
Author POV
Rida yang gelapan bingung menjawab apa itu sibuk melemparkan lirikan ke segala arah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara Aira yang sudah pantengin gerak-geriknya itu menyilangkan kedua tangan dan tatapan penuh curiga.
"Uhm... Itu.... Anu...."
"Am em am em, ona anu, kamu pikir aku nggak tau kalian itu-"
Rida yang menunggu kelanjutan dari kalimat Aira menatap penuh mohon. Berbanding terbalik dengan Aira yang terlihat gugup mengatakan "ciuman" pada Rida.
"Kalian itu...." Aira berusaha mengucapkan apa yang ada dipikirannya.
Kesal karena tak kunjung terucap, Aira memilih cara lain dengan menguncupkan kedua tangannya dan menempelkan tangan kanan dan tangan kiri, dalam arti menggantikan sebuah bibir yang berciuman.
"Hah?!" Rida yang langsung mengerti isyarat Aira semakin gugup, keringat dingin semakin deras mengalir di tubuhnya.
"K...kam...kamu...li...hat?" seketika Rida menundukkan kepalanya malu.
"Wahh...parah!! Yang lain harus tahu nih!" Aira segera mengambil langkah.
"JANGAN!!!" cegah Rida dengan tegas.
"Jangan?" kening Aira mengkerut.
"Jangan-jangan, mereka belum tahu?" kata Aira tak menyangka.
"Hmmmm" Rida menjawab dengan anggukan ragu.
"Serius nggak ada yang tahu?"
Rida menggelengkan kepala.
"Jangan kasih tahu yang lain ya..." pinta Rida dengan berhati-hati.
"Udah berapa lama?"
"Dua tahun, hehe" jawab Rida cengengesan.
"Dua tahun?! Dan nggak ada yang tahu? Sama sekali?"
"Enggak"
"Nggak ada yang curiga?"
"Enggak"
"Astaga" Aira masih terpaku dengan kebingungan dan keheranannya.
"Bodo ah! Aku nggak ikut urusan ya. Awas aja kalian nyangkutin nama baikku!" ucap Aira.
"Iyaaaa...iyaaaaa..."
"Jadi....waktu itu.....?" Aira ragu melanjutkan perkataannya.
"Hmm? Apa?" Rida tidak memahami maksud Aira.
"Kamu pasti udah denger kan? Go....sip itu, hehe" lanjut Aira terbata-bata.
"Oh...gosip kalau kamu sama Bian ada hubungan?" Aira heran dengan ucapan Rida yang spontan tanpa ragu.
"I...iya...itu...." jawab Aira menggaruk kepalanya.
"Hahah...hahahah" Rida tertawa kecil membuat Aira kebingungan.
"Sejujurnya itu adalah umpan yang baik untukku, hihihi" Rida berbisik dan cekikikan.
"Kurang ajar!" Aira memukul lengan Rida.
Aira POV
Begitu selesai berbincang dengan Rida, kusuruh saja dia kembali ke tenda untuk membantu yang lain sementara aku masih harus menyelesaikan tugasku. Aku berniat mengambil kantong plastik yang ada di mobil untuk sampah-sampah yang kami timbulkan.
Begitu mendekati mobil, kupencet tombol yang ada pada kunci mobil itu dan langsung terdengar bunyi pertanda mobil telah terbuka. Tak lama, aku berhasil mendapatkan kantong plastik yang ada kucari. Tetapi tepat sebelum aku menutup dan meninggalkan mobil, aku melihat sebuah benda kecil dibawah mobil, diatas tanah, tepat disamping kaki kananku. Mataku memicing ketika melihat benda kecil yang nyaris tak terlihat oleh mata.
"Apa itu?" pikirku.
Kuambil saja benda itu agar aku bisa melihat dengan jelas. Benda yang tampak seperti jarum.
"Jarum?"
Tidak, lebih tepatnya jarum suntik.
"Jarum suntik?" aku terheran.
Jarum suntik itu masih dilengkapi penutupnya. Namun tidak ada badan suntikannya. Hanya jarumnya saja yang tergeletak ditanah. Tentu saja aku berpikir milik siapa jarum itu. Dan kenapa jarum itu bisa ada di sini? Apa ada orang yang menyuntik di pinggir pantai?
