Strange School

Strange School
Pertemuan Asma


__ADS_3

Lantas Aira diam membeku, bingung harus melakukan apa. Yang pada akhirnya, Aira tersenyum kepada Hatta yang hendak pergi dari toilet. Tentu saja Hatta kebingungan sebab tiba-tiba ada anak perempuan yang tersenyum padanya padahal tidak ia kenal.


Tetapi reaksi dari Hatta sungguh diluar dugaan Aira. Meskipun raut wajahnya sempat kebingungan, namun setelahnya Hatta membalas senyuman Aira itu. Aira yang tidak menduga itu membelalakan matanya.


Barusan dia balas senyum?, batin Aira.


"Permisi" sapa Aira, pergi mendahului Hatta.


Hatta hanya menjawab sapaan Aira itu dengan senyuman lagi.


Perempuan itu siapa ya? Manis sekali, batin Hatta yang memandangi Aira hingga Aira hilang dari pandangannya.


"Hah....huffhhh...huffhhh..." Aira mencoba menstabilkan nafasnya, memukul dadanya pelan.


"Baru di senyumin aja udah merinding" Aira memandangi tangannya yang berdiri bulu kuduknya.


Aira melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas seorang diri. Ditengah perjalanannya, Aira bertemu dengan seorang perempuan yang duduk sendiri di lab komputer. Perempuan itu terlihat cemas saat melihat layar komputer yang menyala dihadapannya. Dia pun menggigiti ujung jarinya hingga terkikis.


Begitu Aira dapat melihat wajah perempuan itu dengan sangat jelas, sontak Aira masuk ke lab komputer dengan tergesa-gesa. Ia masuk dengan wajah yang penuh kekesalan.


Setibanya Aira disana, perempuan itu terkejut melihat kehadiran Aira secara tiba-tiba.


"Ka..kamuu?!" katanya.


"Mau lari lagi?" jawa Aira.


"*Asma Haira"


"XI IPA 6*" tertulis pada bet nama dan kelasnya.


"Kamu kenal Shinta kan?!" tanya Aira dengan nada yang sinis.


"Kenapa kamu tiba-tiba nanyain dia?" tanya gadis itu, Asma.


"Terus kenapa kamu tiba-tiba lari waktu aku tanya tentang Shinta di toilet?" Aira balik bertanya.


Asma hanya terdiam membisu tidak tahu harus berkata apa.


Geram karena Asma tidak membuka mukutnya, Aira langsung memperdengarkan sebuah video yang merekam suara Asma ketika dia membicarakan Shinta beberapa hari yang lalu.


"Kok cuma aku yang salah? Kamu juga kan?"


"Kalau kamu nggak ngajak dia di jembatan itu dia nggak akan mati konyol!!!"


"Aku nggak ngedorong dia!! Dianya aja yang main tangan sama aku duluan! Aku nggak terima ya aku balas lah!!"


"Kalau dia jatuh ya berarti itu salah dia sendiri"


"Terus siapa yang nyebarin foto itu di laman daring?"


"Kalau cuma aku yang salah ya aku nggak terima lah!!! Kita sama-sama salah!!!"


"Kenapa harus aku aja yang salah si?!!!"


"Kalau yang terjadi di foto itu jelas-jelas bukan aku pelakunya!!"


"Pokoknya, bukan aku aja yang salah disini, TITIK!!"


"Hufffhhhh"


"Yang nyebarin foto itu di laman daring pasti cowok sialan itu!!"


Wajah Asma seketika pucat usai mendengarkan video yang melibatkan dirinya. Tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin.


"Mau ngelak lagi?" sindir Aira.


Sementara Asma hanya terdiam.


"Kamu cerita semua nggak papa kok. Aku juga nggak bakalan nyebarin ke semua orang. Lagian nggak ada untungnya buat aku" kata Aira.


"Hiks...hiks...hiks..." Asma mulai terisak.


Mendengar tangisan Asma, Aira menjadi tak tega untuk mendesaknya bercerita padanya. Lantas, Aira meraih ponsel milik Asma begitu saja di saku kirinya. Asma pun kebingungan, untuk apa Aira mengambil ponsel miliknya.


