Strange School

Strange School
Pagi yang Suram


__ADS_3

Aira Pov


Entah apa yang terjadi barusan. Tapi saat ini aku sepertinya baru tersadar dari tidurku yang cukup panjang. Anehnya, tangan dan kakiku mendadak tidak bisa bergerak. Mulutku juga seperti ada yang menutup. Begitu aku membuka mata, ternyata aku sedang berada di mobil kursi sebelah penumpang. Aku terkejut dan bingung. Dimana aku?


Setelah melihat kondisi tubuhku secara jelas, aku semakin panik. Tubuhku tertutupi selimut tebal, namun tangan dan kakiku terikat. Mungkin selimut ini untuk menutupi keadaanku sekarang. Dan juga, mulutku yang terbungkam itu tertutupi oleh masker.


"Hmmmmmm.....hmmmm" aku sama sekali tidak bisa menggerakkan tangan dan kakiku yang terikat. Apalagi untuk membuka mulut. Tolong, aku ingin terbebas.


Aku mulai mencari sesuatu yang tajam yang bisa memutus tali ini. Tapi aku tak menemukan apapun.


Ceklek!


Seseorang membuka pintu mobil dan masuk membawa serta dua kantong plastik bersamanya. Aku yang ketakutan itu memojokkan diri membelakangi jendela mobil. Menatap takut orang yang baru masuk itu.


"Eh... Udah bangun? Gimana tidurnya? Nyenyak?"


"Udah nunggu lama ya? Maaf ya. Nih, aku beliin camilan-camilan kesukaan kamu, kamu pasti suka deh. Iya kan?" dia menunjukkan dua kantong plastik padaku.


Sementara aku hanya bisa mengeluarkan suara seperti suara lebah karena muultku yang terbungkam.


"Hmmm....hmmm"


"Apa? Kamu nggak sabar mau ke rumah?" ia mendekatkan telinganya padaku namun ia hanya memahami apa yang ia inginkan.


"Ternyata kamu nggak sabaran ya? Hahah, oke okeee kita berangkat sekarang"


"Hmmmmm...hmmmmm...hmmmmm" aku menggelengkan kepala cepat. Nggak, bukan itu maksudku. Aku mau pulang, tolong lepasin aku, aku nggak mau ikut kamu!.


Tapi dengan senyum jahatnya ia menarik tuas dan menginjak gasnya hingga kecepatan lebih dari 100 km/jam. Aku yang takut itu hanya bisa menangis membiarkan air mata membasahi pipi tanpa bisa mengusapnya.


Ini bukan dia. Aku nggak kenal siapa orang yang ada disampingku ini. Dia bukan seperti orang yang kukenal. Pasti ada orang lain yang meminjam tubuhnya. Dia berubah total. Dia sangat menakutkan sekarang. Bukan dia yang selalu menunjukkan perhatian-perhatian kecil hingga pengorbanan untuk melindungiku. Bagaimana ini, aku harus minta tolong pada siapa?


Sepanjang jalan aku hanya bisa menangis dan memejamkan mata karena kengeriannya mengemudikan mobil. Menyalip beberapa kendaraan lain dengan kecepatan tinggi dan beberapa kali menginjak rem secara mendadak hingga kepalaku terbentur dasbor.


Tak berapa lama kemudian, ponsel yang ia letakkan di dekat tuas mobil itu berdering mendapatkan panggilan masuk. Ponsel itu mendapat telepon dari "Ayah". Tunggu, sepertinya aku mengenal suara nada dering ini. Ah, sial! Itu punyaku. Ayah pasti sedang mencemaskanku karena aku tidak ada dirumah dan tidak berpamitan pergi. Dia tahu kalau ada telepon masuk, tapi hanya melirik sebentar lalu diabaikannya. Ah, sangat menyebalkan.


Author Pov


"Aduh! Aira kemanaaaa lagi. Ini udah jam berapa?"


