Strange School

Strange School
Ada Apa?


__ADS_3

Tama POV


"Dan orang itu adalah....."


"Aira!"


Seketika aku mendongakkan kepala terkejut. Begitupun dengan Elang yang sama terkejutnya. Kami pun saling tatap dengan mata yang membulat lebar. Lantas aku berdiri tegap, jantung berdebar, dan tangan yang mengepal.


"Apasi?!, tahan! Tunggu sebentar, tunggu dia mau ngomong apa lagi!" kata Elang.


"Aira? Anak baru itu?" kata salah satu yang lain.


"Dia emang terlihat sepele, tapi nyatanya nggak bisa dianggap remeh" kata Bian.


"Terus, gimana rencananya?" tanya yang lain.


"Kita lakukan sedikit berbeda dari sebelumnya" kata Bian.


"Karena kali ini bakal ada adegan dramatis!, hahaha" Bian tertawa kecil.


Aaarrrrggghhhh! Aku semakin nggak bisa membiarkannya. Langsung saja aku berjalan menghampirinya dengan perasaan campur aduk. Elang pun tak mencegahku pergi. Melainkan dia mendorongku kesana.


"Kenapa diem aja?" katanya, yang kemudian membuatku berdiri.


Begitu aku datang, semuanya tampak membawa gelasnya masing-masing. Tatap mata mereka mengarah kepadaku. Tak terkecuali Bian dan Rida yang duduk di satu sofa dengan minuman mereka masing-masing tentunya.


"Sial*n!" umpatku, berjalan mendekatinya dan langsung memukul.


"Ahhssss.... Ahahaha" setelah merintih, ia masih sempat mengeluarkan tawanya yang menggelikan itu.


"Kalian lihat kan? Belum juga mulai, eh dramanya udah keluar" ejek Bian.


Sementara yang lain hanya terdiam bahkan melemparkan pandangan mereka kearah yang lain karena sudah bosan menyaksikan pertengkaranku dengannya.


"Rida!" panggilku.


"Tau nggak yang saat ini aku bayangin?"


"Wajah sedih Aira saat dia tahu seperti apa sahabat yang paling dia percaya!"


"Sahabat bus*k!" umpatku, lalu pergi.


Aku melihat wajah Rida saat itu. Wajah yang datar tak menunjukkan ekspresi. Dia pun masih sempat memainkan gelas minumannya dan menenggak minuman itu seolah ia tak melakukan kesalahan fatal.


Elang POV


Tama pergi, aku pun demikian. Aku menyusul langkah Tama yang saat itu benar-benar murka. Dia membanting pintu mobil begitu keras. Nafasnya yang berat pun terdengar. Dia tampak gelisah, cemas, khawatir, semua bercampur menjadi satu. Ujung jari-jarinya pun mulai terkikis karena digigit olehnya.


"Terus kamu mau gimana?" tanyaku.


"Menurutku, Rida lebih bahaya dari Bian saat ini. Dia bisa aja melakulannya dengan sempurna karena memanfaatkan kepercayaan Aira" ungkapnya dengan masih menggigiti ujung jarinya.


"Terus kita harus kasih tahu Aira sama Henna atau nggak?" kataku.


"Tunggu saatnya aja deh, aku masih butuh berpikir!" jawabnya.


"Kamu tenang dulu aja deh. Siapa tahu besok otakmu udah balik!" kataku.


"Sembarangan! Dipikir aku nggak punya otak?!" omelnya.


Aku mengantarkannya pulang dengan selamat. Begitu selesai, sampailah aku ke halaman rumahku. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Aku ingin membolos saja besok.


"Huffffhhhhh" aku bernafas lega, merebahkan tubuhku ke kasur yang empuk ini.


