Strange School

Strange School
Gadis di Toilet


__ADS_3

"Tama?" ucap Aira dengan nada yang sedikit bergoyang karena gemetar.


Aira perlahan mundur menjauh dari Tama. Nafasnya mulai berat setelah melihat Tama yang bahkan mengetahui jika anak baru yang dimaksud adalah Tama.


"Eh, dia kenapa tuh?"


...


"Mukanya pucat!"


...


"Kenapa dia?"


....


Blablabla


"Aira kenapa?" Henna menggerutu sendiri melihat sikap Aira yang tiba-tiba aneh menurutnya.


Kepala Aira mulai pusing, wajahnya pucat, matanya sayu, serta tubuhnya lemas. Saking lemasnya, kaki Aira hampir tak sanggup menopang tubuh Aira lagi. Aira hampir terjatuh karena tak kuasa.


Hap!


Dengan sigap Tama menggenggam tangan Aira mencegahnya terjatuh.


Reflek, Aira menghempaskan begitu saja tangan berurat yang menggenggam tangannya yang kemudian berlari sempoyongan.


"Airaaa!!" Tama menyusul Aira dengan teriakan memanggil nama Aira.


"Haaa? Anak baru itu sudah kenal sama Aira?"


...


"Dia kenal Aira?"


...


"Apa mereka pacaran?"


...


"Ekspresi Aira kayak dia baru ketemu dengan MANTAN!"


...


"Jangan-jangan mereka mantan yang masih saling sayang"


...


Henna yang melihat Aira berlari ikut menyusul Aira dan Tama.


Di ujung koridor, tepatnya didepan lab.komputer yang berdampingan dengan UKS itu Tama berhasil meraih kembali tangan Aira yang ternyata masih memakai gelang tali pemberiannya. Tama sedikit tersenyum melihat Aira masih melihat gelang tali tersebut.


Set!


Aira menghempas tangan Tama begitu saja, seolah Aira jijik dengannya.


"Kamu masih memikirkan kejadian di pesta itu?"


"Pesta?" dari kejauhan Henna memantau mereka berdua tanpa sepengetahuan Aira dan Tama.


"Ai, aku juga nggak tahu kenapa aku bisa bertindak seperti itu. Aku mohon kamu bisa ngerti" terang Tama.


"Jadi sekarang aku mohon, lupakan semua kejadian itu, ya?" pinta Tama.


"Hah? Haha" Aira tertawa mengejek.


"Segampang itu? Kamu pikir lupain suatu hal yang bahkan bisa mengancam hidup aku sendiri itu segampang menyapu debu di lantai?!" bentak Aira.


"Mereka ngomongin masalah apa sih?" Henna yang mengintip kelakuan nereka berdua terus saja bertanya-tanya.


"Mengancam hidup itu yang bagaimana?" heran Henna lagi.


"Sekarang kamu ikut aku" Tama meraih tangan Aira.


Set!


Langsung dihempas oleh Aira.


"Aira?" Henna yang tak ingin pertengkaran antara mereka semakin meledak menampakkan diri.


"Kamu pucet banget. Ke UKS sekarang ya?" tawar Henna, merangkul Aira yang semakin lemas.


"Aku ada perlu sama Aira" kata Tama pada Henna.


"Kamu nggak ngerti kondisi dia seperti apa?" gertak Henna pada Tama.


"Biar aku aja yang bawa dia ke UKS" tawar Tama.


"Hen, ke UKS sekarang aja yuk!" Aira mengalihkan pembicaraan Tama.


"Ra?" Tama memanggil nama Aira, namun diabaikannya.


Aira berbaring di kasur UKS setelah diberikan obat paracetamol oleh Henna. Aira masih terlihat pucat dan lesu. Matanya sayu dan tubuhnya lemas. Kepalanya pun masih pusing.


"Kamu tinggal aja nggak papa Hen" kata Aira dengan nada yang sangat rendah.


"Nggak papa Ai. Lagian kan cuma pelajaran pak Imam. Dia mah santai orangnya. Masuk kelas terserah, nggak juga terserah" kata Henna.


Tring...


Pesan masuk dari ponsel Henna.


"Disuruh masuk sekarang! Ada ulangan harian mendadak!" -Rida


"Alaahhhhh, pake ulangan mendadak ngapain sih?" keluh Henna.


"Yahhhh, aku nggak ikut ulangan dong? Nyusul sendirian dong? Yaaaah" Aira memasang raut sedih.


"Santaaaai, nanti aku kasih tau. Oke? Ehehehe" kata Henna.

__ADS_1


"Aku tinggal dulu ya Ai"


Aira mengangguk.


"Tirainya aku tutup ya, biar kamu enak tidurnya" ucap Henna.


Aira mengangguk lagi.


Sreeeeek!!


Suara tirai yang ditutup.


Suasana UKS semakin sepi dan hening semenjak Henna meninggalkan Aira sendirian di UKS. Aira mencoba memejamkan matanya namun tak bisa. Aira terus memikirkan hal-hal yang buruk untuk pikirannya.


