Strange School

Strange School
Tawaran


__ADS_3

Aira Pov


Orang yang ada di atap apartemen? Aku mengingat-ingat siapa orang itu. Dan ya, orang itu Tama. Tunggu, apa itu berarti Tama adalah ketua dari semua ini? Awal dari semua ini? Lalu, bisnis yang dibicarakan itu apa semacam prostitusi? Berarti prostitusi itu Tama juga yang memimpin?


Waktu aku dibawa Bian ke gedung itu, aku juga bertemu dengan Tama. Dan, disini Asma menyebutkan ada empat orang? Tama, Bian, Elang, satunya lagi siapa? Damar? Sepertinya bukan. Karena Damar bilang jika dia hanya penyalur. Lalu siapa orang satunya?


Aku memikirkan itu hingga akhirnya aku tertidur.


---


Author Pov


Esoknya, tentu berita yang dialami oleh Rida telah menyebar luas dan sekarang sedang menjadi topik hangat dikalangan masyarakat. Terlebih, seisi sekolah Elang Bangsa yang juga ramai membahas topik pembahasan ini.


Aira berangkat naik sepedanya. Begitu Aira memarkiran sepeda itu dan berjalan ke koridor, banyak murid-murid berkumpul membicarakan berita hangat.


"Ehh tau nggak, berita hari ini?"


...


"Itu Rida anak sini juga kan?"


...


"Kasihan yaa"


...


"Ya ampun, kasihan juga"


...


"Pelakunya jahat banget sih?"


...


"Pelakunya siapa?"


...


Blablabla dan masih banyak yang bergeming.


"Aira!" Henna berlari kearahnya.


"Heh!" Aira melambaikan tangannya.


Ngiiiiing.....


Tiba saja speaker pengumuman berdenging.


Tuk...tuk...


Tes..tes...


"Selamat pagi anak-anak"


"Hari ini, kita mendapatkan kabar buruk. Seperti yang kalian lihat dan kalian dengar melalui berita televisi, bahwa salah satu teman kalian, teman satu sekolah kalian mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Jadi, untuk menghormati dan untuk menyalurkan duka cita, saya harap untuk kalian semua berkumpul ke lapangan sekarang juga, terima kasih"


"Asyiiikkkk, nggak pelajaran matematika!" Henna tampak senang.


"Husss! Ini berita duka temen kita sendiri kali!" tegur Aira.


"Ehehehe" cengengesan merasa bersalah.


Seisi sekolah mulai berkumpul dilapangan. Bahkan ada yang masih menggendong tas ranselnya. Begitu juga dengan Aira dan Henna yang langsung menuju lapangan sebelum masuk ke kelas. Disana, ditengah kerumunan murid lain yang hendak menuju lapangan, tanpa sengaja Aira menginjak tali sepatu anak kelas lain dan membuat tali itu terlepas.


"Ahhh, maaf, maaf, nggak senga-" mulut Aira tertutup seketika saat mendongakkan kepala melihat wajah orang yang tidak sengaja ia injak itu.


"Bian?!"


"Kenapa kamu disini?! Bukannya lagi jagain Rida?"


"Udah ada polisi yang jagain. Aku disuruh tetep masuk sekolah"


"Nanti kamu juga harus datang. Sama dia juga" Bian menunjuk Henna.


"Mau diinterogasi katanya. Karena kemarin kalian orang pertama yang kesana"


"Oh..." jawab Aira singkat


"Oh aja?"


"Nggak mau tanggung jawab?" kata Bian.


"Maksudnya?"


Bian melirik kearah tali sepatu yang terlepas karena injakan Aira tadi. Dari lirik itu Aira bisa mengira jika Bian ingin ia mengikat tali sepatunya sebagai bentuk pertanggungjawaban.


"Ck!" mau tidak mau Aira harus mengikat tali sepatu itu karena itu juga kesalahannya.


Selesai mengikat, Aira langsung bangkit dari posisi jongkok, menarik tangan Henna, kemudian berjalan begitu saja meninggalkan Bian yang masih diam ditempat.


Berdoa bersama dimulai. Dipimpin oleh guru agama di sekolah Elang Bangsa yang berdiri tegap didepan stand mic.


Beberapa menit kemudian, berdoa bersama diakhiri.


