Strange School

Strange School
Bos?


__ADS_3

Author Pov


"Kalian ngapain bisa ada disini?" tanya Aira.


"Tahu darimana?"


"Sedangkan kalian tidak mengangkat teleponku" kata Aira.


"Hahhhh.....huffffhhhh...." sementara Bian, Tama dan juga Elang tanpa disadari menghembuskan nafas lega secara bersamaan.


"Hen, telepon polisi sekarang" pinta Aira pada Henna yang sedari tadi berusaha menutup mata agar tidak melihat dua mayat yang tergeletak.


"I...iiyaa.. Bentarr..." jawab Henna gemetar.


"Udah enakan belum?" Aira bertanya lembut pada Rida.


"Aku takut" ucap Rida lirih dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Nggak papa, udah ada kita kita, oke?" Aira membenarkan helaian rambut Rida yang menutupi wajahnya.


"Nanti kalau udah tenang, baru kamu cerita semuanya" Aira mengusap-usap kepala Rida.


Polisi dan beberapa petugas forensik telah tiba. Mereka melakukan tugasnya dengan baik. Sebelum itu, mereka yang ada disana, Aira, Henna, Rida, Elang, Tama dan juga Bian diminta untuk keluar terlebih dulu agar tidak mengganggu petugas.


Tak hanya polisi dan forensik, tetapi juga ada ambulance yang terparkir didepan rumah Rida. Mereka membawa Rida yang masih berantakan itu untuk duduk di mobil ambulance. Sementara keadaan luar rumah sudah banyak tetangga-tetangga yang ramai ingin menyaksikan.


"Minum lagi minum lagi" kata Aira menyodorkan botol minum.


"Lagian gimana ceritanya sih Da?" Henna menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Rida hanya diam melemas, tatapan mata sayunya itu kemudian ia lemparkan pada Henna seolah mengatakan ia tidak suka pertanyaan yang Henna lontarkan. Lantas Aira menempelkan jari telunjuk ke bibirnya memberi isyarat pada Henna untuk diam saja tidak bertanya yang membuat Rida kepikiran lagi.


Rida masih dalam kondisi yang sama. Bahkan, tubuhnya semakin lemas ketika ia mengetahui tubuh kedua orang tuanya sudah dibungkus dengan kantong mayat. Rida ambruk kearah Aira yang segera ditangkap oleh Aira.


"Mama..."


"Papa....hikss..." Rida segera merangkul Aira dan bersandar di pundak Aira untuk menumpahkan air matanya.


"Udahhh, udah, tenang" beberapa kali Aira membenahi rambut Rida yang mengganggu pandangan Rida.


Mereka membawa Rida ke rumah sakit karena syok yang masih dialaminya. Aira, Henna dan Rida naik mobil ambulance. Tama, Bian dan Elang naik mobil membuntuti ambulance. Sementara itu, polisi dan petugas yang lain masih melanjutkan penyelidikan di TKP.


Dirumah sakit.


Mereka semua sedang menunggu dokter yang melakukan tindakan di ruang tunggu.


"Malem ini kita temenin Rida dulu ya" ucap Rida pada Henna.


"Hmmmm" Henna mengangguk mengiyakan.


"Biar aku aja" Bian mengajukan diri.


"Kalian istirahat aja" lanjutnya.


"Ahh, tapi..." ucapan Rida terpotong.


"Nurut aja!" sahut Tama yang berdiri bersandar di dinding menyilangkan tangannya.


"Hari ini kamu pulang, istirahat!" timpalnya.


Daripada berantem lagi disini iyain aja deh, batin Aira.


"Iyaa" jawab Aira lesu.


Rida telah dipindahkan ke bangsal. Mereka semua pun masuk ke bangsal untuk berpamitan pulang karena ini sudah larut.


"Ridaa, aku turut berduka yaa" Aira menggenggam tangan Rida.


"Aku juga ya Daa. Kalo butuh bantuan lagi jangan sungkan sungkan"


"Aku makasih banget yaa. Maaf udah ngrepotin kalian" -Rida.


"Kita pulang dulu ya. Besok kita kesini lagi" -Henna.


"Bian, duluan ya. Jagain temenku baik-baik" -Henna menepuk bahu Bian.


