Strange School

Strange School
Curhatan Bian


__ADS_3

Aira Pov


Keesokan paginya, aku bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Aku telah mengembalikan ponsel Bian ke semula dan sebelumnya sudah kuhapus semua jejak yang ada di ponselnya. Sementara Bian masih belum terbangun dari tidurnya.


Aku yang sudah siap rapi memakai seragam sedang didapur menggoreng telur untuk sarapan. Tak lupa juga membuatkan kopi untuk ayah.


"Ini ya yang namanya gambaran masa depan?" terdengar suara yang serak basah dari belakang.


Dengan rambutnya yang acak-acakan, muka bantal, serta suaranya yang masih serak itu ia menyusulku ke dapur.


"Kok udah siap?"


"Seharusnya aku yang tanya. Kok baru bangun? Udah jam berapa nih?!" balasku.


"Aku masih pusing nih" keluhnya.


"Ya terus?!"


"Nggak usah sekolah aja deh hari ini. Kita bolos aja. Gimana?" ajaknya.


"Bolos aja sendiri, yeuuu"


"Kayaknya hari ini cuacanya cocok deh kalo ke pantai. Lihat sunset, minum es kelapa di pinggir pantai, makan ikan bakar, ditambah es krim"


Dipikir-pikir, kayaknya enak juga. Kan udah lama nggak ke pantai. Lagipula, akhir-akhir ini pikiranku sedang kacau karena memikirkan kejadian yang diluar dugaanku. Mungkin kalau aku menjernihkan pikiran di pantai, bisa membantu. Oke, kali ini aku ingin ikut dengannya.


"Hussstt, gimana? Mau kan?" Bian mencolek lenganku karena aku sempat melamun.


"Traktir ya?" kataku.


"Ck! Iyaa iyaaa gampang kalo itu maahhh"


"Okee, boleh juga" aku memanyunkan bibir.


"Eh tapi, Rida gimana?"


"Kenapa kamu tetap mikirin dia si?! Kan udah ada polisi yang jaga juga"


"Kalau dia nyariin kamu?"


"Udah nggakusah dipikirin dulu" jawabnya.


"Tapi jangan bilang siapa siapa ya. Apalagi sampe ayah tahu!" jari telunjukku mengarah ke wajah Bian.


"Iyaaaaaa"


"Kalian ngomongin apa?" Bernan datang dengan wajah yang curiga.


"Eh, Om! Selamat pagi om!" Bian menghampiri ayah dan mencium tangan ayah.


"Iya, pagi. Udah mendingan?"


"Hehehe udah om"


"Namanya siapa?"


"Bian om"


"Bian, jangan sering-sering ya" ayah menepuk pundak Bian.


"Ehehe, iya om"


"Ini yah!" aku menyusul mereka yang duduk di meja makan, memberikan secangkir kopi pada ayah.


"Hari ini kamu nggak sekolah?" ayah bertanya pada Bian.


"Uhmmmm, hari ini saya ijin dulu om ehehe"


"Aira juga?" ayah melirikku.


"Hah? Ya.. Eng..enggak lah yah. Aira kan nggak kenapa-napa, jadi ya tetep masuk sekolah" ucapku berbohong.


"Yaudah kalau gitu, ayah langsung berangkat aja ya"


"Lah, nggak sarapan dulu yah? Udah Aira gorengin telur"


"Nggak usah aja deh. Ayah buru-buru"


"Hmmm, kebiasaan kan. Yaudah bentar"


"Ini yah! Jangan sampe telat makan siang!" aku kembali membawakan kotak makan untuk ayah.


"Iyaa. Yaudah ayah berangkat dulu ya. Bian, om berangkat dulu yaa"


"Iya om, hati-hati om"


Ayah sudah pergi. Saatnya kembali ke rencana. Pertama, aku memberitahu Henna dan memintanya untuk mengijinkanku kalau aku tidak bisa masuk sekolah karena tidak enak badan. Untungnya Henna mengerti itu dan tidak menaruh curiga padaku.


