah cemberut. Dia sedang ngambek.
Dan,
Hap!
"Woahh!!!"
Aku tak menyangka mereka akan melakukan itu. Aku melihat pasangan yang sedang berciuman didalam mobil. Terlebih lagi, pasangan itu adalah sahabat dan kakak kelasku. Tentu saja aku terkejut. Bagaimana tidak, aku tidak pernah melihat momen mereka bersama-sama, aku juga tidak pernah mendengar kabar mereka berpacaran atau tidak. Bahkan saat itu, ketika kita bertiga melewati kelas Bian dan bertepatan Bian ada didepan kelas, mereka terlihat cuek begitu saja seperti orang yang nggak kenal dan nggak terjadi sesuatu diantara mereka. Tahu-tahu, aku melihat mereka sedang berciuman sekarang. Sungguh mengejutkan.
"Kenapa jadi aku yang berdebar sekarang?" Gerutuku ketika melihat mereka masih ciuman.
"Uh! Gila! Agresif banget dia!" Gerutuku lagi.
Benar-benar diluar dugaan. Rida yang ceria dan terkadang kekanak-kanakan itu telah berani melakukan itu.
Rida POV
Aku kesal padanya. Dia selalu menganggap remeh semuanya. Aku selalu bilang hati-hati karena bisa saja yang lain tahu. Tapi dia selalu menjawab "Aku udah hati-hati, udahlah nggak bakalan ada yang tahu!".
Aku benar-benar kesal. Aku ngambek padanya.
"Iyaudah iyaaa, lain kali aku hati-hati. Lagian tadi aku nggak tahan lihat bibir kamu yang kering" godanya.
Bug!
Aku yang tersipu sekaligus salah tingkah memukul lengannya.
"Udah sana pulang!"
"Iya iyaaa, yaudah aku balik dulu ya"
"Hmmmm"
Aku pun turun dari mobil.
"Daaaa" ia melambaikan tangan.
Sudah berapa menit aku pergi meninggalkan mereka? Aku takut mereka semakin curiga karena aku yang pergi pamit pup itu lama kembali. Kalau mereka menanyaiku, harus kujawab apa? Makadariitu, sebelum semakin memakan waktu, aku kembali ke tempat mereka.
Aku berjalan santai, namun disisi lain aku kembali mengingat peristiwa di mobil tadi dengan perasaan senang dan malu-malu. Sepertinya pipiku sekarang sedang memerah. Aku tertawa kecil karena malu mengingat itu.
Tapi tiba-tiba saja, ingatan itu dihancurkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri dibalik semak-semak.
"Woaaa!!!" Dia mengagetkanku.
Aku langsung keringat dingin begitu mengetahui Aira yang berdiri disana. Dikepalaku penuh dengan pertanyaan "Apa dia melihat semuanya?", "Apa dia sudah tahu antara aku dan dia?".
Saat itu Aira memasang muka yang datar namun menatapku tajam. Dia terlihat akan memarahiku.
"Heh!" Aira memukul lenganku.
"Ada apa diantara kalian hah?!"
__ADS_1
Oh tidak, berarti dia melihat semuanya. Bagaimana ini? Harus kujawab apa?.