Strange School

Strange School
Berita


__ADS_3

Tak sampai disitu, usai melakukan kejahatan yang sangat tidak manusiawi yang kemudian masih sempat untuk tersenyum itu, datanglah seseorang yang berpakaian bergaya persis serba hitamnya, memakai sepatu sport berwarna kelabu. Orang yang berciri-ciri sama dengan orang yang sempat Aira kejar.


Apakah mungkin orang yang baru datang itu rekannya?


"Kenapa kau tidak berbagi?" kata laki-laki yang baru datang itu.


Sontak, laki-laki yang terciprat darah gadis malang itu memberikan palu berdarah.


"Haha, kau bercanda? Apa lagi yang harus kukerjakan? Dia aja sudah mati" kata laki-laki bersepatu kelabu.


"Aku menyisakanmu di kepala bagian belakang. Masih utuh" kata laki-laki bersepatu putih.


"Percuma kalau dia nggak bisa teriak" ucap laki-laki bersepatu kelabu.


---


Selang beberapa menit usai Aira melemparkan tubuhnya ke kasur, Aira melihat jam di layar ponselnya.


"Jam satu??!!!!!"


"Kenapa ini mata masih melek ya?"


"Kenapa belum tidur tidur juga siiiiiii????!!!!"


Tululit....tululit....


Panggilan masuk dari "Bian"


"Ini dia yang di cari-cari!!!" celoteh Aira begitu Bian menelponnya.


"Ha-"


"AHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!"


Ucapan salam Aira terpotong sebab suara gelak tawa beberapa orang terdengar di telepon. Karenanya, Aira segera menjauhkan ponselnya dari daun telinga agar tak merusak telinganya.


"Halo?" sapanya lagi.


"Heeeeyyy!!! Airaaaaaa!!!!!!" suara dibalik telepon itu seperti suara orang yang sedang mabuk. Namun, pemilik suara ini bukanlah Bian, namun entah siapa.


"Bilang pada Bian, kalau cari mangsa itu secukupnya aja!!" kata orang itu, yang tak Aira mengerti apa maksudnya.


"Maksudnya?"


"Aaaaaaarrrrrrrggggghhhhhh!!!!!" terdengar suara erangan yang disertai tangisan seorang wanita namun jaraknya lumayan jauh dari tempat penelepon.


"Bug!!! Bug!!! Bug!!!" terdengar suara pukulan.


Anehnya, suara tangisan yang sebelumnya itu seketika menghilang usai suara beberapa pukulan terdengar. Aira mulai memikirkan hal yng tidak-tidak karena itu.


"Apa yang kalian lakukan?"


"Kenapa aku dengar suara perempuan yang menjerit?" kata Aira.


"Ahahahahahha" orang itu malah tertawa.


"Lihat wajah bahagianya itu" lanjutnya.


"WAHAHAHAHAHHA" disusul dengan gelak tawa dari beberapa orang yang lain seolah ada yang melucu.


"Hey! Apa yang kamu lakukan dengan handphoneku?!!!!" suara Bian baru terdengar. Namun suaranya terdengar lebih berat serta nafasnya terengah-engah.


"GILAA!!" Bian sempat mengeluarkan kata itu dengan nada yang tinggi.


Entah apa yang mereka lakukan, namun usai suara Bian terdengar, teleponnya mati. Aira jadi tak tahu dengan pembicaraan mereka selanjutnya, tak tahu dengan apa maksud dari perkataan orang itu.


"Maksudnya apa sih?" heran Aira.


"Suara orang mabuk, jeritan perempuan, suara pukulan, cari mangsa yang secukupnya aja, suara tertawa, mukanya yang bahagia, dan nafas Bian yang kayak orang sesak nafas sebenarnya maksudnya apa?" celoteh Aira.


"Arrghhhh!!! Adaaaaaa aja pertanyaan pertanyaan yang memunculkan tanda tanya besar dalam hidupku yang nggak bermakna ini" ujarnya.


"Bodo ah!!! Tidorrrrr!!!" celotehnya.


---


Tring...


Pagi-pagi buta, seisi sekolah diributkan dengan berita kasus pembunuhan salah seorang siswa Elang Bangsa.


"Telah ditemukan mayat seorang gadis di suatu padang rumput yang luas. Kondisi mayatnya cukup memprihatinkan. Pasalnya, tubuh gadis cantik itu dipenuhi luka luka, serta kepalanya yang pecah. Diketahui, identitas dari korban adalah siswi dari salah satu sekolah menengah atas EB yang berinisial AP. Sementara, pelaku dan motif dari kasus yang diduga pembunuhan ini belum terungkap. Polisi masih menyelidiki kasus ini" seperti itulah penggalan isi berita yang sudah tersebar ke seluruh penjuru kota.


