
Tama Pov
Di jam ke 5 dan 6, kelasku sedang jam kosong. Tentu itu hal yang menyenangkan. Aku memanfaatkannya untuk pergi ke markas menghampiri yang lain.
Di markas kedua kami yang merupakan gudang sekolah rupanya sudah ada Hatta dan Elang yang sedang memantau komputer. Seperti biasa mereka sedang memantau gerak-gerik orang yang terlibat dengan sadap persadapan.
"Tam, tam, tam!" Elang mengacaukanku yang sedang merokok.
"Hmmm?" jawabku karena rokok yang masih ada di mulut.
"Asma ngirim pesan ke Aira" katanya panik.
"Hah? Apaan?" aku ikut penasaran, melihat layar komputer.
"Belakang kaca kamar mandi barat" tulis Asma untuk Aira.
Dari situ aku berpikiran jika Asma membuat sebuah rencana dan dia sudah tahu bahwa handphonenya telah disadap. Aku harus sampai kesana lebih dulu dari Aira. Aku langsung mematikan rokok dan membuangnya begitu saja karena sibuk berlari.
Sialnya, waktuku terbuang hanya karena ada seorang guru yang terkenal disiplinnya itu menegurku karena kerah bajuku yang tak rapi.
"Ehh, ngapain lari-lari?" tanya guru itu.
"Anu bu, kebelet, hehe"
"Itu kerah kamu benerin dulu. Pakai seragam yang rapi dong" omelnya.
"Oh, iya bu. Permisi ya bu"
Aku kembali berlari setelah menanggapi guru disiplin itu. Ahhhh, aku hampir sampai. Dan benar saja, dari kejauhan sudah kulihat Asma yang sedang duduk membaca novel didepan kelasnya. Aku langsung tahu, pasti Asma sedang menunggu Aira masuk ke kamar mandi. Aku harus cepat. Tinggal beberapa langkah saja
Ciluk ba!
Aaarrrrrgggghhhhh, aku langsung putus asa.
Aku sudah melihat Aira yang baru saja masuk ke kamar mandi. Aku terus memikirkan dengan apa yang harus aku lakukan setelah ini. Saat ini saja aku hanya bisa bersembunyi dibalik dinding kelas lain dan memantau keduanya dari sini.
Sial! Aku saja tak tahu dengan apa yang ada di belakang kaca kamar mandi yang dia maksud. Apa itu berupa kode, atau sebuah pesan?
Selepasnya dari sana, Aira juga memberi tanda bahwa dia telah menerima pesan yang disampaikan Aira. Aku yang telah memastikan Aira menjauh itu pun langsung menghampiri Asma.
Bug!
Aku menabraknya dan menjatuhkan bukunya.
"Ck!" decitnya.
Begitu ia mengambil bukunya yang terjatuh tepat disamping kaki kiriku, sepertinya dia sudah tahu siapa aku hanya dengan melihat sepasang sepatuku.
"M...maaff..." katanya, yang kemudian lari menjauh dariku.
Tak tinggal diam, aku pun mengejarnya. Dengan cerdiknya dia berlari menuju ruang guru, lalu membelokkan arahnya menuju ruang kelas Aira seolah kendaraan yang sedang berputar balik.
"Arrggghhhh!" dia berhasil sampai pada Aira.
Tentu aku langsung menjauh darinya. Dan mencari cara lain. Aku berbalik badan, yang kemudian mencoba berjalan santai dan mengatur nafas, mengambil arah yang berbeda untuk sampai ke kelas Aira.
Begitu aku kembali, aku sudah melihat Aira dan Asma yang duduk didepan kelas Aira.
"Aira!" panggilku.
Aira Pov
Tama mendekat dengan wajah yang datar, melirik tajam yang mengarah pada Asma.
"Tama? Kenapa?" tanyaku
"Ikut aku sekarang!" ajak Tama tanpa basa-basi.
"Kemana?"
"Cepet!" Tama langsung menarik tanganku untuk ikut dengannya. Tama menarik cukup kuat hingga membuatku yang semula duduk langsung ditarik, hampir saja terjatuh.
