
Aira Pov
Mungkin aku harus melakukan ini setidaknya sampai aku tahu yang sebenarnya. Tapi disisi lain aku juga harus memikirkan rencana lain jika saja rencanaku ini tidak berhasil.
"Kalau itu mau kamu oke. Aku bisa kok. Lagian, soal aku suka atau nggak suka itu bisa datang belakangan" kataku.
Mendengar itu tentu saja Bian menjadi sumringah. Ia menampilkan barisan giginya dengan jelas.
"Oke" senyum smirk.
"Sampai ketemu nanti, setelah kamu di interogasi polisi, byeee!" melambaikan tangan.
Arrrggghhh, kenapa setelah bilang begitu aku menjadi gelisah? Apa sesuatu yang tidak aku tahu akan terjadi? Apa aku telah mengambil langkah yang salah?
Oh iya! Henna sudah menungguku di taman belakang. Pasti dia marah karena aku lama menyusulnya.
Author Pov
"Ishhhh, Aira lama banget ngapain si?! Boker kali ya?" gerutu Henna yang duduk sendiri di bangku bawah pohon beringin.
"Woy! Ngedumel sendiri aja!" Aira datang membawakan minuman yang sempat ia beli sebelum ke taman belakang.
"Pantesan lama banget! Tapi makasih yaaa, hihihi" meraih minuman dari tangan Aira.
"Eh, kayaknya pulang sekarang nggapapa deh! Tadi banyak banget yang pulang. Nggak ipa nggak ips semuanya banyak yang pulang!" kata Aira.
"Masasih?!"
"Yaudah kita pulang aja sekalian. Kita kan juga harus ke rumah sakit buat itu, interogasi kan katanya" ucap Henna seraya menyedot minumannya.
"Iya yaudah yuk, pulang!" ajak Aira.
"Gas lah!" Henna mengikuti langkah Aira.
Rupanya memang banyak anak-anak yang pulang lebih dulu. Satpam penjaga sekolah tidak mencegah mereka dan guru yang melihat pun tidak menegurnya. Aira dan Henna pun keluar dengan santainya seperti yang lain.
"Widiihhh, sering sering aja kayak begini ya kan" celoteh Henna.
"Yang ada otak mu makin kosong! Makin nggak guna!" ejek Aira.
"Yeuuuuu, seenggaknya punya walau seperempat!"
"Eh, Ai!" Henna menarik-narik lengan baju Aira.
"Apaansi?!"
"Ituuuu....." Henna mengarahkan lirikannya kebelakang Aira.
"Apa?" Aira yang penasaran itu pun menoleh kebelakang.
Dari kejauhan terlihat Tama yang menenteng tas ranselnya hendak masuk kedalam mobil bersama Elang. Tapi, rupanya ada yang lebih menarik perhatian Aira daripada seorang Tama itu. Radius sepuluh meter dari jarak Tama berada, ada seorang Bian yang diam berdiri dibalik pohon ketepeng menatap tajam kearah Tama. Aira sadar akan kehadiran Bian. Sementara Bian tidak menyadari akan Aira yang melihatnya dari kejauhan.
"Tin!" klakson dari mobil Tama mengejutkan Aira dan Henna.
"Ayo naik!"
"Kalian mau ke rumah sakit kan?" Tama berbicara seolah tidak ada yang terjadi.
Aira terlihat ragu untuk menerima tawaran Tama. Tak biasanya Aira ragu seperti ini. Sepertinya canggung sudah merajalela antara Tama dan Aira.
Sementara Bian masih berada di posisi yang sama. Bahkan, kali ini Bian sudah tahu bahwa ada Aira yang melihatnya dari kejauhan. Bian melempar tatapannya kepada Aira, lalu senyum smrik seperti biasa dan pergi begitu saja.
"Ra! Tunggu apa lagi? Ayok!" tiba saja Henna sudah membuka pintu mobil dan hendak masuk.
"Ah? I...iyaaa"
Dirumah sakit.
Mereka berjumpa dengan dua orang polisi yang menjaga didepan bangsal Rida. Sementara ada satu orang polisi lagi duduk dibangku depan bangsal. Polisi itu langsung berdiri menyambut Aira dan lainnya.
"Selamat pagi, apa kalian teman-temannya Rida?" ucap polisi wanita.
"Ah iya, benar" jawab Henna.
"Kalian yang kemarin ke TKP kan?" tanya polisi.
__ADS_1
"Benar" jawab Aira.
"Bisa ikut saya sebentar? Saya mau bertanya tentang kejadian kemarin"
"Kita semua atau gantian satu-satu bu?" tanya Henna sopan.