Tama dan Elang juga berpamitan dengan Bian. Namun tidak dengan Aira. Suasana Aira dan Bian sangat canggung. Karena itu, Aira hanya sedikit membungkukkan badannya memberi salam. Saat mereka hendak keluar, tiba saja Rida memanggil.


"Tama!" panggil Rida. Tak lupa, dengan lirikan liciknya.


Tak hanya Tama yang menoleh karena panggilan Rida. Tapi juga yang lain. Bian, Tama, Elang, Aira, Henna, semuanya. Mereka menengok kearah Rida dengan ekspresi bingungnya.


Tama mengernyitkan dahinya.


"Kamu nggak sadar atau emang bodoh si?!"


"Maksudmu?" Tama menaikkan alisnya sebelah.


"Kamu nggak sadar ada yang berbeda hari ini?" nada Rida seperti menyindir, melirik kearah Aira lalu melemparkan lirikannya ke Bian.


Sadar akan sindiran itu, Aira menjadi gugup. Ia melirik kearah Henna dan ternyata Henna pun melirik keadah Aira mengkhawatirkan hal yang sama.


"Nggak usah basa basi!" -Tama.


"Hahhhh.... Kadang aku kasihan juga ya sama kamu" Rida membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegap.


"Kamu ngomongin apa sih?! Bisa nggak langsung ngomong ke intinya? Buang-buang waktu!" -Tama.


"Okeee...okeeee kalau kamu maunya aku ngomong langsung, okeeee... Tapiii... Pertanyaannya, siap nggak?" Rida menurunkan kaki, menapakkannya ke lantai.


"Da, mungkin kamu lagi banyak pikiran. Udah langsung istirahat aja" Henna mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Cih, hahah! Jadi diantara kalian hanya dia yang nggak tau?" Rida memaksudkan kata "Dia" untuk Tama.


"Maksudmu apa? Apa yang nggak aku tahu?" Tama mengerutkan dahi.


"Emangnya ada apa?" Tama melemparkan pertanyaan itu pada Aira.


"Hah?" Aira tersentak bingung menjawab apa.


"Uhm...uhm... Nggak ada apa-apa" jawab Aira sedikit terbata-bata.


"Jangan bohong!" tegas Tama.


Aira yang takut jika Tama marah itu hanya menunduk gugup.


"Mending sekarang kalian istirahat. Biar Rida juga istirahat. Ini udah malam" Bian menengahi mereka.


"Jangan nambahi masalah!" Elang berbisik pada Tama dan menariknya agar bisa segera pulang.


Elang dan Tama yang hendak keluar bangsal itu tiba saja menghentikan langkah karena terkejut akan kalimat yang Rida sampaikan.


"Aira main belakang!" sontak semuanya menoleh kerah Rida yang mengatakan itu dengan lantang.


"Sama....." Rida mempermainkan rasa penasaran mereka dengan melirik kearah Bian dengan liciknya.


Tentu saja Tama memahami lirikan itu. Lantas, Tama pun menatap tajam Bian.


"Apa bener?" melempar lirikan itu ke Aira.


"Ng...nggaak. Aku nggak ada apa apa" Aira menggoyangkan tangannya menandakan tidak.

__ADS_1


"Emangnya kenapa? Ada urusannya sama aku?" jawaban Tama diluar ekspektasi semuanya.


"Kamu pikir dengan Aira terus bersamaku dia nggak bisa menjalani kehidupannya sendiri gitu? Aku berhak mengatur hidupnya gitu? Emang aku ini siapanya, hah? Hahah, udahlah. Tutup mulutmu, baunya sampe sini!" Tama menutup hidungnya.


"Ati-ati aja. Pokoknya aku udah beri peringatan ya, haha!" Rida menyeringai.


Entah mengapa, Aira menjadi sedikit murung semenjak itu. Sepanjang jalan koridor rumah sakit pun Aira menjadi banyak diam. Apa yang dia pikirkan? Terlebih, suasana pun canggung karena ucapan Rida yang tadi. Begitu juga dengan Tama yang tidak bertanya apapun pada Aira. Tama hanya terus berjalan membelakangi Aira.


"Masuklah, aku antar kalian!" kata Tama dengan datarnya seperti tidak ikhlas memberi tumpangan pada mereka.


