
Brak!!!
Brakk!!
Brak!!!
Tama merusak almari tua itu dengan palunya.
"AARRRRKKKKHHH!!!"
"PERGIIIIII!!!!"
"PERGIIIIIIIIII!!!!" teriak Aira sembari menangis.
"SINI!" bentak Tama.
"NGGAAAAAK!!!"
"PERGIIIIIII!!!"
Set!
Tama menyeret Aira bak menyeret barang yang ringan.
"HIKS....HIKSS..."
"AKU NGGAKMAUUUU! HIKS!"
"Hiiiiiiiiiii!" Aira melakukan perlawanan dengan mengigit lengan Tama.
"Aarrrrkkkhhhh! Sial*n!" umpatnya.
Tap!
Tap!
Tap!
Berlari hingga Aira menemukan sebuah tongkat baseball yang sekiranya bisa digunakan sebagai senjata.
"Jangan mendekat!"
"Atau kepalamu juga akan pecah!" ancamnya walaupun takut.
"Coba sini. Mau lihat seberapa bisanya kamu mecahin kepalaku. Ayo sini" ujarnya, melangkah lebih dekat.
"Aku serius! Aku akan memecahkan kepalamu kalo berani mendekat!"
Tap!
Tap!
Dua langkah semakin dekat.
"Berhenti disitu!" teriak Aira.
Aira benar-benar mengangkat tongkat itu keatas bersiap untuk memukulnya.
BUG!
Sial! Pukulan itu meleset. Tama berhasil merebut tongkat itu dari Aira.
BUG!
"AARRRRGGGHHHH!!!" tongkat itu mengenai kepala Aira. Aira sedikit merasakan pusing karena pukulan keras itu. Bahkan matanya semakin lama memburam. Ia terus memegangi kepalanya dan merintih kesakitan.
Tak menyerah begitu saja. Aira tetap berusaha berlari dari Tama. Dengan jalannya yang sempoyongan Aira mencoba berlari.
Brug!
Tama sengaja menghalangi jalannya Aira dengan kakinya yang panjang hingga Aira tersungkur.
"Awwww!" rintihnya lagi.
"Mau coba lari lagi, hah?!"
Bug!
Tama menendang kaki Aira.
"Coba aja. Ayo lari, cepetan lari!"
"Nanti kamu tertangkap loh. Cepetan lari!" berkali-kali Tama menendang Aira.
"Tolong kamu jangan kayak gini......hiks..."
"Kumohooon.... Biarkan aku pergiiiii. Aku nggak akan lapor polisi kalau kamu melepaskanku sekaraaang, hiks!" Aira melangkah mundur dengan posisinya yang masih dibawah lantai.
"Airaaaa. Kamu kan tahu aku nggak bisa lepas dari kamu. Kenapa kamu terus maksa minta lepas si?!"
"Aku nggak mau sama PSIKOPAT macam KAMU!!!!"
"Udah berapa orang yang kamu bunuh, HAH?!!"
BUG!
"AAAARRRRKKKKHHHHHH!!!! HUUUUAAAAAAA HUUAAAAAAA!!!!!!!"
Dengan santainya Tama mendaratkan palunya di telapak kaki kiri Aira hingga membuatnya kesusahan untuk berlari bahkan berdiri.
Dengan sekuat tenaga Aira berjalan walau dengan kedua tangannya.
"Ayooo, cepat!! Lariiii! Cepat!!"
"Kamu nggak takut aku menangkapmu? Ayo cepetan larii!! Aku udah dekat!" Tama dengan tawa cekikikan.
__ADS_1
"Uhmmm......AAARRRGGGGHHHH!" Aira yang benar-benar kesakitan masih berusaha kabur.
"Arrrgghhhh! Lama!"
"Kamu mau aku bantu nggak? Biar cepet?"
"HMMMMMMM......HIKS..." Aira menggelengkan kepalanya cepat.
Tentu saja Tama tidak mendengarkan jawaban Aira. Melainkan ia langsung menarik tangan Aira sebelah kanan lalu menyeretnya keluar hingga ke ruang tamu tempat mayat pria itu masih tergeletak.
"HUUAAAAAAAAAA HIKSSSS!!" terus saja Aira menangis karena selain itu tidak ada yang bisa ia lakukan.