"Ditelepon juga nggak diangkat. Lagian dia juga nggak pamit mau kemana"


"Tas nya ada dirumah, sepatunya ada dirumah. Sepeda juga ada dirumah. Terus dia kemanaaa?" Bernan sangat mengkhawatirkan anak perempuannya itu.


"Apa tunggu se-jam dua jam an lagi ya?"


"Aduhhh Airaaaa, kamu bikin khawatir ajaaa"


Bernan memutuskan untuk menunggu Aira lebih lama lagi dengan harapan Aira akan segera pulang kerumah dengan senyuman khasnya.


Pukul 21.00


Pukul 22.00


Belum juga ada tanda-tanda kedatangan Aira. Bahkan Aira juga tidak menghubunginya ataupun mengangkat teleponnya. Bernan semakin khawatir dibuatnya. Gelisah dan panik tak karuan.


.....


Aira dibawa ke suatu ruangan yang gelap dan sempit. Hanya ada single bed tua, meja, kursi, toilet yang menjadi satu, tak ada ventilasi, tak ada akses dunia luar sedikitpun. Ini seperti penjara bawah tanah yang menyiksa.


Aira didudukkan di kasur single bed itu dengan keadaan mata yang ditutup kain oleh orang itu. Ia sedikit mendorong Aira ketika mendudukkannya membuatnya Aira sedikit merintih. Setelah itu, ia mulai membuka penutup matanya agar Aira bisa melihat.


"Udah siap lihat kejutannya, baby?" ucapnya dengan suara berat.


Set!


Dibukanya penutup mata itu.


Tentu saja Aira terkejut karena asing dengan ruangan ini. Aira tidak tahu dia sedang dimana sekarang. Apa dia dibawa ke ruang bawah tanah rumahnya, atau penjara bawah tanah tempat lain, Aira benar-benar tidak tahu. Aira hanya bisa menggerakkan bola matanya menerawang seluruh ruangan ini.


"Gimana pendapat kamu? Suka kan dengan ruangannya? Ini udah yang paling besar dari kamar lain loh. Seharusnya kamu merasa spesial"


Kamar lain? Maksudnya ada banyak ruangan yang seperti ini? Banyak juga yang disekap seperti ini?, batin Aira.


"Gimana? Hmm?" mengangkat alisnya serta mendekatkan telinga ke Aira.


"Kok nggak denger?"


"Oh iya, hehehehe. Mulutnya ditutup ya? Nggak bisa ngomong ya? Okedeh, aku buka dulu biar kamu bisa ngomong. Aku juga udah kangen suaramu nihhhhh"


Masker penutup luar sudah dilepas. Giliran lakban hitam yang melekat kuat di mulut Aira itu.


Bret!


"Arrgghhh" rintih Aira lirih.


"Ayo, ngomong. Aku tunggu"


"Ta... Tamaaa" panggil Aira lirih dengan nada yang bergetar karena ketakutan.


"Waahhhh, suara yang indah ini memanggil namaku di kata pertamanya. Aku menyukai itu. Saaaangat menyukai itu. Coba katakan sekali lagi" Tama memasang telinga baik-baik.


"Le...lepasin aku" ucap Aira lirih.


"Hah? Apa?" Tama semakin mendekatkan telinganya.


"Toloong..."


"Kamu suka? Suka banget?!"


"Waahhhhh, nggak sia-sia ya ternyata. Baguslah! Emang itu kata yang kutunggu!"


"Oh iya! Kamu belum makan kan? Lapar kan pasti? Kamu mau makan apa? Biar aku siapin nanti"

__ADS_1


"Nggak! Aku nggak minta apa-apa. Aku cuma pengen keluaaaar! Aku pengen pulaaaang!"


"Pulang? Pulang kemana? Kamu kan udah di rumahh. Ini rumah kamuuu" -Tama.


"Nggaaaaaakkkkkk!! Pokoknya aku pengen pulang ke rumaaaah! Aku nggakmau disiniiiii!"


Tiring...tiring....