"Uhmm... Aku...." Aira yang tidak ingin suasana semakin canggung berniat untuk menolaknya. Tapi apa daya, Tama memasang tatapan tajam dan, "Ck!" keluar dari mulutnya. Baiklah, Aira menurutinya karena ia juga takut Tama marah.


"Uhm... Akuu balik ke rumah Rida aja deh, soalnya motorku masih disana" kata Henna.


"Besok!" tiba-tiba Elang juga menunjukkan ekspresi yang sama dengan Tama. Dimana ia menoleh ke arah Henna dan menatapnya tegas.


"Hah?" Henna gugup.


"Oh...i...iya..." pasrahnya.


Kenapa jadi dia yang ngatur?, batin Henna.


Mereka sampai pada rumah Henna. Rumah yang sudah gelap karena mungkin orang rumah sudah tidur.


"Makasih yaaaa. Da Ai, sampai jumpa besok!" Henna melambaikan tangan.


Aira pun membalasnya. Tapi, dengan senyum kecutnya. Mengapa? Karena ketakutannya kembali muncul disaat Henna sudah pergi. Ketakutan akan kemarahan Tama yang mungkin saja ia pendam selama masih ada Henna dan bisa meluap setelah Henna pergi.


Aira hanya memandang keluar jendela sembari memainkan jemarinya. Sesekali ia juga mengigiti bibir bawah, serta menggembenug-gembungkan pipinya karena gugup yang luar biasa.


Kenapa dia bilang gitu ya? Apa dia udah bosen denganku yang keras kepala? Apa dia udah capek menasehatiku?, batin Aira.


Tama mengantar Aira terlebih dulu. Mereka juga sudah sampai didepan rumah Aira yang gelap gulita. Sampai sini pun, tidak ada pembicaraan diantara mereka. Tama diam, Aira pun diam. Apalagi dengan Elang yang terlihat cuek saja dengan sekitarnya.


Saat Aira turun pun, Tama tidak menoleh bahkan melirik kearah Aira untuk mengucapkan selamat tinggal. Aira semakin bingung harus berbuat apa. Tapi yasudahlah. Aira harus tetap mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal walaupun dia tidak yakin Tama akan meresponnya.


"Makasih" Aira berusaha tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya.


"Nggak mau mampir dul-" ucapan Aira terhenti karena mendengar mesin mobil yang menyala ditengah-tengah pembicaraannya.


Aira berfikir, semarah itukah Tama padanya? Bahkan Tama tidak ingin melihatnya sekilas atau bahkan mengarahkan tubuhnya pada Aira. Tama menginjak gas pergi begitu saja tanpa berpamitan. Sementara Aira menghela nafas kasar begitu Tama menjauh dari rumahnya.


Aira memasuki rumah dengan langkah yang lesu.


"Hahhhh, gini amat ya hari ini?" Aira merebahkan tubuhnya ke kasur.


"Tadi, kenapa Rida bisa ngomong gitu ya? Apa dia marah banget ya sama aku?"


"Ya nggak heran juga sih kalau dia marah. Emang disini aku juga ngerasa salah"


"Tapi kalau Tama, kenapa dia ngomong gitu?"


"Dia juga cuma diem aja, nggak ngomong apapun yang padahal dia ngomel ketika marah padaku"


"Dia juga menganggapku bukan apa-apanya. Apa dia selama ini memang menganggapku begitu ya?"


"Dia juga nggak ngirim pesan ucapan selamat malam"


Tiring...tiring....


Panggilan masuk.


Aira meraba kedalam tas kecilnya mencari ponsel.


"Bian"


"Aduhhh, udah tau keadaan lagi gini masih aja nelfon" gerutu Aira sebelum mengangkatnya.


Aira mematikan telefon itu dan langsung melemparkan ponselnya ke kasur dengan asal.


Tiring...tiring....


Panggilan kedua Aira juga mematikan teleponnya. Tapi, daripada telepon yang pertama, kali ini Aira memilih untuk membuka ruang chatnya dengan Bian dan mulai mengetikkan sesuatu.


"Maaf, lagi sibuk" pesannya.


"Sebentar aja" balasnya.


Tiring...tiring...tiring....


Bian menelepon lagi.


Tentu saja karena itu Aira mendengus kesal.


"Halo!" jawab Aira ketus.


"Kamu baik-baik aja kan?"


"Tama bagaimana?"


"Apa dia marah?"