"Hey! Beritanya itu benar ya?"


...


"Masa iya murid disini?"


...


"Kira-kira siapa?"


...


"Kenapa pihak sekolah belum konfirmasi apa-apa?"


...


"Kalau laring sekolah udah posting fotonya, pasti benar dia murid sini"


...


Blablabla


Berita itu menjadi topik hangat di sekolah Elang Bangsa, sebab inisial sekolah dari kasus pembunuhan itu sangat tepat dengan Elang Bangsa.


"Kalian udah denger beritanya kan?" kata Rida.


"Berita pembunuhan itu?" sahut Henna.


"Sekolah EB itu sekolah kita kan?" sahut Ika, teman sebangku Aira.


"Kalian ngomongin apa sih?" Aira yang belum mengerti dengan apa yang mereka bicarakan bertanya.

__ADS_1


"Astaga, dia malah nggak tau?!" ejek Henna.


"Kamu punya tv nggak sih Ai?!" ejek Rida.


"Ya kan aku nggak pernah lihat berita" jawab Aira lesu.


Saat itu pula sebelum bel masuk berbunyi, seisi sekolah dihantui dengan bunyi notifikasi dari ponsel mereka masing-masing. Tak terkecuali dengan Aira. Aira yang sedang duduk di bangkunya, bercengkerama dengan ketiga temannya, Henna, Rida dan Ika pun mendapatkan notifikasi.


"Waaaa!!!!" salah seorang teman Aira menjerit begitu melihat notifikasi dari ponselnya.


"Gila!!"


...


"Brutal sekali"


...


"Kasihan dia"


...


"Dia Adiba ya?"


...


"Hah? Adiba anak pendiam yang cantik itu?"


...


"Serius?!!!"


Rupanya, terdapat sebuah foto dimana dalam foto tersebut menggambarkan tubuh korban pembunuhan yang sempat ditampilkan di layar berita namun dalam kondisi tanpa sensor sama sekali, berbeda dengan foto yang tersebar di layar berita yang telah di sensor. Sontak itu membuat seisi sekolah heboh. Tak hanya foto ketika gadis itu sudah tewas, namun tercantum pula fotonya ketika dia masih bisa tersenyum dengan cantik.


"Dia siapa?" tanya Aira.


"Katanya sih, Adiba anak sebelas IPA 1" jawab Ika.


"Adiba? Siapa dia? Aku nggak pernah lihat wajahnya" kata Aira, mengernyitkan dahi.


"Coba lihat instagramnya dia" kata Rida.


"Namanya Adibaputri pakai anderskor!!" jawab Rida.


Aira pun mengetik nama akun itu pada ponselnya. Usai menekan nama akun yang ia cari, muncullah beberapa feed foto instagram yang menarik. Salah satunya ialah sebuah postingan foto dirinya dari samping. Itu membuat Aira mengingat akan seseorang yang pernah ia temui.


"Kalau dari samping gini aku kayak pernah lihat gitu. Tapi dimana ya?" Aira memutarkan bola matanya berpikir.


"OIYA!!!" ucapan Aira membuat terkejut orang disekitarnya.


"Apaansih Ai!" Henna memukul lengan Aira kesal.


"Airaa!" sahut Rida yang kesal pula.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Henna.


"Ehehehe, ya maap. Nggak ada apa-apa sih. Cuma lupa aja nggak bawa cas handphone, eheheheheh" elak Aira.


"Issss!!! Masalah cas pinjem siapa gitu kan bisa, nggak usah diambil pusing!!!" kata Henna.


"Bentar ya, aku ke toilet dulu" pamit Aira.


Di toliet yang sedang sepi itu, Aira mencuci mukanya terlebih dahulu. Setelahnya, Aira langsung mengambil ponsel dari sakunya dan mulai menekan tombol-tombol.


Tut...tut...tut


Panggilan tersambung.


Namun tak lama kemudian,


Tut...tut...tut


Nomor yang anda tuju sedang sibuk cobalah beberapa saat lagi.


"Dimatiin?" Aira melebarkan mulutnya.


"Wahhhh... Berarti bener ada apa-apanya nih!!!" gumam Aira.


Krieeeett....


Tepat sebelum Aira keluar dari toilet perempuan, datanglah seorang gadis berambut lurus, berseragam rapi, serta memakai sepatu yang Aira kenal. Karena kedatangannya itu, Aira langsung membelalakkan matanya terkejut tak menyangka.