Di waktu bersamaan, suara nada dering dari ponsel Aira terdengar lagi. Dan sudah pasti itu ayahnya yang terus meneleponnya karena dia belum pulang kerumah dan tanpa kabar. Sumber suara nada dering itu seperti dari saku celana Tama.


"Aarrggghhh! Pria tua ini terus mengganggu!"


"Aargghh!"


Plak!! Pyar!!


Karena marah, Tama membanting ponsel Aira membuat Aira terkejut. Ketika ponsel itu diambil kembali oleh Tama, kondisinya rusak parah. Layarnya pecah dan mati seketika. Sudah tidak bisa dipakai lagi.


"Nah! Gini kan beres!" celoteh Tama begitu mengambil ponsel itu kembali.


"Aduh! Gawat! Aku lupa!" Tama menepuk dahinya.


"Dia kan calon mertua aku. Aku kan harus bersikap sopan sama calon mertua. Gimana dong?"


"Mau kamu apa?! Kenapa bawa aku kesini?!" -Aira.


"Bukannya jawabannya udah jelas? Kalo aku maunya ayah kamu, berarti kan ayah kamu yang aku bawa kesini, hm?"


"Ya apa tujuannyaa?! Apa maksudnya?!"


Tiring....tiring....


Lagi-lagi terdengar suara nada dering. Namun kali ini berbeda, karena suara itu berasal dari ponsel Tama sendiri.


"Ouhhh! Pas banget!"


Tama menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan nomor yang tak asing menelepon dirinya. Aira mengenali nomor itu bahkan hafal dengan nomor itu. Belum saja Aira membuka mulutnya untuk berbicara, Tama sudah membekap mulutnya lebih dulu dengan tangan besarnya.


"Sssstttttt....." ucap Tama yang saat ini hanya berjarak satu kilan tangan dengan wajah Aira.


Saat itu juga, Tama yang sempat menunjukkan wajah garang dan menakutkan itu berubah total ketika hendak mengangkat telepon dari nomor tak dikenal itu. Wajahnya benar-benar menunjukkan "Tama" yang Aira kenal sebelumnya, bukan "Tama" beberapa saat yang lalu.


"Halo om?"


"Hmmm...hmmmmm...." Aira ingin bicara namun tak bisa.


"Halo, Tama. Kamu sama Aira nggak?"


"Aira?" Tama melirik kearah Aira.


"Nggak tuh om. Emangnya Aira kemana om? Dia nggak pamit sama om?"


"Ya makanya itu. Dia belum pulang sampe sekarang. Om telepon dari tadi juga nggak diangkat. Om juga sempet tanya ke Elang juga tapi dia nggak tahu. Kemana ya dia kira-kira?"


"Aduhhhh, gimana ya om ya? Aku juga nggak tahu Aira kemana. Coba nanti saya hubungi teman-temannya siapa tahu dia lagi sama mereka"


"Iya om. Om nggausah khawatir. Tama bantu cariin Aira"


"Makasih ya Tam. Nanti kabar-kabar lagi ya"


"Pasti om. Yaudah aku cari Aira dulu ya om"


Tut!


Telepon berakhir.


"Iki ciri Iiri dili yi im! BWAHAHAHA!"


"Nggak tau aja dia kalo ternyata ada disini"


"Hoaaammm! Udah mulai ngantuk nih! Nyarinya besok aja deh! Toh, nggak usah dicari emang orangnya ada disini, ya nggak? Hahahaha!"


"Bye sayang, mimpi indah. Sampai ketemu besok. Cup!" Tama mengecup kening Aira.


"Tamaaa!!!"


"Jangan pergi kamu!! Lepasin dulu!!!"


"TAMAAAAAA!!!"


Tama malah pergi dan mengunci ruangan itu meninggalkan Aira sendirian.


"AARRRRGGGHHHHH! HIKSSS...HIKS...!" nangis sejadi-jadinya.


