Strange School

Strange School
Curiga


__ADS_3

Aira tercengang begitu melihat empat orang tak dikenal berada dalam satu kamar dengannya.


"Kalian siapa?" Aira mencoba tenang dalam suasana ini.


Mereka berempat membuka topeng mereka secara bersamaan. Begitu topeng itu terbuka, nampaklah wajah dari mereka masing-masing. Tetapi hanya satu yang Aira kenal dari keempat wajah itu.


Wajah yang sama, ketika Aira kembali ke sekolah saat malam. Mata yang sama, hidung sama, bibir sama, hingga raut wajah pun sama persis dengan yang Aira jumpai di sekolah saat malam. Ya, tentu saja wajah dinginnya.


Krieeeeet....


Suara pintu terbuka, masuklah satu pelayan laki-laki yang juga memakai topeng mata.


"Permisi, ini minumannya" ucap pelayan itu, menatapa beberapa botol minuman beralkohol di meja.


Sementara, suasana saat itu benar-benar canggung.


"Huaahhhhh.... Kasurnya empuk sekali" ucap salah satu dari mereka, yang memakai kemeja kotak-kotak.


Tiga orang yang lainnya terlihat sedang menikmati waktu mereka di kamar 32 ini. Dan satu orang lagi, orang yang berwajah dingin itu tetap memandang Aira kaku. Begitu juga dengan Aira, yang tak mau kalah dengan tatapan tajam yang dimilikinya.


Hap!


Orang itu menarik tangan Aira, dan mendorongnya untuk ikut duduk di sofa. Aira didudukkan di sofa hitam bersama dengan laki-laki itu. Tangan kiri dari laki-laki itu melingkar di leher Aira, yang membuat Aira risih.


Jari laki-laki sekolah malam itu mengapit sebatang rokok yang hendak ia sulutkan api.


Jes....


Rokok itu menyala, menebarkan bau asap.


"Uhuk...uhuk...uhuk!" Aira sesak nafas dibuatnya.


Situasi di dalam sekarang, terdapat lima orang laki-laki yang salah satunya merupakan pelayan pengantar minuman, serta seorang perempuan yang merasa dirinya sendirian di dunia ini.

__ADS_1


"Apa ada yang kalian butuhkan lagi?" tanya pelayan laki-laki.


"Nggak! Udah sana pergi. Waktu kita udah kesita untukmu menata botol-botol minuman itu!" ujar salah seorang laki-laki yang mengenakan kemeja polos warna putih.


"Barangkali kalian membutuhkan sampanye andalan kami disini? Saya akan bawakan untuk kalian dengan senang hati" pelayan itu menawarkan sesuatu pada mereka para lelaki, namun tatapan mata dan gerak-gerik wajahnya tertuju pada Aira.


Pelayan itu mengisyaratkan agar Aira berdiri mendekati pintu. Tentu saja Aira yang bingung itu hanya bisa mengerutkan dahi.


Ha? Apa yang dimaksud pelayan itu?, batin Aira.


Berdirilah di depan pintu, berpura-pura membukakan pintu untukku keluar!, batin Tama


Oh, aku mengerti!, tangkap Aira.


"Nggak! Sana sana sana" ujar yang lain, menolak tawaran pelayan.


"Baiklah kalau begitu, saya pergi"


"Aku akan antar pelayan itu keluar" kata Aira yang beranjak dari sofa.


"Tap-"


"Nggak usah! Kamu ngerti bahasa manusia kan?" kata laki-laki itu lagi.


"Hey!" setelah mencegah Aira untuk mengantar pelayan keluar, laki-laki sekolah malam itu memanggil pelayan dan menyebabkan langkahan pelayan itu terhenti di dekat pintu keluar.


"Bawakan saja sampanye untuk kita" lanjutnya.


"Biar aku aja yang mengambilnya untuk kalian" tawar Aira.


"Nggak! Aku yakin kamu pasti mau kabur" ujar laki-laki itu.


"Kalian meragukanku?" dengan percaya dirinya Aira menaikkan alis.

__ADS_1


"Apa kamu berani memberi jaminan?" tantang laki-laki sekolah malam.


"Keperawanan!"


Sontak, semua yang ada di dalam kamar terperangah membelalakkan matanya. Termasuk dengan pelayan laki-laki itu terlihat yang paling terkejut diantara yang lain.


Laki-laki sekolah malam itu tertawa kecil, tertarik dengan jaminan yang ditawarkan Aira.


"Hm... Menarik juga" ujarnya.


"Bagaimana Tam?" Tiba-tiba saja dia menyebut nama Tama, menoleh ke belakang kearah pelayan itu berdiri.


Tam? Maksudnya Tama?, batin Aira


Aira terperangah mendengar pernyataan dari laki-laki sekolah malam.


Pelayan laki-laki bertopeng yang diduga Tama itu hanya terdiam menatap lima pasang mata yang saat ini sedang menatapnya curiga.


"Tama?" Aira memanggil Tama dengan lirih.


Langkah Aira perlahan mendekati Tama, tangan meraih topeng dan membuka topeng itu.


Memang benar, pelayan itu memang Tama. Aira yang baru mengetahui hal tersebut pun tercengang. Meski begitu, tidak menghalangi Tama untuk membawa Aira keluar dari empat manusia yang dinilai hendak berbuat jahat pada Aira.


"Aku udah bilang sama kamu, ini BAHAYA!!" kata Tama.


"Tapi dengan begini aku jadi tahu suatu hal Tam! Aku menemukan petunjuk!" ujar Aira dengan tegas.


"Petunjuk?"


"Haha, petunjuk apa, hah?" Tama seperti meremehkan hal yang dibicarakan Aira.


"Emang kalau aku cerita sama kamu, kamu bakal percaya sama aku? Pasti kamu akan ngomong hal yang sama Tam"

__ADS_1


"'Jangan ikut campur urusan orang lain' lah jangan ini lah jangan itu lah! Apa kamu punya solusi untuk membantuku? Nggak Tam!" Aira berbicara seolah saraf dan ototnya hendak keluar.


"Dan sekarang aku mulai curiga dengan kamu!" jari telunjuk Air tepat didepan mata Tama.


__ADS_2