"Yassss, jam kosong sampe pulaaaang!" Henna yang terlampau senang itu menggelantung di lengan Aira.


Sementara Aira hanya termenung memikirkan sesuatu berbanding terbalik dengan Henna.


"Ai!" Henna memukul lengan Aira membubarkan lamunannya.


"Hah?!" Aira tersadar dari lamunan.


"Mikirin apa si?! Daritadi ngelamun"


"Eng..nggak... Nggak mikirin apa-apa. Kantin aja yok! Laper nih!" ajak Aira.


"Yoklah!"


Aira Pov

__ADS_1


Aku terus memikirkan tentang isi buku diary Asma kemarin. Begitu aku membuka mata dan pikiran kembali bekerja, aku langsung teringat tentang itu. Tentang posisi Tama sebenarnya. Apa iya Tama itu muncikari? Nggak mungkin kan? Dia bukan orang yang seperti itu kan?


Dari kejadian kemarin, waktu Bian mengajakku. Aku benar-benar bersyukur karena aku tidak menjadi sasaran berikutnya. Tapi disisi lain aku juga bingung. Kalau benar mereka adalah muncikari, lalu kenapa aku dibebaskan begitu saja dan tidak berusaha membuatku kembali ke gedung itu? Atau paling nggak, mereka akan melakukan negosiasi agar aku tidak melapor ke polisi bukan? Mereka bahkan tidak membahas maupun menyinggung perihal malam itu. Kira-kira kenapa? Apa jangan-jangan mereka mau menjerumuskanku secara pelan-pelan? Apa mereka mencoba dekat denganku agar aku mau kembali ke gedung itu secara sukarela? Atau....., entahlah.


Yang jelas, sekarang aku menjadi lebih was was jika berhadapan dengan mereka. Bian, Elang, maupun Tama. Karena kapanpun mereka bisa membawaku kembali dan membahayakan. Tapi sebenarnya aku kurang yakin. Bagaimana ini?.


Oh tidak, aku hampir terlambat! Sebaiknya aku berangkat sekarang.


Author Pov


Ditengah-tengah mereka menikmati makan, masih saja Henna membahas tentang jam kosong hari ini. Ia mengeluh sembari mengunyah makanan yang masih ada dimulutnya.


"Ehh, sebenernya nanggung nggak sih? Kenapa nggak dipulangin aja?"


"Kan seharian nggak ada jam sama aja. Mau ngapain juga disini lama lama" celoteh Henna yang mana sedaritadi air liurnya menciprat kemana-mana.


Sementara itu, Aira tetap dengan lamunan dan pikirannya yang overthingking. Aira memainkan sendok dan garpunya sementara tatapannya kosong menatap bakso yang sedaritadi berputar ditempat.


"Ra!"


"Helloooww!"


"Ting...Ting..Ting...Airaaaaa" Henna mengetuk mangkok dengan sendoknya.


"Eh, iya, kenapa? Ngomong apa tadi?" Aira tersadar dari lamunan.


"Tuhkan, kamu nglamun lagi"


"Emangnya lagi mikirin apa sih?"


"Kalau sekiranya kamu berat banget buat nanggung sendiri, aku juga masih ada kalik!"


"Apa ini masih soal Tama?" Henna menebak.


Aira menghentikan kegiatannya memainkan garpu dan sendok karena merasa tertampar dengan tebakan Henna.


"Tuhkan, diem. Bener kan?" kata Henna.


"Gara-gara kemarin?"


Aira mengangguk lesu.


"Tama nggak ada ngomong apa-apa?"


Aira mengangguk.


"Sampe sekarang?"


Aira mengangguk lagi.


"Terus kamu juga nggak ngomong apa-apa gitu?"


Aira menggeleng pelan.


"Yaelah Ai, kalau kamu nungguin Tama sedangkan Tama juga nungguin kamu, kapan kelarnya?"


"Tapi kali ini aku bener-bener nggabisa!"


"Yaaa gitu deh!" Aira menaikkan bahunya.


"Apa?!"


"Kasih tau nggak?!" ancam Henna.


"Ssssttttt!" Aira menempelkan jari telunjuk ke bibirnya karena melihat seseorang yang dibicarakannya datang.


