
Author Pov
Di parkiran sekolah, sudah terlihat jelas jika para wartawan sedang mengerumuni gerbang pintu masuk menuju kelas. Satpam sekolah, tukang kebun, serta staff sekolah sedang menghadapi para wartawan yang bersikeras masuk untuk mewawancara kepala sekolah dan tentu saja dengan Aira yang kemarin sempat disebut bahkan disorot kamera.
Set!
Seseorang menarik tangan Aira menjauh dari sana, menuju ke gerbang belakang sekolah.
"Ehh, ehh, berhenti!" Aira menepis tangannya.
"Kenapa? Kamu mau ketahuan wartawan?"
"Nggak usah gengsi hanya karena kamu marah sama aku terus nggak mau dibantu! Udah cepetan!" Tama kembali menarik tangan Aira membantunya masuk ke kelas. Aira tak berkutik karena tertampar dengan perkataan Tama yang sesuai fakta. Serta disisi lain Aira takut berada disamping Tama.
Ketika mereka melewati belakang kelas-kelas, terdengar samar-samar banyak murid yang membicarakan Aira karena berita kemarin. Pembicaran mereka terdengar melalui jendela belakang.
"Eh, kalian ngerasa nggak si?! Semenjak ada anak baru itu, sekolah kita kayak makin nggak waras gitu"
"Pertama, dia pindah kesini tepat setelah berita mayat Shinta ditemukan"
"Kedua, foto dia yang kesebar di laman daring itu, sampe-sampe Bian rela nyayat tangannya buat minta maaf. Dan kayaknya, foto itu asli deh, nggak ada sentuhan editannya"
"Ketiga, kasus Rida"
"Keempat, kasus Shinta yang ternyata yang ngebunuh Bian?!"
"Ditambah lagi, Bian nyebut Aira di berita kemarin. Iya kan?!" kata salah satu perempuan di dalam kelas itu.
"Apa jangan-jangan, Aira pindah kesini buat bantu nutupin kasus pembunuhan Bian lagi?! Kan pas banget tuh timingnya. Baru pindah aja, Aira sama Bian udah kelihatan akrab banget, iya ga sih?? Sempet ada gosip kalo mereka pacaran kan?" kata yang lain.
"Iya iya iya bener juga teorimu" -perempuan 1
Aira yang mendengar percakapan perempuan itu hanya merenung sedih.
Tok!
Tama melempar batu kerikil kearah jendela kelas para perempuan itu. Mereka yang terkejut itu lantas mengintip siapa yang melemparkan batu kearah jendela.
"Kalau nggak tau faktanya diem!" Tama memperingatkan mereka.
Perempuan itu hanya memutar bola matanya sembari memonyongkan bibir tak menerima nasehat Tama.
Tama mengantarkan Aira bahkan sampai ke bangku Aira dan menyerahkan Aira pada Henna agar tidak terlalu merasa sedih. Baru masuk kelas saja, tatapan teman-teman sekelasnya sudah tidak enak.
"Hen, titip ya. Jagain dia, keadaannya lagi gini soalnya"
"Beres itu mah!" Henna mengacungkan ibu jarinya.
"Aku pergi dulu ya" Tama hendak mengusap rambut Aira, namun Aira menjauhkan kepalanya dari tangan Tama tidak membiarkan Tama menyentuhnya. Tama merasakan malu sekaligus tersinggung. Malu karena ada teman sekelas Aira yang ikut menyaksikan, tersinggung dengan respon Aira yang seolah mengatakan kalau Tama itu "Barang kotor".
Lantas Tama merapatkan genggamannya menahan malu. Tatapan manis berubah menjadi tatapan tajam sesaat sebelum ia benar-benar pergi.
"Duluan ya hen!" pamit Tama pada Henna dengan senyum palsunya.
"Iya, hati-hati yaa" kata Henna.
"Ai! Gimana sih! Kalau dia tersinggung gimana? Pasti dia juga nahan malu!" oceh Henna.
"Biarin aja!"
"Emang masalah kalian belum selesai juga? Seserius apa sih sampe saat ini belum beres juga?!" -Henna.
"Banget! Ini tuh serius banget!"
"Me-nyang-kut NYA-WA! tau nggak?!" Tegas Aira agar Henna tidak lagi membicarakan ini.