Rupanya, Aira menekan-nekan angka yang tertera di layar, memasukkan nomor teleponnya.


"Nih!, kalau kamu udah siap buat cerita ke aku hubungi aku kapan aja di nomor ini" kata Aira, mengembalikan ponsel Asma.


Asma mengangguk mengerti yang kemudian ditinggal oleh Aira.


Waktu hendak pulang sekolah, hujan telah tiba dengan sangat derasnya. Aira yang menggerutu itu berdiri di teras sekolah menatap halaman parkir yang mulai digenangi air.


"Ck! Gimana pulangnya?"


"Kan lagi males hujan-hujanan"


"Mana deras banget!"


"Nggak mau nebeng?" seseorang datang dari arah berlawanan, memasukkan dua tangannya ke saku celananya.


Aira menoleh ke sumber suara tersebut.


"Ck! Ogahh!!!"


"Dibawa ke pesta malam lagi, jangan-jangan" sindir Aira.


"Nyindir ya?" kata Bian.


"Tapi kan aku nggak malu-malu kucing!" sepertinya Bian membalas sindirian Aira dengan menyindirnya balik.


"Apa maksudmu?" tanya Aira dengan jutek.


Bian menjawab pertanyaan Aira dengan lirikan mata yang mengarah ke gantungan kunci berbentuk bulan sabit yang tergantung di resleting tas Aira. Pipinya mulai merona. Bayangkan seberapa malunya Aira saat ini.


"Ya...yaa...ini kan beda cerita!" elak Aira.


"Yakin nih nggak mau barengan pulang?" kata Bian.


"Hiiiissssssttttt!!!" Aira mendesis kesal, membuang mukanya dari Bian.


"Yah....ngambek ya?" Bian mencoba membujuk Aira dengan terus mengikuti gerak kepala Aira.


"AIRA!!" seseorang dari ujung sekolah meneriaki nama Aira.


Untung Tama datang sekarang, ya Tuhan terima kasih banyaaaakkk, batin Aira.


"Hey!!" sapa Aira.


"Belum pulang?" tanya Aira.


Begitu Tama hadir, raut wajah Bian yang sempat memancarkan aura kebahagiaan itu kini menciut kusut. Begitu pula dengan Tana yang begitu datang, tatapan matanya sangatlah tajam ketika menatap Bian, berbeda dengan cara menatap dengan Aira.


Wahhhh, kumat nih tatapan mereka, batin Aira yang melirik ke arah Bian dan Tama bergantian.


"Lagi hujan nih! Pulang bareng aku aja" tawar Tama.


"Okedeh!" sambut Aira dengan riang.


Hap!!


Tangan Bian mencegah Aira untuk ikut dengan Tama.


"Nggak!!!" kata Bian, masih dengan tatapan matanya yang tajam.


Set!!

__ADS_1


Belum sempat Aira menepis genggaman tangan Bian, namun rupanya tangan Tama lebih cepat menepis tangan Bian.


"Nggak bisa!" balas Tama.


"Aku yang ngajak dia duluan" kata Bian tak mau kalah.


"Dia mau? Dia setuju?"


"Kalau dia emang mau sama situ kan dia nggak mungkin menyetujui tawaran lain!" balas Tama.


Waahhhh, potensi berantem disinih nih, batin Aira.


"Udah...udah...."


"Bian, tolong lepaskan tanganku dulu, oke? Ehehehe" kata Aira yang canggung.


"Satu lagi. Aku mau pulang sama dia, bukan sama kamu jadi maaf beribu-ribu maaf saya ucapkan. Terimakasih dan mohon maklum" kata Aira, menolak tawaran Bian.


"Ayo Tam!" ajak Aira, yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Sementara itu disisi lain, Bian dan Tama yang masih diam ditempat itu saling melemparkan tatapan mata tajam dan tangan mereka masing-masing yang mengepal.


"Tama!!" Aira menyadarkan tatapan tajam Tama.