Daripada bingung sendiri, kubawa saja jarum itu dan menunjukkan pada yang lain. Begitu aku melihat tenda, aku langsung bersuara keras.
"Guys! Guys!" kataku, melambaikan tangan.
"Ada apa?" kata mereka hampir bersamaan.
"Tadi aku nemuin ini" menunjukkan jarum suntik.
"Jarum suntik?!" Henna yang mendekatiku terlebih dulu itu mengambil jarum dari tanganku.
Setelah Henna mengungkap benda apa yang kubawa itu, tampak dari mereka yang lain heran mengapa ada jarum suntik di sekitar pantai.
Tama POV
Aku langsung menoleh kearah suara ketika Aira datang dan berteriak memanggil kita semua. Tentu itu membuatku bertanya dengan apa yang terjadi. Tapi karena aku disibukkan dengan sampah-sampah ini, aku menjadi sedikit tidak menghiraukannya.
Hingga,
"Jarum suntik?!"
Aku melihat jarum suntik yang dipegang oleh Henna. Anehnya aku langsung keringat dingin. Kurebut saja jarum itu dari tangan Henna dan langsung kubuang begitu saja.
"Jangan sentuh barang-barang yang kalian nggak ngerti pasti. Kalian juga nggak tahu bahayanya kan?" kataku.
"Bisa aja jarum itu bekas orang yang kena HIV, kita juga nggak tahu kan?"
Tentu saja mereka juga setuju dan mengerti dengan perkataanku barusan. Aku bernafas lega jika mereka mengerti kekhawatiranku ini. Namun ternyata, perasaan lega itu hanya bertahan selama lima menit. Selebihnya, aku kembali gugup karena kakiku yang kembali merasakan sakit dan nyeri. Kurasa masa berlaku obatnya sudah habis.
"Assshhhh...." aku merintih, dan kakiku mulai tak bisa ditegakkan.
Elang yang mendengar rintihanku bertanya.
"Kenapa? Udah abis?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Yaudah sana, keburu yang lain lihat"
"Aku kesana dulu ya" pamitku
"Iya"
Aku menghampiri mobil yang terpakir, langsung membuka bagasi mobil yang saat itu kosong. Bukan, bukan itu. Aku membuka lagi bagian yang lain dari bagasi. Aku membuka papan yang menjadi alas. Didalam sana terdapat sebuah tas hitam dan satu kotak kayu berwarna coklat gelap.
Resleting tas hitam itu aku buka dengan tergesa-gesa karena aku sudah tak kuasa menahan rasa nyeri ini. Mengambil kotak obat yang ada didalam tas dam tentu saja aku membuka kotak obat itu. Beberapa jarum suntik yang masih steril itu kubuka, dan kuambil sebotol kecil obat kumasukkan ke suntikan itu.
Dan ini saatnya. Jarum itu menusuk kulit. Cekiiiit.... Rasanya seperti ada semut yang menggigit kakiku. Setelah mencabut jarum itu dari kulit, aku cukup menunggu beberapa menit agar obat itu masuk ketubuhku dan bekerja secara maksimal menghilangkan rasa nyeri. Benar saja, kurang dari lima menit nyeri itu menghilang. Aku merasa bugar kembali. Kakiku sudah dapat ditegakkan dan berjalan kembali tampa menahan rasa sakit.
Untuk menghindari kejadiam yang sudah berlalu, aku harus menyimpan bekas jarum suntikanku dengan baik. Kusembunyikan saja dalam kantong celanaku dan memastikan tidak meninggalkan jejak kembali.
Author POV.
Tak berapa lama usai Tama menutup papan alas bagasi mobil, Henna dan Rida menghampirinya dengan membawa barang-barang keperluan mereka selama camping. Tentu saja Henna dan Rida bertanya sedang apa Tama disana, membuka bagasi mobil yang saat itu dilihatnya sedang kosong.
"Ngapain bengong di bagasi?" celoteh Rida yang tergopoh-gopoh membawa dua tenda.
__ADS_1
"Nyiapin buat barang-barang kan biar rapi" elak Tama.
"Nih!" Rida sedikit melempar dua tenda itu pada Tama.
