Strange School

Strange School
Antara Mereka


__ADS_3

"Nggak mau pulang sama aku, hah?" Tama menggenggam erat kedua lengan Aira.


Aira yang saat itu terkejut, tertegun, terheran-heran sekaligus bingung, menatap Tama dengan mulut yang menganga lebar dan tentunya ekspresi menahan sakit.


"JAWAB!!" Tama semakin erat menggenggam lengan Aira hingga ia tak sanggup lagi menahan sakit.


"Ahh...aw..aw..aw.." rintih Aira.


Raut wajah itu seketika berubah menunjukkan rasa sakit yang ia rasa saat ini.


Baru saja Aira mendapat pukulan yang tak sengaja karena pertengkaran antara Bian dan Tama, tapi sekarang Aira mendapatkan pukulan lagi tapi secara sengaja? Bagaimana rasanya? Tentu saja perasaan sedang kacau saat ini.


"TAMA!!" seseorang meneriakkan nama Tama dengan lantang dari arah yang berlawanan.


Datang seorang Elang yang tadinya sudah berpamitan pulang dan sudah tak nampak batang hidungnya berjalan mendekat dengan raut wajah kesal, cemas, jengkel menjadi satu.


"Kamu tunggu di mobil aku aja" kata Elang pada Aira yang sudah terlihat terus merintih kesakitan.


Tanpa kata-kata lagi, langsung saja Aira berlari menjauh dari mereka dan menuruti perkataan kakak tirinya tersebut.


"Apa-apaan kamu?" Elang berbisik pada Tama.


"Apa gimana? Dia aja nggak pernah sekalipun nuruti semua perkataanku yang padahal untuk kebaikan dia juga" jawab Tama.


"Nggak gini caranya!. Kamu mau dia tahu siapa kamu sebenarnya?"


"Kamu mau kehilangan dia karena itu?"


"Bukannya kamu selalu mengeluh sama aku kalau kamu takut Aira tahu dan Aira bakal menjauh darimu karena itu?"


"Hari ini biar dia pulang sama aku"


"Dan jangan temui dia sebelum dia sembuh dari lukanya, ngerti?!"


Elang menepuk bahu lebar Tama usai mengatakan beberapa kalimat pada Tama lalu pergi.


~Aira POV~


Setelah mendapat pukulan dari Tama, tentu saja perasaanku hancur lebur. Selama dua tahun aku berteman dengannya, belum pernah aku melihat sosok Tama beberapa menit yang lalu.


Sakit hati, sakit fisik, terkejut, heran, marah, kecewa, takut, nggak menyangka, semua berpadu menjadi satu. Entah seperti apa wajahku tadi.


Aku yang nggak tahu harus berkata apa itu hanya merintih kesakitan sebab tangan yang menggenggam lenganku erat. Jujur saja, aku membuang nafas panjang ketika Elang datang diwaktu yang tepat. Tapi, justru aku kembali bertanya-tanya.


Bukannya tadi Elang sudah pamit pulang dan bahkan dia berjalan sudah jauh hingga nggak terlihat lagi? Tapi dia tiba-tiba muncul kembali? Apa dia bersembunyi di sekitar sana?


Elang menyuruhku untuk menunggunya di mobil. Aku meng-iyakan perintahnya itu karena aku juga tak ingin melihat wajah Tama setelah kejadian itu.


Di dalam mobil aku hanya diam, merenung, murung. Tanganku menopang kepala yang mulai pusing memikirkan hal ini. Pandanganku lurus ke depan, tapi pikiranku pergi ke segala penjuru bahkan terjebak dalam labirin.


Sampai lamunanku tersadar oleh datangnya Elang yang menampakkan wajah cemasnya kepadaku.


"Kamu nggak papa?" tanyanya.


Mulutku seolah membeku. Karena itu aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Wajahmu pucat" katanya.


Mendengar ucapannya itu, kuputar cermin yang ada ditengah itu menghadapku. Pantulan diriku yang berwajah pucat sangatlah jelas. Tak ada rona pipi maupun bibir seperti hal biasanya pada diriku. Mataku pun terlihat sayu.


Drrrttttt.....


Disela-sela itu aku mendapat sebuah pesan.


"Ayah"


"Ra, maafin ayah nggak kabar-kabar kamu dulu. Ini ayah lagi di bandara menuju ke Lampung untuk acara besar kantor. Ayah harus tinggal beberapa hari. Maafin ayah ya"


"Ayah juga sudah kirim uang ke atm kamu"


Aku yang membaca itu seolah hilang separuh nyawaku. Sungguh hari yang buruk untukku. Aku berdecit kesal. Kutaruh dengan kasar ponselku itu di dasbor mobil. Sikaoku itu rupanya menundang pertanyaan untuk Elang.


