
"Tama orangnya!" secara tiba-tiba Bian mendekatkan wajahnya ke telinga Aira dan berbisik demikian.
"AHAHAHAHAHA!" Bian tertawa sengit begitu membisikkan kata yang membingungkan Aira itu.
"Ahahaha lucu!"
"Emang mabuk berat nih orang!" Aira tak terlalu menganggap perkataan Bian serius karena Bian yang sedang mabuk berat.
"Airaaaa" panggilan yang bernada khas orang mabuk.
"Awalnya aku menginginkanmu sebagai sasaran yang bagus"
"Tapi lama kelamaan aku malah ingin menjagamu, ehehehe"
"Sebenernya dia minum berapa botol si?!"
"Udah ah! Nggak ada faedahnya dengerin omongan nglantur!" Aira pergi membawa nampan untuk mencuci piring.
"Airaaaa"
"Mau kemana Airaaaaa!" teriakan Bian tak dipedulikannya.
Ditinggalkan oleh Aira, Bian berjalan sempoyongan ke kasur Aira. Berkali-kali ia terjatuh namun segera bangkit lagi. Dan, bruk! Ia langsung ambruk tak sadarkan diri di kasur Aira dengan posisi yang kurang mengenakkan. Ia tidur tengkurap namun kakinya berlutut di lantai. Hanya separuh badannya yang menyentuh kasur empuk itu.
"Mending kamu pul-"
"Aahhhhssss, pake tidur disini lagi!" Aira menggerutu begitu masuk kamar mendapati Bian yang tertidur dengan posisi seperti itu.
"Mana tidurnya modelan gini"
Aira mencoba sekuat tenaganya untuk menarik Bian ke kasur yang benar. Sedikit demi sedikit Aira bisa memindahkan Bian walau memakan waktu yang cukup lama.
"Iiiiiirrrrrggggghhhhh..... Yak! Hahhhh...huffhhhh....hahh....!" Nafasnya terengah-engah.
"Ya Tuhaaaaaan. Berat bangeeet eeeerrrrggghhh....! Hiyak!!!" Aira berhasil menempatkan Bian di posisi yang benar.
"Hufhhhh.... Hah!" Aira mengusap keringat yang menetes di pelipis.
Karena kamarnya dipakai oleh Bian. Jadilah Aira yang membawa bantal ke kamar tamu yang mana Aira yakini kamar itu berdebu karena jarang dibersihkan. Sepanjang perjalanan kesana pun Aira menggerutu tidak terima jika Bian harus tidur di kamar Aira dan dia sebagai pemilik malah tidur di kamar yang berdebu.
Cklek!
Suara stop kontak dinyalakan.
"Hufhhhhh... Mana udaranya pengap lagi!" gerutunya begitu masuk ke kamar tamu.
Membutuhkan waktu setidak 10 menit untuk Aira membersihkan tempat tidur yang sangat berdebu itu. Berkali-kali pula Aira bersin karena debu yang masuk di hidungnya.
"Hahhhh.... Akhirnya selesaaai!" Aira menepuk-nepuk tangannya.
Baru saja Aira istirahat sejenak, ia teringat kembali akan buku diary Asma dan flasdisknya masih ada di nakas. Dia langsung memasang wajah panik kalau saja Bian tiba-tiba terbangun di tengah malam dan membuka apa saja yang ada dikamar Aira. Dengan gerak cepat Aira berlari ke kamarnya untuk mengambil buku dan flasdisk dari Asma itu.
Krieeeettt....
Membuka pintu pelan-pelan, takut Bian terbangun.
Tap....tap....tap....
Langkah kaki yang mengendap-endap.
"Hufffhhhh, untung aja langsung inget!" gerutu Aira begitu mendapatkan apa yang ia cari.
Bertepatan dengan Aira yang hendak keluar kamar, terdengar bunyi dering telepon dari ponsel Bian. Jika didengar dari bunyinya, ponsel Bian pasti terjepit di saku celananya. Setelah Aira lihat ternyata benar. Memang ponsel Bian ada di sakunya.
