Strange School

Strange School
Anak Baru


__ADS_3

Senin pagi, tak secerah hari sebelumnya. Awan gelap sudah menyelimuti langit pagi. Mentari seperti malu untuk menunjukkan jati dirinya.


Aira sudah mengayuh sepedanya separuh jalan menuju ke sekolahnya.


Tik...tik...tik...


"Hujan?" tangan Aira menengadahkan tetesan air dari langit.


Aira mengayuh sepeda semakin jauh, hujan semakin deras dan memaksa Aira untuk berteduh.


"Ahhh kenapa hujan sekarang? Nunggu aku sampek sekolah kek, atau nunggu aku pulang ke rumah kek. Ahhh, bikin telat aja!" Aira menggerutu pada hujan.


"Mana luka masih basah lagi. Kena air kan perih!" keluhnya.


Dinginnya cuaca sangat ini seolah menusuk ke tulang. Aira menyilangkan tangannya dengan tujuan menghangatkan. Sesekali, Aira menggosok kedua telapak tangannya. Bibir Aira pun menggigil. Terlebih, Aira tidak menyiapkan jaket dan roknya dan lengan seragam yang pendek.


"Yahhhh sepatuku basahhh!" keluh Aira, yang kemudian berjongkok untuk melepas sepatunya.


Kedua sepatu yang basah itu ia sandingkan dengan kedua kakinya yang basah pula. Sedangkan, waktu terus berjalan. Aira terus memandang jam yang ada di layar ponselnya.


Pukul 06.56


"Udah jam segini lagi. Terobos aja apa gimana ya?" Aira menggembungkan pipinya berpikir.


"Ah bodo amatlah! Paling cuma basah bentar. Nanti juga kering lagi" katanya, meraih asal sepatu yang sempat ia lepas, lalu berlari keci menerobos hujan.


Jalanan yang basah itu Aira lewati walau dengan berat hati. Rambutnya yang terikat itu mulai basah terkena hujan, begitu pun dengan seragam dan tasnya. Sayangnya, Aira yang telah membela-bela dirinya basah terkena hujan itu terlambat. Gerbang sekolah sudah ditutup oleh satpam sekolah.


Alhasil, Aira yang tak beralas kaki itu turun dari sepedanya menginjak aspal yang basah menghampiri gerbang hitam yang lebih tinggi darinya.


"Paaaak!!!" teriak Aira memanggil satpam.


"Lah? Satpamnya mana?" katanya begitu menyadari tida ada satpam di pos satpam.


Dibawah hujan, tiba-tiba saja Aira tidak merasakan rintiknya air hujan mengenai tubuhnya yang padahal saat itu hujan belum berhenti. Aira pun terheran.


Kepala yang memandang ke depan itu ia dongakkan keatas untuk melihat ada apa dengan langit yang mendung itu. Rupanya, sebuah payung berwarna biru navy berada tepat diatas kepalanya, melindungi dirinya dari hujan.


Tentu saja Aira bertanya-tanya dengan siapa sosok dibalik payung yang tiba-tiba ada diatas kepala Aira. Aira menoleh kearah orang tersebut. Namun karena orang itu lebih tinggi dari Aira, Aira hanya bisa melihat bet nama di dada sebelah kanan seragam sekolahnya.


"Elang Dierja" tercantum pada bet nama.


"XII IPS 2" pada bet kelas di dada bagian kiri, tepat diatas saku.


Penasaran dengan siapa Elang itu, Aira mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Rahang yang besar, dagu lancip, pipi tirus, hidung yang mancung itu membuat Aira sempat terpesona dengan bentuk wajah laki-laki itu.


Namun ketika dia menundukkan kepalanya melihat gadis yang pendek dari dirinya itu, seketika wajah Aira berubah menjadi wajah ketakutan.


Alis Aira seakan menyatu. Bibirnya seakan membeku kaku tidak bisa bicara sepatah kata. Tubub Aira mendadak gemetar hebat. Gemetar karena kedinginan bercampur aduk dengan gemetar karena ketakutan.

__ADS_1


Dialah orang yang sama. Ya, orang yang sama dengan orang yang ada di sekolah pada malam hari itu. Orang yang sama dengan orang yang ada di kamar 32. Orang yang sama dengan orang yang sempat bertarung dengan Aira. Serta orang yang sama dengan pelaku tergoresnya dada Aira.


Kedua kaki yang lemas itu memaksakan diri untuk mengambil langkah mundur, keluar dari zona payung membiarkan tubuh kembali terguyur hujan.


Reaksi dari laki-laki itu, yang telah diketahui bernama Elang adalah tersenyum dingin sesuai dengan ciri khasnya yang dingin.


"Loh! Kalian kok hujan-hujanan?" satpam yang baru saja dari dalam sekolah keluar melihat mereka kehujanan.