Aku memandangi langit-langit kamar dan mulai kepikiran sesuatu yang terus menabrak otak. Aku kembali memikirkan perkataan Bian tadi jika dia akan menarget Aira karena dia adalah saksi dari aksi Tama. Dan Rida-lah yang melaporkan itu semua. Aku menjadi was-was dan ikut merasakan cemas. Tapi aku sendiri juga bingung kenapa aku begini.


Jujur, dari semenjak Bian mengatakan itu, pikiranku langsung mengarah ke Henna.


Kalau Aira jadi target, berarti ada kemungkinan Henna juga dong?


Kenapa? Karena dia waktu itu juga melihatku mengayunkan senjataku.


Aku terus berharap semoga nggak ada lagi yang tahu selain Henna, terlebih salah satu dari anggota kami yang tahu kalau Henna juga menangkapku basah. Semoga itu nggak terjadi.


Arrrgggghhhh, pikiranku ikut kacau!


Semoga aja Henna nggak cerita ke siapapun itu apalagi ke Rida yang dia anggap sebagai sahabat.


Gimana yaa?


Apa coba aku kirim pesan aja ke dia ya?


Ahhh tapiiii.....


Alahhh bodo amat dehh...


Pertanyaan yang berinti sama terus berputar di kepalaku. Walau kepalaku sudah kututup dengan bantal, pikiran dan pertanyaan itu tak ingin menghilang. Semakin aku mencoba untuk melupakan, semakin melekat.


"Arrrrggghhhh!"


Aku mengeram. Aku menyerah!


Kuraih dengan cepat ponsel yang ada diatas nakas. Layar ponsel menerangi wajahku. Bunyi ketukan keyboard juga terdengar.


"Udah tidur?"


"Kayaknya udah"


"Cuma mau tanya. Waktu itu, nggak ada orang lain yang tahu kan?"


"Kamu bisa membalas besok kalau sekarang kamu sudah tidur"


"Selamat malam"


Author POV


Berbanding terbalik dengan Elang. Henna telah tertidur pulas hingga mulutnya terbuka lebar. Berkali-berkali terdengar suara getaran yang berasal dari ponselnya itu, namun tak bisa membuatnya terbangun.


Dia menikmati tidurnya sementara di sisi lain ada orang yang khawatir setengah mati akan dirinya.


Elang POV


Meski aku sudah tahu dia tidak akan segera membalas pesanku, aku tetap menunggu selama beberapa menit dan selalu mengevek notifikasi. Setiap ada getaran notif aku langaung buru-buru membukanya. Namun ternyata itu bukan darinya. Sampai aku benar-benar tersadar.


"Kenapa aku menunggunya?" aku terheran sendiri.


"Argghhhh, aku pasti udah nggak waras" aku memukul kepalaku sendiri dengan bantal.


Tama POV


Begitu aku masuk kamar, bayangan itu terus melekat bahkan semakin erat. Aku ingin melakukan sesuatu tapi aku juga bingung memulainya darimana dan dengan cara apa.


Aku lihat kearah jam tangan yang masih melingkar di pergelangan tanganku. Jam 01.00 dini hari. Entah mengapa aku punya firasat jika Aira belum tidur dan tidak bisa tidur karena merasa kesepian. Aku telepon saja dia, siapa tahu bisa membantunya.

__ADS_1


Aira POV


Sudah berapa menit aku memaksa memejamkan mata mencoba untuk tidur?. Huaaaaaa, ini sudah jam 1 pagi, aku belum bisa tidur dan besok harus sekolah, berangkat pagi, upacara. Bagaimana kalau besok aku terlambat?


Padahal mata sudah terasa pedih dan menyipit, tapi tidak bisa tertidur nyenyak. Aku terus merasa gelisah. Berkali-kali pindah posisi juga tak bisa mengubah apapun. Karena kesal, aku mengacak-acak rambutku dan menutup mataku dengan bantal berharap segera tidur


Tululit...tululit...


Ada panggilan masuk. Siapa yang memanggil malam-malam begini?


"Tama"


Ternyata dia. Aku merasa sedikit tenang hanya dengan membaca nama yang ada pada layar ponselku.