Kendaraan roda empat yang membawa dua penumpang serta sebuah sepeda telah masuk pekarangan rumah Aira. Begitu mematikan mesin mobilnya, Tama mencari sebuah payung dalam mobilnya. Begitu ketemu, Tama membuka lebar payung tersebut hendak memayungi Aira masuk ke rumah.


Aira dan Tama mulai berjalan memasuki rumah. Namun, ditengah-tengah perjalannnya untuk masuk ke rumah, tiba-tiba saja Aira sengaja menghentikan langkahnya. Akibatnya, Tama selaku pembawa payung itu berjalan mendahuluinya, sementara Aira kehujanan.


"Loh?" Tama yang baru menyadari jika Aira tak berjalan bersamanya itu menoleh ke belakang, kearah berdirinya Aira.


Begiti Tama menoleh ke arahnya, dengan santainya Aira menyilangkan tangannya ke belakang dan tersenyum kearah Tama dibawah aliran hujan.


"Ngapain?" Tama bertanya dengan bahasa isyarat.


Aira menjawab pertanyaan Tama hanya dengan menaikkan kedua bahunya.


Tap...tap...tap


Aira berjalan mendekati Tama dengan keadaannya yang sudah basah kuyub.


Hap!


Aira menggenggam tangan Tama yang sedang memegang payung itu. Lantas, Aira merebut payung biru dari tangan Tama, membiarkan Tama kehujanan bersamanya.


"Eheheheheheh" Aira hanya cengengesan tak bersalah usai merebut payung itu dari Tama dan menyebabkan Tama kehujanan.


Namun reaksi Tama hanya tersenyum melihat sikap Aira yang satu ini. Tangan kanannya meraih hidung mungil milik Aira dan memencetnya gemas.


Dibawah derasnya air hujan, terdapat pemuda dan pemudi yang bercanda ria bersama tak memedulikan pakaian mereka yang basah kuyub. Tawa mereka seakan melepaskan penat seharian.


---


Klotak! Klotak! Klotak!


Suara sendok dan cangkir yang bertabrakan.


Aira mengaduk secangkir kopi panas di dapurnya. Sementara Tama sedang membersihkan badannya di kamar mandi.


Begitu Tama keluar dari kamar mandi,


"Kopi untuk tuan" kata Aira, menyuguhkan secangkir kopi buatannya.


"Kok berasanya sekarang ya?" ucap Tama.


"Berasa? Berasa apanya?" tanya Aira.


"Berasa diladenin istri!" celoteh Tama.


Pipi merah Aira mode on.


"Hmmm?" Tama menjawab dengan deheman sebab ia masih meminum kopinya.


"Kamu tahu berita pembunuhan salah satu murid di sekolah kita kan?" tanya Aira.


Sontak, Tama yang mendengar pertanyaan Aira itu menghentikan menyeruput kopinya.


"Emangnya kenapa?" tanya Tama.


"Kok kenapa sih? Emangnya kamu nggak merasa ada yang aneh gitu?"


"Kamu nggak penasaran? Kenapa dia dibunuh, bagaimana dia dibunuh?" ucap Aira.


"Emangnya sejak kapan aku pernah ikut campur hal macam itu. Aku nggak kayak anaknya pak Bernan ya" ejek Tama.


"Nyindir ya?"


"Aku serius!" celoteh Aira.


"Oh iya!!!"


"Semalam aku ketemu orang misterius!" celoteh Aira.


"Misterius gimana?" Tama mengernyitkan dahinya.


"Gimana nggak misterius. Dia aja pakai baju yang serba hitam, pakai masker mulut, berdiri di bawah pohon besar dan gelap liatin aku terus. Kan horror!!!" kata Aira.


"Alaaahhh udah ketebak akhirannya!" ucap Tama.


"Hah?" Aira kebingungan.


"Pasti kamu kejar orang itu kan?" Tama menebak dengan tepat.


"Ehehehehe" Aira cengengesan.


"Tapi nggak ketangkep sih" katanya.


"Be-" ucapan Tana terpotong.


"Berapa kali harus kubilang, nggak usah ikut campur urusan orang lain. Kalau ada orang yang aneh nggak usah diladenin" Aira seolah melanjutkan ucapan yang hendak diucapkan oleh Tama.


