Strange School

Strange School
Perkelahian


__ADS_3

"Tama"


Sontak, mendengar nama yang disebutkan Asma mata Aira melebar.


"Tama?"


"Kenapa ada Tama disana?" tanya Aira.


Asma mengangkat kedua bahunya.


"Karena awalnya aku belum pernah melihat Tama sebelumnya dan nggak kenal dia siapa, jadi aku pikir ya....udah, biasa aja. Tapi setelah tahu ada anak baru di sekolah dan orang itu dia, aku jadi ingat kalau aku pernah bertemu dengannya di atap itu" jelas Asma.


"Laki-laki itu siapa?" tanya Aira.


Untuk menjawab pertanyaan Aira, Asma menunjukkan sebuah foto dari layar ponselnya pada Aira.


"Damar"


"XII IPA 6" katanya.


"Damar?"


Kayaknya aku pernah lihat dia, tapi dimana?, batin Aira ketika melihat seseorang di foto itu.


"Bisa nggak besok kamu tunjukin aku yang mana orangnya?" pinta Aira.


"Oke lanjut!" kata Aira.


Flashback mode on


Seiring berjalannya waktu, Asma mulai menyukai laki-laki itu, yang bernama Damar. Asma pun menceritakan semua peristiwa yang ia alami pada Shinta selaku teman dekatnya.


Sampai suatu malam, Asma yang sedang menikmati malamnya bersama teman-teman lama jalan-jalan di pasar malam bertemu dengan sepasang kekasih yang tampak serasi.


"Woaaahhh! Dari belakang aja mereka kelihatan cocok banget!" gumam Asma ketika melihat pasangan itu.


"Tunggu!" Asma seketika diam membisu ketika wajah dari pasangan itu terungkap.


"Itu bukannya Shinta? Dia sama siapa?" Asma memicingkan matanya agar dapat melihat dengan jelas.


"Damar?!!!" Asma membelalakkan matanya.


"Shinta!!!!!" Asma memanggil Shinta dengan kencang, bahkan orang-orang disekitar mulai memandangi dirinya.


"Asma?" Shinta mulai panik.


Walaupun hatinya hancur, Asma mencoba memasang raut wajah yang biasa-biasa saja dihadapan mereka.


"Kalian jalan-jalan juga? Wahhh kebetulan ya bisa ketemu disini. Kalau gitu, aku duluan ya udah ditunggu tuh sama temen-temen yang lain. Daaaa" kata Asma yang penuh kepedihan.


"Asma?" panggil Shinta dengan penuh penyesalan.


Semenjak saat itu, pertemanan Asma dan Shinta mulai merenggang. Dan sejak saat itu pula, Shinta yang dikenal cerdas itu memenangkan beberapa kompetisi dan menjuarainya. Karena kejuaraan itu, Asma mengira bahwa Shinta pun sudah tidak membutuhkannya lagi karena raut wajahnya yang sangat bahagia ketika memenangkan kompetisi tersebut.


"Haha, wajah penyesalan yang aku tunggu-tunggu nggak kelihatan sama sekali!" gerutu Asma yang melihat Shinta dari jauh.


Flashback mode off


"Dan sejak saat itu juga, aku yang punya tiga teman baru yang mana ketiga temanku itu juga membenci Shinta, aku mulai merisak dia, mencaci dia, tapi parahnya lagi aku melakukan itu diluar sekolah. Kalau masih di jam sekolah ya, aku masih 'berteman' dengan dia" katanya.


"Maksudmu, kamu bermuka dua ke Shinta di depan teman-temanmu yang lain?"


Asma mengangguk.


"Siapa ketiga temanmu itu?"


Asma menunjukkan sebuah foto yang menampilkan empat orang perempuan. Asma menyebutkan satu per satu nama perempuan yang ada di foto itu dari kiri.


"Dania"


Tunjuk Asma pada perempuan yang memiliki rambut ikal terurai.


"Haliza"


Perempuan yang memakai jam tangan berwarna putih pada foto.


"Ini aku"


"Dan, Mahda"


Tunjuknya pada perempuan paling kanan.


"Sekarang, kamu ceritakan semua yang terjadi dengan foto ini" kata Aira, menunjukkan sebuah foto Shinta yang sempat tersebar di laman daring. Ya, sebuah foto Shinta yang seperti sedang disekap itu.


"Hmmmm....." Asma seketika linglung.