"Eh?" aku merasa tak enak pada Asma karena telah meninggalkannya. Karenanya, aku sedikit melambaikan tanganku sebagai ganti ucapan selamat tinggal. Dan juga, aku sempat menyampaikan bahasa isyarat, "Jam 7, aku bakalan dateng". Aku berharap Asma mengerti bahasaku.
"Tam, kita mau kemana?" tanyaku, walau aku tahu dia tak akan menjawab jika dilihat dari raut wajahnya yang terlihat sangat marah.
"Kita ambil tasku dulu" katanya datar.
"Terus, tasku gimana?"
"Ntar balik lagi" katanya masih dengan wajah yang datar.
"I...iya" kataku pasrah.
Kebetulan hari ini Tama membawa kendaraan roda empat. Masuklah kami kedalam mobil dan Tama segera menyalakan mesin untuk pergi meninggalkan sekolah. Suasana saat itu menjadi canggung. Jujur, aku menjadi tak nyaman didekatnya saat ini. Aku bingung harus melakukan apa untuk memecah kecanggungan antara kami.
Sepanjang jalan Tama membawaku, aku hanya bisa memainkan jemariku dan memandangi jalanan diluar. Tama pun demikian. Dia hanya fokus pada jalanan dan tidak berbicara sepatah kata pun untuk menjelaskan apa yang terjadi atau hanya sekedar mencairkan suasana. Aku ingin melontarkan pertanyaan namun tidak enak hati karena suasana yang terlalu mengikat ini. Akhirnya aku memilih diam.
Hingga tiba saja dia menginjak rem didepan cafe yang jaraknya sangat jauh dari sekolah, rumahku, dan juga rumahnya.
"Ayo makan dulu" nadanya mulai merendah dan nampaknya dia juga mulai melunak.
Aku mengangguk mengiyakan karena perutku juga sudah mulai kelaparan.
Kami masuk, dan memilih tempat duduk yang jauh dari pintu masuk serta jauh dari jalanan. Pelayan datang membawa menu dan catatannya, menanyakan pesanan kami.
"Kamu apa?" tanya Tama.
"Aku mau nasi goreng, kentang goreng, sama vanilla milshake aja satu" kataku pada mbak pelayan.
"Aku ayam geprek sama minumnya es moccacino mbak" kata Tama.
Begitu pelayan pergi untuk menyampaikan pesanan kami, saat itu juga Tama mulai membuka percakapan.
"Habis ini kamu mau kemana?" tanyanya dengan lembut.
"Hm?"
"Aku?"
"Uhmmm.... Nggak pengen kemana-mana sih, hehe" ujarku.
"Hari ini filmnya bagus. Nanti kita nonton itu ya" ajaknya.
__ADS_1
"Hah? Uhmm... Heehh... Hehehe" jawabku seperti seorang gadis yang salang tingkah.
Kalau aku nggak tahu malu, aku pasti akan langsung bilang, "Aku mau pulang" karena ini sungguh nggak nyaman untukku. Untuk hari ini aku baru merasa nggak nyaman dengan Tama entah kenapa. Aku lebih banyak diam tak banyak bicara. Aku terus memikirkan untuk pulang ke rumah dan menenangkan diri. Tapi aku terlanjur terikat disini. Aku merasa telah menjadi robot penurut untuk tuannya.
Memang benar dia mulai berbicara santai dan wajah marahnya itu memudar. Tapi untukku, tatapan matanya itu adalah tatapan yang sama disaat dia sedang marah. Dan seperti yang aku percaya bahwa mata tidak bisa berbohong.
"Uhmmmm, aku ke toilet dulu ya" pamitku ragu.
Tama mengangguk.
Aku ke toilet. Sementara semua barangku kutinggalkan di meja. Mulai dari tas, dompet, hingga handphoneku kutinggalkan di meja. Dan, tentu saja alasan ke toilet adalah alasan yang umum untuk menghindari suasana. Itulah yang sedang kulakukan. Aku memang sedang menghindar.
Aku ke toilet hanya untuk duduk terdiam diatas kloset yang sudah kututup, dan merenungkan sesuatu. Saat itu juga beberapa kejadian kilas balik terus memenuhi pikiranku. Mulai dari Tama yang menjadi sering memarahi dan membentakku akhir-akhir ini, kejadian aku dan Tama yang bertemu pada waktu pesta itu, hingga kejadian dia memukulku. Semua kembali berkumpul menjadi satu.