"Nah! Itu tau!" kata Tama.


"Tap-"


"Tapi kan kamu tahu kalau aku semakin dilarang semakin penasaran!" Tama balik memotong ucapan Aira dan melanjutkannya sendiri.


"Ai! Itu bukan alasan!" tegur Tama.


"Ck! aku lagi nggak mau berantem lagi gara-gara masalah ini ya" ucap Aira.


Tululit....tululit...


Suara nada panggilan masuk dari ponsel Aira.


"Nomor tidak dikenal"


"Siapa Ai?" tanya Tama, yang tidak sengaja melihat layar Aira.


"Nomer nggak dikenal? Siapa ya?" Aira bertanya-tanya.


"Ohh!!!" kata Aira ketika ia mengingat sesuatu, seolah ia menerima hadiah.


"Halo?"


---

__ADS_1


Setelah menerima telepon dari nomor yang tak dikenal, Aira menuju ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumahnya bersama Tama tentunya.


"Mau ketemu siapa sih?" Tama terus melontarkan pertanyaan itu ketika perjalanan hingga sampai pada tempat tujuan.


"Udah diem aja" kata Aira.


Begitu masuk sebuah coffeshop, Aira menerawang seluruh sudut coffeshop mencari seseorang.


"Nah! Itu dia!" gumam Aira, menghampiri seorang perempuan yang duduk melamun sendirian.


"Hey!" sapa Aira dengan nafasnya yang masih terengah-engah.


"He-" perempuan itu, Asma. Asma yang hendak membalas sapaan Aira itu seketika berhenti begitu melihat Tama ada dihadapannya. Tatapannya pun sudah berbeda semenjak Tama datang.


"Kenapa?" Aira menyadarkan tatapan tajam Asma.


"Maaf Ai"


"Tapi boleh nggak, kita bicaranya berdua aja?" Asma membisikkan ucapannya pada Aira sebab takut menyinggung Tama.


"Oh...oke!" Aira mengerti.


"Tam! Kamu pulang duluan aja. Aku masih lama nunggu temen yang lain. Paling yaa..pulang tengah malam" kata Aira.


"Serius nih aku tinggal?" kata Tama.


"Iya nggak papa. Nanti pulangnya gampang!" ucap Aira.


"Okedeh, aku tinggal dulu ya" pamit Tama.


"Daaaaa" Aira melambaikan tangan pada Tama yang menjauh.


Begitu memastikan Tama benar-benar menginjak gas mobilnya menjauh dari coffeshop, Aira mulai membuka pembicaraan.


"Jadi gimana?" tanya Aira.


Sebelum menjawab pertanyaan Aira, Asma menunjukkan selembar foto pada Aira terlebih dulu. Foto itu menampilkan seorang gadis yang tersenyum sedang membawa sebuah trophy kemenangan.


"Dia Shinta kan?" tanya Aira memastikan.


Asma mengangguk meng-iyakan pertanyaan Aira.


"Dulu aku berteman dekat sama dia" katanya.


"Lalu?"


"Dia itu anaknya pintar. Selalu juara satu di kelas, sementara aku nggak pernah dapat juara. Sampai pada saat Shinta mulai menarik perhatian satu sekolah, aku mulai merasa terasingkan. Aku iri padanya" Asma berterus terang.


"Apa kamu mulai membenci Shinta karena itu?" tanya Aira.


Asma mengangguk.


"Dan aku juga mulai melakukan hal yang sangat buruk" katanya.


"Buruk dalam arti?"


"Kayaknya kalau aku cerita satu malam aja nggak cukup" ucap Asma.


"Nggakpapa sedikit demi sedikit aja ceritanya" kata Aira.


Flashback mode on


Malam yang larut, seorang gadis berjinjit berusaha meraih sekotak susu di rak supermarket paling atas. Ia tampak kesusahan untuk mengambil kotak itu sebab rak nya lebih tinggi dari tubuhnya.


Hingga datanglah sebuah telapak tangan yang besar menimpa tangannya, hendak mengambil kotak itu pula.