Dia kan, orang yang waktu itu di toilet lagi telfonan ngomongin Shinta, batin Aira.


Perempuan itu mencuci tangan dan mukanya, yang kemudian menatap pantulan dirinya di cermin. Perempuan itu sadar jika Aira menatapnya semenjak dia masuk ke toilet itu.


"Kenapa ya?" tanya perempuan itu dengan sopan.


Aira tidak menjawab pertanyaan perempuan itu, melainkan terus menatapnya dengan penuh tatapan curiga. Karena tatapan Aira itu, dia menjadi canggung serta salah tingkah. Tak ingin suasana ini mengikat dirinya, perempuan itu mempercepat gerakannya agar cepat keluar dari toilet dan tidak ditatap oleh Aira lagi. Begitu perempuan itu hendak membuka pintu toilet untuk keluar, Aira baru membuka suaranya.


"Kamu kenal Shinta?" tanya Aira dengan nada yang datar.


Mendengar pertanyaan Aira, sontak dia menghentikan langkahnya, berdiri di belakang pintu.


"Kok diem aja?" kata Aira.


Namun dia malah berlari menjauh dari Aira.


"HEY!!!" Aira mengejarnya.


Jadila mereka berdua saling kejar di sepanjang koridor sekolah.


"WOOOOOYYYYY!!!!" teriakan Aira tak dihiraukannya.


Hap!


Seseorang dari arah yang berlawanan berhasil mencegah Aira mengejar perempuan itu lebih jauh.


"Aww" rintih Aira karena tangan besar menggenggam tangannya erat.


Rupanya, dialah orang yang Aira cari cari selama dua hari terakhir. Ya, dialah Bian.


"Ngapain lari lari?" tanyanya.

__ADS_1


"Ck! Minggir!!" Aira mencoba menghempaskan tangan Bian. Aira kesal, sebab ia mulai kehilangan perempuan itu.


"Kenapa tadi telfon aku?" tanya Bian.


"Arrggghhh!!! Jadi ilang kan!!!" gerutu Aira.


"Emangnya kenapa?" tanya Bian


"Penting banget ya sampe lari lari?" sambungnya.


"BANGET!!!" jawab Aira.


"Gimana? Apa kamu menikmati pesta malam itu?" tanya Bian dengan menaikkan alisnya sebelah.


"Menikmati palamu!!!"


"Jadi kamu sengaja ya ngajak aku kesana? HAH?!" Aira naik pitam.


"Sekarang aku minta pertanggungjawabanmu. Kenapa kamu ngajak aku di pesta itu, dan apa alasannya?!"


"Husssssttttt!!!" Bian menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.


"Jangan keras keras, emang kamu mau aibmu kebongkar?" kata Bian.


"Kamu kan udah nggak virgin" Bian mengatakan itu dengan membisik di telinga Aira.


"HAHA!" Aira tertawa mengejek.


"Maaf ya, tapi masih rapet tuh!" Aira membalas Bian dengan membisik tepat di daun telinga Bian.


Tak hanya itu, Aira menatap Bian sinis dan tersenyum sengit kemudian pergi kembali ke kelasnya.


---


Istirahat kedua, Aira dan ketiga temannya pergi ke kantin menikmati cup plastik es jeruk yang menyegarkan. Tidak lengkap rasanya jika perkumpulan mereka tidak dibumbui dengan desisan gosip. Terlebih, masih hangat hangatnya berita kematian salah satu siswi sekolah Elang Bangsa ini.


"Eh, eh!! Kalian tau orang ini nggak?" Aira mengingat akan satu hal, menunjukkan sebuah foto dari ponselnya ke teman-temannya.


"Siapa?" tanya Henna.


Aira memperlihatkan sebuah foto yang menampilkan seorang laki-laki berseragam kas sekolah Elang Bangsa sedang berdiri di tempat paling sepi di sekolah. Ya, foto itu ialah foto yang Aira ambil saat Aira di atap.


"Itu bukannya Hatta ya?" sahut Ika yang sedang menyipitkan matanya ketika melihat foto tersebut.


"Hatta?" Aira mengulangi nama yang Ika sebut.


"Ohhhh, Hatta kelas sebelas IPA dua itu ya? Yang anak musik itu?" sahut Rida yang nada suaranya tinggi, mengundang tatapan mata anak-anak lain yang sedang di kantin.


"Huussssttttt!!! Rida kebiasaan!!" tegur Henna.


