Strange School

Strange School
Siasat


__ADS_3

Flashback


Malam itu, di gang sempit dan gelap, dua pemuda yang memakai tudung kepala serta topi untuk menutupi wajah dari mereka masing-masing membicarakan hal yang begitu penting bagi mereka pribadi.


"Sorry, aku udah nggak bisa ngelanjutin ini" kata pemuda yang memakai topi hitam.


"Maksudmu apaan?!" pemuda bertudung, Bian, meninggikan nadanya.


"Kita juga nggak bisa terus-terusan ngelakuin ini kan?! Emang mau seumur hidup kamu habisin untuk ini?" kata pemuda topi hitam.


"Ayolaaah, ini semua hanya untuk bersenang-senang. Komunitas ini sudah yang paling tepat untuk kita semua. Kita juga bisa bersenang-senang melalui komunitas ini. Begitu juga denganmu kan?" kata Bian.


"Kita juga nggak bisa lari begitu aja kan setelah apa yang kita lakukan?! Bagaimana dengan yang lain? Mikir!!" Bian menempelkan jari telunjuk ke pelipis.


"Ada alasan aku nggak bisa ngelanjutin ini!" kata pemuda bertopi.


Bug!!


Bian memukul pemuda bertopi dengan penuh amarah.


"Gara-gara perempuan itu?" ucap Bian yang menggertakkan giginya geram.


Pemuda bertopi yang mulanya hanya bisa menundukkan kepala, dengan tegas mengangkat kepalanya menatap pemuda bertudung itu.


"Kamu?"


"Bagaimana kamu bisa ta-"


"Aku anggap kamu nggak pernah mengatakan itu dan nggak akan pernah mengatakan itu lagi, ngerti?!!!" Bian memotong ucapan pemuda bertopi.


"Tap-"


"Atau kalau nggak, perempuan itulah yang selanjutnya"


Mendengar ucapan Bian itu, pemuda bertopi membulatkan matanya tercengang.


"Camkan kata-kataku itu, TAMA!" ancam Bian, lalu pergi dengan raut wajah yang masih dipenuhi amarah.


---


Aira yang masih berdiri diam tak berkutik diantara Bian dan Tama itu kebingungan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini? Apa yang Tama lakukan disini? Apa pula yang Bian lakukan disini?.


Waktu berjalan selama tiga detik. Namun mereka, Bian dan Tama menghabiskannya untuk saling menatap tajam. Aira yang tepat ditengah-tengah mereka merasa canggung akan suasana tak terduga ini. Aira kikuk. Bola matanya memutar, bibirnya ditutup rapat, dahinya mengernyit.


Aku harus gimana ini?


"Kalian kenapa sih?"


"Kalian saling kenal?" Aira memecahkan suasana.


"Aku perlu ngomong sama kamu" Tama berbicara seolah tanpa nada dan ekspresi.


Tama menarik tangan Aira dan mengabaikan keberadaan Bian disana. Pintu rumah Tama dobrak saking kesalnya, sementara di sisi lain Tama tidak menyadari akan Aira yang mulai kesakitan karena genggamannya itu.


"Kamu bisa nggak, hargai aku yang udah berusaha melindungi kamu?" kata Tama.


"Jadi kamu sekarang marah karena itu?"


"Ya terus apa lagi?"


"Tam! Aku ngerti maksud kamu itu baik, aku ngerti! Tapi itu bukan berarti menghambat aku untuk berteman sama siapapun!"


"Tapi kamu juga harus memilah-milah siapa yang pantas untuk kamu jadikan teman Ra!"


"Apa ada alasan agar aku bisa mempercayaimu?"


"Apa yang bikin kamu berhak untuk menentukan siapa yang menjadi temen aku, siapa yang nggak pantas buat jadi temen aku?"


Tama hanya diam, tidak percaya Aira akan berkata demikian.


"Nggak kan?! Nggak ada!!!"


"Kamu cuma nggak mau aku berteman dengan yang lain selain kamu kan?!" kata Aira menyalahkan.


"AKU BEGINI UNTUK KEBAIKAN KAMU RA! UNTUK KESELAMATAN KAMU!! INI MASALAH HIDUP DAN MATI KAMU!!!" Tama benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya kali ini.

__ADS_1


"TAM!!!" Aira yang naik pitam itu pun membentak Tama.


"Biarkan aku jalani hidup aku sendiri. Oke?" kata Aira lesu.