Keesokan paginya, Bernan terbangun dari tidurnya. Rupanya semalam ia tertidur di sofa ruang tamu karena menunggu Aira yang tak pulang-pulang. Begitu bangun, ia mengecek kamar Aira dengan harapan Aira sudah ada dikamarnya. Namun, ternyata tidak. Kamar Aira bahkan masih rapi karena belum dihuni semalaman. Bernan mulai merasakan ada yang tidak beres. Tidak biasanya Aira pergi tanpa pamit, apalagi tidak ada kabar seperti ini.


"Airaaa, kamu kemana si?!"


Sementara itu, di ruangan tempat Aira disekap, Aira hanya bisa meringkukkan badannya ke kasur dan melamun. Memikirkan hal yang akan terjadi setelah ini.


"Selamat pagiiii!" Tama masuk bersama baki makanan, dengan wajah yang riang karena ia bisa bertemu dengan gadis pujaannya begitu ia membuka mata.


"Sudah bangun? Lapar ya?"


"Tam, tolong lepasin aku sekarang!" Aira tetap memohon.


"Nggak. Nggak akan pernah. Kamu tau nggak kenapa aku nglakuin ini, hah?"


"Karena aku sayang sama kamu, kamu tahu itu kan? Aku nggak mau kamu nanti kenapa-napa diluar sana. Jaman sekarang banyak yang pura-pura baik tapi ternyata ada maksud lain, kamu pasti juga tahu itu kan? Bahkan kamu mengalami itu, iya kan?"


"Tap..tapiii nggak giniii hiks..." Aira mulai menangis.


"Nggak gini caranya. Kamu bukannya bikin aku nyaman tapi malah bikin aku takut"

__ADS_1


"Kamu cuma bikin aku takut, ngerti nggak sih?!"


"AKU TAKUT!, hikss"


"Kamu takut?" Tama merasa bersalah, memegang kedua pipi Aira sedikit mendongakkan kepala Aira agar sejajar dengan kepalanya, mengusap air mata.


"Kenapa takut?"


"Kan ada aku disini, hm?"


"Justru itu! Itu yang buat aku takut! Hiks"


"Hahah, karena aku disini?"


"Emangnya aku kenapa? Aku nggak nyakitin kamu, aku nggak ngapa-ngapain kamu. Justru aku malah ngelindungin kamu, jagain kamu, memanjakan kamu, ngebiarin kamu tetap di sisi aku. Iya kan?"


"Apa itu salah? Hm?"


"Salah?!" Tama mengeratkan genggaman di pipi Aira membuat Aira meringis kesakitan.


"Udahh, ya? Sekarang kita sarapan dulu, terus kita siap-siap"


"Kamu suka pantai kan? Sampai kamu rela bolos sekolah buat pergi ke pantai sama sial*an itu. Hah?!"


"Oh iyaaa. Ngomong-ngomong soal sial*n itu, ternyata dia rela ngaku di kantor polisi demi kamu ya? Waaahhhh, hebat juga kamu ya. Kira-kiraa, aku bisa kayak gitu nggak yaaa? Hmmmm kayaknya nggak deh. Soalnyaaa, tanpa aku ngelakuin itu pun, kamu sudah jadi milikku, iya kan?"


"Buktinya, sekarang kamu ada dihadapanku dan akan terus di sisiku. Tapi aku janji, aku nggak akan macam-macam lagi setelah dapetin kamu. Kamu mau aku berhenti berbisnis gelap itu? Oke. Kamu mau aku berhenti mainin perempuan lain? Oke. Kamu mau berhenti nyari perempuan lain untuk memenuhi kamar kosong ditempat ini? Ok-" Tama seakan ragu dengan kalimat terakhirnya.


"Ehhh, kayaknya untuk yang terakhir itu aku nggak bisa janji deh. Soalnyaaa, masih ada gadis yang menempati ruangan sebelah, ehehehe. Maaf yaaa. Tapi aku janji, aku akan membuatnya pergi dari sini biar tempat ini cuma milik kamu"


"Aku akan membuatnya pergi dari sini"


"Dan membantunya pergi ke..."