"Tau deh! Terserah kalian!"
Tepat di stirahat kedua ketika Aira dan Henna sedang duduk santai di taman dengan menikmati minuman mereka, ada seseorang yang tiba-tiba saja datang tanpa salam.
"Aku perlu bicara sama kamu" ucapnya.
"Wuuuhukk uhukk! Is! Ngagetin aja si?!" Henna tersedak minumannya karena terkejut.
"M..mau ngomong apa?" Aira gugup.
"Ada pokoknya. Penting!" -Tama.
"Yaudah ngomong aja" -Aira.
"Nggakbisa, kita harus bicara berdua" -Tama.
"Yaudah kalo gitu aku per-" -Henna hendak beranjak dari tempatnya namun tangannya dicegah oleh Aira.
"Nggak! Henna harus tetap disini. Kalo nggak, yaudah nggak usah ngomong" kata Aira. Suasana ini membuat Henna canggung dan hanya bisa terdiam diantara Aira dan Tama.
"Ini masalah kita berdua. Jangan bawa-bawa temen kamu juga dong" Tama mulai hilang kesabaran.
__ADS_1
"Pokoknya kalo Henna pergi, aku juga pergi!" -Aira.
"Hafhhhh.... Jangan bikin aku hilang kesabaran lagi Ai!"
"Uhmmm, aduhhh ehehehe, maaf nih yaaa, aduh jadi nggak enak nih ngerusak suasana. Yaudah kali Ai, nggakpapa aku pergi. Lagian bener kata Tama ini masalah kalian, Tama juga pasti ngerasa nggak nyaman ngomongin masalah kalian kalo ada aku. Udah, kalian ngomong berdua aja, aku bakalan pergi kok!" Henna memaksa Aira untuk melepas tangannya dan membiarkannya pergi.
Aira sudah memberi kode dengan gelengan kepala agar Henna tidak pergi, namun Henna malah membalas kode ke Aira agar Aira segera melepaskan genggamannya. Rupanya Henna belum memahami betul dengan apa maksud Aira dan tidak tahu dengan keadaan yang sebenarnya. Aira tidak mau Henna pergi karena ia takut berdua dengan Tama, nggam seperti sebelumnya yang kemana-mana berdua. Keadaan sudah berubah sekarang.
"Henna! Henna!!" Aira memanggil Henna agar dia kembali namun diabaikannya oleh Henna.
Jantung Aira semakin berdebar ketika Henna benar-benar menghilang dari pandangannya. Hanya ada Tama yang sudah memasang wajah kesal tepat dihadapannya. Tak ingin Tama tahu, Aira mencoba menyembunyikan rasa takut dan gugupnya.
"Ma..mau ngomong apa?" Aira menguatkan diri menatap mata Tama.
"Sampek kapan kamu kayak gini terus?"
"Kamu marah, mengabaikan aku, bahkan sampe menghindar kayak tadi?!"
"Ng...nggak, aku nggak ada kayak gitu. Aku tadi cuma nggaktau kalau kamu mau nyentuh aku. Itu kebetulan aja waktu kamu mau nyentuh, aku geser posisi aku"
"Nggak! Itu sama sekali nggak terlihat 'Kebetulan' tau nggak! Kamu sengaja!"
"Udah lah, jangan kayak gini terus. Aku jadi bingung mau ngapain lagi. Mau minta maaf dengan cara apa lagi. Apa perlu aku ngelakuin hal yang sama kayak yang Bian lakuin!"
"STOP! Jangan bahas itu lagi! Kamu nggak tahu seberapa besarnya usaha aku buat lupain semua yang menyangkut dia?!"
"Yaudah maaf!"
"Kamu marah gara-gara aku terlibat bisnis itu kan? Yaudah aku bakal tinggalin bisnis itu"
"Kali ini masalahnya berbeda. Dan aku bener-bener nggakbisa nalar masalah ini" -Aira.
"Masalah apa lagi? Kamu ngomong dong sama aku yang jelas biar aku ngerti kalo aku ada salah di bagian ini bagian itu, aku juga jadi lebih gampang memperbaikinya"
"Nggak bisa! Itu hampir nggak mungkin bisa diperbaiki!" -Aira.
