
Melihat senyuman Bian yang merasa tak bersalah telah mempermainkannya itu telah membuatnya naik pitam. Genggaman tangannya berhasil mendarat di wajah Bian.
Bug!!
"KAMU MEMPERMAINKANKU, IYA?!"
"KAMU SENGAJA?!"
"Eh, eh, eh, mas udah...udah... Ini ada apa?" pak Zainal berusaha melerai mereka.
"Haha....hahahaha"
"Cuma satu nih?" ejek Bian.
"Mana? Kok cuma satu? Lagi dong, hahaha"
Di sisi lain, Aira yang baru saja hendak memejamkan mata dn terlelap lagi itu mendengar suara gaduh dari kejauhan itu mengurungkan niatnya, berfokus pada siapa yang sedang bergaduh itu.
"Ada apa ya?" herannya yang mana ia segera bergegas berlari menuju sumber suara.
Bug!! Bug!!! Bug!!!
Tak terima dirinya dianggap remeh, Tama pun menanggapi tantangan Bian dan memukulnya hingga 7 kali tanpa jeda.
"TAMA!!!" hingga akhirnya Aira datang menghentikan ini semua.
"Untung mbak Aira cepat-cepat datang" gerutu pak Zainal yang sudah bergidik ketakutan.
"Bian, kok kamu ada disini?"
"Kalian ngapain sih malam malam begini?"
"Belum cukup berantem di sekolah tadi?"
"Apa perlu aku sewa ring tinju buat kalian?" ceramah Aira yang berdiri diantara mereka.
"Astaga" melihat kondisi Bian yang terluka cukup parah dibanding sebelumnya, bergegaslah Aira menghampiri Bian berniat untuk membantunya mengonati luka seperti hal yang ia lakukan sepulang sekolah tadi.
"Mau ngapain kamu?" kata Tama, menggenggam tangan Aira mencegah Aira.
"M...ma...mau itu..."
"Nggak usah!"
"Ta...tap...tapi"
"NGGAK USAH!!!" Tama membentak Aira.
"Dia luka parah"
"DIBILANG NGGAK USAH YA NGGAK USAH!!!!" Tama semakin mengeratkan genggaman tangannya membuat Aira merasakan panas di pergelangan tangan.
"I...iy..iyaa... Tap...tapi..."
"TAPI APA?!"
"Tapi...in...ini...sakit....." rengek Aira.
Walau Aira sempat mengatakan jika pergelangan tangannya mukai sakit karena genggaman Tama yang sangat erat, Tama tidak memedulikan rasa sakit yang dirasakan Aira. Ia malah sibuk dengan menatap Bian yang kala itu terluka.
Dilihat-lihat, lukanya cukup parah. Tapi kenapa dia nggak merintih kesakitan?, batin Aira yang mengkhawatirkan Bian.
"Pergi kamu darisini!!" Tama mengusir Bian.
"Tapi Tam, kasihan dia luka parah" ucap Aira lirih.
"Kamu masih memikirkan dia kesakitan?!"
"DIA AJA MAU MENYAKITI KAMU RA!!!!" gertak Tama.
"PERGI!!!" Tama kembali membentak Bian.
Akhirnya Bian menyerah untuk malam ini. Ia beranjak perlahan walau wajahnya penuh lebam, ujung bibir yang berdarah, serta perut yang masih terasa nyeri karena pukulan.
"Bian...." dalam keadaan seperti ini, keadaan yang mana tangan masih digenggam kuat-kuat dengan seorang laki-laki, Aira masih sempat memanggil nama Bian dan merasa iba padanya.
"Nggak usah dihiraukan!" ketus Tama.
"Ah...ahh...aw..aw...aw... Tama sakit...." rintih Aira.
Begitu memastikan Bian benar-benar menghilang dari pandangan dan suara meain mobilnya benar-benar menjauh, Tama baru bisa bernafas lega seperti terbebas dari tali yang mengikat pernafasannya.
"Hahhhhhh......hufhhhh...."
Genggaman itu perlahan meregang. Aira pun terbebas dari genggaman maut Tama, namun masih merintih karena pergelangannya yang memerah.
"Aira" Panggil Tama.
Tak hanya memanggil namanya, Tama juga segera mendekap tubuh Aira dengan penuh sesal didalam tubuhnya. Aira yang lebih pendek dari Tama itupun dapat mendengar detak jantung.
Jantungnya berdetak kencang, batin Aira.
Dia benar-benar marah ya?
"Tidur lagi yuk" ajak Tama.
Aira mengangguk pelan.
