
Aira Pov
Aku diam membeku ketika mendengar ucapannya. Kaget, bingung, ada rasa penasaran juga. Tapi, ah mungkin dia hanya berbual agar aku mau mengencaninya. Apa iya dia tahu segalanya? Darimana? Eh, tapi bisa saja. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Tapi, Bian? Kenapa harus Bian?
Arrrggghhhh! Aku pergi saja meninggalkan dia di tangga darurat tanpa menjawab perkataannya itu. Aku melangkah naik keatas dengan tergesa-gesa.
Kriettt...
Membuka pintu bangsal yang mana mereka semua langsung menoleh kearahku ketika aku datang.
"Nah, itu dia! Lama banget si?! Ngeluarin *** apa beranak?!" celoteh Henna.
"Ya maap! Itu udah hukum alam. Nggak bisa dipatok waktu!" jawabku ngasal.
Tak selang berapa lama, disusullah Bian. Bian masuk dengan gayanya yang tegap, memasukkan kedua tanggannya di saku celana. Aku langsung terdiam karena canggun dengan kedatangan Bian. Aku tahu kalau sikapku ini bisa saja membuat yang lain curiga. Tapi bagaimana, aku sudah berusaha menyembunyikan sebisaku. Kuharap tidak ada yang menoticenya.
"Kalian nggak sengaja dateng hampir bersamaan kan?" Rida berkata tanpa ekspresi dan tatapan mata yang mengarah ke arah lain.
Tama langsung menatapku tajam. Dengan cepat aku menyangkalnya sebelum semakin curiga mereka semua.
"Ng...nggakkk, nggak kok" jawabku.
Bian malah pura-pura tidak tahu dan tidak peduli yang padahal aku sungguh panik mengatasi ini.
"Atau jangan jangan kalian sebelumnya udah ketemu terus sengaja dateng di waktu yang berbeda biar nggak dikira barengan?" Rida tetap curiga.
"Kalau iya?" terbukalah mulut Bian yang lancang itu.
Anak ini benar-benar ingin kupatahkan lehernya. Aku hanya bisa bergumam dalam hati, mengatainya dan beberapa kali mengumpat. Tanganku sudah mengepal ingin memukulnya.
Reaksi mereka sangatlah terkejut mendengar pernyataan dari Bian.
"Kalau iya memangnya kamu mau berbuat apa?" timpalnya.
Arrrrggghhhh. Masih dilanjutin pula sama dia. Emang ni anak minta di slepet.
"Apa maksudmu?" Tama angkat bicara.
"Aku emang ketemu sama Aira dulu"
"Aku yang memintanya menunggu di tangga darurat"
"Terus kenapa? Apa kalian keberatan sementara Aira malah sukarela nunggu di tangga?" Bian tertawa kecil.
"Uhmmm, bu...bukan gitu maksudnya, aduhh..." aku bingung mengelak yang baimana lagi. Sementara Tama sudah terlanjur tahu dan percaya perkataan Bian. Wajah Tama kembali masam dan tatapan tajamnya kembali menusuk.
"Cih, haha! Bener kan apa kataku?" sahut Rida.
"Mereka berdua emang ada MAIN!" Rida menekankan kata "Main".
"Enggak Da, aku bener-bener nggak ada apa apa sama Bian" elakku.
"Nggausah sok alim, sok yang paling disakiti! Cuih!" kata Rida.
"Da, kok kamu ngomong gitu sih sama sahabat kamu sendiri?" sahut Henna.
__ADS_1
"Nggak sudi aku punya sahabat kayak dia!" Rida memalingkan wajahnya dariku.
Jujur, sakit ketika mendengar ucapan Rida itu. Dia tidak mau bicara denganku. Bahkan untuk melirikku saja dia tidak mau. Sepertinya untuk beberapa hari kedepan aku harus menjauh dari Rida untuk ketenangannya. Karena kalau aku terus muncul dihadapannya, yang ada Rida tambah stres dan kesedihannya yang tak akan hilang.
Kami memutuskan untuk pulang setelah perdebatan kecil antara aku dan Rida. Sedaritadi wajahku pun murung dan sedih karena kata-kata itu masih saja melekat di telinga. Untungnya masih ada Henna yang mau mengelus kepalaku lembut dan menepuk-nepuk bahuku menenangkanku. Rasanya aku ingin menangis di tempat tapi malu dilihat banyak orang. Akhirnya kutahan saja air mataku ini.
Ditempat parkir, kami sempat berhenti sejenak sebelum masuk kedalam mobil Tama. Darisitulah Henna berkata, "Kamu mau aku tidur dirumahmu untuk menemani kamu malam ini?" katanya.
Aku menolaknya karena nanti aku akan merepotkan Henna.
Sementara aku berbincang dengan Henna, Tama dan Elang yang membelakangi kami terlihat berbisik entah membicarakan apa. Mereka seperti merencanakan sesuatu. Sebaliknya dari itu, mereka membalikkan tubuhnya mengarah padaku dan Henna. Tiba saja Elang mendekat kearah Henna dan langsung menarik Henna. Dia bilang, "Ikut aku!"
Tentu saja Henna terkejut karena perlakuan Elang yang tiba-tiba menarik tangannya dan menyeretnya keluar area parkir mobil. Sedangkan Tama masih diam berdiri disamping pintu menatapku, memberi isyarat agar aku segera masuk kedalam.