"Halo?" jawabku dengan nada yang lesu.


"Belum tidur?" suaranya. Suaranya yang membuatku merasa hangat.


"Sudah kuduga" katanya.


"Kenapa malam-malam telepon?"


"Ada sesuatu yang mengganggumu?" kataku.


"Yang seharusnya tanya itu aku"


"Kenapa jam segini belum tidur?" balasnya.


"Ya... Nggak bisa tidur aja" jawabku asal.


"Aku punya obat ampuh biar kamu cepet tidur" katanya dengan percaya diri.


"Apa?"


"Denger ya"


Semenjak itu, aku mendengar suara petikan demi petikan senar gitar yang nyaring dan menenangkan. Disusul dengan suara berat bernada rendah mencoba bernyanyi menyamai petikan senar. Obat apa ini? Apa ini semacam obat bius? Atau obat penghilang ingatan? Aku jadi melupakan semua kegiatanku dalam sehari penuh dan hanya mengingat melodi dan irama yang ia mainkan.


Perlahan, sayup-sayup aku memandang sekitar kamar. Lama kelamaan gelap. Aku terbius.


"Selamat malam" ucapku dalam hati.


Tama POV


Saat memainkan lagu untuk membantunya tidur, aku membayangkan wajahnya yang tersenyum malu bersembunyi dibalik bantal dan selimut, wajahnya yang mulai mengantuk, dan wajahnya ketika sudah tidur.


Dia menjadi diam tak banyak bicara. Aku yakin dia sudah tertidur.


"Selamat malam" bibirku menempel pada speaker dan membisik.


Author POV


Senin pagi,


Aira yang masih merasakan kantuk itu berjalan menyusuri lorong sekolah sembari mengucek matanya lesu. Bagaimana tidak, semalam saja dia baru bisa terlelap pukul 01.00 pagi.


"AIRA!" suara melengking terdengar memanggil menggelitik telinga.


Dengan malasnya, Aira menoleh kebelakang dan berdecak kesal karena suara itu.


"APA?!" balasnya.


"Wehh! Galak bener, pms ya?" kata Rida.


"Kemana? Kalo nggak ditraktir makanan ogah!" jawab Aira.


"Gampang soal itu mahh"


"Aira udah ada janji sama aku!" tiba-tiba saja Tama datang dan mengucapkan demikian.


"Emang bener Ai? Aku kalah cepet dong?" Rida memasang wajah cemberut.


"Nggak, orang dia nggak ada bilang apa-apa sama aku" katanya.


"Oopsiiii" Rida mengatakan itu dengan lirikan mata meledek mengarah ke Tama.


"Kalau gitu nanti aku jemput kerumahmu yaaa. Jam 7, gimana?"


"Oke!" Aira menyetujuinya.


"Yok, ke kelas!" ajak Rida.


Saat pelajaran berlangsung, handphone Aira yang ia letakkan di loker meja itu terus bergetar.


Siapa si?!, batin Aira.


"Tama"


"Nanti malam jangan keluar"


"Tolong, percaya aja sama apa kataku"


"Nanti malam tetep dirumah"


"Aku akan ke rumah kamu nanti"


"Oke?"


Hiissss, dia aneh banget si?!


Emang ada apa sama nanti malam?


Aira menggerakkan kepalanya bingung.


Tapi perasaanku juga nggak enak


Ada apa ya?


Apa sebaiknya aku turuti aja kata dia?


Tapi Rida gimana?


Pada pelajaran jam ke 6, jam yang mendekati jam istirahat, Aira dibuat pusing oleh tugas matematika yang sama sekali tak masuk ke otak. Ia sudah coba menghitung dengan berbagai cara dan rumus tapi tetap saja tidak menemukan jawaban. Otaknya seakan mendidih didalam sana. Ia pun terus memijat kepalanya dan memutar bola matanya bosan.