"Beres! Yok!" celotehku.


Sepanjang perjalanan, aku yang terlalu malas untuk mengobrol itu mengambil earphone dari tas dan langsung kupasangkan ditelinga ingin mendengar lagu favorit. Tapi belum juga aku memasangkan earphone sebelah ke telinga, Bian sudah menyelinginya.


"Kamu nggak pengen denger cerita aku?" katanya.


"Hm?" aku menoleh kearahnya dengan alis yang terangkat.


"Cerita?"


"Cerita apaan?" dahiku mengerut.


"Kamu mau denger apa soal aku?"


"Nggak ada!" godaku.


"Aku iri deh sama kamu" tiba saja dia mengaku seperti itu.


"Hah? Iri? Sama aku? Kenapa?" aku mulai tertarik topik pembicaraannya, melepas earphone.


"Punya ayah seperti ayahmu" katanya dengan wajah lesu.


"Emangnya kenapa dengan ayahmu?"

__ADS_1


"Sebenarnya aku belum pernah cerita soal keluargaku ke siapapun. Ke Rida sekalipun. Kalau aku berani cerita ke kamu, berarti kamu tau dong apa artinya?"


"Arti apa maksudnya?"


"Artinya kamu spesial!" katanya, mencubit pipiku.


Deg...deg...deg....


Ada sesuatu yang tidak bisa ku kontrol. Tiba saja jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Apa artinya ini? Tunggu, apa wajahku memerah? Kalau iya, bagaimana kalau dia sampai tahu?. Kontrol dirimu Ai, kamu kenapa?


"Kamu tahu kepala sekolah kita kan?"


"Tahu. Terus, apa hubungannya kepala sekolah dengan ceritamu?"


"Dia ayahku"


"Hah?!" aku membelalak tidak percaya.


"Kok aku nggak pernah lihat interaksi kamu sama ayah kamu itu?"


"Terus, kenapa dengannya?"


"Aku nggak memiliki hubungan yang baik dengannya. Aku memiliki lingkaran keluarga yang buruk"


"Kenapa begitu?"


"Dia orangnya keras. Dari kecil dia selalu memukulku kalau aku melakukan kesalahan. Dia juga selalu melarang melakukan apa yang aku suka dan selalu menyuruhku apa yang dia suka. Aku tidak suka itu. Darisitu aku membencinya"


"Tapi semuanya berubah seketika. Ketika didepan orang lain, ayahku berubah menjadi ayah yang paling baik didunia. Tak hanya itu, mungkin juga keluarga yang paling bahagia didunia. Sehingga orang-orang mengira kalau memang seperti yang mereka lihatlah keluargaku. Nyatanya nggak, hahah!" tertawa miris.


"Apalagi dengan ibuku. Awalnya hubunganku baik-baik saja dengan ibu. Sampai di usiaku 6 tahun, ibu juga sering memukulku. Mungkin itu dampak dari dendam ibuku pada ayahku yang tidak bisa disampaikan. Makanya ibu melampiaskannya padaku"


"Maksudnya, ayahmu juga memukuli ibumu? Kenapa? Mereka bertengkar?"


"Yaaa, sejenis itu"


"Sampai akhirnya ibu nggak betah. Dia meninggalkanku ketika aku menginjak 8 tahun. Dia meningalkanku bersama pria yang kubenci. Saat itu juga aku punya pikiran kalau ternyata ibu lebih jahat karena tidak mengajakku pergi dengannya dan malah meninggalkanku dirumah bersama ayah"


"Dimana ibumu sekarang? Apa kamu pernah mencoba mencarinya?"