"Pergelangan tangan kamu nggak papa?" tanyanya, melihat kondisi pergelangan tangan Aira.
"Nggak papa kok, paling cuma merah sebentar terus ilang"
"Maaf ya, aku genggam terlalu kencang ya?" Tama.
"Nggak papa Tamaaaaa...... Udahlah, tidur yuk!"
"Kamu nggakmau ganti baju dulu? Besok seragamnya masih di pake loh" kata Tama.
"Emang aku mau pakai bajunya siapaaa"
"Aku ada kok baju kaos. Yaaaa walaupun nanti rada kegedean sih" tawarnya.
"Ganti aja ya?" bujuknya.
"Yaudah iyaaaaa"
---
Cermin kamar mandi menjadi tempatnya memandang diri. Ia tampak mengagumi sosok dirinya tersebut. Mungkin dia berfikir, kenapa Tuhan bisa menciptakan dia dan memberinya nikmat yang luar biasa meskipun kadang dia lalai dalam berdoa.
Ditengah-tengah imajinasinya, ia tiba-tiba saja teringat keadaan Bian setelah kejadian semalam.
Apa dia baik-baik saja?
Apa nanti dia masuk sekolah?
Pertanyaan itu terus berputar dikepalanya.
"Raaa, Sarapan dulu yuk! Mbak Nia udah buatin sarapan!" teriak Tama dari luar kamar mandi.
"Iyaaaaaaa"
Begitu keluar dari kamar mandi, Aira yang mendapati Tama masih memakai baju yang ia pakai untuk tidur semalam langsung mengeluarkan jurus seribu bahasanya.
"Astaga, dari tadi kamu belum mandi?!"
"Ya ampun Tam, aku kira kamu tuh udah siap, terus sarapan, terus tinggal berangkat! Ini malah belum mandi?!" ocehnya.
"Belum, eheheheheh"
"Udah sana mandi!" perintah Aira.
Belum lama ia mengoceh karena Tama yang belum mandi, Aira kembali mengeluarkan ocehannya karena menyadari jika Tama belum menyiapkan apapun untuk sekolahnya.
"Ya ampuuuuun, bukunya juga belum disiapin?!"
"Daritadi kamu tuh ngapain ajaaaaa, perasaan bangunnya kamu duluan?!"
"Terus tadi habis bangun kamu tuh ngapain?!"
Aira melihat jadwal yang tertempel pada meja belajar Tama menyiapkan buku-buku untuk Tama. Ketika Aira mengangkat sebuah buku catatan harian milik Tama, sebuah lembaran yang terselip pada buku itu terjatuh. Lemnaran itu ia ambil.
Tertulis, "Ibu" dalam lembaran itu.
Dibaliklah lembaran itu, menampilkan foto seseorang yang terbaring di ranjang rumah sakit ditemani oleh beberapa mesin dan selang yang menempel ditubuhnya.
"Ra?" Tama keluar dari kamar mandi.
"Eh, ya?" terkejut, Aira segera mengembalikan lembaran foto itu ke selipan buku catatan Tama.
"Ngapain?"
"Nyiapin buku-buku kamu, hehe" jawabnya.
"Ya ampun, nggak perlu kalik!"
"Terlanjur!" kata Aira.
"Yuk, sarapan!" ajak Tama.
---
__ADS_1
Istirahat pertama, Aira yang merasa suntuk di kelas itu pergi ke kantin membeli beberapa camilan serta segelas plastik thai tea kesukaannya.
Aira menaiki tangga dengan lesu tak bersemangat. Sesampainya di atap sekolah, Aira bertemu dengan seseorang yang saat itu membelakangi dirinya.
"Kamu disini juga?" tanya Aira lesu.
"Aira?" ia membalikkan badan menghadap Aira.
"Doyan banget kayaknya disini" kata Aira.
"Kamu juga kan? Kamu ketagihan kan setelah aku ngajak kamu kesini waktu itu?" balas Elang.
"Iya juga sih...." menggaruk kepala yang tak gatal.
"Nih!" Aira melempar sebungkus camilan pada Elang.
"Makasih!" ucapnya.
"Hmmmm" jawab Aira dengan deheman.
"Kenapa?"
"Kok kayak nggak semangat gitu?"
"Ada masalah?" tanya Elang.
"Nggak sih.... Lagi bosen aja" Aira cemberut.
Saat itu juga, Aira yang melihat kebawah itu secara kebetulan melihat Bian yang sedang melintas bersama teman-teman kelasnya.