Drrrtttt....drrrrtttt....


Lagi-lagi Aira mendapat pesan.


"Asma"


"Belakang kaca kamar mandi barat"


Aira menerima pesan yang singkat dari Asma namun masih belum mengerti apa maksudnya. Mungkin itu sebuah kode? Atau apa?

__ADS_1


Apa aku harus kesana?, batin Aira.


"Pak, saya permisi ke toilet sebentar ya" Aira berpamitan pada guru matematikanya.


"Iya"


Sesampainya di toilet, Aira berpura-pura buang air di bilik kamar mandi paling ujung. Setelah dirasa keadaan sudah sepi, Aira menutup pintu utama kamar mandi dan mulai mencari ada apa dibalik kaca kamar mandi itu. Ia terus meraba pinggiran kaca dan menemukan permukaan yang tak sama. Permukaan itu lebih tinggi dari permukaan lain. Rupanya, ada sebuah kertas yang terlipat terselip di belakang sana. Lantas Aira bergegas mengambil kertas itu, kembali ke bilik kamar mandi dan membukanya disana.


"Perpustakaan Daerah jam 7 malam. Jangan sampai ada yang tahu. Setelah baca ini, langsung buang jejak!


Asma"


Begitulah pesan dari kertas itu.


"Kenapa dia nggak langsung kirim lewat whatsapp?" gumam Aira.


Usai membaca dan memahami pesan itu, Aira langsung merobek kertas itu kecil-kecil dan membuangnya di kloset serta menyiramnya agar tak terlihat lagi.


Sekeluarnya dari kamar mandi, Aira melihat Asma yang duduk di bangku depan kelasnya sedang membaca buku novel. Aira mengetahui siasatnya. Yang kemudian ia berpura-pura jalan lurus dan berlalu begitu saja, namun tak lupa ia memberikan tanda "Ok" dari belakang.


Asma Pov


Aku menulis pesan di kertas untuk Aira dan kuselipkan di belakang kaca kamar mandi sekolah. Aku harus melakukan itu karena tak ada jalan lain. Kenapa begitu? Karena aku merasa was-was jikalau saja ponselku telah disadap seseorang yang berusaha mengancam dan menghancurkanku.


Begitu aku menyelipkan kertas itu, dengan sengaja aku menunggu Aira dengan duduk didepan kelas sembari membaca novel. Aku bernafas lega begitu pesanku tersampaikan dengan baik. Aira memberi tanda "Ok" dan anehnya bebanku langsung sedikit berkurang. Aku sedikit tersenyum karena itu.


Setelah dirasa selesai, aku menutup buku novelku dan beranjak dari sana.


Bug!


Seseorang menabrakku, membuat bukuku terjatuh.


Karena kesal, aku berdecit.


"Ck!"


Kuambil buku novelku itu yang jatuh tak jauh dari sepasang kakinya.


Oh tidak, aku mengenal sepatu itu.


Aku merasa dalam bahaya.


Hidupku serasa terancam.


Meski begitu, aku tetap berusaha mengambil novelku. Dengan perlahan aku berdiri tegap berusaha berani menatapnya. Melihat dadanya yang bidang saja sudah membuatku jantungan.


"M...maaf..." aku berusaha tenang.


1....2...3....


Lari!


Aku lari menjauh darinya. Tapi tentu saja dia tak tinggal diam. Dia ikut mengejarku pula. Aku bingung harus lari kemana untuk menghindarinya.


Dan yang aku pikirkan saat itu adalah,


Aira!


Seketika mulutku terus bergeming memanggil nama Aira lirih dan terus berlari menuju orang yang namanya telah kusebut berkali-kali.


Ah, dia berlari dengan sangat cepat. Beberapa langkah saja tangannya sudah bisa mencapai ujung rambutku.


Bertahan, sebentar lagi sampai!


Ayo, ayo, ayo!


"Aira!"