Tak ingin larut dalam ingatan itu terlalu lama, aku mencuci muka untuk menyegarkan wajah dan pikiran. Didepan cermin, aku sempat memandangi gambar diriku sendiri dalam keadaan wajah yang basah.
"Hufffhhhhh...." aku menghela nafas panjang mencoba rileks.
Author Pov
Mereka telah menghabiskan makanan mereka. Setelahnya mereka masuk ke mobil, Tama berkata dengan suasana hati yang sepertinya telah kembali sepenuhnya.
"Mari kita nonton film" katanya mencoba asyik.
Mereka sampai di bioskop. Namun tidak ada raut senang dari wajah keduanya. Suasana pun masih tetap sama. Tidak ada yang spesial. Tama pun tidak bertanya pada Aira mengenai film apa yang akan mereka tonton. Melainkan Tama langsung pesan begitu saja dan asal memilih film. Aira mengerutkan dahi karena itu.
"Aku beli popcorn sama minuman dulu ya" pamit Tama.
Aira mengangguk.
Mereka menghabiskan waktu menonton film selama hammpir dua jam lamanya. Karena genre film itu merupakan genre yang tidak Aira sukai, jadilah Aira yang tidak terlalu menikmati sepanjang film.
"Habis ini kita ke mall yuk!" ajak Tama, begitu mereka sampai di mobil.
"Uhmmmm, Tam" Aira memanggil ragu.
"Hm?"
"Uhmmmm..., aku mau pulang" katanya.
"Hah? Pulang?"
Saat itu juga Aira menunjukkan ekspresi yang berharap jika dia tidak akan kecewa ataupun marah padanya. Aira berharap Tama dapat mengerti keadaannya.
"Yaudah, kita pulang"
Aira menghela nafas setelah mendengar jawaban yang ingin ia dengar. Aira merasa lega. Tama langsung memutar tuas mobilnya dan menginjak gas menjauh dari bioskop.
"Kita pulang kerumahku!" katanya saat ia baru saja keluar area parkir bioskop, yang sontak membuat Aira membelalakkan mata.
Tama yang pemarah kini kembali lagi. Tatapannya semakin tajam, alisnya kembali menyatu, keningnya berkerut. Aira seolah benar-benar tidak bisa lepas dari pandangannya. Seketika Aira membeku ditempat bingung mengatakan apa.
"Ke...kerumahmu?" Aira mengulang ucapan Tama.
"Tapi kenapa harus dirumahmu?"
"Aku maunya pulang kerumah! Rumahku, rumahku sendiri! Bukan rumahmu!" tegas Aira.
Aira benar-benar tak bisa berkutik. Ia takut jika Tama akan marah lagi. Makadari itu Aira memilih diam dan mengikuti apa katanya.
Diperjalanan menuju rumah Tama, Tama mengeluh jika mulutnya mulai pahit.
"Kita mampir ke minimarket dulu ya, mau beli rokok" katanya.
Terserah!, batin Aira.
Tama benar-benar menjaga Aira dengan ketat. Bahkan, ketika Tama pergi ke minimarket walau jarak parkir mobil dan minimarketnya sangat dekat, Tama mengunci pintu mobilnya agar Aira tidak bisa kabur darinya.
"Ck! Dikunci lagi" gerutu Aira yang berusaha membuka pintu mobil.
Aira Pov
Aku benar-benar bingung. Ingin lari tapi nggak bisa. Perasaan takutku sudah berada di level atas sekarang. Aku yang sudah menahan tangis sedari tadi itu tidak kuasa lagi. Aku mulai menetes air mata. Namun ketika Tama sudah terlihat mata, buru-buru aku hapus air mataku dan mencoba bersikap seperti semula.
Aku melihat Tama berhenti sejenak didepan minimarket untuk menyalakan rokoknya. Ditengah itu, ia mendapat telepon entah dari siapa. Tapi semenjak menerima telepon itu, Tama yang awalnya memasang wajah dingin, seketika berubah seolah meleleh terkena percikan api. Disaat itu juga, Tama mulai melirik kearahku, dengan wajahnya yang khawatir dan cemas. Aku yang sempat memantaunya itu pun langsung membuang lirikan berpura-pura tidak melakukan apa-apa.