Berkali-kali sudah Aira memindahkan posisi tidurnya namun tetap tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Hadap kanan, hadap kiri, terlentang, tengkurap, duduk, jongkok, semua terasa tak nyaman baginya.


"Hiiiiiiihhhhhh" Aira yang kesal sendiri itu membanting tubuhnya ke kasur.


Drrrrrtttt....drrrrttttt.....


Ponsel Aira terus bergetar menerima pesan.


"Issssshhhh" Aira risih dengan pesan yang terus menerus ia terima. Apalagi, pesan itu dari Tama.


"Ai"


"Kita perlu bicara berdua"


"Temui aku di perpustakaan di istarahat kedua"


"Aku tunggu kamu disana"


"Walaupun aku tahu kamu pasti nggak akan datang"


"Yang penting aku datang untuk menunggumu"


"Bodo amat!!! Tunggu aja sampe dugong lebaran!!!!" Aira seolah berbicara dengan benda mati.


"Hufffhhhhh" Aira menghela nafas. Matanya terpejam, tubuhnya menghadap kearah tirai.


Tap...tap...tap


Langkahan kaki semakin terdengar jelas masuk ke UKS.


Karena Aira mengira itu adalah orang yang ingin beristirahat juga, Aira memilih untuk membiarkan orang yang baru masuk itu.


Sreeeeekkkk!!


Tirai membuka.


Aira tetap tidak menghiraukan orang yang baru masuk itu walaupun orang itu telah membuka tirai dan mengancam kenyamanan Aira yang hendam terlelap.


Kok kayak ada orang yang ngeliatin aku?


Apa perasaanku aja ya?


Aira memutuskan untuk membuka matanya perlahan. Aira terperanjat begitu melihat Elang, si pemberi payung biru itu sudah ada dihadapannya. Elang menyingkap tirai itu sebab ia mengira jika tidak ada orang lain selain dirinya di UKS ini.


Suasana canggung.


Elang membuang mukanya, berusaha mengabaikan Aira yang berbaring dan pergi menghampiri kotak obat.


Klotak! Klotak!


Elang mencari sesuatu dan menimbulkan suara.


Sementara Aira yang masih canggung itu hanya memandang Elang.


"Ck! Aarrrggghh" Aira menggerutu kesal karena suara yang ia timbulkan dan memutuskan untuk membantu mengambilkan obat yang ia cari di rak obat-obatan.


"Nyari ini kan?" kata Aira, menyodorkan sebuah obat.


"Hmm" jawab Elang, hanya dengan deheman.


Set!


Elang mengambil obat itu dari tangan Aira.


Tanpa mengucapkan terima kasih, Elang langsung duduk begitu saja di kasur UKS dan segera membuka perban di lengannya yang terluka. Elang cukup kesusahan dengan itu. Pada akhirnya Aira bersedia membantunya walau dengan raut wajah yang kesal.


"Sini!!" bentak Aira, merebut kembali obat dari tangan Elang.


Begitu obat itu ada di tangan Aira, Elang hanya diam membiarkan Aira untuk membasuh lukanya. Tentu dengan sikap yang selalu dingin itu.


Aira menuangkan obat pada kapas. Dengan telatennya Aira membasuh luka itu perlahan. Mata Aira terlihat begitu fokus menatap luka Elang. Namun Elang hanya memandang sebuah rak kaca yang ada persis didepannya. Rupanya, disana terdapat bayangan mereka berdua yang terlihat amat jelas. Elang memperhatikan Aira dari kaca yang memantulkan bayangan Aira. Elang tampak serius saat itu.


Hingga, tiba-tiba sebuah bibir tertarik tersenyum.


"Udah, makasih!" kata Aira, dengan maksud menyinggung Elang yang tidak tau terima kasih.


"Ambil kursi itu!" Elang memerintah Aira untuk mengambil sebuah kursi.


"Ngapain?" tanya Aira.


"Ambil" jawab Elang datar.


Sreeeeet!


Kursi yang digeser.


"Duduk" pinta Elang.


Duduklah Aira di kursi itu.


Kursi yang semula Aira letakkan agak jauh dari kasur yang ditempati Elang itu, digeser oleh Elang agar mendekat dengannya.


Sreeeeeek!!!


Akibatnya, Aira yang sedang duduk di kursi itu menjadi salah tingkah sekaligus canggung. Bagaimana tidak, kini Aira begitu dekat dengan Elang bahkan hanya berjarak dua kilan tangan perempuan.


Glek!

__ADS_1


Aira menelan ludahnya.


Apa yang dilakukan Elang? Tak cukup membuat Aira salah tingkah yang bercampur dengan canggung, Elang menambahkan sikap manisnya kepada Aira dengan memijat pelipis serta kepala Aira yang pusing itu.


Nggak nyangka aku bakalan dipijat gini, batin Aira.


Terasa nyaman, tanpa sadar Aira memejamkan matanya menikmati pijatan dari Elang. Aira merasa tenang dan nyaman saat ini, entah mengapa.