"Huffhhhh.... Ngos-ngosan juga ya bawa tenda sebentar aja" keluh Rida, meletakkan kedua tangan di pinggulnya.
"Rida!" dari kejauhan Aira memanggil nama Rida dengan sedikit nada kesal.
"Bantal dan selimut kamu nih! Bau iler! Dari jarak dua meter aja udah kecium!" Aira mengomel ketika membawa barang-barang milik Henna, Rida dan tentu saja miliknya juga.
Tampak Aira sedang kesusahan karena pandangannya terganggu oleh tumpukan bantal dan selimut milik mereka bertiga. Ditambah lagi, beban yang cukup berat untuk manusia seukuran Aira. Karena itu, jalan Aira tampak sempoyongan.
"Awas, awas, awas!" peringatnya karena tak kuasa lagi menahan beban.
Meski sudah berusaha menjaga keseimbangan, apa daya bantal Aira yang tersusun paling atas itu terjatuh dari bagasi mobil. Diambilah bantal itu. Bantal yang terjatuh sejajar dengan kaki Tama. Namun rupanya, ada satu hal yang menarik perhatian Aira daripada bantal bersarung motif bunga. Melainkan sebuah bercak noda berwarna merah yang menempel di celana Tama.
"Tam, kakimu.... Itu darah ya?" Aira menunjuk kearah yang ia maksud.
"Uhm...bukan. Tadi kena bekas makanan" jelas Tama.
"Yakin? Tapi kayaknya itu noda dari dalam. Kalau bekas makanan kan harusnya dari luar" kata Aira.
"Kan tadi celananya aku gulung dikit. Makanya kenanya dari dalam" jelas Tama.
"Oh.... Yaudah, kalau gitu ngga ada yang dikhawatirin" ucap Aira lirih, sembari mengambil kembali bantalnya yang jatuh.
Selesai urusan dengan barang-barang mereka, ereka bersiap untuk perjalanan pulang. Sama seperti suasana berangkat dari camping, mereka juga memutar musik-musik kesukaan mereka masing-masing secara acak.
Sampai dirumah Rida,
"Makasih yaaaa...hati-hati dijalan, Daaaaaaa" Rida melambaikan tangan disaat mereka mengantarnya pulang dengan selamat.
Sampai dirumah Henna,
"Daaaa...sampai jumpa besok!" Henna melambaikan tangan.
Diperjalanan menuju rumah Aira, Aira mennghembuskan nafasnya seperti seseorang yang putus harapan.
"Hufhhh....jadi sepi gini ya yang lain udah pada balik!" katanya, menyenderkan punggung di kursi mobil seperti orang yang putus asa.
Sampai dirumah Aira,
Aira hanya menjumpai rumah yang gelap dan tak berpenghuni itu. Matanya menunjukkan jika dia berharap ada sebuah mobil yang terparkir di bagasi mobil. Namun ternyata harapan itu patah ketika bagasi itu tampak kosong. Ayahnya belum pulang. Aira sendiri lagi dirumah. Itu membuat Aira langsung menampakkan wajah sedihnya.
"Kalian nggak mau mampir dulu?" tawar Aira dengan nada yang lesu.
Tama yang memperhatikan Aira itu seakan mengerti perasaannya dan menerima tawaran mampir dirumahnya.
"Boleh... Aku juga lagi laperrr" kata Tama, mengelus perutnya.
Aira tertawa kecil ketika melihat Tama waktu itu.
Tama POV
Dari kejauhan saja sudah terlihat jelas kalau Aira melirik-lirik kearah rumahnya. Dari matanya terlihat jelas jika dia menunggu seseorang. Namun ternyata dia tak menjumpai siapa-siapa selain rumahnya yang gelap dan kosong. Wajah sedihnya benar-benar terlihat jelas.
"Kalian ngggak mau mampir dulu?"
"Boleh.... Aku juga laperrrr" kataku, sembari mengelus perut.
Begitu Aira turun dari mobil, aku pun menyusul. Tapi, begitu aku hendak menginjak tanah, Elang menahanku, menarik lengan bajuku.
"Tam, gimana si?! Kan kita harus-"
"Sssstttt.... Udah.... Bentaran doang kok" kataku yang memotong perkataan Elang.
Raut wajah Elang seketika bingung, cemas dan kecewa karena aku menerima tawaran Aira mampir kerumahnya.