Tama datang bersama tiga orang teman sekelasnya. Aira pura-pura tidak tahu akan kedatangannya dan memilih untuk melanjutkan makannya. Sedangkan Tama yang tahu kehadiran Aira pun hanya melirik sesaat, menunjukkan smirk, kemudian kembali berjalan kearah penjual bakso yang sana dengan Aira, memesan empat porsi bakso.


Sampai dari tukang bakso itu, Tama terlihat membisikkan sesuatu pada penjual bakso itu entah apa yang dibicarakannya. Sedangkan di bangku sana, terdapat Henna dan Aira yang sedang berdebat lirih.


"Gimana sih Ai, itu mumpung ada orangnya!" bisik Henna.


"Suuttttttttt, diem!"


"Ahhh kamu iniiii. Nanti malah nggak kelar kelar!"


"Udah biar aku urus sendiri, abisin dulu makananmu!" kata Aira.


Ketika Tama hendak duduk sekembalinya dari memesan bakso, tiba-tiba saja Henna mengangkat tangannya menyapa Tama.


"Tam!"


"Eh, Hen! Apaansih?!"


"Hen! Arrrggghhhh!" Aira memasang raut wajah yang kesal tapi menggemaskan.


"Iniii, Aira mau ngomong" kata Henna.


Henna sialan!, batin Aira.


"Ngomong apa?" Tama melirik kearah Aira sementara Aira membuang tatapannya.


"Kamu duduk sini aja, aku mau pergi kok" Henna berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju penjual bakso untuk membayar makanannya.


"Mau ngomong apa?" Tama memposisikan duduknya dengan menghadap ke Aira. Menyilangkan tangannya di meja, mencondongkan badannya ke Aira, serta tatapan yang terus terpaku pada Aira seolah siap mendengarkan apapun yang keluar dari mulut Aira.


Aduuuhhh, ngomong apanih?, batin Aira.


Awas aja kamu Hen!, batinnya.


"Kok diem? Katanya ada yang mau diomongin?" Tama mendekatkan wajahnya ke Aira yang membuat Aira memundurkan posisi duduknya.


Aira menggelengkan kepala mengisyaratkan "Nggak ada"


"Ngomong aja nggakpapa"


Aira menggeleng lagi.


"Yakin?"


Aira mengangguk.

__ADS_1


"Kalau gitu, biar aku yang ngomong" Tama sedikit mengangkat bokongnya, mendekatkan dirinya pada Aira dan berbisik.


"Kamu"


"Nggak akan bisa lepas dariku!" bisik Tama dengan suaranya yang dalam dan dengan nada rendahnya semakin membuat Aira bergidik.


Selepas itu, Tama menunjukkan smirknya lagi dengan posisi wajahnya masih berdekatan dengan Aira. Aira yang mulai memikirkan yang tidak tidak itu meneguk air liurnya.


"Tam! Kamu udah bayarin bakso kita?" Henna datang kembali.


"Makasih yaaa!"


Ditengah-tengah ucapan terimakasih Henna pada Tama, terdapat Aira yang berdiri dari duduknya seperti orang yang sedang ketakutan dan berjalan pergi begitu saja meninggalkan Tama dan Henna dikantin.


"Loh, Ai? Mau kemana?" -Henna


"Tam, duluan ya! Aku selaku perwakilan Aira mengucapkan terimakasih, sampai ketemu lagi!" Henna mengucapkan itu dengan tanpa jeda lalu berlari kecil menyusul Aira yang mulai menjauh.


"Ra! Tungguin napaa" keluh Henna begitu ia berhasil menyamakan langkah Aira.


"Lagian ada apa si?! Kok mukamu gitu amat" kata Henna.


"Aku ke kamar mandi dulu" pamit Aira dengan lesu.


"Mau kutemenin?"


"Nggak usah, orang deket kok" -Aira.


"Yaudah aku tunggu di taman belakang ya!"


"Ngapain kesana?" -Aira.


"Cari angin. Masa iya di kelas terus kan suntuk!"


"Terserah deh!" kata Aira lalu pergi ke kamar mandi.