Ditengah-tengah Aira telah nyaman dengan pijatan lembut di kepala, tiba-tiba saja pijatan itu berhenti. Namun tangannya masih berada di kepala Aira.


Dia lagi ngapain tuh? Tangannya masih dikepalaku tapi kok dia diem aja, batin Aira.


Perlahan, Aira membuka matanya. Terkejutnya lagi, Elang lebih mendekatkan dirinya pada Aira dan mengurangi jarak dua kilan itu menjadi 15cm. Bayangkan seberapa dekatnya Elang menatap Aira dengan tajam.


Semakin lama, tangan Elang perlahan turun.


Jedug! Jedug! Jedug!


Jantung Aira sudah tak karuan.


Hap!


Dua tangan berotot itu berhenti tepat di kedua pipi Aira yang mulai merona.


Ngapain nih, batin Aira yang semakin gugup.


Demi apa? Elang tersenyum kearah Aira dengan jarak sedekat itu. Jantung Aira yang sudah berdegup kencang, makin kencang lagi degupannya. Aira yang kaget dan bingung ingin berbuat apa itu hanya menganga dan membulatkan bola matanya pada Elang.


Tahan Ai, tahan!, batin Aira salah tingkah memainkan tangannya sendiri.


Pertama Tama, lalu datang Bian, tak lama setelahnya datang lagi si Elang. Bagaimana keadaan hati Aira?


"Elang?" seorang gadis datang, berdiri didepan pintu.


Buru-buru Aira memperbaiki posisi dan menjauh dari jarak yang berdekatan dengan Elang. Sementara Elang terlihat sangat santai seolah tak akan terjadi apa-apa.


"Kalian ngapain?" tanya gadis itu mencurigai mereka.


"Kalian lagi mesum di uks?!!!" teriak gadis itu dan membuat heboh.


Karena teriakan gadis itu, semuanya bergerombol ingin melihat keadaan UKS.


"Siapa? Siapa?"


...


"Anak itu lagi?"


...


"Isssshhh menjijikan!"


...


"Mesum di uks?"


...


"Dia lagi ya?"


...


Blabla


Issssh, timbul gosip lagi kan!, batin Aira.


"Ng...nggak!" elak Aira.


Elang hanya diam, terlihat tenang, santai, dan damai. Saking santainya, Elang hanya menyilangkan kedua tangannya.


"Gimana sih kok diem aja!!" Aira mencolek kaki Elang dan mengomeli Elang.


"Kalian mau ngelak apa lagi? Jelas jelas kan kalian disini hanya berdua, terus pegang-pegangan!!!!" kata gadis itu.


Suasana UKS yang semula hening menjadi ramai karena semua seisi sekolah mengerumuni UKS.


"Lihat nih!!! Anak baru masuk kemarin udah mesum sama pacar orang!!!" gadis itu mengeluarkan ponselnya dan merekam semua.


Aira yang tertegun itu menatap Elang dan gadis itu secara bergantian. Aira benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang menerjangnya kini.


Jadi dia udah punya pacar? Airaaaa kok kamu tolol sekaliiiiii!!!! Ya jelaslah gosipnya cepet menyebar. Di uks cuma berdua sama pacar orang lagi, batin Aira.


Gadis yang masih merekam gerak-gerik Aira membuat Aira terganggu dan pastinya merusak nama baik Aira. Oleh sebab itu, Aira hanya bisa berdii dan menundukkan kepalanya. Sesekali Aira menggigiti bibir bawahnya.


Merasa iba dengan Aira yang namanya terlanjur buruk, Elang menampakkan diri di video yang gadis itu rekam, melindungi Aira dari sorot kamera.


"Elang?" gadis itu heran dengan sikap Elang yang melindungi Aira.


Elang menggandeng tangan Aira dan berniat mengajak Aira menerobos kerumunan siswa yang lain.


"Satu lagi yang harus kamu ingat" Elang menunjuk pada gadis itu.


"Satu minggu yang lalu, kita udah PUTUS!!"


"Haaa, terus kenapa dia meributkan Elang sama cewek lain?"


...


"Mungkin dia nyesel mutusin Elang"


...


Blablabla


Usai mengucapkan kata itu, Elang menarik Aira menerobos kerumunan. Kondisi Aira yang masih menahan malu itu tetap menundukkan kepalanya. Seketika itu, Aira yang tidak sengaja menundukkan kepala melihat beberapa pasang kaki dari siswa lain. Satu yang menarik perhatian Aira. Sepatu yang sama dengan sepatu milik gadis yang di toilet beberapa waktu lalu.


Itu kan sepatu yang sama?, batin Aira.


Lantas Aira memelototkan matanya ketika melihat sepatu itu. Mata Aira mulai menaikkan pandangannya pada wajah pemilik sepatu itu.


Tak disangka, gadis yang mengikat rambut, berpakaian rapi dan berwajah kalem itu menarik perhatian Aira.

__ADS_1


__ADS_2