Tepat disaat tangannya yang hendak meraih ujung rambutku, aku telah berhasil sampai pada tujuanku. Aku yang menginjak garis pintu kelas Aira itu merasa lega karena telah melihat Aira walau ia duduk kebingungan ketika aku memanggilnya disaat dia sedang bertarung dengan bukunya.


"Hah....hah....hahh...." aku bernafas terengah-engah sekaligus bernafas lega.


"Asma?" Aira memanggil namaku dengan wajah yang kebingungan.


Aira Pov


Aku segera kembali ke kelas usai membereskan urusan kertas dari Asma itu. Diperjalanan kembali menuju kelas, aku sempat berpikir. Hari ini ada dua orang yang ingin mengajakku keluar malam ini. Ditambah lagi, Tama yang mengaku-ngaku telah ada janji keluar denganku malam ini.


Instingku mengatakan, jika Tama tidak sepenuhnya salah. Tapi, apa karena instingku ini, aku jadi menyalahkan dan seolah nggak mempercayai Rida sahabatku sendiri ya? Ditambah lagi, Asma yang tiba-tiba mengajakku bertemu di perpusda. Sementara Tama berjata kalau jangan keluar dulu malam ini.Jadi, yang mana yang harus kupihak?


Sesampainya di kelas, aku harus kembali berhadapan dengan soal-soal matematika yang sangat menjengkelkan pikiran.


Aku terus berusaha mengerjakan sembari memijat pelipis. Tapi tiba-tiba saja ada orang yang memanggilku dengan keras disaat suasana kelas hening karena saat itu juga masih ada guru yang jaga. Aku yang merasa terpanggil itu menolehkan kepala dengan spontan. Bahkan tak hanya aku. Seisi kelas pun tertuju pada Asma yang terengah-engah didepan pintu kelas.


"Asma?"


Aku kebingungan mengapa Asma berlari seolah ketakutan dan menghampiri kelasku walau dia tahu jika kelasku sedang ada guru. Saat itu juga aku melihat Asma yang terus menolah ke belakang dengan wajah cemasnya itu.


Ada apa ini? Pikirku.


Rasa penasaran membuatku melihat apa yang terjadi diluar sana melalui jendela. Dan aku melihat ada seorang laki-laki yang langsung membalikkan badan begitu aku berdiri dari kursiku dan berusaha mengintipnya dari jendela. Laki-laki itu pun langsung berjalan berbalik arah dan berlari kecil. Asma pun melihat kearah laki-laki itu juga. Dan aku semakin yakin jika laki-laki itu ada kaitannya dengan kecemasan Asma hingga berani menghampiriku di kelas.


Jika dilihat dari postur tubuhnya, aku tidak terlalu asing dengan laki-laki itu. Tapi dari laki-laki yang aku kenal di sekolah ini, kira-kira siapa ya?


Bian?


Elang?


Tama?


Atau,


Hatta?


"Permisi pak" ucapku.


Aku langsung menarik Asma keluar kelas dan memintanya menceritakan semua padaku. Aku mendudukkannya di bangku depan kelas.


"Kenapa?"


"Ada apa?"


"Kok wajahmu kayak ketakutan gitu?" tanyaku.


"Aira!" seseorang memanggil namaku. Kali ini berbeda, dia adalah Tama yang datang dari sisi kanan.


"Tama? Kenapa?"


Aku merasakan sedikit keanehan disini. Tama yang datang dari arah yang berlawanan dari arah datangnya Asma itu datang dalam keadaan yang berjalan santai. Namun jika diperhatikan dari jarak dekat, terlihat jelas jika dia berkeringat, wajahnya memerah, dan terdengar pula suara nafasnya yang terengah-engah sama halnya seperti Asma.


Ada apa ini? Kenapa semua datang padaku dengan kondisi seperti itu?


Detik itu juga aku memutuskan bahwa aku akan memilih Asma sebagai tujuanku malan ini!

__ADS_1


__ADS_2