
Tama dan Elang berdiri dengan tatapan tajam menatap kearah Aira dan Asma secara bergantian. Begitu juga dengan Aira dan Asma yang saling lempar lirikan karena terkejut dan tidak tahu hendak melakukan apalagi. Mereka tidak memiliki rencana lain.
Karena tak memiliki perlindungan lagi, karena mereka yang hanya bisa mengandalkan dan menjaga satu sama lain, Aira melangkah mendekat ke Asma dan menggenggan tangan Asma saling menguatkan.
Sementara, Hatta masih merintih sendiri tanpa ada yang peduli.
"Kamu mau kemana, hah?" Ucap Tama.
"Tam, plis! Biarin kita keluar. Kita janji nggakbakal laporin kalian ke polisi kalo kalian lepasin kita sekarang. Oke?" Aira mencoba negoisasi dengannya.
"Hahahah!" Tama tertawa kecil.
"Kamu pikir, berapa orang yang udah ngomong hal yang sama. Tapi akhirnya apa? Mereka emang nggak pergi ke polisi, tapi ke surga"
"Sekarang aku nyesel Tam" Aira berkaca-kaca.
"Nyesel kenapa aku harus tahu kamu. Kenapa aku harus ketemu kamu, kenal kamu, bahkan percaya sepenuhnya ke kamu!"
"Nggaktaunya kamu se-b*ngs*t ini!" Tekannya.
Set!
Tama menarik tangan Aira kuat hingga Asma yang saat itu sedang berpegangan tangan dengan Aira ikut terdorong.
"Kamu urus dia!" Kata Tama pada Elang.
"Aku akan urus dia. Kita pisahin mereka!"
Elang mengangguk, lalu segera membekap Asma kembali.
"Hmmm....hmmmmm!" Asma memberontak namun tak ada hasil.
"Asma?!"
"TAMA!"
"Plisssss...huuaaaaaaa...." Aira menangis kencang.
"Kali ini, aku nggak akan melakukan kesalahan lagi. Kamu harus tetap ada disamping aku, ngerti?!" Tama menyeret Aira keluar bersamanya. Walau dengan berkali-kali mendengar rintih Aira yang kesakitan, Tama tetap berjalan lurus. Ia juga tak mempedulikan jalan Aira yang pincang.
"Tama lepas!"
"Sakit b*ngs*t! LEPAS!"
Bruk!
Tama mendorong Aira masuk kedalam mobil.
Brak!
Suara pintu yang dibanting.
"TAMA BUKA!!!" Aira mencoba membuka pintu mobilnya namun dikunci olehnya. Sebelum masuk ke mobil, Tama lebih dulu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
Brak! Brak! Brak!
Aira memukul-mukul pintu dan terus berteriak agar Tama membukakan pintunya.
Tak lama kemudian, Tama masuk dengan begitu santainya tanpa ada beban ataupun dosa yang telah ia perbuat.
"Kita berangkat sekarang, baby!" Katanya, lalu mulai menyalakan mesin.
"NGGAK!! AKU NGGAKMAU IKUT IBL*S KAYAK KAMU"
"BUKA PINTUNYA SEKARANG!"
Aira berusaha meraih kunci mobil sebisa mungkin. Namun, tiba saja,
Cesss....
Aaarrrrrggghhhhhh!!!
Aira teriak kesakitan karena putung rokok yang menancap di lengan kanannya. Kulitnya mulai melepuh. Aira langsung menghindar agar tidak terkena rokok lagi
"Aaaarrrrggghhhhh!" Erangnya sembari memegangi lengannya.
"Kalo nurut, nggabakal juga aku nglakuin itu!"
"Emang bener-bener titisan SET*N!! IBL*S, D*J*L!!!, B*JING*N!!!, B*NGS*T KAU TAMA!!!!"
__ADS_1
Bug!
Satu pukulan mendarat di wajah Aira.
"Ngomong sekali lagi!" Bentak Tama.
"Pukul terus tam, PUKUL!!!"
"BUNUH AKU SEKALIAN!!" Aira.
Bug!
Plak!
Bruk!
Bug! Bug! Bug!
Aaarrrrggghhhhh!
Berkali-kali Tama memukul Aira dengan tangannya yang besar. Tak hanya memukul. Menampar, mendorong kepalanya hingga terbentur kaca mobil, menarik rambutnya kencang, tak peduli Aira merintih kesakitan berkali-kali.
Set!
Tama menarik kuat rambut Aira lagi.
"Sekali lagi kamu ngomong kasar, aku akan melakukan yang lebih, NGERTI?!"
CUH!!
Cairan kental dari mulurnya terlempar mengenai wajah Aira.
Aira diam saja, tidak bisa melakukan apa-apa. Teriak pun ia tidak bisa. Kondisinya semakin kacau. Wajahnya penuh lebam. Bibirnya membesar karena pukulan-pukulan itu. Gusinya berdarah. Mata kirinya tak bisa terbuka lebar. Rambutnya pun acak-acakan. Benar-benar bukan Aira yang biasanya.
Hilanglah sudah keceriaannya. Senyum itu, mata yang berbinar, pipi yang merona, dan segala yang indah dari dirinya semua tertutupi oleh penderitaannya selama berhari-hari belakangan ini.
Tetap pada pendiriannya ingin membawa Aira ke tempat lain, Tama kembali fokus pada lingkaran setirnya, dan hendak menarik tuas.
Namun tiba saja,
TAAARRR!!