"Kalian berempat saja tidak apa-apa. Mari, kita bicara di kantin saja"
"Jaga sini dulu ya!" ucap polisi itu pada dua polisi penjaga bangsal.
Di kantin rumah sakit. Sebelum memulai interogasi, tentu saja polisi wanita itu memperkenalkan diri terlebih dulu.
"Oke, sebelumnya, perkenalkan nama saya Indah. Kalian cukup panggil saya 'mbak'. Saya detektif yang bertugas untuk menyelidiki kasus ini. Kita bicara santai saja ya, kalian tidak usah terlalu tegang" kata mbak Indah.
"Iyaa, mbak" ucap mereka hampir bersamaan.
"Sekarang kalian bisa cerita semuanya. Benar-benar semuanya sedetail mungkin karena bisa saja hal sepele itu info penting. Mulai dari kamu aja" Indah menunjuk Henna.
Mereka bercerita secara bergantian sesuai dengan apa yang terjadi kemarin. Sekarang, giliran Tama.
"Waktu itu, saya lagi nongkrong sama anak-anak yang lain. Tapi tiba-tiba saja, Bian menelfon saya dan bilang kalau Rida dalam bahaya. Karena sebelumnya juga Aira sudah bilang sama saya kalau dia mau keluar sama dua sahabatnya, Henna (menunjuk Henna yang ada didepannya) dan juga Rida, saya berpikiran kalau Aira juga pasti dalam bahaya karena mereka sedang bersama. Jadi begitu mendapat telepon dari Bian, saya dan dia (menunjuk Elang) langsung pergi"
"Iya, Bian juga bilang seperti itu" kata Indah yang sedari tadi memastikan cerita mereka sama.
Kok, aku merasa ada yang nggak pas di hati ya? Kayak ngganjal gitu rasanya, tapi apa ya?, batin Aira.
"Terima kasih ya atas waktu kalian" -Indah.
"Oh iyaa, apa diantara kalian bisa ada yang membujuk Rida untuk bersaksi?"
"Memangnya dia belum cerita apa-apa mbak?" tanya Henna.
Indah menggeleng.
"Sejak kemarin malam dia diam terus. Nggak mau bicara sama sekali bahkan membuka mulutnya untuk makan dia nggak mau" terang Indah.
"Mungkin karena dia harus kehilangan kedua orangtuanya sekaligus. Dengan cara yang tragis pula" lanjutnya.
"Nanti biar saya coba bujuk ya mba" tawar Aira.
Drrrttt...drrtttt...
Begitu mendapat notifikasi, Aira langsung membuka pesan itu.
"Bian"
"Aku tunggu di tangga darurat lantai 3"
Aira tidak membalas pesan itu. Melainkan hanya membaca lalu menutupnya kembali karena menurutnya ini bukan waktu yang tepat untuk bermain ponsel. Terlebih, sekarang suasana sedang serius.
"Uhmmm, mbak. Kalau boleh tahu, motif pembunuhannya apa ya mbak? Setahu saya, orangtua Rida itu nggak pernah ada konflik sama siapapun" kata Henna.
"Kita juga masih belum tahu jelasnya. Senjatanya aja belum ditemukan. Makanya harus terus di selidiki. Pokoknya kalian kalau ada info apapun langsung bilang ke saya ya. Mau itu hal sepele ataupun nggak" -Indah.
"Ini nomor telepon saya, kalian simpan" memberikan secarik kertas bertuliskan beberapa angka.
"Baiklah, kalau begitu hutang kalian cerita sama saya sudah lunas. Sekarang kalian boleh masuk ke bangsal buat nengokin teman kalian" kata Indah.
"Baik, terimakasih mbak. Kami permisi dulu" ucap mereka hampir bersamaan.
Mereka berjalan menuju ke bangsal Rida. Karena bangsal Rida ada di lantai 5 dan kantin tempat interogasi di lantai 1, mereka harus naik lift. Tapi begitu didepan lift, Aira menghentikan langkahnya.
"Eh! Bentar ya, aku ke toilet dulu. Kebelet banget, sakit perut" Aira yang memegangi perutnya itu langsung berlari kearah toilet.
"Nggakbisa ditahan aja? Kan bisa nebeng di toilet kamarnya Rida" kata Henna.
"Mauku sih gitu, tapi udah nggak tahan. Bentar ya" Aira langsung pergi ke toilet.