"Nggak membuahkan hasil. Aku benar-benar kehilangan jejaknya"


"Sampai akhirnya aku merasa sudah cukup dewasa untuk melawannya. Aku sok-sokan pergi dari rumah saat aku baru saja duduk di bangku SMP. Walaupun aku nggak tahu aku nanti harus makan apa, tinggal dimana, sama siapa. Akhirnya yaa, aku jalan aja terus sambil bawa tas ransel. Jalan nggak tau arah"


"Tapi ayah bisa menemukanku waktu itu. Dia mengajakku pulang. Katanya, 'Ngapain kamu?! Nanti kalau dilihat orang bagaimana? Apa yang akan mereka katakan?!'. Masih bisa dia memikirkan pandangan orang lain yang jelas-jelas berbanding terbalik dengan keadaanku. Dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku"


"Dan seperti katamu, aku hampir nggak pernah berinteraksi dengannya di sekolah. Kenapa? Karena aku nggakmau. Aku hampir sering menghindar ketika dia datang. Makanya aku bilang kalau aku iri padamu karena punya ayah seperti ayahmu. Aku benar-benar ingin merasakannya"


"Waktu ayahmu memperingatiku dengan nada rendahnya seperti tadi saja aku merasa tersentuh"


Aku pun langsung terenyuh dengan cerita Bian yang bisa dibilang bertolakbelakang dengan sifatnya yang ceria walaupun kadang menyebalkan dan berwajah menyeramkan. Rupanya, semua orang memiliki ujian hidupnya masing-masing. Aku melihat wajah sedihnya. Lantas aku berinisiatif meletakkan tanganku diatas tangannya.


"Tapi kamu bisa kan?" ucapku sembari tersenyum berharap bisa menghiburnya.


"Buktinya kamu bisa sampai di detik ini. Ketemu aku, berkesempatan ketemu ayahku, dan dengan yang lain"


"Sekarang aku minta, jadilah kamu yang kamu mau. Bukan kamu yang diminta ayahmu. Dan jangan tanamkan sifat buruk dari ayahmu ada dalam dirimu. Jadilah ayah yang baik untuk anak-anakmu nanti. Dan pastinya, suami yang baik untuk istrimu. Oke?" aku mengangkat ibu jariku.


"Makasih?" Bian kebingungan


"Makasih karena percaya sama aku. Makasih udah mau ceritain kisahmu"


"Aku juga makasih" katanya.


"Makasih mau dengar ceritaku"


Usai mendengar cerita dari Bian, aku membuka kaca jendela lebar-lebar karena ingin merasakan hembusan angin. Hembusan anginnya cukup kencang hingga membuat rambutku berkibar tak beraturan.


Saking menikmatinya, sampai-sampai aku tertidur. Aku terbangun ketika ternyata aku sudah sampai di tempat tujuan dan tidak melihat Bian disampingku. Aku mengucek mata, menguap, dan masih mengumpulkan seluruh nyawaku.


"Eh? Udah bangun?" tiba saja Bian muncul membawa es kelapa di kedua tangannya.


"Udah nyampe dari tadi? Kok aku nggak dibangunin?"


"Habis kamu tidurnya pulas banget. Nggak tega" katanya.


"Kita minum disana aja yok!" Bian menunjuk bangku kayu yang ada di pinggir pantai, dibawah pohon kelapa tepatnya.


Sebelum pergi kesana, aku meraba-raba sekitarku karena mencari ponselku. Seingatku, aku menaruhnya diatas pahaku. Tapi begitu aku bangun, aku tidak menemukan ponselku.


"Handphone aku mana?" tanyaku sembari meraba-raba sekitar.


"Aku bawa. Aku matiin"


"Kenapa?" alisku menyatu.


"Hari ini murni waktu kita berdua. Jadi, semua handphone aku matikan"


"Lah kok gitu?"


"Udah, ayokkk! Keburu pegel nih megangin kelapa ini!" keluhnya.