Tama Pov
Keluar minimarket, aku segera menyalakan rokok karena sudah tak tahan. Bertepatan dengan itu, handphoneku berdering menerima panggilan. Aku segera mengangkatnya. Rupanya dari Elang.
"Halo?"
"Kemana kamu sekarang?" ia bertanya dengan gaya dinginnya.
"Kamu bawa kabur Aira kan" timpanya.
"Hmmm" jawabku malas.
"Kamu pikir dengan begitu Aira bisa percaya sama kamu?"
"Yang ada malah Aira yang nggak nyaman"
Mendengar kalimat itu, aku menjadi meragukan langkahku. Aku mulai merasa bersalah. Diwaktu itu aku menyempatkan melirik Aira yang masih duduk terdiam didalam mobil.
"Apa aku keterlaluan ya?" pertanyaan itu terus melekat di kepala.
Pantesan dia banyak diemnya dari tadi
Kenapa aku baru sadar?
Huuffffhhhhh.....
Mengeluarkan asap rokok.
"Jangan macem-macem dan balik sekarang!" kata Elang.
"Hmmm" jawabku lalu menutup telepon.
Masuklah aku kedalam mobil. Dan benar saja, begitu aku masuk mobil, Aira memasang badan menandakan bahwa ia merasa tidak nyaman saat ini. Aira langsung mengubah arah kakinya ke pintu mobil dan langsung merapatkan jemarinya. Disitu aku menjadi terdiam memikirkan sejenak. Aku harus apa agar semua ini mereda.
Beberapa menit selang itu, aku sudah memutuskan.
"Nggak!"
__ADS_1
"Ini juga demi kebaikannya"
Aira Pov
Huuffffhhhhh.....
Tama mengeluarkan asap rokok.
Lihatlah, lihatlah tatapannya yang ditujukan padaku disertai dengan asap rokok yang membuatku sedikit kesal. Tapi anehnya, dia menjadi diam. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama setelahnya, dia kembali sadar dari lamunannya. Memutar tuas mobilnya dan kembali berjalan.
"Tam, boleh nggak mampir ke pom sebentar? Kebelet soalnya, hehe"
"Iya" jawabnya.
Ia membelokkan setirnya ke pom bensin, memarkirkan mobilnya tepat didepan toilet. Sekarang aku mulai ragu, bagaimana kalau rencanaku tidak berhasil untuk kabur. Tapi yasudah lah, sudah terlanjur disini. Mau nggak mau aku harus ke toilet dulu. Untungnya, antara toilet dan dunia luar itu terdapat pembatas tembok yang cukup tinggi. Jadi itu memudahkanku untuk mengelabui pandangannya.
Sebelum keluar, aku sudah terlebih dulu memasukkan handphone dan dompet ke dalam saku saat di minimarket tadi.
Oke, sekarang aku harus keluar dari sini secepatnya. Begitu keluar, kebetulan sekali ada ibu-ibu yang memiliki badan cukup besar dan tinggi yang hendak keluar toilet. Aku rasa itu adalah bantuan dari Tuhan untukku. Aku memanfaatkan itu dengan bersembunyi dibalik tubuh ibu itu untuk keluar dan tidak diketahui oleh Tama. Aku berjalan mengendap dan sesekali melirik kearah Tama jika saja dia melihat.
Sekali melirik, aman.
Dua kali melirik, masih aman.
Namun, begitu sampai pada lirikan ketiga, sialnya aku. Tama menyadari aku keluar toilet dengan bersembunyi dibalik tubuh ibu itu. Sontak aku yang kaget langsung saja berlari tanpa pikir panjang lagi. Aku berlari menuju jalanan dan mencari taksi.
Dapat!
"Pak, muter-muter aja dulu pak. Yang ngebut ya pak. Ada orang yang ngikutin saya" kataku dengan paniknya.
"Usahakan nggak terlihat sama mobil itu ya pak" lanjutku.
Sopir taksi yang ikutan panik itu langsung memutar tuas mobilnya dan menginjak gas seperti ikut merasakan kepanikanku. Banting setir ke kanan, ke kiri, menginjak gas, menginjak rem, hampir bertabrakan dengan kendaraan kain, tapi tetap saja Tama tidak menyerah mengejarku.