Penasaran dengan siapa yang menelepon Bian malam malam begini, Aira mengambil ponsel Bian dari sakunya perlahan.
"****" terpampang di layar.
"****? Siapa ****?" kening Aira mengkerut.
"Angkat nggak ya?"
"Angkat aja kali ya?"
Namun, belum juga Aira mengangkat telepon itu, tapi telepon itu sudah mati lebih dulu.
"Lah? Mati?"
"Udah ah! Ngapain juga ngurusin hidup dia!" Aira memilih menaruh ponsel Bian di atas kasur dan meninggalkannya begitu saja.
"Tungkling!"
Ponsel Bian lagi-lagi berbunyi setelah Aira meletakkannya diatas kasur.
Diliriknya kembali ponsel Bian itu. Bian menerima pesan setelah mendapat panggilan dari nama kontak "****". Lebih tepatnya, ada yang mengiriminya sebuah foto dari nama kontak yang sama.
__ADS_1
"Foto apaan yang dia kirim?"
Seseorang mengirimkan sebuah foto yang menampilkan beberapa orang sedang merokok dan minum bersama di sebuah tempat yang asing menurut Aira. Tapi, tidak dengan salah tiga orang yang ada di foto itu.
"Kirim lokasi"
"Mobil aku lagi di bengkel"
"Aku mau naik taksi online"
"Biar gampang dan nggak susah susah jelasin ke sopir taksinya, mending langsung kirim lokasi"
"**** mengirim lokasi terkini"
"Yas!"
Aira segera memesan taksi online untuk pergi kesana. Tak hanya itu, Aira juga bersiap-siap menyamar dengan memakai hoodie oversize berwarna hitam, celana training, topi warna mocca, dan kaki yang hanya bersandal jepit.
"Jalan pak!" kata Aira begitu masuk ke taksi.
"Sesuai maps ya pak"
Selang berapa lama, sopir taksi membelokkan setirnya ke arah jalan yang sepi dan gelap. Hanya ada pohon-pohon di sisi kanan dan kiri. Sedikit pemukiman, sedikit lampu jalan, dan sedikit juga orang yang lewat karena ini juga sudah larut malam.
Begitu masuk area jalan itu, Aira malah ragu. Ini jalan yanh benar atau bukan. Aira takut kalau malah sopirnya yang berbuat macam-macam.
"Pak? Ini jalannya bener?" Aira memberanikan diri bertanya pada sopir taksi.
"Bener kok mbak. Saya lihat maps kok daritadi. Tuh, lihat mbak kalau nggak percaya" sopir taksi menunjuk maps yang dimaksud.
"Kok jalannya begini ya pak?"
"Emang mbaknya nggak pernah kesini?"
"Nggak sih pak"
"Jadi gimana mbak? Lanjut apa nggak?"
"Jarak berapa meter lagi pak?"
"Di mapsnya sih masih dua menit mbak"
"Yaudah pak lanjut aja"
"Iya mbak"
Sebenarnya rasa raguku muncul setelah masuk ke area jalan gelap ini. Tapi, karena terlanjur sampai sini dan aku juga penasaran, aku memilih melanjutkan perjalanan ini. Ada apa sih di tempat itu? Mereka ngapain? Kok tempatnya seperti di tengah hutan gini?
Aku telah sampai di sebuah bangunan seperti gudang penyimpanan barang yang besar. Gudang itu terlihat paling mencolok karena lampunya yang terang. Di samping gudang itu juga ada mobil sejenis pick up dan beberapa motor untuk pengiriman barang.
Gudang itu benar-benar luas. Jarak gudang dengan pagar masuk saja sekitar 10 meter. Aku berdiri di depan pagar sembari memikirkan masuk atau tidak.
"Hufffhhhh...." aku mengambil nafas dalam lalu membuangnya.
Kubuka perlahan pagar kayu setinggi perut. Berjalan masuk mendekati gudang. Sepi, seperti tak ada kehidupan. Hanya suara-suara hewan dari hutan yang bersahut-sahutan.
Saat aku hampir dekat dengan gudang, seseorang berjalan keluar sendirian sambil merokok dan mengetik sesuatu dengan ponselnya. Terburu-buru aku bersembunyi di balik mobil pick up.