"Emang kenapa dengan dia Ra?" tanya Henna.


"Nggak kenapa-napa sih, cuma lagi liat dia ngrokok diem-diem di dalam sekolah aja. Mau aku laporin gitu ceritanya" kata Aira.


"JANGAN!" kata Rida.


"Mending gausah!!! Udah biarin aja" sambungnya, yang disambut oleh anggukan dari Henna dan Ika seolah membenarkan apa yang Rida katakan.


"Kenapa?" tanya Aira.


"Pernah waktu itu ada yang laporin dia ke guru BK persis seperti apa yang akan kamu lakukan. Tapi setelah itu, orang yang laporin dia masuk rumah sakit gara-gara kecelakaan. Padahal dia perempuan loh! Dia emang nggak tanggung tanggung milih lawan!" kata Rida.


"Dia mukuli anak perempuan gitu maksudnya?" kata Aira.


Rida menjawabnya dengan anggukan.


"Parahnya lagi, kasus itu tiba-tiba ditutup begitu aja tanpa ada keterangan lebih lanjut. Gosipnya sih, ayahnya nyogok pake duit!!" kata Rida.


"Yang bener?" Aira seolah tak percaya.


"Beneran! Semua guru-guru kalau ditanya soal kasus itu pasti nggak ada yang jawab. Malah ada yang mengalihkan pembicaraan!" kata Rida.


"Gila! Dibayar berapa sih sampe mulutnya ketutup rapat?" celoteh Aira.


"Terus, sekarang perempuan itu baik-baik aja?" tanya Aira.


"Setelah sembuh sih, dia pindah ke luar kota" sahut Ika.


"Aku pengen tahu wajahnya lebih jelas deh! Dia kayak apa sih?" kata Aira.


"Kalau pengen tahu wajahnya, yaudah lihat wajahnya sekilas aja nggak usah meduliin dia apalagi sampe laporin dia!" kata Henna.


Wahhh, bahaya dong ini berarti, batin Aira.


"Tapi ya, kalau lihat dari segi wajahnya aja dengan sekilas, dia emang nggak kelihatan pernah melakukan suatu hal yang jahat. Dia itu mukanya polooooos banget banget banget. Keliatan orang baik. kalau orang nggak kenal pasti ngira dia emang orang baik" sambung Rida.


"Tapi walaupun dia pernah berbuat brutal kayak gitu, dia terkenal orang yang tertutup. Nggak pernah cerita masalah hidupnya ke teman-temannya walaupun dia punya banyak teman juga. Kamu percaya nggak dia nggak pernah main media sosial sekalipun?" kata Henna.


"Serius nggak pernah main medsos? Instagram? Facebook? Atau game game online gitu?" sahut Aira.


"Nggak sama sekali! Dia cuma tau yang namanya whatsapp! Tapi aku masih nggak bisa percaya sepenuhnya. Karena bisa aja kalau dia itu punya handphone lain misalnya, terus pakai akun palsu" kata Henna.


"Tapi kan kata teman-temannya itu beneran. Temannya juga pernah kok, pinjam handphonenya dengan ijinnya dia tapi juga nggak nemuin media sosial kecuali whatsapp untuk mengirim pesan itu" sahut Ika.


"Galeri fotonya juga cuma ada foto-foto dari grup chat whatsappnya. Nggak ada foto dia pribadi" sambung Rida.


"Kayak introvert gitu bukan sih dia?" kata Aira.


"Nggak tahu juga ya" sahut Henna.


Tet...tet...tet...


Bel masuk berbunyi.


"Kalian masuk kelas aja dulu. Aku mau ke toilet dulu" pamit Aira.


Karena sekarang dia masih berada di kawasan kantin, untuk itu Aira pergi ke toilet yang dekat dengan kantin. Di toilet kantin, toilet perempuan dan toilet laki-laki berdampingan. Begitu keluar dari toilet perempuan sudah bertemu dengan toilet laki-laki.


Saat Aira keluar, Aira berhenti sejenak di depan toilet perempuan sebab dia sedang membenahi seragamnya yang tak rapi dan rambutnya yang berantakan. Saat itu juga, seorang laki-laki baru saja keluar dari toilet laki-laki dengan rambut yang acak-acakan dan seragam yang tidak rapi.


Aira menatap laki-laki itu heran. Sampai detik itu, Aira melihat bet nama yang ada di dada bagian kanannya. Betapa terkejutnya Aira melihat nama yang tertulis di bet nama milik laki-laki itu.


"Hatta Hestamma"

__ADS_1


"XI IPA 2"


__ADS_2