"Surga"


"Kamu memang udah gila!"


"DASAR PSIKOPAT!!" teriak Aira melengking.


"Apa? Bisa kamu ulangi lagi? Aku nggak denger kamu ngomong apa"


"Kamu jangan salah sangka"


"Aku ini orang yang paaaaling baik yang pernah kamu temui. Percayalah"


"Aku sudah membantu banyak orang lepas dari deritanya. Membantunya pergi ke surga lebih cepat. Dan mengabulkan permintaan mereka yang ingin menghilang dari dunia ini. Aku membantu mereka dengan senang hati. Nggak percaya? Mau aku tunjukin?"


"Okedeh, lain kali akan aku tunjukkan"


"NGGAAK!!" tegas Aira.


"Bahkan kalo aku bisa keluar dari sini kita nggak akan pernah ketemu!!"


"Husssssttttt! Jangan gitu dong. Kalo kamu kayak gini, kamu semakin mempesona tau nggak, ehehee"


"Udahhh. Sekarang kamu sarapan dulu, habis itu kita siap-siap pergi ke tempat yang kamu suka, oke?"


"Nih, aaaaaak" Tama membuka mulutnya agar Aira mengikuti gerakannya.


Aira sama sekali tidak mau memakan makanan pemberian Tama. Apalagi makan dari suapan tangan psikopat gila itu. Aira tetap menutup mulutnya rapat juga berkali-kali menggelengkan kepala menolak suapan itu. Lama kelamaan, kesabaran Tama mulai hilang.


"ARGHH! AYO MAKAN!"


"Nanti kamu sakit! Cepat makan!" Tama mendekatkan sendok ke mulut Aira memaksa Aira membuka mulut.


"Hmmmm....." Aira geleng-geleng.


"Tam?" terdengar suara seseorang yang baru datang.


"Kamu disini?"


"Cepat dimakan! Kalo sampe aku kembali lagi kesini makanan belum habis, awas aja" ucap Tama lalu pergi keluar menghampiri orang yang baru datang itu.


"Kenapa?" tanya Tama pada orang itu.


"Kamu disini semalaman? Nggak pulang?"


"Tumben aja kamu udah disini pagi-pagi. Biasanya juga agak siang kamu kesini"


"Eh, kamu udah tahu kan, Aira semalaman nggak pulang kerumah? Pasti kamu juga udah ditelpon ayahnya" tanya Elang sembari menyeduhkan kopi untuknya sendiri.


"Iyaa, tau" jawab Tama santai lalu duduk di sofa dengan kaki yang diangkat keatas.


"Kamu udah nyoba cari dia?"


"Udahh"


"Kamu kenapa si?! Masih berantem ya sama Aira? Kok kelihatan santai aja denger kabar Aira nggak pulang ke rumah semalaman?"


Slurrrrp.....


Elang menikmati kopinya.


Saat Elang hendak menyusul Tama duduk di sofa, tidak sengaja ia melihat laci yang ada disebelah sofa. Disana ia melihat benda persegi panjang dan pipih yang tidak asing dimatanya. Karena tertarik dengam benda itu, ia sempatkan untuk mendekati laci melihat benda itu sebentar.


"Tunggu, bukannya ini....."


Raut wajah Elang langsung terkejut bukan kepalang setelah melihat benda itu lebih dekat. Ia juga melemparkan tatapannya itu kearah Tama seolah bertanya dengan apa yang sedang terjadi. Tapi Tama hanya memberi respon biasa saja dengan melirik kearah Elang sekali lalu menyilangkan tangannya santai.


Elang masih tidak menyangka dengan tingkah Tama itu langsung berlari kearah suatu ruangan yang ia curigai.


Brak!!

__ADS_1


Elang mendobrak pintu ruangan itu. Semakin terkejut ia ketika melihat Aira yang tangan dan kakinya terikat, bersandar di dinding, menekuk tubuhnya memeluk kaki serta mencium lututnya sedang menangis.


"Aira?!"


__ADS_2