"Awas ya lama lama" Elang mengeluarkan jari telunjuknya.
Author POV
Karena tak ada stok makanan dan Aira terlalu malas untuk keluar rumah membeli makanan, jadilah ia memesan makanan melalui aplikasi.
Mereka pun makan sembari berbincang dan ketawa-ketiwi membahas camping mereka yang menciptakan banyak kisah dan pengalaman. Mulai dari Rida yang mengigau, Tama yang mendengkur keras, Elang yang tidur menendang Tama, hingga peristiwa saat Aira melihat kejadian pembunuhan itu.
"Ra, soal yang kamu lihat di pantai malam itu...." Elang yang pertama kali membahas peristiwa itu mengatakannya dengan ragu.
"Ah... Soal itu ya?" wajah Aira langsung murung. Ia memainkan jarinya karena gelisah.
Tak terkecuali oleh Tama yang terlihat menyenggol Elang dengan siku dan memelototinya.
"Sempat lihat wajahnya nggak?" tanya Elang.
"Hmmm... Nggak sih" geleng Aira.
"Tapi, aku ingat betul dia pakai baju apa, celana apa, bahkan pakai sepatu apa"
"Dan yang paling nempel di kepala aku adalah gambaran waktu dia nyeret korbannya, isssss.... Udah kayak nyeret koper gituloh, gila nggak sih?! Aku nggak habis pikir deh ada orang kayak gitu" Aira menyilangkan tangannya geram.
Mendengar pernyataan dari Aira itu, Tama dan Elang terlihat saling lirik dan mengangguk bersamaan.
"Ah, satu lagi!" Aira menjadi bersemangat menceritakan kejadian itu.
"Mengerikannya lagi, aku lihat dengan jelas bagaimana cara dia mengayunkan palunya untuk membunuh itu, aku bener-bener kehabisan akal kalau ingat ini lagi"
"Aku yakin seratus persen, kalau pelakunya yang punya luka di mata kaki kanannya" jelas Aira.
"Emangnya kamu apain itu orangnya?" tanya Tama.
"Waktu itu, aku ngintip sambil bawa selimut pantai gitu kan? Nah! Bodohnya aku, selimut itu sampai ngelilit kaki aku. Jadi waktu aku maju dikit, selangkah, eh aku jatoh! Dia jadi sadar kan kalau ada yang lihat aksinya. Aku juga sempet ada kontak mata sih waktu itu"
"Aku bener-bener udah takut. Takut kalau akulah korban selanjutnya. Aku pun ingin lari waktu itu. Eh tapi ternyata, malah dia yang lari"
"Habis itu, terjadilah aksi kejar-kejaran yang dramatis banget. Jatuh beberapa kali dan akhirnya aku dapat palunya dia dan aku juga nggak ada akal waktu itu, kupukul aja mata kakinya biar dia nggak bisa lari lagi kan?"
"Eh tapi ternyata masih bisa aja tuh setan lari makin cepet" jelas Aira panjang lebar.
Tak lama kemudian, Tama dan Elang pamit pulang. Wajah sedih Aira kembali terpancar karena ia harus merasakan kesendirian lagi setelah mereka pergi. Tapi apa boleh buat, mereka juga harus pulang karena mereka pasti juga lelah.
Aira melambai pelan dan tak bersemangat ketika melihat mereka perlahan menjauh dari rumahnya.
Tama POV.
Kakiku benar-benar berat untuk melangkah keluar rumahnya. Karena aku tahu, ketika aku pergi, dia akan sendirian dirumah dan itu membuatnya sedih dan kesepian pastinya. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa menemaninya selama beberapa jam. Itupun aku paksa agar bisa menemaninya.
Terlebih, Elang yang terus menyenggolku memberiku kode kalau aku harus pergi sekarang karena kita sudah benar-benar terlambat dari jam kesepakatan. Baiklah, aku akan pergi kali ini.
Jujur saja, begitu aku masuk mobil, aku tidak cukup mental untuk menoleh kebelakang dan melihat wajah sedih itu. Aku hanya memandang lurus ke depan dan berusaha mengabaikan.
Setelah beberapa menit perjalanan, kami sampai pada gerbang tinggi yang tertutup rapat.
