Strange School

Strange School
Boy in Black


__ADS_3

Sepulangnya dari coffeshop baru di perbatasan jalan yang diketahui milik ayah Tama, Aira kembali mengingat masalah yang menerpa hidupnya. Seolah tawa lebarnya tadi adalah sebuah pelampiasan belaka. Begitu sampai di kediamannya, tawa itu seketika memudar bahkan menghilang.


"Gimana bisa ada rahasia penting yang nggak aku tahu sementara teman dekatku aja sudah tahu" gerutu Aira.


"Ahhhh iya!! Kenapa seharian ini aku nggak lihat Bian ya? Aku kan butuh pertanggungjawaban darinya"


"Apa maksudnya dia mengajak aku ke pesta itu?"


"Atau jangan-jangan ini masih permulaan. Sementara masih banyak rahasia-rahasia lain yang belum kutahu" Aira memutar bola matanya ke segala sudut ruangan.


"Tunggu, aku masih perlu berpikir!!!" Aira melipat tubuhnya 90 derajat, dalam posisi memeluk kaki yang ia lipat serta tak lupa memasang wajah serius.


"Ayah ketahuan nikah siri dengan perempuan itu dua bulan sebelum resmi bercerai dengan ibu"


"Ayah ibu bercerai delapan tahun lalu, berarti tahun berapa ya?"


"2019....2018...2017..." Air menghitung mundur dengan jari-jarinya.


"2011!!"


"Berarti tahun itu aku kelas, 4 SD dan Elang kelas 5 SD"


"Elang tahu sejak kapan ya kalau ternyata yang dinikahi ibunya itu ayahku?"


"Kalau aku kan emang nggak tau dan nggak mau tahu. Kalau dia....? Mungkin waktu SMP kali ya?"


"Tapi dia tahu darimana? Kan aku nggak pernah bertemu ayah sejak bercerai dengan ibu waktu itu. Masa iya ayah yang cerita?"


"Aaaarrrrggghhhh!!!!"


"Gini banget kehidupanku" celoteh Aira.


Tak ingin ambil pusing, Aira menghampiri sepeda yang terparkir di teras rumah. Seperti hal biasanya yang hanya berpakaian sangat santai dan nyaman, Aira mengelilingi kota bersama sepedanya.


Bersiul nyaring menikmati anginnya tengah malam tanpa mempedulikan bahwa besok harus bangun pagi dan bergegas ke sekolah. Aira menelusuri jalan pinggiran taman yang rupanya masih ada beberapa orang yang menghabiskan waktunya.


___


Pada suatu tempat lain di waktu yang sama, seorang gadis sedang menebar senyum pada anak-anak kecil yang masih bermain di taman dengan orang tua mereka tengah malam begini. Senyumannya begitu manis, hingga siapapun akan terpikat walau hanya senyuman tipis yang ia tunjukkan.


Gadis yang berpakaian dress yang cantik secantik pemakainya, sepatu cantik yang tampak cocok dengan kakinya yang kecil, serta membawa tas selempang kecil yang menyilang di bahunya itu berjalan sendiri hendak kembali ke kediamannya.


Sedihnya, senyuman itu musnah ketika gadis itu tak berpapasan dengan orang lain lagi. Rupanya gadis itu berusaha menutupi semua keburukan yang ada dalam dirinya, berusaha menebarkan hal yang positif untuk orang-orang disekitarnya.


Dap!


Langkahan kakinya tiba-tiba berhenti. Tak hanya itu, kepalanya pun menunduk.


"Hiks...hiks...hiks..."


Tangannya mengusap air mata yang sudah tak bisa dibendung lagi. Dia menangis berdiri di tengah jalanan pinggir sungai.


"Hufffhhhh...." menghela nafas menenangkan dirinya sendiri.


Di waktu yang tepat, seekor kucing manis melintas didepannya. Karena kehadiran seekor kucing itu, senyuman yang sempat hilang kembali lagi. Lantas ia bergegas menghapus pipinya yang basah, berjongkok mengelus kepala seekor kucing.


"Puuuussss" kata gadis itu dengan lembut.


"Sendirian aja, ibu kamu kemana? Hm?" seolah ia sedang berbicara dengan anak kecil.


"Kamu lapar ya?"


"Sebentar, kayaknya aku masih punya jajan" katanya, meraba tasnya.


"Nah! Ini dia" dia memberikan sebuah sosis.


Tiba-tiba saja, kucing itu menatap gadis itu ketakutan yang kemudian berlari mengabaikan makanan yang gadis itu berikan.

__ADS_1


"Eh, mau kemana?" dia mencoba menyusul kucing itu berlari.


Baaa!!!!


Seseorang berpakaian serba hitam yang disertai masker mulut tiba-tiba muncul dihadapannya saat suasana sekitar benar-benar sepi.


"Ka...kamu?!" raut wajahnya seketika ketakutan seperti seekor kucing itu.


Kakinya gemetar, wajah pucat, keringatnya bercucuran. Lantas dia berlari menjauh dari orang tersebut karena rasa takutnya.


Tap...tap...tap


Suara dua pasang sepatu yang bekejaran saling bersahutan.


"Hah...hah...hah..." nafas gadis itu terengah-engah.


Brak!!!!


Dia jatuh telungkup.


"Hiks...hiks...hiks..."


"Ampun......" suaranya terlihat sekali dia gemetar.


BUG!!!!!


Satu pukulan mendarat kearahnya.


___


Aira bertemu dengan seseorang misterius yang memakai pakaian serba hitam berdiri dibawah pohon beringin yang besar sedang menatap tajam kearahnya. Mata Aira menyipit, mencoba melihat dengan jeli siapakah orang itu. Penglihatan Aira kurang jelas karena jarak yang terlalu jauh serta pencahayaan lampu yang kurang memadai.