Aira Pov


Aku membasuh mukaku dengan air agar terasa sedikit lebih segar dari sebelumnya. Aku sendiri juga menyadari akan raut wajahku yang sedari tadi kusut. Itu mungkin karena pikiran-pikiran yang selalu memenuhi otakku.


"Hahhhhh" membuang nafas kasar.


Setelah melihat diriku dalam pantulan kaca, aku menjadi meragukan tuduhanku terhadap Tama. Apa aku salah ya bersikap seperti ini? Kenapa tadi aku bersikap seperti itu?


Tapi, tuduhanku kembali muncul ketika aku mengingat bisikan Tama ketika di kantin tadi.


"Kamu, nggak akan bisa lepas dariku!"


Kata-kata itu. Mendengarnya membuat bulu kudukku berdiri. Mendengar hembusan nafasnya ketika membisikkan telingaku pun sudah membuatku merinding. Terlebih, ia menambahkan bumbu-bumbu kengerian dengan suara tawa smirknya tepat di telingaku. Apa maksud dari ucapannya itu? Apa memang benar kalau dia mendekatiku hanya untuk membawaku masuk dalam bisnis gelapnya itu? Tapi kan, aku kenal dia sudah lama. Lalu, kenapa dia baru menunjukkannya akhir-akhir ini? Kenapa nggak dari jauh-jauh hari waktu kita pertama kenal? Kenapa baru sekarang?


Daripada lama lama di kamar mandi hanya karena memikirkan itu, lebih baik aku segera menyusul Henna dan menenangkan pikiran duduk di bawah pohon beringin besar nan rindang.


Keluar kamar mandi, aku melihat Bian yang berjalan tegap sambil membawa tas ranselnya. Sepertinya dia mau pulang.


Ah iya, mumpung bertemu dengan Bian. Apa sebaiknya aku tanya aja sama dia? Apa aku akan menemukan jawaban?


"Bian!" akupun memanggilnya.


"Kebetulan! Aku emang mau ke kelas kamu" katanya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku mau tanya"


"Tapi aku minta kamu jawab yang sebenar-benarnya"


"Apa?" -Bian.


Aira menarik tangan Bian untuk berpindah ke tempat yang lebih sepi karena mereka membicarakan hal yang sangat privasi.


"Ngapain kesini? Kamu buru-buru ya?" goda Bian.


"Diem!"


"Sekarang aku tanya sama kamu"


"Kenapa kamu membawaku ke gedung itu?"


"Kenapa kamu bahas itu lagi?" -Bian.


"Apa kamu menyinggungku untuk segera minta maaf padamu?"


"Oke, kalau begitu. Aku minta maaf. Minta maaf yang sebesar-besarnya!" Bian sampai menyatukan telapak tangannya.


"Aku akui aku memang gila waktu itu. Aku gila karena membawamu ke tempat yang bahkan nggak cocok untuk kamu injak!"


"Aku baru menyadari itu. Dan aku menyesal. Sangat sangat menyesal! Dan karena itu aku sampai nggak berani untuk minta maaf langsung padamu!" -Bian.


"Minta maaf memang penting. Tapi saat ini yang aku butuhkan adalah jawaban dari mulutmu itu!"


"Kenapa kamu membawaku kesana?"


"Dan itu pesta apa?"


"Kenapa waktu itu kamu, Elang, dan Tama ada disana?!"


"Kamu bener-bener mau tahu jawabannya?" Bian mengubah ekspresinya menjadi licik seolah merencanakan sesuatu.


"Aku akan memberitahumu kalau kamu mau berkencan denganku, hahah" rencana liciknya rerungkap.


Aira hanya mengernyitkan dahi mendengar ucapan Bian.


"Nggak mau kan? Berarti, nggak ada pertanyaan yang harus aku jawab!" Bian berjalan pergi meninggalkan Aira sendiri.


Aduhhh, bagaimana ini, batin Aira gelisah.


Aira menggigiti bibir bawahnya berpikir keras. Sementara itu, Bian tersenyum smirk dengan ekspresi liciknya berjalan semakin jauh dari tempat Aira berdiri.


Hanya selang beberapa detik, Aira berlari mengejar Bian yang berjalan membelakanginya. Sebelum semakin jauh, langsung saja Aira meneriakkan ucapannya.


"AKU SETUJU!"

__ADS_1


__ADS_2