Bug!
Tubuh Aira didorong hingga menabrak sofa ruang tamu.
Set!
Tama berjongkok menyamakan posisinya dengan Aira, mengapit kedua pipi Aira, mengarahkan kepala Aira ke mayat pria itu dengan paksa.
"Kamu nggak mau kayak gitu kan?"
"Hah?!"
"Jawab!"
Aira menggeleng.
"Aku juga nggak mungkin buat kamu kayak gitu. Karena kamu itu berharga. Kamu nggak pantes mati kayak gitu" Tama membelai kepala Aira sampai ke dagu yang lancip itu menggunakan palunya, bukan tangannya sendiri.
"Lain kali, kamu yang nurut ya. Aku kan nggak mau kamu terluka lagi. Hm?" dengan nada manja.
"Huuuuuuuuuuuuu....." tangis Aira.
"Sudah ya main-mainnya hari ini. Kita pulang, oke?" tiba saja ucapan tama lembut, namun tetap mematikan.
"Ngomong-ngomong, dia beruntung ya" Tama menatap mayat pria itu dengan tatapan yang berbeda.
"Baru pindah rumah aja udah dihadiahi nggak punya beban hidup, heheh!"
"Emang dasar GILA!" umpat Aira.
Bug!
Tama langsung memukul wajah Aira dengan kepalan tangannya.
"Aaaaaahhhhhh, udah kubilang hari ini cukup main-mainnya. Jangan mengajakku bermain lagi" gumam Tama, mengibas-kibaskan tangan yang ia pakai untuk memukul Aira tadi.
"Ayo pulang!" Tama berdiri dari jongkoknya.
"Ahhh iyaaa, lupa"
Tama hampir melupakan Aira yang tidak bisa berjalan. Lantas, ia menggendong Aira masuk kedalam mobil.
Sebelum menyalakan mesinnya, Tama menelepon seseorang terlebih dahulu.
"Kamu ke villa sekarang!"
"Ngapain?"
"Ada kerjaan"
"Kali ini siapa yang kamu habisi?!"
"Ada lah pokoknya"
"Cepetan! Keburu darahnya ngalir kemana-mana. Aku nggakmau lantaiku nanti penuh dengan darah dia!"
"Iya iyaaaa!"
Tut!
Panggilan berakhir.
"Hehe, nunggu lama ya? Maaf" ucapnya.
"Biasaaa, Hatta. Dia yang selalu ngebersihin semuanya. Dia itu teliti banget loh. Semua jejak sebisa mungkin dia ilangin. Kalo udah ada dia, pasti beres. Kamu nggak usah khawatir" ocehnya yang tidak dipedulikan Aira.
Tama mulai menyalakan mesin, lalu menginjak gasnya.
Sebelum sampai ditempat tujuan, Tama menginjak remnya di depan apotek terlebih dahulu. Ia keluar mobil, dan masuk ke apotek itu.
Tak lama, ia keluar dari apotek itu dengan membawa kantong plastik.
"Nih!" Tama melemparkan kantong itu pada Aira.
"Cepet obati lukaku!"
Aira hanya diam.
"Nggak denger ya?"
"Aku bilang, obati lukaku!"
Aira malah menatapnya tajam seolah tak mau melakukan.
Brug!
Dengan teganya Tama membenturkan kepala Aira ke dasbor mobil. Karena takut Tama menyakitinya lagi, dengan terpaksa Aira menurut apa yang ia perintah. Dengan tangannya yang gemetar ia mengambil kantong plastik.
Pertama-tama, Aira membersihkan lukanya menggunakan kapas serta cairan pembersih untuk luka. Yang kemudian ia berikan obat luka tetes dan selesai. Sementara itu, Aira yang juga terluka di bagian sudut bibir, kepala yang mulai lebam karena benturan tadi, serta kaki yang mulai bengkak hanya terdiam menahan sakitnya.
Selama perjalanan, Aira menahan rasa sakit dan capek yang bercampur menjadi satu. Makadari itu, perlahan mata Aira menutup dan terlelap.
Aira Pov
__ADS_1
Aku terbangun dari tidurku yang panjang. Sialnya, aku kembali melihat langit-langit kamar yang menyeramkan ini. Tangan dan kaki pun kembali diikat.