"Kenapa?" tanyanya, sesekali melirik kearahku dan ke jalanan.


"Ayah ke luar kota berangkat hari ini!" jelasku sebal.


"Oh..." jawabnya dengan mulut yang membulat.


Oh? Hanya itu reaksinya? Itu membuatku semakin naik pitam!


~Author POV~


Kendaraan roda empat berhenti tepat di depan rumah Aira. Aira yang masih pucat itu turun dengan pelan dan lemas. Bahkan selangkah pun terasa berat baginya.


Elang dan mobilnya telah pergi meninggalkan halaman rumah Aira. Kini hanya ada Aira yang seorang diri. Aira yang lemas duduk di tempat tidurnya, masih membayangkan hal yang terjadi hari ini.


Drrrrttttt....


Pesan masuk.


"Henna"


"Ra? Kamu sakit apa?"


"Udah makan belum?"


"Aku kerumahmu ya"


"Share lokasi dong"


Aira pun tersenyum tipis melihat pesan temannya itu.


---


Saat itu Aira sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk begitu keluar dari kamar mandi yang kemudian duduk di depan cermin. Aira memandangi kondisi wajahnya yang terluka karena pukulan tadi.


"Sssshhhhh....." rintihnya ketika ia mencoba menyentuh sedikit.


Ketika menyentuh luka itu, Aira pun kembali teringat kejadian demi kejadian yang ia alami di hari yang buruk ini dan kembali berpikir kenapa hal ini bisa terjadi.


Tululit...tululit...


Panggilan masuk.


Ponsel yang ia letakkan diatas nakas ia raih.


"Halo?"


"Ai, aku udah didepan rumah kamu nih"


"Oke aku turun dulu" katanya.


Benar saja, diluar sudah ada Henna yang berdiri membawa sekantong plastik makanan. Tak hanya kantong plaatik, Henna rupanya juga membawa sebuah tas ransel yang biasa ia bawa saat sekolah.


"Ra? Kok muka kamu biru biru gitu?"


"Kamu sakit apa?" tanya Henna.


"Aku kalau kecapekan emang gini" elak Aira.

__ADS_1


"Kamu pamit kerja kelompok?" tanya Aira.


"Ehehehe... Soal ini aku belum bilang sama kamu" Henna cengengesan.


"Kenapa?"


"Malam ini, aku nginep dirumah kamu boleh nggak? Ehe...." Henna mengatakannya dengan malu-malu.


"Wah.... Serius?!" Aira antusias.


"Jadi boleh nih?" Henna membelalakkan matanya senang.


"Banget! Aku lagi sendirian di rumah. Ayahku lagi ke luar kota!" Aira menggenggam tangan Henna dengan senang.


"YES!!!" teriak Henna kesenangan.


"Eh, ajak Rida juga dong!" kata Aira.


"Iya juga ya, bentar" Henna mengeluarkan ponselnya.


Tut...tut...tut....


Video call tersambung.


"Halo?" terdengar suara Rida yang serak seperti orang bangun tidur.


"Ya ampun, kamu tidur?" kata Henna.


"Kenapa?" jawabnya malas.


"Ayok nginep di rumah Airaa. Dia lagi sendirian nih dirumah!" ajak Henna.


"Harus sekarang nih?"


"Ayok cepetan!" sahut Aira.


"Aaaaa......iya, iya, iyaaaaa, bawel!" ucap Rida sembari mengucek matanya dan beranjak dari tempat tidurnya.


"Yeaaaaaayy!!!" Aira dan Henna teriak kegirangan mengangkat ponsel.


"Da, bawain gorengan pak Waras ya, ehehehe" pinta Henna dengan nada manja.


"Ah ngrepotin!" keluh Rida.


"Yaelah Da, sama temen sendiri juga"


"Bacot!"


"Pokoknya aku tunggu di rumahku ya!" sahit Aira.


"Bye Ridaaaa, muah!" Henna menutup video call.


"Ke kamarku yuk!" ajak Aira dengan senang.


"Aku pengen cepet-cepet makan sebenernya ehehehe" Aira cengengesan.


Aira mengajak Henna ke tempat favorit di rumahnya, rumah pohon. Tentu itu membuat Henna yang baru pertama kali menginjak rumah Aira itu berdecak kagum melebarkan mulutnya. Alisnya terangkat dan matanya pun membelalak.