"Kenapa nggak bisa? Emangnya apa masalahnya?"
"Saatnya jam ke 7 dimulai" suara bel masuk telah berbunyi membuat Aira sedikit lega karena bisa terlepas dari Tama.
"Udah masuk! Aku waktunya pak Irfan" Aira menggunakan nama guru killernya sebagai alasan.
"Tunggu dulu! Kalau memang ini mau kamu, jangan salahin aku kalo aku pakai caraku sendiri!"
Aira tak menghiraukannya.
Suasana kelas Aira sedang gaduh karena mendapat kabar baik jika guru yang mengajar tidak masuk.
"Nggak ah Hen! Aku berubah pikiran. Aku males"
"Lagian itu cuma akal-akalannya aja, nggak bener-bener fakta!" kalimat terakhir Aira ucapkan dengan bergeming sendiri.
"Hah?! Ngomong apa?" Henna tidak mendengar.
"Hah?? Ng...nggak kok"
"Beneran nih nggajadi?! Apa gara-gara kamu bete, badmood habis berantem lagi sama Tama tadi?" -Henna.
"Nggak kok"
"Yaudah kamu kasih kabar aja ke mbak Indah kalo nggak jadi dateng" -Henna
"Kamu aja deh!"
"Hufhhh...iya iyaaaa" Henna pasrah karena muka Aira yang benar-benar kusut.
---
Waktu menunjukkan pukul 19.12 tapi di jam tersebut Aira baru saja terbangun dari tidurnya karena saking capeknya badan dan pikiran, pulang sekolah ia langsung terlelap dengan seragam yang masih dikenakannya.
Begitu terbangun, Aira cepat-cepat mencari handuk dan pakaian gantinya untuk segera mandi. Tapi ternyata, begitu masuk kamar mandi, ia kehabisan sabun dan tidak ada stok lagi. Ingin memakai sabun ayahnya, tapi ayahnya belum pulang dan pasti kamarnya dikunci. Terpaksa ia harus membeli sabun dulu di minimarket dekat rumahnya.
Dengan seragam yang bau keringat dan hanya ditutup dengan jaket yang biasa ia pakai, ia berjalan malas keluar rumahnya menuku ke minimarket dekat rumahnya. Anehnya, jalanan terlihat lebih sepi dan lebih mendebarkan dari sebelumnya. Entah memang begitu atau hanya perasaan Aira saja. Aira melawan pemikiran itu karena mungkin saja ini adalah perasaan bawaan baru bangun tidur dan nyawa belum terkumpul semua.
Saat Aira mulai berjalan menjauh dari pagar rumahnya, Aira melihat ada seseorang yang memakai jaket berwarna biru navy, celana jeans hitam, bersepatu hitam putih, memakai masker serta topi hitam diam berdiri mengarahkan sudut tubuhnya tepat ke rumah Aira seperti maling yang sedang mengincar rumah seseorang didepan toko yang tutup. Aira memiliki perasaan aneh ketika pertama kali melihat orang itu, ngapain orang itu cuma diam berdiri didepan toko yang tutup dan seperti memandangi kearah rumahnya? Ah sudahlah, Aira tidak ingin mengambil pusing. Ia harus segera membeli sabun dan kembali ke rumah untuk mandi karena badannya sudah lengket semua karena keringat.
Aira mencari sabun yang biasa ia pakai di rak minimarket. Karena berbagai macam sabun ada di rak bagian bawah sendiri, itu mengharuskan Aira berjongkok agar dapat menjangkau sabun-sabun yang ditata rapi.
"Nah! Ini dia. Beli sepuluh sekalian aja deh, biar nggak bolak-balik. Sekalian beli jajan ahhhhh, kan besok libur jadi nonton film sampe malam gas aja" gerutunya.
Sebelum ke rak camilan, Aira tergoda dengan barang yang ada di atas bagian rak sabun.
"Lulur yang Mengandung Susu"
Aira mulai melirik dan tertarik untuk membeli barang itu. Ketika hendak mengambilnya, secara tidak sengaja Aira melihat seseorang dari rak seberang yang kebetulan terlihat di celah-celah rak minimarket pada umumnya. Kalian pasti tahu bagaimana gambarannya. Orang itu juga berjongkok sama dengan posisi Aira saat ini. Orang itu hanya diam berjongkok dengan menundukkan kepalanya, tidak terlihat seperti sedang mencari barang yang ingin dia beli layaknya Aira. Orang itu benar-benar hanya jongkok seperti sengaja menyamakan posisinya dengan Aira.