"Kalau nggak ada yang penting mending nggausah telepon!" kata Aira.


"Aku cuma mau minta jawaban" -Bian


"Jawaban apa?" -Aira


"Jawaban atas pernyataanku" -Bian


"Nggak penting!" -Aira.


"Jangan ditutup dulu!" -Bian.


"Apa lagi?" -Aira.


"Selamat malam, selamat tidur, mimpi indah" -Bian.


Tanpa menjawabnya, Aira langsung mematikan telepon dari Bian dan melemparkan ponselnya keatas kasur dengan kesal.


Drrtttt....drrrtttt....


Usai menerima telepon, Aira juga menerima pesan yang dikirim berkali-kali.


"Kenapa kamu matikan begitu saja teleponnya?"


"Aku mengucapkanmu selamat malam"


"Tapi kamu tidak mengucapkan apa-apa"


"Aku menunggu ucapan itu"


"Aku akan berhenti mengirim pesan ini setelah kamu mengucapkan selamat malam padaku"


"Ck! Ganggu banget deh!" dercak Aira kesal.


Namun Bian tidak merasa bersalah karena telah mengganggu kenyamanan Aira. Justru ia terus mengirim pesan yang intinya begitu begitu saja pada Aira, membuat Aira pasrah dan segera membalas pesan itu dengan terpaksa.


"Cepat ucapkan selamat malam padaku"


"Tambahkan stiker hati juga ya"

__ADS_1


"Idihhh, emang situ siapa pake stiker hati segala?!" gerutu Aira.


"Selamat malam"


"*stiker hati*"


"Ah tidak tidak!"


"Ternyata itu tidak membuatku puas"


"Aku ingin mendengarkan suaramu juga"


"Kirimkan pesan suara. Ucapkan selamat malam dengan nada yang manis"


"Lama lama nglonjak ya nih anak!" -Aira.


"Huffhhhh....." menghembuskan nafas panjang sebelum memencet tombol rekam pesan suara.


"Selamat malam, selamat tidur, Bian-jing" yang pada akhirnya Aira melakukan itu agar cepat-cepat mengakhiri chat dengan Bian. Ekspresi wajah ketika ia merekam pesan suara itu pun terlihat sangat jelas jika ia merasa risih dan tidak nyaman.


Sampai saat ini, tidak juga ada pesan dari Tama. Aira sudah bosan menunggu pesan itu. Makadariitu, Aira memilih membuka kembali buku diary milik Asma.


Flashback On


Asma Pov


Esoknya ketika pulang sekolah, aku sengaja menunggu di parkiran sekolah. Disaat yang lainnya sudah keluar lingkungan sekokah, orang satu ini yang kutunggu-tunggu belum kunjung muncul. Aku mulai kegerahan menunggunya didepan sini.


Selang sepuluh menit, dari kejauhan terlihat dia semakin dekat. Berjalan menggendong tas ranselnya di sebelah kanan, sembari melirik kearah jam tangannya. Disaat dia baru saja muncul, sudah ada aku yang mencegat didepannya. Aku berhenti tepat dihadapannya sembari merentangkan tangan. Tentu saja ia tersentak karena kehadiranku yang tiba-tiba.


"Ngapain si?!" ia mengernyitkan dahi.


"Gimana acaranya semalem, hm?" aku menaikkan alis sebelah.


"Maksudmu?" pura-pura tidak mengerti.


"Aku punya cerita menarik, mau denger nggak?" nadaku yang sok manja.


"Apaandeh, nggak penting!"


"Tapi bukannya kamu juga penasaran, kenapa aku bisa tau tentang acara semalem?" ucapku.


"Sama sekali nggak!"


"Ouh... Yaudah... Tapi... Bukannya wajah ini nggak asing, hm?" aku menunjukkan kartu tersembunyi yang ada di layar ponsel. Kartu berupa foto-foto yang sempat aku ambil kemarin malam.


"Maumu apa?" rupanya ia mulai tersulut emosi.


"Aduh gimana yaaaa, uhm, mending kita ngobrol di cafe dekat sini biar lebih enak ceritanya, oke?" tanpa persetujuannya, aku menyelonong begitu saja masuk ke mobilnya di kursi penumpang seolah-olah aku ini bosnya dan Damar adalah supir pribadi.