"Woaaahhhh!" gumamnya.


"Kalau kayak gini sering-sering deh aku kesini" ucapnya.


"Bikin tenda asyik nih kayaknya" kata Henna.


"Boleh juga tuh!" Aira setuju dengan saran Henna.


Semua telah disiapkan oleh Henna dan Aira. Tenda, laptop, kabel panjang, bantal, selimut, ditambah lagi dengan makanan dan minuman yang telah mereka siapkan. Mereka nampak berbahagia hanya dengan itu.


"Iya, masuk langsung aja nggak papa" kata Aira.


"Gimana nih bukanya" Rida cukup kesulitan untuk membuka pintu karena ia membawa dua kantong plastik yang mengganggu kerjanya.


"Ah! Plastik sialan!" umpatnya.


Begitu ia berhasil membuka pintu, Rida bertanya kemana dia harus pergi.


"Terus aku harus kemana?"


"Di sebelah ruang tamu kan ada tangga, kamu naik aja. Terus ada kamar yang ada di tengah, masuk aja"


Krieeeeet....


Tap...tap...tap...


Rida semakin dekat dengan lokasi Aira dan Henna. Begitu ia membuka pintu yang menghubungkan dengan balkon dan rumah pohon, reaksi Rida kurang lebih sama dengan reaksi Henna sebelumnya.


"Taraaaaaa!!!!" Aira dan Henna menyambut kedatangan Rida.


"Woaaaaahhh!!!" dercaknya kagum, bahkan ia sampai melebarkan kaki dan tangan saking terkejutnya.


"Luarrrrr biasahhh!!!!" celoteh Rida.


"Wuhuuuuuuuuu!!!!!" sorak Aira. Henna, dan Rida bersamaan.


Tak hanya bersorak gembira, mereka juga berpelukan dan melompat bersama. Mereka menikmati malam yang indah ini bertiga. Mulai dari karaoke bersama, menontom film bersama, tertawa bersama, menangis bersama karena sebuah film yang menyedihkan, makan, minum, hingga mereka memasuki sesi curhat cerita kehidupan mereka masing-masing.


Keadaan menjadi serius dan tegang ketika Aira bertanya pada Henna apa yang membuat Henna seperti kabur dari rumah. Henna pun sempat menunjukkan wajah sedihnya sekilas. Walaupun sekilas, nampaknya Henna tidak bisa menyembunyikan wajah sedihnya itu pada Aira sebab Aira terlebih dulu mengetahuinya.


Raut wajah Henna langsung kusut mendengar pertanyaan Aira itu. Namun itu tak menghalangi Henna bercerita pada kedua teman yang ia percayai.


"Ayah ibuku berantem" ucapnya dengan nada yang sangat rendah.


"Lagi?" sahut Rida yang menjorokkan badannya kearah Henna.


"Lagi?" Aira yang belum mengerti kisah Henna dari awal itu pun bingung.


"Berarti ini bukan pertama kalinya?" tanya Aira.


Flashback Henna


Seorang anak tunggal yang baru saja pulang dari kegiatan sekolahnya langsung mendengar suara gaduh begitu membuka pintu untuk masuk ke rumahnya. Dilihat dari raut wajahnya, gadis itu seperti sudah terbiasa dengan suara kegaduhan yang mengisi rumahnya. Ia bahkan acuh tak acuhkan dengan itu.


Ia terus melanjutkan langkahnya masuk ke kamar untuk mencoba menenangkan diri. Ia lemparkan begitu saja sepatu, tas, serta ponselnya kearah yang berbeda-beda. Ia juga melemparkan tubuhnya ke tempat tidurnya.


"Rasanya kupingku udah mati rasa!" gerutunya.


"COBA TANYA ANAKMU!"


"DIA PASTI LEBIH MEMILIHKU!!"


"DIA PASTI IKUT DENGANKU KARENA AKU IBUNYA!!"


Suara itu terdengar jelas ketika orang tuanya mendekati kamar putri tunggalnya itu.


Brak! Brak! Brak!


"HENNA BUKA!!" suara ayahnya mendobrak pintu.


"JANGAN HENNA! JANGAN TURUTI AYAHMU YANG SIALAN INI! TETAP DI DALAM KAMAR AJA!" sahut ibunya.

__ADS_1


Henna benar-benar merasa terbebani sekarang. Ia pun merasa terganggu karena kebisingan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Telinga Henna mulai serasa panas dan berdengung. Maka itu, Henna meraih bantal dan menutupi seluruh kepala dengan bantal.