"Eh?" gadis itu terheran menoleh kebelakang, siapa seseorang yang telah memegang tangannya dan hendak merebut kotak susu darinya.


Rupanya seorang laki-laki yang tinggi besar, memakai topi warna merah maroon, bersweater hitam, bercelana krem, bersepatu, serta berkacamata itu membantu Asma untuk mengambil kotak susu. Laki-laki yang juga sedang memakai earphone di telinganya itu membuat Asma langsung membelalakkan matanya.


"Nih!" ucap laki-laki itu singkat.


"Oh..hehe, makasih ya" kata Asma, yang kemudian laki-laki itu langsung pergi begitu saja.


"Loh, kok pergi? Aku kan belum tanya siapa namanya" gerutu Asma, kemudian mencari laki-laki itu dengan mengelilingi seluruh rak yang ada di supermarket.


Ketemu!


Namun, Asma dibuat terkejut olehnya. Bagaimana tidak, Asma melihat tangannya mengambil beberapa bungkus camilan dan dimasukkannya kedalam sweater oversizenya.


Hap!!


Buru-buru Asma menggenggam tangannya erat, mencegah dia melakukan hal itu lagi. Asma menatap matanya tajam, sementara laki-laki itu menatap mata Asma dengan perasaan malu sebab kepergok olehnya.


Lantas, Asma merebut beberapa bungkus camilan itu darinya, yang kemudian dengan rela memasukkan camilan itu ke dalam keranjang belanjanya.


"Ayo!" Asma menyeretnya untuk ikut ke kasir.


Terlanjur malu, laki-laki menepis genggaman tangan Asma lalu keluar dari supermarket.


"Woy!" Asma meneriakinya namun tak dihiaraukan olehnya.


Usai membayar semua belanjaannya, begitu keluar dari supermarket Asma mencari laki-laki tadi di sekitar. Menoleh ke kanan, ke kiri mencari keberadaan laki-laki itu. Ternyata, laki-laki itu menunggu di pojok sebuah bangunan dengan berjongkok menundukkan kepalanya.


Asma berlari kearahnya dengan membawa dua kantong plastik yang besar.


"Nih!" Asma memberikan satu kantong plastik yang berisi jajanan yang diambil laki-laki itu.


Awalnya dia ragu untuk menerima kantong itu, tapi akhirnya tangannya meraih dan menerima kantong pemberian Asma.


"Kenapa kamu mau curi semua makanan itu?" tanya Asma dengan hati-hati, takut menyinggung.


"Bukan urusanmu!" katanya.


"Nih!" laki-laki itu menyodorkan sebuah buku catatan kecil beserta dengan bolpoin kepada Asma.


"Buat apa?"


"Tulis nama, nomor, dan alamat kamu. Nanti akan aku ganti semua makanan ini" katanya.


Asma bingung sejenak, memandang heran kearah laki-laki itu.


"Okedeh!" ucap Asma.


Selesai menulis, Asma dikejutkan dengan tangan yang menyeret dirinya secara tiba-tiba. Ya, laki-laki itu menyeret Asma, mengajaknya berlarian entah kemana.


"Eh, eh, eh, mau kemana?" tanya Asma yang diabaikan.


Laki-laki itu rupanya membawa Asma ke sebuah atap apartemennya yang menyuguhkan pemandangan malam yang luar biasa.


"Woaaaahhh...." dercak Asma kagum.


Di atap, ada banyak anak laki-laki, sekitar enam orang mengelilingi sebuah api unggun di tengah-tengahnya. Mereka rupanya sedang menunggu temannya yang membawa makanan untuk mereka.


Flashback off


"Ada satu hal penting yang harus aku katakan dan kamu harus tau!" kata Asma ditengah-tengah ceritanya yang membuat Aira penasaran.


"Aku harus tau? Emangnya apa itu?" tanya Aira.


"Dari keenam orang di atap itu salah satunya adalah...." Asma ragu untuk mengatakannya.


"Adalah?" Aira terlanjur penasaran.


Lantas Asma mendekatkan dirinya ke Aira, lalu membisikkan nama orang itu.

__ADS_1


"Tama"


__ADS_2