"Biaaaaaan!!" tiba-tiba saja Aira seperti bersemangat saat itu juga.
Bian menoleh kearah sumber suara, begitu juga dengan teman-temannya yang tampak penasaran siapa perempuan yang memanggil Bian dengan keras.
"Tungguuuu!!" teriak Aira.
"Eh, mau kemana?" tanya Elang.
"Bentar ya, bentaaaar aja. Nanti aku balik lagi" lalu berlari menghampiri Bian.
Begitu Aira sudah tak terlihat lagi di atap, dengan segera Elang mengambil ponsel di saku celananya dan mulai menekan tombol hendak menelepon seseorang.
Skip,
Sampailah Aira dihadapan Bian. Di wajahnya terlihat jelas jika Bian kebingungan dengan maksud dan tujuan Aira memanggil dan rela mengejarnya.
"Bian....hah...hah...hufhh...." nafasnya terengah-engah.
"Kenapa?"
"Boleh bicara sebentar nggak...hah....hahh..." tanya Aira masih dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Ngomong aja"
Mendengar itu, Aira langsung melirik canggung kearah teman-teman Bian karena merasa kurang nyaman jika bicara didepan teman-temannya. Untung saja Bian mengerti apa maksud lirikan dan ekspresi canggung yang ditunjukkan Aira.
Hap!
Langsung saja Bian menarik tangan Aira menjauh dari teman-teman kelasnya tanpa berpamitan pada mereka.
"Eh?" Aira menjadi tambah tak enak dengan teman-teman Bian.
"Mau ngomong apa?" tanya Bian setelah membawa Aira pergi ke tempat lain.
"Uhm....itu...."
"Itu apa?" Bian masih tak mengerti dengan apa yang dimaksud Aira.
"Uhm...." menunjuk wajahnya yang terluka karena pukulan Tama semalam.
"Oh" Bian hanya ber 'oh' ria seperti tak mempedulikannya lagi.
"Oh?" Aira mengulangi perkataan Bian.
"Kamu nggak mau ngobatin lukamu itu?" katanya.
Bian hanya diam, memalingkan wajahnya.
"Ayok!" Aira menggandeng tangannya.
"Mau kemana?"
"Udah....ikut aja"
Tiba-tiba,
Bug!!
"Tama?" Aira terkejut akan kehadiran Tama.
"Kamu masih mau ngobati lukanya?!" mata Tama benar-benar melotot.
"Emang apa salahnya sih?!" tanya Aira.
Tama mengabaikan pertanyaan Aira.
"Nanti malam kita selesain ini semua di markas!" bisik Tama pada Bian.
"Kenapa nggak sekarang aja?" Bian menantang.
Tak menunggu lama, begitu Bian menutup mulutnya, langsung saja Tama memukulnya.
Bug!!
Terjadilah saling pukul.
"TAMA!"
"BIAN!"
"Aduuuuhhhh....kalau yang lain tahu bisa rame kan...." gumam Aira.
"Tama, Bian udaaaaaah......"
Aira berusaha melerai mereka. Sampai pada akhirnya,
Bug!!
Jedug!!
Aira yang berusaha melerai itu tak sengaja terkena pukulan entah pukulan siapa, yang kemudian kepalanya terbentur dinding karena pukulan yang cukup keras itu.
"Ahhhh......" rintihnya.
"Aira?!" terdengar suara tiga orang laki-laki memanggil Aira secara bersamaan.
Tiga orang? Siapa yang satunya lagi?
Datanglah Elang yang rupanya telah memantau situasi mereka, menghampiri Aira.
"Kalau mau berantem lihat-lihat dong!" kata Elang.
Saat itu juga, Elang membawa Aira menjauh dari mereka. Elang kembali membawa Aira ke atap sekolah.
"Tunggu disini!" pinta Elang.
"Mau kemana?"
"Bentar aja" kata Elang.
"Eh, eh!" Aira menghambat langkah Elang.
"Hm?"
"Sekalian jajan yaa...hehe"
Elang kembali dengan kedua tangan yang dipenuhi barang. Tangan kanannya membawa sebuah kotak, sementara tangan kirinya membawa sekantong plastik.
"Mana jajannya?" tangan Aira menengadah.
Sekantong plastik itu ia lemparkan begitu saja pada Aira.
"Yeee....." Aira kegirangan.
"Diobatin dulu lukanya" Elang mulai sibuk mencari obat yang ada didalam kotak.
"Nggak usah, orang sakitnya sebentar kok" kata Aira menyepelekan.