Tentu saja Damar kesal akan hal itu. Tapi karena kartu yang aku pegang ini, dia tidak bisa memilih pilihan lain selain mengikuti kemauanku. Dan dengan sombongnya aku membusungkan dada disertai senyuman kemenangan.


"Jadi mau ngomong apa?" tanya Damar dengan jutek.


"Darimana kamu dapat foto itu?" lanjutnya.


"Satu yang harus kamu tahu. Aku bangga dengan foto yang kuambil sendiri, heheheh" jawabku.


"Jadi, kamu juga ada di gedung itu?"


"Uhmmmm, bisa dibilang begitu sih..."


"Jadi bagaimana?" ucapku.


"Apanya yang bagaimana?" -Damar.


"Foto ini tersebar, atau...." aku berpura-pura berpikir mencari jalan lain.


"Bawa aku juga kedalam sana" mengangkat alis sebelah.


"Emangnya mau apa kamu?"


"Ya mau ikutan seneng-seneng lah, gila kali!" ucapku.


"Emangnya kamu bisa?" remehnya.


"Kenapa nggak?"


"Hahah, kamu itu nggak tau apa-apa"


"Jadi, mending nggakusah sok ikut-ikutan!" kata Damar.


"Udah deh nggakusah banyak bacot!"


"Bawa aku kesana juga!" aku menajamkan tatapan.


"Sejuta cash untuk kamu kalau bawain aku bar code itu"


"Cih, hahah, segitu mah kurang kalik!"


"Dua juta! Lagian kan kamu dapet uang juga dari hasil jual jal*ng, bodoh!"


"Lagian jal*ng yang kamu bawa kemarin bukan sembarangan! Dia juga sahabatku! Sa-ha-bat-ku, ngerti?!" aku menekankan kata "Sahabat"


"Cih, sahabat? Baru tau aku kalau sahabat tuh kayak gini bentukannya, hahah" tersenyum menyindir.


"Udah deh, sekarang jawabannya iya, apa enggak?!" ucapku mempertegas.


"Masalah itu aku nggak bisa jawab langsung. Karena diatas langit masih ada langit" Damar mengatakan kalau selain dirinya, masih ada atasannya yang mengelola langsung.


Aku meminta Damar agar dipertemukan dengan atasannya tersebut di malam selanjutnya. Walaupun aku juga tidak tahu siapakah atasannya itu.


Mengapa aku memilih untuk bergabung adalah satu, ini adalah salah satu balas dendamku pada Shinta. Dua, aku bisa mendapatkan banyak uang dalam semalam. Tiga, itu bisa menjadi hiburan sekaligus melatih ilmu berbisnis walaupun itu jelas bisnis yang salah dan ilegal. Tapi aku tidak peduli, yang aku lihat adalah nilai mata uangnya yang amat menggiurkan.


Dua malam berikutnya, Damar mempertemukanku dengan atasannya. Malam ini aku berdandan rapi dan anggun untuk pertemuan ini. Ini cukup membuatku gugup karena ini bisa dibilang bisnis pertamaku di usiaku ini.


Aku diminta memasuki ruangan VIP di gedung itu karena orangnya sudah menunggu. Perlahan aku membuka pintu ruangan VIP itu.


Krieeeet......


Secara perlahan pula terlihat seseorang yang berdiri membelakangi pintu masuk sedang menenggak minumannya. Sementara ada tiga orang lain yang sedang duduk sembari menghisap rokoknya dengan santai.


"Kalian?" ucapku begitu aku melihat mereka bertiga yang duduk sembari menghisap rokoknya.


Sementara itu, orang yang berdiri membelakangiku itu perlahan menoleh kearahku. Mataku mulai terfokus padanya karena penasaran siapa orang itu.


Satu detik,


Dua detik,


"Tunggu, aku sepertinya pernah lihat dia, tapi dimana ya?" aku mengernyitkan dahi sibuk mengingat-ingat.


"Dia kan, salah satu teman Damar waktu di atap apartemen itu?" gerutuku begitu aku mengingat orang itu.


Flashback Off.


Aira Pov


"Orang yang ada di atap apartemen?"


"Waktu itu Asma cerita, kalau di atap apartemen itu ada enam orang ya kalau nggak salah, terus...., salah satu dari enam orang itu ada orang yang aku kenal"

__ADS_1


"Hah?!"


"Tama?!"


__ADS_2