
Aku?" Tama mengarahkan jari telunjuknya kearah dirinya sendiri.
"Kalau kamu nggak bisa membantuku, biarkan aku melakukannya sendiri!" ujar Aira, lalu pergi mengambil sampanye.
"Aira!" Tama berusaha menghentikan Aira, namun Aira keras kepala.
Tap...tap...tap
Suara higheels yang seolah menggema ke seluruh lorong gedung.
Kedua tangan Aira memaksa membawa empat botol sampanye. Didepan pintu kamar 32 Aira berdiam diri serta menghela nafas berat.
"Huffffhhhhttt..."
Krieeeeetttt.....
"Terlambat dua puluh detik!" sambut laki-laki sekolah malam, menunjukkan layar ponsel yang sedang memutar stopwatch.
"Hah?! Emangnya kita ada perjanjian perbatasan waktu? Nggak kan?!" bantah Aira.
"Buktinya, ada kan?" kata laki-laki itu dengan senyum menyeringai.
"Nggak!"
Hap!!
Dua dari keempat laki-laki itu membungkam mulut Aira dan mendekap Aira dengan paksa.
"Hmm...hmmmmmmm" Aira tidak jelas mengatakan apa, sebab mulutnya yang terbungkam.
"Hmmmmmmmmm!!!!!!" mata Aira mulai berkaca-kaca.
Tama,
Di ruang kamar lain bersama tiga orang rekan laki-laki serta satu orang perempuan, Tama memojokkan dirinya dan meneguk minuman dari botol. Tatapan Tama sedang kosong, berbeda dengan tiga orang rekannya dan seorang perempuan yang seperti menikmati hiburan mereka.
Glek...glek...glek...
Tama meneguk minuman.
Sial, kenapa aku terus khawatir dengan Aira?, batin Tama.
Aira,
Ini saatnya kan? Semoga aku nggak salah ambil langkah!, batin Aira.
Bug!!
Tangan kanan Aira memukul laki-laki yang mendekapnya.
Bug!!
Disusul dengan kakinya yang menendang bagian pribadi salah satu dari mereka.
"Awwww!" rintih mereka.
Dua orang lainnya pun tak tinggal diam. Dua orang yang lainnya itu, sebut saja Jono dan Joni. Jono yang geram itu menghampiri Aira, langsung menarik geraian rambut Aira dengan kencang.
Apa yang dilakukan laki-laki sekolah malam?
__ADS_1
Sementara ini, dia hanya diam menyaksikan. Mungkin saja menurutnya sekarang bukan saatnya bertindak.
"Aarrggh!" rintih Aira kesakitan.
Bug!! Bug!!
Aira menendang dan memukul sebisanya.
Laki-laki sekolah malam yang sudah naik pitam itu berdiri meraih botol sampanye.
Pyarrrr!!!!
Memecahkan botol sampanye.
Sreeet! Bug!!
Laki-laki itu menyeret dan mendorong Aira ke tembok yang bercat putih itu.
"Arrgghhh!!" Aira merintih kesakitan.
Mata dan wajah laki-laki itu memerah. Giginya menggertak. Tangan yang memegang pecahan botol itu hendak ia layangkan pada Aira. Beruntung, Aira dapat menghindari ancaman pecahan botol itu.
Set! Set! Set!
Bak di film, Aira yang sengaja menyembunyikan sebilah pisau pada short pant balik rok dressnya itu ia keluarkan.
Sring!
Bunyi goresan pisau dengan penutupnya.
Deg!
Dengan tangguhnya Aira menempelkan pisau itu pada leher laki-laki sekolah malam. Tatapannya tidak bisa diragukan lagi.
Bug!!
Sret!!
Sring!!
Aira telah menggores lengan laki-laki sekolah malam itu.
"Aasssshhhhttttt" rintihnya, memegangi lengan bersimbah darah.
Brak!!
"Airaaa!!!" Tama muncul secara tiba-tiba.
"Tama?" Aira sedikit lengah dengan apa yang ada dihadapannya saat ini.
Sring!!!
Laki-laki itu langsung menggores pecahan botol ke dada Aira.
"Aaaarrrggghhhh!!" Aira yang kesakitan itu menjatuhkan pecahan botol dari genggamannya, memegang dada yang bersimbah darah.
"Aira!" Tama panik, berlari kearah Aira.
Saking paniknya, Tama langsung membopong Aira ke ruangan lain meninggalkan empat orang laki-laki di kamar 32.
__ADS_1
"Ini alasan kenapa aku selalu melarang kamu Ai!" bentak Tama pada Aira yang disibukkan dengan membersihkan goresan luka di dadanya.
"Tam, ini luka kecil. Ini nggak sebanding dengan apa yang dirasakan gadis seusiaku harus mati tanpa mewujudkan mimpinya!!" balas Aira.
"Apa ikut campur urusan lain itu kebiasaanmu?" celoteh Tama.
"Sekarang aku tanya sama kamu!" Aira menunjuk Tama.
"Dan ini adalah pertanyaan inti dari semua yang ingin aku tanyakan sama kamu"
"Apa kamu salah satu dari mereka?" tanya Aira dengan nada merendah.
"Kenapa kamu jadi nanyain hal itu?" kata Tama.
"Apa yang kamu lakukan disini, bersama dengan mereka-mereka yang lain, sedangkan yang bisa ikut dan bahkan masuk ke dalam gedung ini aja harus ada barcodenya!!" gertak Aira.
"Kalau bukan kamu salah satu dari mereka? Terus bagaimana kamu bisa masuk kesini, hah?!" lanjut Aira.
Sring!!
Hingga pada saat itu, saat dimana sebilah pisau tiba-tiba saja keluar dari saku celana Tama dan ditodongkan kearah Aira, seketika nafas Aira seolah berhenti. Otaknya berpikir dengan keras.
Apa benar ini Tama yang kukenal?, batin Aira.
"Sekali lagi kamu bahas hal ini dan aku melihat ada lagi luka yang menempel di tubuh kamu, aku nggak akan tinggal diam!" ancam Tama.
Kenapa gara-gara hal ini dia bisa bersikap kayak gini?, batin Aira.
"Sekarang, ayo pulang!" setelah menodongkan pisau pada Aira, Tama kembali bersifat normal dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Semua terasa kembali normal.
Kenapa aku mulai takut dekat dengan Tama?, batin Aira lagi.
Selepas itu, Aira menolak ajakan pulang Tama hanya dengan mengabaikan Tama dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata.
"Aira!" panggil Tama, masih dengan nada yang rendah.
Mendengar dia memanggil namaku aja terasa menyeramkan!
"Aira!!"
"Aira!!!!"
Yang kemudian Aira tetap melanjutkan langkahan kakinya, bahkan semakin lama semakin cepat ia melangkah.
"AIRA BERHENTI SEKARANG JUGA!!!!!" teriakan Tama menggema.
Mendengar ucapan Tama yang semakin tinggi, Aira semakin ragu untuk mendekati Tama. Karena itu, Aira berlari menghindari Tama. Namun tentu saja Tama tidak membiarkan Aira dapat menghilang dari jangkauannya.
Tap...tap...tap
Suara langkah lari.
Hah...hah...hah...
Deru nafas Aira mulai tak beraturan.
Tama tolong kamu jangan bersikap seperti itu.
Aku mau Tama yang selalu ada disampingku saat aku susah maupun senang.
__ADS_1
Kemana Tama yang dulu?
Tuhan, kembalikan Tama.