Namun suara itu masih saja terdengar walaupun samar. Tak tahan lagi, Henna melangkah menuju pintu itu dengan kaki yang dihentak-hentakkan.


"APAAA?!!"


"BELUM PUAS BERANTEM KALAU BELUM ADA SATU YANG MATI?!"


"AMBIL PISAU DIDAPUR ATAU GERGAJI DI BELAKANG!"


Bug!


Ayahnya yang semakin marah dengan ucapan putrinya itu memukul pelipis Henna. Tentu itu membuat Henna dan ibunya terkejut.


"DASAR ANAK NGGAK BERGUNA!!"


"IYAAA!!! AKU EMANG ANAK YANG NGGAK BERGUNA!!! KARENA AKU JUGA LAHIR DARI AYAH YANG NGGAK TAU DIRI!!!!" ucap Henna dengan spontan dan ditemani isakan tangis.


"Henna?" mendengar ucapannya, ibu Henna menjadi lembut dan memeluk putrinya yang menangis sesenggukan.


"DASAR ANAK ANJING!" umpat ayahnya yang semakin membuat Henna sakit hati.


Henna benar-benar sakit hati sampai ia meraih tas dan langsung memasukkan beberapa potong baju serta buku pelajaran ke dalam tasnya. Ia melakukan itu sembari berderai air mata di pipinya.


"Hen, kamu mau kemana?" tanya ibunya lembut.


"Aku pergi dulu bu. Aku mau nenangin diri dulu" kata Henna terus terang.


Ibunya mengerti bagaimana perasaan Henna saat ini. Makadari itu, daripada dirumah membuat Henna semakin sakit hati, ibunya membiarkan Henna untuk pergi dari rumah untuk sementara dan menenangkan diri terlebih dulu. Bahkan ibunya memberi uang saku dan mengucapkan hati-hati untuk putrinya.


Flashback Off


Henna menangis ketika menceritakan hal itu pada Aira dan Rida. Mereka berdua pun memeluk Henna dengan penuh kasih sayang sebagai seorang sahabat.


Tak ingin kalut dalam kesedihan terlalu lama dan tak ingin membuat sahabatnya ikut bersedih, Henna memeluk kembali kedua sahabatnya itu dan menepuk bahu mereka.


Aira yang tak tega sahabatnya menangis itu mengusap air matanya lembut. Aira dan Rida bahkan tak bisa mengatakan apa-apa dan hanya bisa mengusap dan memeluk sahabatnya yang bersedih itu.


Selang beberapa lama, kesedihan itu perlahan memudar. Mereka kembali menikmati malam mereka dengan berkaraoke dan menonton film. Namun ditengah-engah asyiknya mereka, terdengar suara bel rumah tanda ada seseorang yang datang.


"Siapa tuh?" tanya Henna.


"Bentar" ucap Aira lalu keluar menghampiri tamu.


Begitu Aira membukakan pintu, ia melihat seseorang yang membuatnya terkejut. Orang itu membawa dua kantong plastik berisi makanan dan minuman, serta membawa tas ranselnya.


"Elang?" kata Aira tak percaya.


"Nih!" Elang menyodorkan dua kantong plastik itu pada Aira.


"Kok kamu bawa tas juga?"


"Terserah aku" jawabnya singkat.


"Jangan-jangan kamu mau nginep disini juga?" tanya Aira.


Elang hanya menjawabnya dengan menaikkan bahu dan alisnya membuat Aira menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Aira mengajak Elang untuk pergi ke rumah pohon tempat kedua sahabatnya yang masih berkaraoke ria. Begitu menyadari jika Aira telah kembali, Henna bertanya padanya.


"Siapa Ra?" tanya Henna.


Belum sempat Aira menjawabnya, jawaban itu sudah menampakkan dirinya terlebih dulu. Ya, Elang menyusul langkah Aira di belakang Aira membuat kedua sahabat Aira itu menganga tak percaya.


"Kak Elang?" ucap Rida lirih.


Sementara itu, Henna yang sempat bersuka ria seketika kusut semenjak kehadiran Elang. Tatapan dan raut wajah Henna pun menjadi berbeda. Tak hanya Henna. Namun Elang dan Henna saling menatap penuh arti.