"Siapa itu?"


"Kok ngeliatinnya kayak gitu?" gumam Aira.


Semakin lama melihat orang itu, semakin tajam pula matanya menatap Aira. Mereka bertatapan mata selama kurang lebih sepuluh detik. Dan sepuluh detik setelahnya, orang itu menutup mulutnya dengan masker lalu berlari.


Entah orang itu yang pandai berlari atau Aira yang kekuatannya lemah. Orang itu berlari dengan sangat cepat bahkan mampu mendahului laju sepeda motor. Sementara Aira terus berusaha mengayuh sepedanya sampai rasanya kayuhan itu hendak patah.


"HEEEEEYYYY!!!!!" Aira berteriak sekuat tenaganya agar orang itu berhenti.


Hingga masuk ke jalan raya, orang itu berbelok tajam masuk ke area pembangunan gedung yang terbengkalai. Gelap, sunyi, senyap dan hening suasana kala itu. Walaupun begitu, tak menjadi halangan untuk Aira tetap menuntaskan rasa penasaran yang menghantui benaknya.


Sepeda yang mulai lelah untuk dikayuh itu ia letakkan begitu saja pada tanah. Nafasnya yang terengah-engah itu belum juga menjadi penghalang untuknya. Lantas, Aira berlari menyusuri gedung-gedung yang kosong.


Anehnya, tak ada lagi jejak maupun tanda-tanda orang berpakaian serba hitam tadi.


Tap...tap...tap...


Suara langkahan kaki Aira yang menginjak tanah pun terdengar jelas saking heningnya. Bahkan deru nafas serta detak jantungnya pun ikut terdengar.


"Halo?" suara Aira menggema diantara gedung-gedung kosong.


Glek!


Menelan air liurnya.


"Kemana perginya?" Aira menerawang segala sudut gedung-gedung kosong.


Krieeeet.....


Suara pintu yang seperti baru saja dibuka.


Benar saja, di ujung sana terdapat salah satu bangunan terbengkalai yang pintunya sedikit terbuka seakan ada orang yang baru saja masuk ke dalam.


Karena semakin masuk ke ujung sana, semakin gelap pula cahayanya. Karenanya, Aira meraih ponsel di sakunya yang kemudian menyalakan senter dari ponselnya.

__ADS_1


Tap...tap...tap...


Aira mulai mendekati pintu itu.


Krieeeettt.....


"Hallooo?"


Halo....halo...halo....


Suara Aira yang menggema.


Tak ada suara yang menyahut sapaan Aira selain suara debu yang tersapu angin. Tak ada siapapun, tak ada apapun. Hanya ruangan yang kosong terbengkalai, serta beberapa bongkahan bangunan yang sengaja diletakkan begitu saja.


Bersama rasa penasaran yang dua puluh persen lebih besar dari rasa takutnya, Aira berjalan lebih dalam ditemani secercah cahaya dari senter ponselnya. Ia sorotkan seluruh ruangan ini dengan senter ponsel. Ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, semua tanpa terkecuali.


Dari ujung ruangan pertama ini, Aira menemukan sebuah pintu yang menuju ke ruangan lain, layaknya bangunan pada umumnya.


Gradakk!!!


Suara kegaduhan terdengar dari luar. Ketika mendengar itu, Aira mengira jika orang yang berpakaian serba hitam itu berhasil mengalihkan perhatian Aira dan berhasil kabur darinya. Lantas, Aira bergegas berlari keluar agar bisa menangkap orang itu.


Tak sesuai dengan apa yang diharapkan, namun Aira malah menjumpai sebuah batu bata yang mengenai beberapa potongan kayu bangunan. Aira merasa dipermainkan dengan orang itu.


"Arrrrrggggghhhhh!!!!!!"


"Pasti udah kabur orangnya" gerutu Aira.


Tak membuahkan hasil, Aira hendak pergi meninggalkan gedung terbengkalai itu. Meraih sepeda, lalu mengayuh menjauh.


Di sisi lain, seseorang yang berpakaian serba hitam itu tersenyum sengit dibalik tumpukan kayu, tepatnya dia sedang di lantai atas bangunan yang sempat Aira jamah.


"Haha" tertawa singkat.


"Hahahahahahaha" tawanya yang mengerikan, menggema semakin menjadi-jadi.


Siapakah orang berpakaian serba hitam di tengah malam itu?


---


Sreeeeettt!!!


Suara gesekan dua benda yang bertabrakan.


Tangan berotot menarik rambut seorang gadis yang malang tak sadarkan diri serta menyeretnya di tengah lapang berumput.


Sreeek...srekkk....sreeekkk


Bug!!


Didorongnya gadis malang itu dibiarkan tergeletak di rumput yang basah.


Kaki yang beralas sepatu sport warna putih telah ternodai dengan bercak darah itu menendang pelan tubuh gadis malang.


Perlahan, kedua mata yang indah itu membukakan matanya melihat luasnya ladang rumput yang dipadukan dengan langit berbulan sabit yang ditemani oleh gemerlap bintang itu mengundang senyuman gadis tersebut. Walaupun dengan keadaan wajah yang babak belur, kepala berdarah, penampilan tak secantik sebelumnya, tubuh lemas serta luka-luka itu masih ia sempatkan untuk menarik garis bibirnya.


Bug!!


Sebuah palu bangunan mengenai kepalanya.


"Hiks....hiks...hiks..." tangisan gadis itu tak ada yang mendengar.


Bug!!!! Bug!!! Bug!!!


CRUAAATTT!!!!!


Kepala pecah, menimbulkan darah tersirat kearah orang berpakaian hitam bersepatu putih.

__ADS_1


Apa yang dia lakukan setelah itu?


Menyeringai


__ADS_2