Bukannya itu orang yang tadi?, batin Aira.
__ADS_1
Jaket navy, celana hitam, masker, sepatu, serta topi yang sama dengan orang yang Aira lihat didepan toko yang tutup tadi.
Nggak, nggak! Jangan mikirn yang macem-macem Aira!
Aira mencoba untuk terlihat santai dan biasa-biasa saja dan tak menghiraukannya karena mungkin dia juga sedang membutuhkan perlengkapan dan secara kebetulan bertemu dengannya lagi disini.
Aira mempercepat pergerakannya pergi ke rak camilan agar bisa segera pulang ke rumah dan mengabaikan orang itu. Ketika Aira sudah ada di rak camilan, orang tadi membenahkan posisinya dari jongkok ke berdiri tegap seolah juga ingin memindahkan posisinya ke rak lain mencari barang lain.
Orang itu pindah ke dua rak yang tepat bersebelahan dengan rak camilan, sedang memilih-milih barang, membuat Aira semakin merinding karena merasa tidak nyaman dengan orang itu.
Ahh, biarin aja lah!, batin Aira kembali meneruskan pemilihan camilannya.
Berpindah posisi ke kulkas minuman yang berada tepat di belakang Aira. Hanya memutar badannya kebelakang Aira sudah menjumpai kulkas minuman yang banyak menyimpan berbagai minuman kaleng, susu, yogurt, dan lain-lain. Aira mengambil satu minuman yogurt dan dua minuman susu rasa moka. Begitu selesai, tentu saja Aira menutup pintu kulkas itu dan,
BA!
Aira melihat di pantulan kaca kulkas, orang yang sama sedang berdiri tepat di balik rak camilan seperti tadi ketika di rak bagian sabun. Orang itu semakin dekat dengan posisi Aira dengan masih diam berdiri saja sebelum akhirnya ia menyadari jika Aira menoleh kearahnya, ia buru-buru bertingkah seolah ia mencari barang-barang yang ada didepannya.
Dia ngikutin aku nggak sih?, batin Aira begitu menoleh kearah orang itu dan masih mencoba berpikir yang positif.
Perasaanku nggak enak deh.
Entah apa yang dipikirkan Aira, ia berinisiatif untuk melihat tiap rak yang orang misterius itu singgahi dengan tujuan agar Aira tahu kalau orang itu benar-benar berniat untuk membeli kebutuhan laki-laki biasanya dan tidak ada niatan untuk mengikuti dirinya.
Aira berpura-pura berjalan menuju kasir, mencuri-curi pandang ketika sampai pada rak yang orang itu tempati. Di rak terakhir yang ia tempati sekarang ada camilan berupa biskuit. Itu merupakan hal yang wajar karena laki-laki juga pasti membutuhkan camilan. Aira sedikit lega karena itu.
Aira berjalan menuju ke rak kedua yang orang itu tempati. Aira melihat disana adalah rak tempat mainan anak-anak seperti mobil-mobilan, masak-masakan, sampai robot. Aira mulai berpikir macam-macam.
Ngapain dia di rak mainan?
Lagian, nggak ada mainan yang dia pilih. Dia juga tadi kelihatannya nggak sibuk milih-milih mainan deh
Aira memaksakan masih berpikiran positif, hingga berjalan menuju rak pertama yang orang itu datangi. Darisini, dengan mantapnya Aira memutuskan,
Ini udah nggak beres!
Bagaimana tidak? Rak itu adalah rak untuk pembalut wanita yang mana hampir tidak mungkin untuk laki-laki mendatangi rak itu atau bahkan membeli kecuali kalau memang dia memiliki saudara perempuan atau mungkin pacarnya yang sedang datang bulan. Tapi tidak ada tanda-tanda dia membeli atau bahkan melirik pembalut-pembut wanita itu ketika berpapasan dengan Aira. Ia bahkan tidak terlihat kebingungan memilih pembalut mana yang dibutuhkan saudara atau pacarnya itu. Dia hanya berdiam, jongkok hanya untuk menyamakan posisi Aira.