"Ai!" panggil seseorang dari belakang mengejutkan Aira.


"Loh? Tama? Kamu belum pulang? Berarti daritadi kamu belum pulang?" kata Aira.


"Aku nggak tega ninggalin kamu pulang sendiri" katanya.


"Nggak papa Tamaaaa, aku bisa pulang sendiri" Aira keras kepala.


"Nggak usah bantah!!! Pulang sekarang!" Tama meninggikan nadanya.


"Ka...kamu?"


"Tam, malu dilihatin sama yang lain! Jangan kenceng kenceng ngomongnya!" tegur Aira.


"Iy...iya...iya iya aku pulang. Oke?" Aira menyerahkan diri.


"Ma, maaf ya. Mungkin dilanjut lain kali aja ya. Aku duluan!" pamit Aira.


"Iy...iya Ai.... Hati-hati ya" kata Asma.


Aira yang terlanjur malu dengan beberapa pasang mata yang mulai menyorotinya itu jalan cepat meninggalkan cafe tempatnya berdiri. Sementara Tama dan Asma masih di tempatnya.


Tama menatap Asma dengan tajam seperti ada sesuatu diantara mereka yang tak ingin mereka ungkapkan. Dan dengan Asma sendiri, ia cukup merinding ketika Tama menatapnya demikian.


Brak!!


Bunyi pintu mobil tertutup.


Aira yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu itu melihat Asma dan Tama dari kejauhan yang saling menatap. Aira kebingungan, apa yang sedang mereka lakukan.

__ADS_1


"Mereka ngapain masih disana?" gerutu Aira.


Aira pun membuka kembali pintu mobil yang sudah ia tutup, dan meneriakkan nama Tama


"TAMAA!!!" panggilnya.


Tama yang mendengar teriakan Aira itu langsung tersadar dengan tatapannya, yang kemudian berlari keluar menghampiri Aira yang telah menunggunya.


Sesampainya didepan rumah Aira,


"Besok berangkat sekolah aku jemput!" kata Tama begitu tiba-tiba.


"Emangnya rumah kamu searah?"


"Itu bukan masalah!"


"Nggak usah, aku bisa naik sepeda sendiri. Lagian lebih asyik naik sepeda" kata Aira.


"Nggak ada penolakan! Ngerti?" jawab Tama dengan wajah juteknya.


Begitu Tama pamit meninggalkan halaman rumah Aira, Aira menggerutu sendiri karena tingkah Tama itu.


"Issshhh, kenapa dia maksa banget? Mana wajahnya tadi jutek lagi. Mau nolak lagi kan serem" gerutunya.


---


Tin!! Tin!! Tin!!!


Bunyi klakson terdengar dari luar. Tandanya Tama sudah datang menjemput Aira.


"Ayaaaaaah!!! Aira berangkat duluuuuuu! Sarapannya ada di meja yaaaa!" teriak Aira yang memenuhi langit-langit rumah.


"Pagiiii!" sapa Aira begitu masuk ke dalam mobil.


"Kamu gimana sih?" tanya Tama, dengan tatapan anehnya kepada Aira dan membuat Aira kebingungan.


"Hah? Kenapa?" tanya Aira.


"Berantakan tuh..." ucapnya, merapikan rambut Aira yang terus terang belum sempat ia sisir rapi.


Saat itu pula....


Jedug...jedug...jedug....


Suara detak jantungnya seolah menggelegar.


Jaraknya dengan Tama begitu dekat. Ditambah lagi, Tama merapikan rambut Aira dengan lembut menggunakan tangannya sendiri. Aira hanya bisa terdiam canggung dalam keadaan saat ini.


"Kamu cantik di poni samping tau!" celoteh Tama, membenahi poni milik Aira.


Saat Tama merapikan poni Aira, seakan dia baru menyadari kecanggungan yang terjadi antara mereka, Tama berhenti selama beberapa detik. Ia telah menyadari kecanggungan yang hadir. Karena berhenti secara mendadak, alhasil jari telunjuk Tama masih menempel pada pelipis Aira.


Jedug....jedug....jedug....


Detak jantung keduanya salih bersahutan.


Entah mengapa, jari telunjuk itu mulai menunjukkan sisi nakalnya. Perlahan ia turun kearah pipi yang mulai merona karena tersipu. Sepasang mata dari keduanya memutuskan untuk saling menatap. Suasana menjadi hening karena larut dalam debaran jantung.