Tunggu, sepertinya aku pernah melihat orang itu. Aku nggak asing melihat wajahnya. Tapi siapa?
Oh! Orang itu! Aku ingat! Dia bukannya Hatta yang pernah kutemui di toilet kantin itu? Iya iya, itu memang dia. Berarti nama kontak "****" di ponsel Bian itu Hatta?
Dia mulai menempelkan ponsel ditelinganya memanggil seseorang.
"Drrrttt....drrrtttt...." tapi yang bergetar ponselku?
Ah, tidak! Ponsel Bian yang bergetar. Untungnya, aku sudah siap sedia men-silent semua ponsel yang kubawa. Ponselku, dan ponsel Bian. Aku membiarkan telepon itu berhenti sendiri. Dan ya, dia berdecit kesal karena itu.
"Ck! Bian kemana si?!" gerutunya.
Daripada membuatnya menunggu Bian yang padahal jelas jelas Bian tidak akan datang, aku kirim saja pesan padanya kalau Bian tidak jadi datang karena suatu urusan. Tapi urusan apa?
"Sorry. Aku gabisa datang hari ini"
"Aku harus menemani Rida"
"Ck! Kenapa tadi dia kasih harapan kalau ujungnya nggak dateng?" gerutu Hatta.
"HATTAAA!" seseorang memanggilnya.
"IYAAAA BENTAAAR!" jawabnya, memasukkan ponsel di sakunya lalu masuk kembali.
Aku bisa bernafas bebas sekarang. Dan aku juga bisa keluar dari persembunyian. Sekarang, aku mencari cara bagaimana aku masuk tanpa ada yang tahu. Pasti tidak hanya ada satu pintu masuk. Pasti ada pintu dari belakang. Dengan percaya diri, aku berjalan ke belakang gudang itu dengan mengendap-endap.
Yak! Dapat! Aku menemukan pintu masuk ke gudang. Langsung saja aku masuk kesana. Tapi ternyata, disini tidak ada siapapun. Lalu, kemana perginya mereka? Sedangkan gudang ini hanya ada satu lantai dan tidak ada ruangan lain lagi.
__ADS_1
Dan ternyata, aku menemukan pintu kayu. Namun pintu itu berukuran lebih kecil dari pintu pada umumnya. Mungkin pintu itu berukuran setengah dari pintu biasanya. Dan ketika aku mendekati pintu kayu itu, aku menemukan tangga yang mengarah ke ruangan lain. Ruangan yang berpencahayaan redup dari sisi gudang lain.
Darisitu aku tahu, kalau pintu yang kumaksud itu bukanlah sepenuhnya pintu. Melainkan seperti pintu rahasia yang mengantarkanku ke ruangan bawah tanah. Ya, tangga itu membawaku ke ruangan bawah tanah yang gelap dan minim pencahayaan.
Dengan penasaran yang tinggi aku mulai menginjak anak tangga itu. Semakin turun, semakin masuk kedalam ruang bawah tanah, semakin pula aku mendengar sorakan mereka. Dan aku juga mencium bau menyengat. Mungkin itu dari minuman mereka.
Begitu aku menginjak lantai bawah tanah, aku langsung bersembunyi dibalik kardus kardus yang ada disana, mengintip dan mendengar percakapan mereka diam-diam. Ada setidaknya lima orang yang ada disana. Hatta, Elang, dua orang yang tidak aku kenal, dan Tama.
Iyap, ada Tama dan Elang disana. Mereka sedang bermain kartu dan mungkin sedikit mabuk.
"Arrrggghhhh!! Aku kalah lagi!" Elang yang kesal karena kalah dalam permainan kartu itu menendang dan memukul meja.
"Aaarrrggghh! Sakit gubluk!" rintih Tama ketika Elang tidak sengaja menendang kakinya.
"Bubar bubar! Nggak asik mainnya nih! Aku kalah terus!" Elang mengacak-acak kartu dari mereka karena tidak terima.
"Belum sembuh juga tuh luka?" tanya Hatta seraya menghembuskan asap rokoknya.