Tak ingin tahu, Elang tetap saja mengobati luka Aira yang mulai lebam walaupun Aira masih mengunyah makanan di mulutnya sekalipun.
"Ahhh..." baru saja Elang menyentuh sekali, Aira sudah merintih dan jelas sekali Elang tak peduli rintihan itu.
Ra, tolong jangan siksa aku dengan rintihanmu itu, batin Elang.
"Pewan-pewan, tsakit tau!" Aira mengeluh disaat mulutnya penuh dengan makanan.
"Hari ini bolos dulu aja" kata Elang.
"Kenapa gitu?"
"Mana sini handphonemu" tangan Elang menengadah.
__ADS_1
"Buat apa?"
"Sini"
Aira menyerahkan ponselnya.
"Kuncinya?" tanya Elang sebelum membuka layar ponsel.
"Nggak aku kunci"
Mulailah Elang menekan tombol yang kemudian menyalakan lodspeaker.
"Eh, telepon siapa?" Aira panik.
"Halo?"
"Cepetan ngomong" bisik Elang.
"Halo"
"Kenapa Ra?"
"Hen, aku ijin nggak masuk kelas dulu ya. Lagi nggak enak badan nih"
"Kamu kenapa? Sakit? Sekarang dimana? Di UKS? aku temenin ya"
"Ng..nggak...nggak usah nggakpapa kok. Kamu di kelas aja. Ya, tolong ijinin ya"
"Okedeh kalau gitu, nanti aku kesana ya, byeeee"
"Makasih yaaa, daaaa"
Tut, telepon mati.
"Nih!" Elang mengembalikan ponsel pada Aira.
Elang yang sempat berjongkok didepan Aira itu membenahkan posisi duduknya yang benar dan nyaman, menggantungkan kedua kakinya diatas gedung seperti yang Aira lakukan.
"Nggak masuk kelas?"
"Nggak ah, males!" jawab Elang.
"Syukur deh!" Aira terus terang.
"Ya, sengaja juga sih" kata Elang.
"Tama aku suruh kesini ya" kata Elang sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Ngapain?! Nggak usah!" Aira menahan tangan Elang dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Hufhhh...iya iya" Elang menyerah.
---
Sepulang sekolah, Tama mencari Aira di kelasnya. Namun yang ia dapat melainkan tas ransel yang memenuhi tempat duduk Aira. Tama semakin cemas, terlebih lagi ia berasumsi jika Aira terluka karena dirinya dan belum bertemu Aira semenjak kejadian tadi.
"Eh, Aira mana?" Tama mencegat salah satu teman sekelas Aira.
"Nggak tau" jawabnya seraya menggelengkan kepala.
Semakin panik, Tama bertanya pada setiap anak yang keluar dari kelas. Yang pada akhirnya bertemulah Tama dengan Henna dan Rida. Begitu keluar kelas, terlihat Henna menempelkan ponselnya ke telinganya menghubungi seseorang. Sementara Rida, keluar kelas dengan membawa sebuah tas ransel yang Tama kenal.
"Dimana dia?" Tama bertanya pada mereka sembari melirik kearah tas Aira.
Walaupun Tama bertanya tanpa menyebutkan nama siapa orang yang ia cari, nampaknya Henna dan Rida sudah paham siapa yang ia maksudkan sebab kode lirikan mata yang sempat Tama berikan.
"Nggaktau, ini aja aku telfon nggak bisa" jawab Henna.
Tingklung....
Tama menerima pesan baru.
Dibacalah pesan itu. Selang beberapa menit, wajah Tama seketika menunjukkan bahwa ia lega akan sesuatu usai membacanya.
"Sini, aku kasihkan ke Aira" kata Tama, menengadahkan tangannya.
"Oh.....oke" Rida memberikannya.
Aira POV
Langit yang cerah, matahari terik, angin sepoi-sepoi, ditambah iringan lagu favorit yang aku putar melalui ponselku menambah kesan kedamaian bagiku.
Saat ini yang kulakukan ialah terbaring di atas gedung dengan sebuah bantal paha milik seseorang yang angkuh. Namun aku menikmati waktu demi waktu. Aku yang tertidur di paha nya itu dapat melihat garis wajahnya dari sudut pandangku.
Oh, jadi gini kalau lihat dia dari bawah?, kataku yang tanpa sadar aku tersenyum tipis.
Selain itu, aku juga dapat melihat jika ia sedang memainkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Aku pikir ia sedang mengirim pesan kepada temannya karena ini juga sudah mendekati jam pulang.