"Tin!" begitu suara klakson berbunyi, terbukalah gerbang itu karena seorang satpam dibelakangnya.
Sampailah kita pada halaman belakang sekolah. Ya, sekolah yang aku duduki saat ini. Sekolahku, sekolah Elang, dan, sekolah Aira juga.
Saat ini pukul 23.56
Terlambat hampir satu jam. Untungnya, Elang sudah berpamitan lebih dulu dengan yang lain kalau kita akan terlambat.
"Hay! Terlambat banget ya? Maaf ya" kata Elang begitu sampai.
Sementara aku, aku hanya mengantungi tanganku sendiri di kantong hoodie dan begitu sampai langsung duduk dan menyalakan rokok dengan santai tak merasa bersalah karena terlambat.
"Tumben nih berangkat bareng, terlambat juga bareng. Emangnya ada apa sih?" Bian mulai memercikan api.
Aku dan Elang tak ingin memperumit keadaan karena kami juga sadar diri kalau hari ini kita sudah melakukan kesalahan karena terlambat. Kita juga mengerti kalau dia pasti kesal karena keterlambatan kita ini. Yasudah, kita biarkan saja dia menggonggong sendiri sambil menghisap rokok.
"Kenapa diem aja? Ngomong dong" dia semakin menjadi-jadi. Dia mulai menghampiriku dan dengan sok akrabnya dia merangkul leherku.
"Gimana? Udah puas main bertiga? Ha?" katanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Ni anak benar-benar. Aku sudah tak kuat menahan genggaman tanganku yang ringan ini. Jika sekilas, sebenarnya kalimat itu tak ada masalah. Namun dengan nadanya yang menekankan kata "main" seolah memiliki makna yang lain itu membawaku ke pikiran yang menghina Aira. Entah bagaimana aku bisa berpikiran seperti itu. Perasaanku pun sama demikian.
Karena sudah muntab,
Bug!
Kupukul wajahnya.
"Ngomong apa barusan?" kataku.
Bukannya merasa bersalah, dia malah tersenyum sengit dikala ujung bibirnya mulai berdarah.
Bug!
"Tam! Udah!" Elang mulai mencegahku.
"Kenapa berhenti? Pukul lagi nih, pukul!" tantangnya.
Aku memang mau memukulnya lagi, tanganku pun sudah melayang tinggi. Beruntung ada Elang disampingku yang menahan tanganku meluncur.
"Udah, kenapa si?!" kata Elang.
"Kalian bener-bener nggak bisa disatuin!" Elang menasihati kita.
"Awasi dia, aku bakal bawa Tama ketempat lain aja" kata Elang pada yang lain, lalu membawaku menjauh darinya.
"Hey everybodyyyyy!!!! Ini dia minumannyaaaaaaa!" suara perempuan yang tak asing ditelingaku muncul dari tangga.
Awalnya aku membenci pikiranku itu. Tapi lebih kesalnya lagi, pikiranku itu benar terbukti. Perempuan yang berjalan membawa kantong plastik berisi minuman beralkohol itu tidak lain adalah,
.
.
.
.
Rida.
Ya, Rida teman dekat Aira dan juga Henna. Tentu saja itu membuatku terkejut bukan main dengan kehadirannya hari ini. Karena ini pertama kali aku melihatnya di acara ini. Wajah terkejutku tak bisa kusembunyikan. Bahkan aku melebarkan mataku, memeloti Rida dan melemparnya pada Elang, isyarat bertanya pada Elang kenapa Rida ada disini.
Elang hanya menepuk bahuku dan membisik.
"Nanti aku jelasin!" katanya.
Dari situ aku berpikir. Tunggu, apa hanya aku aja yang nggak tahu? Sementara yang lain tampak biasa saja dengan kehadiran Rida itu. Di lubuk hatiku ingin mempertanyakan pertanyaan ini kepada Rida berkali-kali.
"Da, apa kamu tahu acara apa ini sebenarnya?"
"Kok kamu bisa ada disini?"
"Kenapa yang lain biasa aja seolah udah tahu?"
"Apa hanya aku aja yang nggak tahu?"
Aku dan Elang berhenti di bawah tangga yang mengantarkanku ke atap sekolah tadi. Dan sesi ceramah dan wawancara dimulai dengan Elang ahlinya.