Sesampainya di toilet, Aira malah terus mengintip kearah luar untuk memastikan jika teman-temannya sudah masuk kedalam lift. Waktu yang ditunggu telah datang. Mereka sudah masuk kedalam lift dan mulai bergerak keatas. Sementara Aira langsung berlari keluar menuju tangga darurat.
Tap...tap...tap...
Suara langkah kaki yang menginjak beberapa anak tangga.
Sampailah Aira di tangga darurat lantai 3. Tapi ia tidak melihat siapapun disana. Batang hidung Bian saja tidak terlihat. Aira merasa dipermainkan. Ia mulai mencari kontak Bian dan memanggilnya.
__ADS_1
Tut...tut...tut...
"Halo?"
"Gimana si?!"
"Katanya di tangga darurat, mana?"
"Oh kamu udah disana? Cepet banget. Lagian tadi kamu nggak bales pesanku jadi aku kira kamu nggak serius"
"Oke tunggu disana. Aku udah masuk rumah sakit"
"Ck! Cepetan!" Aira langsung menutup telepon.
"Kok jadi aku yang nungguin?" gerutunya.
Mau tak mau Aira harus menunggunya. Aira menunggu sembari duduk di anak tangga. Karena suasana di tangga darurat hening dan sepi, maka jadilah pikiran Aira yang lain-lainnya kembali bermunculan di benaknya.
"Kenapa aku merasa ada yang disembunyiin ya dari kasus pembunuhan orangtua Rida ini? Tapi apa ya?"
"Henna bilang kalau orangtuanya nggak pernah ada masalah sama orang lain. Tapi tiba-tiba berakhir dibunuh? Kenapa ya?"
"Masak iya perampokan? Tapi barang-barangnya masih ada"
"Terus, kalau niatnya membunuh orangtua Rida, kenapa anjingnya ikut dibunuh?"
"Apa maksudnya dia membunuh anjing itu? Apa motifnya?"
"Arrggghhh, Airaaaa. Kenapa banyak banget yang dipikirin?" Aira memukul-mukul kepalanya.
Hap!
Tiba saja ada yang menahan tangan Aira saat ia memukul-mukul kepalanya sendiri. Lantas Aira mendongakkan kepalanya melihat tangan siapa yang menggenggam tangannya.
"Ngapain?" Bian tersenyum tipis melihat tingkah Aira yang memukul kepalanya tersebut.
"Bukan urusanmu!" jawab Aira jutek.
"Jadi gimana? Apa kamu yakin dengan tawaranku?" -Bian.
Kalau nggak karena kepo ya ogah!, batin Aira.
"Ceritain sekarang, apa yang ada di gedung itu!" -Aira.
"Kok buru-buru banget kenapa sihh, hah?"
"Kita kan belum ngeresmiin hubungan kita"
"Resmiin dulu, baru deh aku ceritain semuanya" -Bian.
"Apaan pake resmi resmian segala?!" Aira sewot.
"Mau atau nggak?!" -Bian.
"Kamu sengaja kan manfaatin ini biar aku mau pacaran sama kamu?" -Aira.
"Hmmmm, gimana yaaa? Jawab nggak ya?" -Bian.
Kayaknya dia nggak serius deh mau ceritain semuanya. Mana mungkin juga kalau dia mau cerita semuanya. Toh, dia juga ada didalam lingkaran muncikari itu kan? Aduhhh Aira kenapa kamu bodoh sekali? Kemana pikiranmu sebelum mengiyakan tawarannya?, batin Aira sangat menyesal.
"Huuufffhhhh" Aira berdiri dari duduknya, membuang nafas kesal.
"Aku tarik kata-kataku menyutujui tawaranmu!" katanya spontan.
"Kenapa?" Bian menyusul berdiri dari duduknya.
"Aku salah ngomong kayak gitu. Aku nggak mikir panjang. Jadi, lupakan kata-kataku itu" Aira hendak pergi.
"Aku harap kita nggak lagi bahas-bahas ini. Cukup sampe sini aja" Aira melangkah menaiki anak tangga.
"Kamu yakin?" suara Bian yang menggema membuat Aira menghentikan langkahnya.
"Kasus Shinta dan pesta malam itu. Pasti masih banyak lagi yang bikin kamu penasaran. Apa aku salah? Haha"
"Selain bisa memberikanmu informasi mengenai dua kasus itu. Aku juga bisa memberikanmu informasi tentang kasus lainnya"
__ADS_1
"Kasus Adiba? Atauuu...."
"Kejadian di pantai itu?" lagi dan lagi Bian menunjukkan tatapan dan senyuman menyeringai. Itu cukup membuat Aira merinding dan sedikit ketakutan.