"Pulang" katanya singkat, dengan membantu membangunkan tubuhku secara perlahan.
"Ah...tapi kan aku mau berlama-lama disini" aku merengek tidak mau pulang.
"Besok" katanya dengan singkat lagi.
Elang menegakkan tubuhnya, menepuk-nepuk pantat yang kotor karena debu dari lantai tak berubin. Tanpa kata, Elang mengulurkan tangannya dengan maksud membantuku berdiri. Karena aku menghargai jasanya itu, aku raih tangan berotot miliknya itu dan berdiri tepat dihadapannya.
Tap....tap....tap
Aku mendengar suara langkahan kaki cepat yang menaiki tangga, mendekat kearah kami. Batinku bertanya-tanya, siapa orang yang berlari kesini di jam pulang seperti ini? Dan siapa lagi orang yang tahu dengan tempat ini selain aku dan Elang?
Hingga sosok yang mengeluarkan suara langkah kaki itu benar-benar terlihat jelas, mataku tak bisa berbohong. Ia langsung menatap lebar kearah orang itu tanda terkejut akan kehadirannya. Mulutku pun menganga, jantungku berdegup kencang.
Begitu tahu orang itu datang, aku melemparkan tatapan mataku kearah Elang yang mana aku yakini jika orang itu datang karenanya.
Siapa lagi kalau bukan Tama.
Aku memberi isyarat pada Elang jika aku benar-benar kesal padanya. Mataku melotot kepadanya, tanganku menggenggam ingin memukulnya, mulutku terus menggerutu.
"Aku pulang" dengan santainya ia hanya mengatakan itu setelah membuatku benar-benar kesal.
"Elang kurang ajar!" gumamku.
Namun bagaimanapun juga, aku harus bersikap baik padanya sebab tasku sedang ada ditangannya. Minimal aku tidak menampakkan rasa kesalku hanya untuk merebut tasku kembali dan bergegas pergi.
"Kamu nggakpapa?" ia bertanya padaku yang jelas-jelas ia sudah tahu jawabannya tidak.
"Masih tanya?" jawabku sinis.
"Maaf Ra, aku nggak sengaja tadi" ucapnya mengerutkah dahi.
"Sini" aku merebut tasku dari tangannya.
"Pulang sama aku ya"
"Nggak usah! Aku bisa pulang sendiri!" jawabku.
"Nggak!" bantahnya.
"Sama aku aja. Kamu kan nggak bawa sepeda, tadi berangkatnya juga sama aku kan"
"Aku udah pesen taksi online kok"
"Makasih!" ucapku dengan sinis, dan mata yang tak ingin menatap selain menatap kedua kaki yang bersepatu.
Kemudian aku mengabaikan Tama, berjalan pergi mendahuluinya. Namun entah apa yang dilakukannya, tapi kurasa jika saat itu juga Tama sedang menundukkan kepala dan mengepalkan tangannya tanda kesal.
Dan,
Hap!
Tiba-tiba saja tangannya menggenggam tanganku dan mencegahku berjalan lebih jauh. Awalnya, aku tidak keberatan dan merasa biasa saja dengan genggaman tangannya. Namun lama kelamaan, ia semakin mengeratkan genggamannya itu dan semakin menajamkan tatapan matanya kepadaku.
Jujur saja jika genggamannya itu membuat pergelangan tanganku sakit. Tapi aku berusaha menyembunyikan rasa sakitku agar terlihat menjadi perempuan yang kuat dan tegar dimatanya yang sebenarnya dalam hati aku terus merintih kesakitan.
Aku tatap saja matanya yang tajam itu dengan tatapanku yang tak kalah tajam. Itu menunjukkan jika kita sama-sama keras kepala.
"Pulang!" katanya, langsung menyeretku ikut dengannya.
"Tam? Tam, tam, tam!" aku memanggil namanya berkali-kali agar ia menghentikan langkahnya.
"Aku nggak mau, aku pulang sendiri aja" pintaku yang berusaha melepaskan genggaman tangan Tama.
"Nggak!" jawabnya yang terus melanjutkan langkah kaki.
Ditengah perjalanan aku muak, aku nggak sanggup lagi dengan genggaman ini.
"TAM!"
"LEPASIN!" dengan sekuat tenaga aku menepis tangannya dan berteriak.
BUG!!!
Pukulan itu mendarat di wajahku.
Pukulan?
Ya, Tama memukulku saat itu juga. Apa yang aku rasakan saat itu?
SAKIT!
Benar-benar sakit sekujur tubuh, sekujur perasaan terdalam.
__ADS_1