Kami berdua duduk di bangku kayu sembari menikmati segarnya es kelapa. Tak lama kemudian, ada dua orang laki-laki yang menghampiri kami membawakan ikan bakar lengkap beserta nasi.


"Makasih ya pak" ucap kami hampir bersamaan.


"Kamu udah pesen semuanya?" kataku.


"Iyalah. Daripada kamu nungguin lama kan. Mumpung kamu masih tidur, begitu nyampe langsung pesen deh!" jelasnya.


Author Pov


Sementara itu, tepat sebelum bel masuk berbunyi, Tama sampai di sekolah bersama Elang. Hari ini Tama tampak lesu karena masalahnya dengan Aira kemarin. Apalagi, sampai sekarang ia tidak saling kontak dengan Aira. Tama mengerti kalau Aira masih belum menerima kenyataan itu. Tapi Tama tidak bisa lama lama seperti ini. Tama ingin menjelaskan semuanya agar Aira mengerti.


"Heh!" Elang menepuk bahu Tama karena Tama melamun terus.


"Ngelamun aja si?! Ayo buruan udah mau bel"


Tama dan Elang pun berjalan menuju kelas bersama karena kelas mereka satu jalur. Tapi, ketika Tama melewati kelas Aira, Tama melihat bangku Aira yang kosong. Tas Aira pun tidak ada di bangku itu. Tama mengernyit, bertanya-tanya kemana perginya Aira. Apa ia benar-benar tidak mau bertemu dengan Tama sampai dia tidak masuk sekolah?


"Woy! Masih nglamun aja si?! Kenapa? Nglihatin Aira?" goda Elang.

__ADS_1


"Ng..nggak" jawab Tama gugup.


"Lah, kemana dia? Tasnya juga nggak ada" Elang baru tersadar akan ketidakhadiran Aira.


Tama mengabaikan ucapan Elang. Ia berlari melanjutkan perjalanannya walau sebenarnya ia juga sedih karena Aira yang tidak masuk sekolah tanpa kabar.


Tama sedang bersedih, sedangkan Aira bercanda tawa bersama Bian karena berusaha menghilangkan semua pikiran-pikiran yang tidak perlu ia pikirkan. Aira terus tertawa hingga ia tidak menyadari kalau sedaritadi ada orang yang terpesona dan terpikat dengan tawanya itu. Orang itu terus memandangi bagaimana ia tertawa dan menyipitkan mata tersenyum.


"Bian" panggil Aira lirih.


"Hm?" Bian mengangkat alisnya dan langsung memasang badan siap mendengarkan apa yang akan dikatakan Aira.


"Aku boleh tanya nggak? Tapi jujur ya"


"Apa itu?"


"Apa bener, kalian kerjasama membangun bisnis prostitusi itu?"


Deg!


Aira bicara langsung poinnya dan secara tiba-tiba membuat Bian tersentak dan sempat bingung menjawab apa.


"Kenapa kamu jadi tanya soal itu lagi?"


"Ya, aku mau tahu aja. Bener apa nggak"


"Aku nggak akan ikut campur urusan kalian kok. Aku cuma butuh jawaban yang pasti. Iya atau nggak, udah itu doang. Selebihnya terserah kalian"


"Aku bener-bener nggak akan ikut campur dalam masalah kalian atau bahkan sampai melaporkan kalian ke polisi, nggak. Aku terlalu malas ngurusin itu semua. Walaupun aku juga akan sedih kalau mendengarnya"


"Iya" Bian menjawabnya dengan mantap tanpa ragu-ragu.


"Jawabannya adalah iya"


"Kalian benar-benar melakukan itu?" tanya Aira memastikan.


"Iya!"


"Dan maaf kalau kamu mendengar ini. Maaf udah buat kamu sedih. Tapi kita emang ngelakuin itu"


"Kita ngebangun bisnis gelap itu, ngejual perempuan-perempuan itu, dan dapat hasil yang banyak dari itu"


"Termasuk Shinta?" Aira memasang tatapan tajam.