"Sekarang mau kamu gimana?"


"Kamu mau aku jauhin kamu? Atau kamu yang jauhin aku? Oke! Itu nggak berat kok"


"TAM!!!!"


Usai berteriak seperti itu, Aira berjalan keluar meninggalkan Tama yang masih berdiri penuh sesal di kamar Aira.


Bian, yang masih berdiri bersandar pada kap mobilnya menampilkan senyum menyeringai ketika melihat Aira keluar dari rumahnya dengan ekspresi yang kesal. Tak tahunya, Aira meraih sepedanya dan beranjak pergi tidak mempedulikan dua laki-laki yang penuh harap padanya.


"Loh, mau kemana?!" Bian berteriak pada Aira yang lambat laun menjauh bersama sepedanya.


Tetapi Aira menanggapi pertanyaan Bian dengan menyumpal kedua telinganya kembali menggunakan earphone andalan. Aira benar-benar merasakan sesak didadanya.


Tidak peduli hari sudah sore, Aira tetap berdiam diri duduk di gubuk rapuk tengah ladang padi seperti tak bosan-bosannya ia melihat matahari yang hendak terbenam. Dengan santainya Aira mengayunkan kedua kaki sembari menerawangi langit senja. Mungkin dengan ini Aira bisa melupakan beban hidupnya walau sejenak.


Semakin sore, suhu udara semakin kecil. Tetapi Aira bahkan tidak mempedulikan jika hujan turun tiba-tiba.


Cekrek!! Cekrek!!


Tak hanya sekali ia mengambil gambar di ladang padi.


"Hah....."


"Sayangnya kita harus berpisah disini" ujar Aira pada matahari yang telah terbenam.


Sebab sedari tadi rumah belum tersambang semenjak Aira pergi, akibatnya sekarang keadaan rumah serta sekitarnya gelap gulita. Ayah Aira pun belum kunjung pulang dan memberikan kabar. Hal ini semakin membuat Aira jengkel.


"Kalau gini apa bedanya sama tinggal sendirian?!" celotehnya, menaiki tangga dengan kaki yang dihentak-hentakkan.


Sebuah tas ransel, sepasang sepatu beserta kaos kaki, handphone, semua Aira lempar begitu saja tanpa arah. Tak peduli jika tas ranselnya terlempar hingga luar angkasa, sepasang sepatu yang tak beraturan arah, sepasang kaos kaki yang berjauhan, serta handphone yang ditelah gorila.


Bahkan tak hanya itu. Aira melemparkan tubuhnya ke kasur saking lelahnya menjalankan hari ini.


"Hahhhh......." menghela nafas kesal.


Untuk menyegarkan diri, Aira pergi mandi. Dengan handuk yang masih melilit rambut serta menutup kepalanya, Aira sudah berbaring diatas kasur sembari memainkan handphonenya.


Scroll scroll scroll!


Aira membuka aplikasi sosial media masa kini, "Instagram". Aira berusaha menyelidiki siapa teman dekat Shinta melalui foto unggahannya di akun sosial media milik Shinta.


"Apa mungkin yang punya sepatu itu teman dekatnya ya?" Aira menerka-nerka.


"Tapi apa mungkin teman dekatnya berbuat jahat seperti itu?" Aira tidak yakin akan tebakannya sendiri.


"Tapi di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin kan!" Aira meyakinkan dirinya kembali.


Aira menemukan beberapa foto Shinta bersama tiga temannya. Dalam beberapa foto tersebut juga tetap menampilkan tiga orang teman dekatnya. Aira semakin yakin, jika kemungkinan pelaku sebenarnya adalah teman dekat Shinta sendiri.


"Tapi apa alasannya untuk melakukan ini?" Aira bertanya-tanya lagi.


Tanpa pikir panjang, Aira meraih buku note miliknya yang berada di meja belajar tak jauh dari ranjang. Aira mulai mencoretkan tinta bolpoin keatas kertas.


---


Pulang sekolah,


Salah satu kekhawatiran Aira ketika pulang ialah, bertemu dengan Bian. Aira mengendap-endap seperti gelagat seorang pencuri. Menoleh ke kanan ke kiri dan selalu waspada dengan apa yang akan terjadi.


"Huffhhhhh..."


"Udah berasa maling belum sih?"