Hingga suatu ketika, taksiku yang mendapat giliran lampu hijau terakhir, berhasil melampaui mobil Tama yang terjebak lampu merah. Disitu bebannya semua terasa terangkat. Aku bisa bernafas lega. Dan aku yakin Tama pasti sedang menyesal karena tidak dapat mengejarku.
"Hahhhh..... Huffhhhhh" menghela nafas.
"Makasih banyak ya pak....hahhh..." kataku mulai lemas.
"Ini mau kemana ya mbak?" tanya sopir taksi.
"Ke perpusda aja pak"
"Oke"
Author Pov
Pukul 19.17
Dengan masih memakai seragam lengkap karena belum pulang ke rumah sama sekali, Aira masuk ke perpusda dengan tergesa-gesa. Begitu masuk, tentu saja dia dijumoai dengan berbafai rak buku yang tinggi disisi kanan dan kiri. Aira celingak celinguk mencari keberadaan Asma dengan teliti.
Tak berapa lama, seseorang berhoodie hijau army dan memakai topi hitam itu menampakkan diri, berjalan cepat dari rak satu ke rak lainnya memberi Aira kode. Aira yang langsung menangkapnya itu segera menghampiri.
Asma menunggu di rak seberang, sementara Aira pun berpura-pura membaca buku di rak seberangnya Asma. Mereka mulai membicarakannya.
"Jadi ada apa?" tanya Aira yang mukanya tertutup buku random yang ia baca.
"Ini" Asma memberikan buku catatan kecil kepada Aira.
"Apa ini?" tanya Aira.
"Buku diary. Ah, bukan!"
"Untukmu, itu buku pengakuan"
"Aku menulis semua yang aku lakukan sehari-hari disitu. Termasuk antara aku dan Shinta. Aku mempercayai kamu untuk membaca buku itu"
"Oh iya! Ini juga" Asma memberikan flashdisk.
"Disana cuma ada satu folder. Berisi tentang beberapa bukti juga. Tapi ada beberapa foto dan video yang masih belum aku pahami"
"Oke, aku bawa ya" Aira memasukkan flashdisknya kedalam kantong.
Begitu dirasa cukup, Asma dan Aira hendak berpisah. Namun, ketika Aira hendak pergi, Aira yang tidak sengaja melihat kearah pintu masuk melalui celah rak buku itu melihat seseorang yang dikenalnya datang dan mencarinya.
"Tama?" gumam Aira.
Bagaimana dia bisa tahu aku disini?, batinnya.
Bergegas Aira berlari menuju Asma dan menariknya untuk berlari bersama.
"Sini, sini, sini!" ujar Aira, menyeret Asma.
"Apa? Kenapa?" Asma yang masih bingung dengan apa yang terjadi terus menoleh kebelakang mencari penyebabnya.
"Astaga!" begitu dia tahu, dia pun juga berusaha berlari sekuat tenaga.
"Dia disana!" Aira gelagapan bersembunyi dibalik rak.
Mengintip, lalu kembali berlari.
"Ayo, ayo!" Aira menarik Asma.
Sialnya, Tama itu terlebih dulu mendapati mereka yang hendak lari keluar dan langsung mengejar mereka berdua.
"Hah! Dia ngejar kita!" celoteh Asma yang tambah panik.
Kebetulan ada angkot yang melintas.
"Pak, pak, pak!" Asma memberhentikan angkot itu.
Sayangnya, langkah mereka terkejar olehnya. Tama pun memberhentikan angkot itu dengan tangannya yang melambai-lambai.
Aduh! Nggak, nggak, nggak, nggak!, batin Aira.
Pak jalan terus aja pak, batin Aira.
Sial! Angkot itu berhenti dan menerima Tama sebagai penumpangnya. Alhasil, dengan mudahnya Aira tertangkap. Ditambah lagi, Tama mendapatkan tempat duduk yang tepat bersebelahan dengan Aira. Tama yang mencium bau kemenangan itu lantas menaikkan bibirnya menyeringai.
Haha, kena kau!, batin Tama.
__ADS_1