Satpam itu bersedia membukakan gerbang sekolah untuk mereka dan membiarkan mereka masuk mengingat keadaan yang sedang hujan.


Sebelum mereka masuk, Elang memberikan seutuhnya payung warna biru navy itu pada Aira dengan wajah dingin tentunya, walaupun dia tidak memiliki payung cadangan. Aira yang masih sedikit ketakutan itu tetap menerima payung pemberian Elang walaupun bingung. Elang yang telah memberikan payung itu pada Aira membiarkan dirinya berlari menembus air hujan yang menyebabkan dirinya basah kuyub.


"Kak?!" panggil Aira dengan ragu.


"Cieeee dapet payung dari senior" goda pak satpam.


"Apaansih pak!" elak Aira, kemudian masuk halaman parkir sekolah.


Di koridor sekolah, Aira terus menggerutu mengenai sifat Elang yang tiba-tiba bersikap baik padanya. Bahkan payung biru pemberian Elang itu masih ada di tangannya.


"Kenapa dia tiba-tiba baik?"


"Apa ini bagian dari siasatnya?"


"Wah, bahaya juga! Kalau dia sengaja bersikap seperti tadi dan aku nggak bisa mengontrol perasaan kan bisa kacau!!"


Lantai koridor sekolah yang banyak lumpur karena jejak kaki dari sepatu semua murid sekolah ini Aira pijak dengan kaki yang tak bersepatu. Sebab upacara hari ini ditiadakan, suasana kelas saat ini sedang ricuh.


Aira masuk ke kelas begitu saja dengan menenteng sepatu basah miliknya.


"Astaga Ai!. Sampai basah kuyub kayak gitu. Niat banget si ke sekolah!" kata Henna.


"Sampai nyeker, sepatunya ditenteng gaaaaaaysss" ejek Rida.


"Tau ah!!! Kalian bikin tambah kesel aja sih?!" Aira cemberut.


Di tengah jam yang sedang kosong karena upacara ditiadakan, terdengar suara keributan dari luar.


"Woahh!!! Ganteng kali dia"


...


"Dia anak baru?"


...


"Hati aku kan bisa penuh kalau banyak cogan disini"


...

__ADS_1


Blablabla.


Sebab telinga Aira yang tersumpal earphone, sehingga Aira tidak mendengarkan kegaduhan dari luar kelasnya.


"Woaaaahhh!!!! Ada anak baru!! Ganteng lagi!!!" teriak Yohana, teman sekelas Aira yang saat itu sedang mengintip jendela karena mendengar kegaduhan di luar kelas.


Sementara Aira masih setenang air danau sebab earphone yang menyumpal telinganya.


Para anak gadis di kelas Aira yang penasaran akan siapa anak baru yang katanya tampan itu berebut melihat ke jendela, bahkan didepan pintu kelas.


Aira baru tersadar dengan suasana saat ini sebab seorang teman sekelasnya tidak sengaja menggeser mejanya dan sedikit mengganggu ketentraman hidup Aira.


"Ada apa sih?!" teriak Aira pada teman-temannya yang bergerombol.


"Ada stok cogan baru!" sahut Ika, teman sekelasnya pula.


"Stok? Cogan baru?" dahi Aira mengernyit.


"Maksudnya ada anak baru?" Aira yang ikut penasaran itu menghampiri gerombolan didepan pintu kelas.


Tak bisa melihat dengan jelas, Aira mendorong teman-temannya dan menggerutu.


"Kasih jalan ah! Aku juga pengen lihat!!" desaknya.


"Ihhhh bentar dong Ai, aku juga mau lihat kali bukan kamu aja" sahut Henna.


"Sebentar ajaaa. Aku belum lihat sekilas pun!" celoteh Aira.


"Aku lihat se-" ucapan Aira terpotong karena Aira tidak sengaja terdorong keluar kelas dan menyebabkan Aira menabrak anak baru itu.


Bug!!


Aira tidak sengaja bertabrakan dengan dada yang bidang.


Aduhhh! Merusak citraku aja, Aira yang terlanjur malu menundukkan kepalanya.


Asal kalian tahu, Aira bertemu dengan anak baru itu dengan keadaan yang rambut belum sepenuhnya kering, seragam yang basah, serta kaki yang masih telanjang. Bayangkan seberapa malunya Aira dengan anak baru itu jika berani menatap wajahnya.


Aduhhhh, liat keatas nggak ya? Liat nggak ya?, batin Aira.


Ah yaudahlah, cuma sekelebatan nggakpapa kan?


1...2...3


Belum dua detik Aira melihat wajah anak baru itu, Aira sudah tercengang membelalakkan mata.


"Haaaaa!!!!!" dengan reflek Aira menjerit didepan anak baru itu.


"Tama?"

__ADS_1


__ADS_2