Tunggu, apa ini artinya tadi dia mengusir Elang dan Henna hanya untuk memberi waktu kami berdua? Apakah yang akan terjadi nanti? Apa dia akan menginterogasiku? Kenapa aku jadi deg-degan? Padahal aku sudah sering diantar pulang dengan Tama semobil berdua.
Author Pov
Suasana Henna dan Elang.
Henna terlihat risih karena Elang yang menarik tangannya tanpa persetujuan darinya. Dan juga, Henna terheran kenapa Elang menarik tangannya menjauh dari Aira sementara dia belum berpamitan pada Aira.
"Iihhh, kenapa si?!" Henna menghempaskan tangan Elang.
"Aku antar kamu pulang naik taksi!"
"Lah, kenapa gitu?" -Henna.
"Kamu nggak lihat mereka berusaha ngomongin masalah mereka?" kata Elang.
"Udahdeh! Aku pulang sendiri aja. Lagian rumah kita beda arah. Kalau mau naik taksi mahal ongkosnya!" -Henna.
"Nggak!"
"Aku antar kamu pulang!"
"Idih, maksa!" -Henna.
Suasana Aira dan Tama.
Hanya ada canggung, canggung, dan canggung yang ada diantara mereka. Tak ada yang membuka obrolan, dan tak ada yang memecah suasana walaupun hanya sebuah lagu.
Tama lebih dulu masuk kedalam mobilnya, menutup pintu mobil dengan keras membuat Aira sedikit tersentak. Itu berhasil membuat Aira semakin gugup ketakutan kalau saja Tama marah disaat semua sudah pergi. Kalau benar marah, ia akan meminta tolong pada siapa? Sedangkan Henna sudah pulang bersama Elang.
Dengan ragu Aira membuka pintu mobil dan masuk, duduk disamping kursi pengemudi. Dari keduanya masih diam tak berkutik. Tama hanya memandang kosong di arah lain sementara Aira hanya menundukkan kepala dan sesekali memainkan kukunya.
"Apa bener yang diomongin Bian tadi?" nada Tama rendah.
Aira semakin erat menggenggam roknya dan mulai menganggukkan kepalanya perlahan.
"Emangnya apa yang kalian omongin?"
"Harus ya ketemu di tangga darurat?"
Aira semakin takut dibuatnya.
__ADS_1
"Emangnya apa? Hm?" tangan Tama membelai lembut rambut Aira dan menyingkapnya dibelakang telinga.
"Kenapa diem aja? Aku nggak bakalan marah kok. Kamu ngomong aja"
Tapi Aira tetap saja diam tak bersuara. Sebab Aira bingung. Ia bingung harus mengatakan apa, tidak mungkin juga Aira mengatakan yang sebenarnya.
"Airaaa, hey!" Tama mendongakkan kepala Aira sedikit kasar.
"Airaaa, kamu ngomong dong. Kalau nggak ngomong mana aku bisa ngerti, hm?" nada Tama seperti mengintimidasi.
"Hellooowww, Airaaaa"
Sikap Tama membuat Aira semakin ketakutan. Getaran tubuhnya semakin kencang dan keringat dinginnya bercucuran. Genggaman tangan Aira semakin erat bahkan gigi Aira menggertak.
"HEH!" Tama yang mulanya membelai rambut Aira lembut kini menariknya kencang hingga kepala Aira terangkat keatas.
"NGOMONG AIRA, NGOMOOOONG!" Tama marah tepat didepan wajah Aira. Jarak wajah mereka pun hanya sekitar satu kilan tangan perempuan.
Aira tak kuasa lagi menahan ketakutannya. Ia menjatuhkan tetesan air mata dan isakan tangisnya.
"Loh, kok nangis?"
"Kenapa? Gara-gara aku teriak tadi ya?"
"Maaf yaaa" dengan cepatnya nada Tama turun.
"Makanya kalau kamu nggak pengen aku teriak, kamu ngomong yang jelas, ya?"
"Yaudah sekarang ganti kamu yang ngomong. Aku siap dengerin omongan kamu"
Aira menggelengkan kepalanya tanda tidak mau mengatakan apa-apa.
"Masih nggak mau ngomong, hm?"
"Masih nggak mau ngomong, iya?"
"NGOMONG AIRA NGOMONG!!!"
"AAARRRGGGGHHHH!"
"AKU UDAH SABAR DARITADI NUNGGUIN KAMU BUKA MULUT. TAPI KAMU TETEP MEMBISU!" kemarahan Tama semakin memuncak. Ia berkata demikian seraya memukul-mukul setir mobilnya.
Krieeeekkk....
Tiba saja Tama mengeluarkan sebuah cutter dari sakunya dan menodongkan cutter itu kearah Aira.
Aira yang sangat ketakutan itu suara tangisannya semakin kencang. Cutter itu semakin dekat dengan leher Aira.
"Kamu ngomong apa nggak?!"
"Aku cuma pengen tau!, hiks...hiksss.." akhirnya dengan terpaksa Aira membuka mulutnya.
"Tau apa?!"
"KAMU KAN ORANG YANG ADA DIBALIK GEDUNG ITU?!"
__ADS_1
Deg!