"Kalo udah ya aku nggabakal ngeluh kalik!" kata Tama.
Luka? Luka apa yang mereka maksud?
"Lagian gimana bisa si ketahuan sama dia?" -Hatta.
"Tahu sendiri kan dia kalo udah nggak tahan kayak gimana, haha!" Elang tertawa kecil menertawakan Tama.
Brak! Brak! Brak!
Tiba saja ada yang mendobrak pintu dengan keras.
"BRISIK!" tegur Tama.
Brak! Brak!
"DIEM!"
"Atau nggak, kepalamu yang pecah!" kata Tama kepada seseorang yang ada dibalik ruangan itu, entah siapa.
"Ahhssss, mana masih biru lagi!" Tama kembali mengeluh, melipat celananya sedikit hingga ke atas mata kaki.
Dan nampaklah luka yang dimaksud. Luka di mata kaki kanan yang familiar. Begitu melihat luka yang dimiliki Tama itu, ingatanku langsung tertuju pada kejadian di pantai waktu lalu. Kejadian dimana aku melihat palu yang diayunkan, darah dimana-mana, tubuh korban yang tergeletak tak bernyawa, kejar-kejaran dengan pelaku, dan berakhir dengan aku yang sempat merebut palu darinya dan memukul mata kaki sebelah kanan. Aku ingat semua itu.
"Hah?!" dengan refleknya aku membuka mulutku lebar-lebar saking terkejutnya
Tubuhku langsung lemas ketika mendengarnya. Ambruk bersandar di tembok dan masih syok.
Gradak!
Oh tidak! Betapa bodohnya aku. Aku menimbulkan suara yang membuat mereka terkejut dan langsung menoleh kearah sumber suara.
Author Pov
"Apaantuh?"
Panik, Air langsung berlari keluar.
"WOY! SIAPA TUH!" suara Hatta yang memergoki Aira.
Aira berlari sekuat tenaga agar tidak tertangkap oleh mereka.
"WOY!!"
Mereka mengejar Aira. Ia bingung harus lari kemana. Yang pada akhirnya mau tak mau Aira berlari masuk ke hutan yang sangat gelap. Takut sebenarnya, tapi bagaimana lagi, ia harus melakukannya demi menghindar dari mereka.
"Kemana perginya?" -Elang.
"Dia nggak bawa kendaraan. Pasti belum jauh dari sini!" -Tama.
Berlari dan terus berlari. Berkali-kali Aira melewati semak-semak dan terjatuh. Nafasnya pun sudah tersengal-sengal. Kakinya melemas.
"Hahhh...hahh....hah... Uhukkk! Uhuk!!" nafasnya tidak keruan. Aira berhenti sejenak untuk mengatur nafas.
"WOY! BERHENTI DISANA!" seseorang berhasil menyusulnya.
"Sial!" umpat Aira dan langsung berlari lagi.
Tak berapa lama, Aira melihat jalanan kota dari kejauhan. Saat itu perasaan Aira sedikit lega karena ia akan sampai rumah dengan cepat. Sebab itu, semangat Aira untuk berlari kembali berkibar. Ia bahkan sanggup untuk menambah kecepatan larinya.
"TAKSI!" keberuntungan ada dipihak Aira. Tepat saat Aira sampai di pinggir jalan, ada sebuah taksi yang kebetulan lewat.
"WOY!" meneriaki Aira.
"Hahhhh....hahh...huffhhhh....." Aira bisa bernafas dengan lega.
Meski begitu, Aira menyempatkan dirinya untuk menoleh kebelakang. Kearah orang yang mengejar Aira tadi. Begitu menoleh, Aira melihat orang itu masih berdiri ditempatnya dengan penuh penyesalan karena tidak bisa mengejar Aira.
__ADS_1
Usai menoleh kebelakang, Aira mengembalikan posisi duduknya menghadap depan dengan ekspresi kecewanya. Aira melepas topinya, membuang nafas kasar dan merapikan rambut yang berantakan itu.
Rupanya, orang yang mengejar Aira tadi adalah Tama.