"Kamu ngapain si, pake acara pukul-pukulan segala?!"
"Ya habis dia ngatain orang yang nggak terlibat begitu. Gimana nggak marah?!"
"Terlebih lagi... Orang itu...." aku ragu mengatakannya.
"Apa?" Elang menekanku terus bicara.
"Aira" jawabku singkat dan cepat.
"Ya tapi nggak harus langsung gitu dong! Udah ah, kita tunggu disini aja. Rapatnya hampir mulai, aku juga udah minta Hatta untuk telepon aku kalau udah mulai" kata Elang.
"Jelasin sekarang!" kataku.
"Hah?" Elang berlagak bingung tak mengerti.
"Hah, hoh, hah, hoh! Jangan pura-purang beg*!, beg* beneran bingung!" ejekku.
"Hmmmm....." Elang menggaruk kepala.
"Kok kaya orang ketangkep basah gitu si ekspresimu?!"
"Iya sabaaaaarr" Elang mulai geram.
"Jadi.... Sebenarnya...." perkataan Elang yang putus-putus membuatku semakin penasaran.
"Rida ada hubungan sama Bian!" ungkap Elang dengan nada cepat layaknya rapper.
"HAHHH?!!!" aku menganga kaget.
"SERIUS?!!!!"
"Terus kalian semua udah pada tahu aku aja yang belum gitu?!"
"Aku juga baru tahu tadi tauk! Waktu Hatta ngirim pesan kalau ada tamu tak diundang" kata Elang.
"Gimana ceritanya?!"
"Terus, Aira sama Henna udah tahu belom?!"
"Terus kenapa juga dia kesini kalau cuma dia punya embel-embel sebagai pacar si resek itu?! Walaupun begitu, tetep aja nggak boleh dong! Bukannya cuma orang terpercaya aja yang boleh datang?!" kataku.
"Apa Rida juga tau kalau acara ini bukan acara sembarangan?! Apa dia sadar dia sudah berhubungan dengan siapa? Apa dia sadar acara apa yang dia datangi?"
"Stttt....ssstttt....., nanya itu juga ada tata krama kalik! Nggak langsung nyerocos!" ucap Elang.
"Pertama, Hatta kirim sms kalau ada berita cukup mengejutkan. Ya Rida itulah beritanya"
"Kedua, mereka udah pacaran selama kuranh lebih dua tahun"
"Ketiga, Nggak ada lagi yang tahu soal mereka selain yang ada disana"
"Keempat! Ini adalah point pentingnya, pasang kuping benar-benar!"
"Iya iyaaaa, daritadi juga udah pasang kuping!" omelku.
"Rida juga udah diuji sama dia dua tahun ini!" bisik Elang lirih di telingaku.
"Gila nggak sih?!" lanjut Elang begitu ia menjauh dari telingaku.
"Wahhh.... Wahhhhhahahahaha, emang dasar bocah sial*n!" aku tertawa tidak percaya.
Tululit....tululit....
Yang kami tunggu-tunggu akhirnya menelepon.
"Ini dia!" celoteh Elang ketika mendapat telepon dari Hatta.
"Oke semua sudah hadir?" suara Bian yang membuka rapat.
"Pertama, kalian pasti terkejut atas berita hari ini yang secara tiba-tiba dan aku minta maaf soal itu"
"Kedua, aku mengumpulkan kalian karena ada satu penting yang harus kita bahas"
"Ada satu ekor lagi yang menjadi target kita karena dia adalah seorang saksi dari aksi salah satu rekan se-tim kita"
"Kalian tahu kan, kita harus menghilangkan jejak sebersih apapun itu? Salah satunya adalah, salah satu saksi"
"Dan orang itu adalah...."
"Aira!" suara Rida. Kali ini suara Rida yang mengatakan nama itu. Rida melanjutkan kalimat Bian. Seketika semua organ tubuhku berhenti berfungsi. Yang kupikirkan saat itu hanyalah perasaan Aira. Perasaan hancur, dikhianati, kepercayaan yang dirusak sahabatnya sendiri, dan selebihnya, aku terus memikirkan
Aira,
__ADS_1
Aira,
dan Aira yang menjadi target mereka. Kenapa harus Aira?