Bian mengangguk ragu karena takut membuat Aira marah.


"Hafffffhhhh....." Aira menghembuskan nafas kecewa.


"Kenapa kalian melakukan itu?"


"Nanti kamu akan tahu sendiri" jawab Bian enteng.


Sebenarnya aku ingin melakuman sesuatu. Tapi bingung harus melakukan apa. Aku juga sudah berjanji tidak ikut campur dan cukup tahu urusan mereka. Apalagi sampai membicarakan hal ini kepada yang lain juga.


Kini, satu hal yang Asma tuliskan dalam bukunya itu terbukti benar. Tinggal membaca halaman-halaman berikutnya yang belum kubuka. Juga flasdisk pemberian Asma yang belum kubuka. Aku yakin, masih banyak hal disana. Dan satu persatu akan kubuka dan berusaha kucari tahu walau aku sendiri tidak yakin aku bisa.


Author Pov


Tama, Elang dan Hatta janjian bertemu di kantin. Tama dan Elang datang lebih dulu dan Hatta datang belakangan. Rencana awal yang Hatta akan datang bersama Bian itu gagal karena Hatta tidak menemukan Bian di kelas. Bangku Bian juga kosong. Elang yang melihat Hatta datang sendirian itu bertanya padanya.


"Lah, mana Bian? Katanya tadi dateng sama dia?" -Elang.


"Dia nggak masuk hari ini" -Hatta.


"Kemana?" -Elang.


"Nggaktau! Bolos kalik?!" -Hatta.


Bian nggak masuk, Aira juga nggak masuk?, batin Tama yang mulai curiga.


Berketepan di momen itu, lewatlah Henna yang sedang membawa semangkok bakso sendirian di kantin.


"Hen!" Tama menghentikan langkah Henna.


"Aira kemana?" tanya Tama.


"Lah? Dia nggak bilang ke kamu?"


"Dia nggak masuk hari ini. Sakit katanya" jelas Henna.


"Sakit?" -Tama


"Heeh" Henna mengangguk yakin.


"Jangan bilang kamu curiga sama mereka yang nggak masuk barengan" -Elang.


"Siapa yang kalian maksud?" Henna bertanya bingung.


Tama langsung beranjak pergi dari kantin.


"Tam! Mau kemana?" teriak Elang tak dihiraukannya.


Tama menjauh dari mereka bertiga untuk menelpon Aira. Berkali-kali ia coba menghubungi Aira, namun yang terdengar hanyalah suara operator yang sama. Tama mulai kesal.


...


Hari semakin sore. Aira dan Bian juga sudah merasa puas menikmati waktu mereka di pantai. Mereka segera pulang karena kalau tidak ayah Aira pasti curiga jika dia tidak segera pulang.


Mereka telah sampai di halaman rumah Aira.


"Nggak mampir dulu? Pamitan sama ayah mungkin?" -Aira.


"Iyaa. Emang mau pamitan dulu" -Bian.


Sekilas tidak ada perasaan aneh sebelum masuk ke rumah Aira. Tapi, begitu Aira membuka pintu,


"Assalamualaik-" salam Aira terhenti karena terkejut melihat siapa yang datang menamu dirumah Aira.


Terkejut bukan kepalang ketika melihat teman-temannya datang menamu. Ya, mereka ialah Henna, Elang, Tama, dan Hatta. Disamping mereka juga ada ayah Aira yang sedang menjamu mereka. Begitu Aira masuk, disusullah Bian dari belakang. Dan sama, Bian juga terkejut dengan kehadiran mereka. Aira dan Bian hanya fokus pada satu titik. Yaitu, Tama yang sedang meminum suguhan dari ayah Aira dengan wibawanya dan lirikan tajamnya. Tak lupa, seringaiannya yang seolah mengatakan,


"Kena kalian!"

__ADS_1


__ADS_2