Jangan tanyakan kondisiku sekarang. Karena kondisiku masih sama. Dress pemberiannya yang mulai kusut, rambut acak-acakan, kulit yang yang lengket, wajah dan bagian tubuh lainnya yang masih ternodai darah dari pria villa itu, kepala mulai benjol, kaki lebam dan sakit luar biasa, dan masih banyak lagi.
Aku hanya bisa meringkukkan tubuhku dan menangis mengingat kejadian ini. Terlebih, kejadian siang tadi yang sulit dipercaya.
Krieeet!
Iblis itu datang lagi.
"Halo sayang!"
"Udah bangun ya?"
"Kamu pasti lapar. Kamu mau makan apa?"
"Ayam? Nasi goreng? Gado-gado? Atau apa? Hm?"
"Atau mau pizza?"
"TAM!" seseorang datang dengan raut panik.
Hatta datang dengan membawa ponsel ditangannya, hendak memberikan ponsel itu pada Tama.
"Elang" aku sedikit melirik kearah layar ponsel yang sedang menerima panggilan itu. Rupanya dari Elang. Tama pun mengambil ponsel itu dari tangan Hatta. Aku tidak bisa mendengar apa perkataan Elang karena Tama tidak men-loudspeaker. Aku hanya bisa mendengar suara Tama.
"Kenapa?"
"Sial! Jangan dihabisin semua. Sini juga mintah jatah kalik!"
"Dua?"
"Dapet darimana aja, hahaha!"
"Satunya punyaku ya. Awas aja kalo udah jamah punyaku"
"Kepalanya masih utuh kan? Belum kamu sentuh kan?"
"Awas aja. Tau sendiri kan itu bagian kesukaanku"
"Iya iyaaa, aku kesana"
Tut!
Tama mengakhiri panggilan.
"Kayaknya, malam ini kita bakalan pesta besar deh. Tunggu aku ya sayang"
"Aku beresin yang ini dulu. Oke?"
Tama membelai rambutku dengan tangannya yang kotor.
"Ta, jagain dulu ya. Malam ini jatahku. Kemarin kan kamu udah!" ucapnya, menepuk bahu Hatta.
"Iya iyaaa!" sahut Hatta.
Tama sudah pergi. Hanya ada Hatta dan aku disini.
"Ternyata kamu ikut juga?"
"Hahah, ternyata topengmu bagus juga ya" ejekku.
"Hahahah!" Hatta hanya tersenyum miring disertai tatapan tajam yang kemudian menutup pintunya kembali.
Pasrah sudah! Aku benar-benar akan menikmati sisa hidupku disini. Sembari terus merasakan sakit dan menangis.
Bug! Bug! Bug!
Aku mendengar suara dinding yang dipukul-pukul dari sebelah.
"Siapa itu?"
"Apa ada orang lain yang sama sepertiku?" gumamku.
Awalnya aku tidak terlalu mempedulikan. Karena mungkin itu suara gaduh yang dibuat Hatta. Tapi,
Brak!!
Pukulan itu menyebabkan bata yang pecah berjatuhan dan menciptakan sebuah lubang cela ke ruang sebelah. Aku mendongakkan kepala terkejut karena kegaduhan itu. Dan langsung mendekat ke dinding hendak melihat siapa yang melakukannya.
"Airaaaaa"
Seseorang berbisik memanggil namaku. Tunggu, apa orang itu mengenalku? Siapa dia? Kenapa dia bisa tahu namaku?
Aku pun memberanikan diri mendekat kearah dinding yang berlubang untuk melihat siapa orang itu.
Lubangnya kecil. Hanya cukup untuk melihat dengan satu mata namun itu sudah cukup untukku bisa melihat apa yang ada diruang sana.
"Kamu siapa?" balasku berbisik.
"Aku Airaaaa"
"Aku siapa?"
"Wajahmu nggak kelihatan!" kataku.
"Munduran dikit, biar wajahmu kelihatan"
Orang itu mengiyakan perkataanku dan bergerak mundur perlahan. Sementara mataku terus membelalak agar bisa melihat dengan jelas.
Dan ternyataa,
"HAHHH?!!" aku membuka mulutku lebar.
"ASMA?!"
__ADS_1