"Bentar bentar lari, sembunyi lagi. Ngintip trus lari lagi, sembunyi lagi. Gitu aja terus!!!" Aira mengocehi diri sendiri di lahan parkir.


"Mendingan cepet-cepet pulang daripada nanti dia tiba-tiba muncul, kan hororrr!!!" celotehnya.


Setelah adzan maghrib berkumandang dan Aira menyelesaikan rakaatnya, ia bergegas keluar rumah dengan sepeda andalannya. Kali ini, Aira memakai celana jeans hitam, sepatu biru, serta jaket berwarna hitam yang memiliki tudung kepala. Sepertinya Aira sedang merencanakan sesuatu.


Jalan raya yang saat ini sedang ramai-ramainya, Aira tetap mengayuh sepeda dengan percaya diri bahkan kakinya sangat bersemangat untuk mengayuh sepeda.

__ADS_1


Sesampainya di depan gerbang sebuah bangunan, Aira melihat masih ada satpam yang sedang berpatroli


"Pak!!" teriak Aira memanggil satpam itu.


Satpam itu menghentikan tugasnya sejenak, menghampiri Aira.


"Kenapa dek?"


"Pak, kayaknya hardisk saya ketinggalan deh. Bisa nggak saya masuk ambil hardisk?" kata Aira memohon.


"Wahh kok bisa ketinggalan"


"Yaudah masuk aja. Untung belum saya kunci" satpam membukakan gerbang.


"Makasih ya pak"


"Titip sepeda ya pak!"


Aira yang mulai menutup kepalanya dengan tudung kepala itu melewati oridor sekolah yang hanya mengandalkan cahaya dari bulan.


Rupanya Aira menuju ke ruang bk hanya untuk melihat kembali buku induk siswa. Karena Aira masih ingat dimana buku itu berada, maka tak butuh waktu lama untuk mencarinya.


"Ayo, ayo, ayo, ayo, ayo" Aira bergeming, mempercepat membuka halamannya.


"Nah!! Ini dia, satu!!"


Cekrek!!


Srek...srek...srek...


Suara halaman buku yang dibalik.


"Dua!!"


Cekrek!!


"Tiga!!"


Cekrek!!


Aira memotret beberapa halaman yang ada di buku induk tersebut. Selepas itu, Aira meninggalkan ruang BK tanpa jejak, menuju ke kelasnya untuk memenuhi siasatnya tadi. Perlahan, Aira menutup pintu ruang BK itu.


"Kamu siapa?" tiba-tiba seseorang datang memergoki Aira.


Mati akuuuuu, aku harus gimana?


Aira hanya menundukkan kepalanya, berusaha menutupi wajah dengan tudung.


Namun laki-laki itu semakin dibuat penasaran dengan wajah dibalik tudung, mendekati Aira dengan tangan yang mengulur.


1....2....3....lari!!!


Aira berlari menjauh dari laki-laki tadi, dengan tetap menjaga tudung kepala agar tidak tersingkap.


Kenapa dia ngejar si?!


Aira mencari ruangan yang tepat untuknya bersembunyi. Ruangan yang banyak dihuni oleh rak-rak kayu yang cukup tinggi dan ratusan buku itu menjadi tempatnya bersembunyi. Aira berjongkok di bawah meja dan membungkam mulutnya sendiri agar deru nafasnya tidak terdengar.


Sebuah bayangan yang terdapat dari pantulan sinar bulan menjadi panutan Aira untuk mengetahui kapan waktunya ia keluar dari persembunyian. Bayangan itu merupakan bayangan milik laki-laki yang sempat mengejar Aira.


Pergilah....pergilah....


Selama lima detik bayangan itu bergerak ke kanan dan kekiri seperti orang yang sedang kehilangan arah. Setelah lima detik itu berakhir, bayangannya menghilang berlari kearah yang berlawanan.


"Hufhhhh......" Aira menghela nafas lega karena terbebas dari dekapannya sendiri.


Keadaan memang sedang tenang, namun walaupun begitu, Aira tetap berwaspada jika saja laki-laki itu kembali. Aira membuka pintu perpustakaan dengan perlahan, mengintip ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu untuk memastikan.


"Huffhhhhhh, aman" gumamnya, mengelus dada yang mulai sesak.


Aira hendak keluar dari kawasan perpusatakaan. Namun,


Deg!!


Sebuah tangan berurat menangkap tangan Aira.

__ADS_1


__ADS_2