Tingkah Henna menjadi aneh. Tiba-tiba saja ia terdiam dan termenung. Tatapannya menjadi kosong. Beberapa kali Aira melihat Henna yang memainkan kukunya seperti orang yang sedang gugup dan ketakutan melihat sesuatu. Tentu saja itu membuat Aira bertanya-tanya. Semenjak Elang datang. Henna menjadi lebih diam.


Apa mereka ada sesuatu?, batin Aira.


"Woy, kok dia bisa ada disini? Jangan-jangan kalian ada backstreet ya?" Rida bertanya Aira dengan berbisik agar Elang tak mendengarnya.


"Sembarangan! Nggak!" jawab Aira dengan tegas.


"Dia....." Aira meragu mengatakannya.


"Kakak ti....ri....ku, ehehehe" jelas Aira dengan cengengesan.


"HAAA!!" Rida dan Henna menganga lebar karena terkejut.


"Serius?!" kata Rida.


"Woaaahhhh!! Luarrrrr biasa!" celoteh Rida.


Malam semakin larut. Rida pun mulai menguap dan mengeluh mengantuk. Rencana yang awalnya tidur di rumah pohon menjadi gagal. Ketiga gadis itu tidur di dalam kamar sementara Elang tidur di rumah pohon sendiri mengingat dia anak laki-laki sendiri.


Rida sudah terlelap dintara Henna dan Aira. Sementara Henna yang tidur di sebelah kiri dekat dengan pintu balkon itu menatap lamun kearah balkon. Sedangkan Aira sudah memejamkan matanya memeluk guling.


Tengan malam begini, seseorang dari arah rumah pohon membuka pintu balkon dan masuk ke kamar Aira. Orang itu berjalan pelan menghampiri Henna yang belum tidur saat itu. Wajah Henna terlihat semakin pucat begitu orang itu mendekat.


Tepat pukul 01.00 dini hari, Aira terbangun dari tidurnya. Begitu terbangun ia melihat jam di layar ponselnya. Tak berapa lama, ia baru menyadari jika Henna tidak ada di tempatnya.


Kemana dia?, batinnya.


Aira menuju rumah pohon tempat Elang tidur. Namun disana ia juga tak menjumpai Elang yang seharusnya tidur disana. Aira semakin curiga sebab Elang dan Henna sama-sama menghilang di waktu yang sama pula.


Aira menahan rasa kantuknya untuk mencari tahu keberadaan mereka. Berjalan keluar kamar dengan cara mengendap-endap. Hingga ia sampai pada tangga, Aira melihat Elang dan Henna sedang bercengkerama di ruang tamu. Aira mengintip kegiatan mereka yang nampaknya sangat serius. Aira memasang telinganya dan mendengar dengan seksama.


"Kamu nggak bilang ke Aira kan?" kata Elang samar-samar.


Henna tampak gugup. Ia terus menundukkan kepalanya dan bahkan segan untuk menatap muka Elang.


Henna menggelengkan kepala menjawab tidak.


"Syukurlah" ucap Elang melega.


"Kembalilah. Nanti mereka akan tahu" kata Elang, lalu membalikkan badan hendak kembali ke tempatnya.


"Apa kamu masih melakukan itu?" tanya Henna yang masih menundukkan kepalanya dengan nada rendah.


"Bukan urusanmu!" ucap Elang melirikkan pandangan ke Henna tajam.


"Aku melakukan ini juga bukan untukmu. Jadi jangan urusi urusanku!" lanjutnya.


"Kamu pikir bagaimana perasaan orang itu sekarang?" kata Henna yang kali ini mendongakkan kepalanya.


"Perasaan?" Elang mengulangi sepotong kata dari Henna dengan nada mengentengkan.


"Daripada memikirkan perasaan orang itu, gimana kalau kamu memikirkan perasaanku?" lanjutnya.


"Perasaanku saat itu...."


"Senang, gembira, hasratku terpenuhi, haha!" ucapnya disertai tawaan nakal.


"Bedebah gila!" umpat Henna yang mulai geram.


Melihat Elang yang hendak kembali, bergegaslah Aira berlari kembali ke kamar terlebih dulu agar mereka tak tahu jika ia sudah mendengarkan percakapan mereka. Dengan buru-buru Aira menempatkan posisinya seperti sebelumnya, berpura-pura ia masih tertidur.

__ADS_1


Dibalik itu semua, Aira berpikir keras dengan apa yang mereka bicarakan walau dengan mata terpejam. Sementara, momen kedekatan serta interaksi mereka terbilang sangat jarang bahkan nyaris tak ada sedikitpun.


Lalu, apa yang mereka sembunyikan?


__ADS_2