Tanpa berpikir panjang lagi, Aira langsung menuju ke kasir tapi masih dengan gerak-gerik santai agar tidak terlihat kalau dia sedang panik. Aira cepat-cepat memberi keranjang belanjanya ke kasir. Kasir itu men-scan barang pembelian Aira satu-satu dengan kecepatan normal. Tapi itu malah membuat Aira semakin gelisah.
"Totalnya seratus dua puluh satu tiga ratus rupiah kak"
Bahkan ketika mengeluarkan uang dari dompetnya saja Aira terlalu gugup dan malah menjatuhkan beberapa uang koin dilantai. Memaksa menenangkan pikiran, mengembali kembali uang koin yang jatuh.
"Ini kak kembaliannya" kata penjaga kasir, memberikan nota dan uang kembalian dua ratus perak.
"Ma..makasihh" Aira segera mengambil kembalian dan kantong plastik dari meja kasir.
Aira sudah keluar dari minimarket yang serasa menakutkan. Tak henti-hentinya Aira menoleh kebelakang, kearah minimarket itu untuk memastikan orang tadi tidak benar-benar sedang mengikutinya.
Sekali menoleh, aman.
Dua kali menoleh, masih aman.
Tiga kali menoleh,
DEG!
Orang itu keluar dengan tidak membawa apapun ditangannya. Tangannya kosong. Dugaan Aira semakin kuat kalau orang itu sedang mengikutinya. Aira yang tidak bisa menyembunyikan paniknya itu mulai berjalan cepat agar bisa jauh dari orang itu.
Tap...tap...tap...
Tap...tap...tap...
Orang itu juga berjalan cepat menyamai langkah Aira. Aira benar-benar takut. Tidak bisa dipungkiri lagi, ia mulai berlari. Orang itu pun sudah pasti ikut berlari mengejar Aira. Sekuat tenaga Aira berlari cepat. Bukannya berlari menuju rumah untuk melindungi dirinya, tapi Aira memilih berlari ke tempat lain agar ia bisa meminta pertolongan orang lain yang ada disana daripada dirumah yang tidak ada siapa-siapa. Yang ada itu malah seperti membukakan pintu dan memberi kesempatan pada orang yang hendak berniat jahat pada Aira itu.
Aira terus berlari semakin jauh dari rumahnya. Orang itu masih tetap mengejar Aira. Hingga Aira memilih untuk masuk ke gang-gang sempit dan penuh kelokan agar orang itu bingung mengejarnya. Nyatanya, orang itu lebih gesit dari Aira. Gang-gang sempit saja tidak membuatnya menyerah mengejar Aira.
Baiklah, Aira memilih keluar dari kawasan gang mengingat gang itu juga sepi tidak ada orang yang bisa menolongnya. Aira hendak kembali ke jalan raya berharap jalan raya kembali ramai. Barang belanjaan yang berjatuhan di jalanan sudah tidak ia pedulikan lagi ia terus saja berlari menyelamatkan diri.
PRANG! BRUK!
Secara tidak sengaja Aira menabrak portal dan membuatnya sedikit terlempar.
"Aaaarrrggghhhh, ssshhh, awwww" rintih Aira kesakitan karena portal itu mengenai kepalanya.
Ah tidak! Orang itu semakin dekat dengan Aira. Aira cepat-cepat bangun dari jatuhnya walau kepala masih keliyengan dan pandangan sedikit buram.
HAP!
Dapat!
Aira tertangkap olehnya. Orang itu berhasil menggapai tangan Aira. Nafas mereka yang sama-sama terengah-engah saling bersahutan. Aira yang sudah tidak lagi berlari darinya itu memberanikan diri mengangkat kepalanya bertatapan mata dengan orang itu. Beberapa detik kemudian, dengan sukarela orang itu membuka topi dan maskernya dihadapan Aira. Dan itu membuat Aira semakin berdebar-debar karena sebentar lagi Aira akan tahu wajah orang itu.
1
2
__ADS_1
3
Betapa terkejutnya Aira ketika orang itu menampakkan wajahnya dengan jelas dan nyata. Orang itu, orang yang mengikuti Aira itu tidak lain dan tidak bukan adalah orang terdekatnya saat ini.