"Asma?!" Reflek mulut Aira memanggil nama Asma yang rupanya sudah membawa sebuah palu ditangannya.
"KELUAR, SI*LAN!!!" Bentak Asma, mengangkat palunya dengan berani.
Tama keluar dengan amarah yang semakin memuncak. Tatapannya seolah siap untuk membunuh Asma ditempat. Aira semakin khawatir jika Tama benar-benar akan membunuh Asma. Aira segera keluar dari mobil untuk membatu Asma walaupun sangat kecil kemungkinannya ia bisa melakukannya.
"Wow! Udah ada kemajuan ya sekarang" celoteh Tama.
Tanpa Asma sadari, Tama bergerak secara halus mengambil pisau lipat yang ada di sakunya.
"Kali ini bener-bener akan berakhir, Tam!" Ucap Asma dengan percaya diri.
Khawatir akan hal itu, Aira yang menyadari itu dari jauh, segera mempercepat langkahnya. Walau langkahnya tak sempurna ia terus berusaha agar bisa mencegah pisau itu tertancap di bagian yang tak diinginkan.
Tap!
Tap!
Tap!
Aira semakin dekat dengan Tama. Ia akan segera bisa meraih pisau itu.
Hiyak!!
Karena tangannya tak bisa menggapai pisau yang ada ditangannya, serta kakinya sudah terlalu lemah untuk melangkah lagi, Aira memakai cara lain yaitu mendorong Tama hingga terjatuh agar ia tidak bisa meraih Asma maupun melukainya.
"Aira, kamu..." Asma sangat terkejut sekaligus miris melihat keadaan Aira.
"Awas!"
Jleb!
Aira sedikit lebih lambat daripada pisau yang sudah tertancap di bahu Asma.
"Aaarrrggghhhh!!" Rintih Asma.
Bug!!
__ADS_1
Dengan tanpa ragu Asma membalasnya dengan ayunan palu yang mengenai pelipisnya.
"AAAARRRGGGHHHHHH!" Jerit Tama, memegangi kepala.
Tak menyerah begitu saja, Tama hendak menancapkan pisaunya untuk kedua kali. Aira yang melihat itu segera mengambil tindakan. Aira menahan tangan Tama dengan kedua tangannya. Aira pun mendorong Tama sebisa mungkin dengan tenaga yang dimilikinya.
Set! Tak!
Brug!
Pisau itu jatuh, lepas dari genggaman Tama. Tama juga jatuh ke tanah karena dorongan Aira.
Memang benar pisau itu jauh dari Asma dan tidak berhasil menancap kedua kali ditubuh Asma. Aira berhasil menggagalkan usaha Tama itu.
Set!
Errkkkhhhh....ekhhhh...uhukk...uhukk....
Seseorang melilitkan kawat dileher Asma dari belakang hingga membuat Asma kesusahan bernafas.
"Akkhhh...Ai...raaa" Asma berusaha mengeluarkan kata dari mulutnya.
"La...ri!"
"La...khhh...kkkhhh...riii...Ai...raaa!"
Aira bimbang. Karena ia tidak bisa meninggalkan Asma mati disini. Ia akan merasa bersalah dan menyesal jika meninggalkan Asma dan lari menyelamatkan diri. Tapi Aira juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk melawan mereka. Secara mereka lebih kuat dua kali lipat bahkan.
"La...ri!"
"Ce..pat!!" Asma tetap menyuruh Aira untuk menyelamatkan diri.
Set!
Sebelum Aira mengambil langkah untuk lari, kakinya sudah terlebih dulu tertahan oleh Tama yang masih belum bangkit dari jatuhnya.
Bug! Bug! Bug!
Lutut bertemu dengan kepala berkali-kali hingga hidung Tama mulai membiru.
"Aarrggghhh!" Jerit Tama.
Tangannya mulai lepas dari kaki Aira. Kesempatan itu langsung Aira gunakan untuk melangkah lebih jauh.
Tentu saja tak semudah itu. Tama mulai bangkit. Dengan menahan sakit di hidung dan kepalanya, ia mulai menyusul langkah Aira. Langkahnya begitu cepat dibandingkan langkah Aira yang pincang dan lambat.
Cepat Airaaaa, lebih cepaaaat! Batin Aira menyemangati dirinya sendiri.
Oh tidak! Langkah Tama semakin dekat! Kini bahkan jika Tama mengulurkan tangannya, ia bisa menarik rambut Aira.
Hiyak!!!
Tama mendapatkan tangan Aira.
Set!
Dengan cepat Asma menepis tangannya.
Diwaktu yang bersamaan,
Wiu! Wiu! Wiu! Wiu!
Brum...brummmm.....
Ngeeeeng....
Ciiiiiitttttttt.......
Brukk!!
Elang melepaskan ikatan kawat yang ada dileher Asma disaat mobil polisi datang. Tubuh Asma terjatuh begitu saja dilantai dengan bekas kawat yang ada dilehernya dan darah yang sudah berceceran.
Aira yang melihat ada beberapa mobil polisi datang dihadapannya diam membeku sejenak seolah tak percaya jika hari ini ia benar-benar terbebas dari penderitaan konyol ini. Saking leganya, penglihatan Aira memburam karena cahaya-cahaya biru dari mobil polisi itu benar-benar menyilaukan, tubuhnya pun semakin lemas.
Bruk!
Aira menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Bernafas panjang berkali-kali. Dalam hati ia terus berkata,
Aku bebas! Aku benar-benar bebas!
__ADS_1
Aku berhasil keluar dari kandang itu!