"Eee....Tam?" Aira pun memberanikan diri untuk memecahkan kecanggungan ini.


"Eh? Iya?"


"Rumah kamu dimana sih? Aku belum tahu rumah kamu loh..." Aira membuka percakapan.


"Emang beda arah sih dari rumahmu. Kalau mau, nanti kamu boleh mampir kok" ucap Tama.


"Beneran?"


Tama mengangguk.


"Okedeh!" Aira antusias.


---


Saat jam pelajaran terakhir, Aira yang hendak mengembalikan buku pinjaman ke perpustakaan itu berjalan sendirian melewati koridor.


Tap...tap...tap


Saking heningnya suara langkahan kaki Aira terdengar.


Namun, ketika Aira melewati sebuah celah bangunan di koridor yang sepi,


Bruk!!!


Tidak sengaja Aira menjatuhkan buku-buku perpustakaan karena melihat sesuatu yang mengejutkan.


Bagaimana tidak terkejut, jika yang ia lihat ialah Tama yang sedang bersama Asma, berduaan di tempat sepi. Terlebih lagi, saat itu juga posisi Tama yang sangat dekat dengan Asma dan seperti sedang membisikkan sesuatu.


"Aira?!" ucap keduanya secara bersamaan, dan langsung membenahi posisi mereka.


"Hehe, Aku ngagetin kalian ya? Maaf, bukuku jatuh" ucap Aira, mencoba menyembunyikan sesak di dadanya.


"Aku pergi dulu ya, kalian bisa lanjut" pamit Aira.


"AIRA!!!" Tama teriak memanggil nama Aira, takut jika Aira salah paham terhadapnya.


"Hm?" Aira menyempatkan menoleh kearah Tama, dengan maksud agar tak terlihat jika dirinya sedang tertekan.


"Kamu nggak lagi salah paham kan?" tanya Tama dengan hati-hati.


"Salah paham soal?" Aira berpura-pura tidak mengerti.


"Aira?" Asma menyusul Tama dan Aira.


"Kamu jangan salah paham ya" kata Asma.


"Kalian ngomongin salah paham apaansi?!" kata Aira.


"Udah ah, aku mau balikin buku-buku ini ke perpus. Keburu kena denda" Aira berjalan menjauh.


Aira berjalan cepat agar cepat-cepat msnghilang dari pandangan mereka. Karena jarak perpus masih beberapa ruang lagi, Aira memutuskan untuk membelokkan arahnya ke toilet.


"Wahhhh.... Gila!" gerutunya didepan cermin toilet.


"Mereka tadi ngapain ya?"

__ADS_1


"Kenapa aku jadi kepikiran?!"


"Deket-deketan di tempat sepi?"


"Astaga Airaaaaaa, kamu ini mikirin apaan?! Kamu juga nggak berhak mikirin ini kan?"


"Oke, tarik nafaaas, buang, huffffhhhh...."


Usai menghela nafas panjang, Aira memberanikan diri kembali untuk keluar dari toilet melanjutkan niatnya mengembalikan buku ke perpustakaan walau pikirannya masih saja terbayang kejadian tadi.


Seusainya buku-buku itu ia kembalikan, Aira berniat untuk memilih buku yang akan ia pinjam lagi. Aira tampak melihat satu persatu buku yang ada di rak buku dengan raut wajah yang serius.


Hingga keseriusan itu terpecahkan oleh suara gaduh salah seorang siswa.


"Hoy! Ada yang berantem tuh!" katanya.


Sontak, semua pengunjung perpustakaan berbondong-bondong keluar hanya untuk menyaksikan pertengkaran antara dua pelajara laki-laki disana.


Anehnya, begitu Aira datang ke kerumunan siswa yang menonton pertengkaran itu, semua memandang kearah Aira tak enak. Aira yang baru datang itu pun kebingungan.


"Dia tuh orangnya tuh"


...


"Enak banget dia direbutin dua cowok ganteng!"


...


"Oh...ternyata dia"


...


Blablabla


Semua membisikkan tentangnya. Aira semakin bingung, namun memilih untuk mengabaikannya.


"Siapa yang berantem?" Aira berusaha menjinjitkan kakinya agar bisa melihat dengan jelas siapa kedua pelajar yang bertengkar itu.


"Bisa-bisa nya ya ngerebut dia dariku?!!" ujar salah satu dari mereka.


"Apa katamu?!!! Aku sudah berteman dengannya sejak lama dibanding dirimu!!!!"


Sementara Aira, yang sedari tadi belum bisa menjangkau dan melihat siapa dua pelajar yang bertengkar itu terus berusaha dengan menjinjitkan kakinya, dan menerobos kerumunan pelajar lainnya agar ia bisa lebih dekat dengan pelajar yang sedang bertengkar.


Hingga ketika Aira sampai pada titik terdepan, ada seseorang yang dengan sengaja mendorong Aira agar lebih ke depan lagi dan masuk ke area pertengkaran dua pelajar itu.


"Aw!" rintih Aira.


Terkejutnya lagi, begitu Aira masuk ke area bertengkarnya dua pelajar itu, Aira jadi tahu siapa mereka yang tentu saja membuat Aira terperangah.


"Tama?! Bian?!"


"Aira?" ucap keduanya hampir bersamaan.


"Kalian ngapain berantem kayak gini?!" tanya Aira, menghentikan perkelahian mereka.


Tak lama kemudian, ketiga guru bk datang menghampiri mereka dan menyuruh mereka untuk menghadap ke ruang BK dan menjelaskan semuanya.


Di ruang BK


"Kenapa kalian berantem kayak gitu?" tanya pak Gusta dengan wajah yang menyeramkan.


Sementara di luar ruang BK, ada seorang Aira yang berdiri mencoba mengintip dari jendela kaca ruangan menunggu Tama keluar dari sana. Tak sesekali pula Aira menggerutu mengkhawatirkan keadaan Tama yang babak belur karena perkelahian itu.


Krieeeet....


Suara pintu terbuka.


Begitu Tama keluar, Aira langsung menyambutnya dengan rasa kekhawatiran.


"Gimana katanya?" wajahnya cemas.


"Cuma dikasih poin aja kok. Yuk, pulang!" kata Tama dengan entengnya.


"Kamu gimana sih?! Wajah kamu babak belur kayak gitu tapi kamu masih santai santai aja?!"


"Kamu nggak mikir gimana khawatirnya anak Bernan ini, hah?!" kata Aira.


"Ck! Apasih Ai, nggak ada yang perlu dikhawatirin. Udahlah, nggak usah nambah-nambahi emosiku lagi" ucap Tama, menggandeng tangan Aira.


"Nggak!! Nggak bisa!!"


"Kita ke UKS dulu!. Setelah kita ke UKS kita pulang! Tapi, jangan harap kamu bisa lolos dari sesi wawancara pasca berantem!!" pungkas Aira, menunjuk-nunjuk Tama dengan tegas.


Karena tak ingin memulai pertengkaran lagi, jadilah Tama yang mengikuti perkataan Aira untuk ke UKS terlebih dahulu sebelum pulang.


"Duduk!" perintah Aira.


Sembari mengambil beberapa obat-obatan yang ia butuhkan, Aira terus mengeluarkan pertanyaan seputar perkelahiannya dengan Bian.


"Lihat nih wajah kamu lebam-lebam kayak gitu"


"Emangnya kamu ngapain sih berantem sama Bian?"


"Kalian ada masalah apa?"


"Apa sebabnya?"


"Aku juga sering lihat kamu tatap-tatapan nggak enak sama Bian dan itu juga nggak cuma sekali!"


"Kalian sebenarnya ada apa?"


Aira terus berranya tanpa ada jeda. Karena Tama merasa risih akan pertanyaan yang Aira lontarkan terus menerus itu, lantas Tama menghampiri Aira yang sedang mencari obat di rak obat.


Bug!!


Tama mendorong Aira, dan menyebabkan Aira terbentur tembok.


Jantung Aira kembali berdegup kencang karena posisinya saat ini. Bagaimana tidak, jarak dari keduanya hanya sekitar kurang lebih satu jengkal tangan. Terlebih lagi, Tama menatap Aira dengan penuh pesona.


"Kamu tau nggak, dari sekian pertanyaanmu itu jawabannya cuma satu?" kata Tama, dengan nada bicara yang datar.


Glek!


Aira menelan ludah karena gugup.

__ADS_1


Aira menggelengkan kepalanya tanda tak tahu dengan jawban apa yang dimaksud Tama.


"Kamu!"


__ADS_2