Strange School

Strange School
Alasan


__ADS_3

Mendengar jawaban Tama itu, dengan spotan dahi Aira mengerut kebingungan.


Dari sekian jawaban, dari sekian alasan kenapa harus aku?


"A..ak..aku?" Aira membuka mulutnya, menunjuk dirinya sendiri.


"Kata apa yang pantas untuk aku disalahkan dalam permasalahan ini?" kata Aira.


Tama hanya diam, diam yang semakin membuat Aira jantungan dengan tetap menatap mata Aira dengan tatapannya yang gagah.


"Nggak bisa jawab kan?!" Aira mulai geram, yang kemudian mendorong Tama agar menjauh darinya.


Ia pun terbebas dari tatapan maut, serta jarak yang dekat. Namun, degupan jantung masih belum bisa diajak bekerja sama. Jantung Aira masih terus berdetak.


"Kalian tuh emang mau berantem!!!. Mau dinilai jagoan!!! Mau menang sendiri!!! Tapi, dilihat dari kondisi kalian yang ternyata ada aku, kalian dengan enaknya manfaatin aku sebagai alasan perkelahian kalian. Emangnya enak jadi bahan omongan seisi sekolah?!"


"Yang dikira sok cantik karena merasa direbutin dua laki-laki-lah, yang dikira cari sensasi lah inilah apalah. Panas kupingku!" lanjutnya.


"Tadi aja baru dateng liatin kalian berantem udah banyak tuh mulut yang berbisik-bisik"


Dengan cerewetnya itu, Aira menyiapkan beberapa perlengkapan untuk membantu luka Tama.


"Sini!!" menarik Tama agar duduk ke kasur UKS walaupun masih kesal dengannya.


Perlahan Aira memberikan obat di luka wajah yang mulai memar. Terulang lagi, jarak yang dekat itu kembali terjadi. Detak jantung kembali berdetak cepat seakan ingin lepas. Namun Aira tetap mencoba tenang, dan tak kentara dengan ekspresi cemberut dan ngambeknya.


"Pffftttt, hahaha" tiba-tiba saja Tama tertawa entah menertawakan apa.


"Malah ketawa lagi. Kenapa si?!" heran Aira.


"Ng...nggak...nggak ada apa apa. Lanjut!" ucap Tama.


Lanjutlah Aira mengobati luka Tama. Namun, selang beberapa detik saja Tama sudah tertawa lagi.


"Hahahaha"


"Iiiihhhhh! Kenapa sih?! Orang nggak ada yang ngelawak, nggak ada yang lucu juga" Aira mengembalikan obat-obatan ke kotak itu dengan gerakan yang dihentak-hentakkan karena kesal.


Hap!


Tama meraih tangan Aira dengan tatapan yang kembali tajam. Hanya satu detik saja Tama dapat merubah ekspresi yang semula cengengesan ke ekspresi yang serius.


"Apa?!"


Tanpa menjawab. Tama hanya menatap Aira tanpa berkedip. Karenanya, Aira menjadi salah tingkah dan canggung.


"B..bi..biasa aja kali matanya!" celoteh Aira.


"Pfffftttthahahahahaha!!!" Tawa Tama meledak. Semakin kencang ia tertawa ketika melihat ekspresi Aira.


"Waras nggak sih?!" ejek Aira.


"Kamu nggak sadar ya daritadi aku ketawa karena kamu?" dengan spontan Tama mengatakan itu, menambah detakan jantung.


"Hah?! Aku lagi?" heran Aira.


"Kamu marah-marah, kamu ngomel-ngomel, kamu cerewet, kamu cemberut, kamu yang salah tingkah. Itu menjadi hal yang biasa untuk semua orang"


"Tapi entah kenapa, daritadi bibirku senyum tanpa sadar, semacam reflek. Kayak, alam bawah sadarku pun tahu kalau kamu memang memikat" goda Tama.


"Belajar darimana ngomong kayak gitu? Hm??" tanya Aira sedikit menantang.


"Dari lubuk hati dong" jawab Tama.


"Kamu pikir aku percaya?! Paling juga kamu ngomong gitu ke semua perempuan kan?! Ngaku deeeeh" balas Aira.


"NGGAK!!" jawaban Tama berhasil membuat Aira terkejut. Bagaimana tidak, dengan spontan, tegas, dan yakin Tama menjawab tidak.


Di tengah-tengah kesibukan mereka, baru mereka sadari jika sedari tadi seseorang telah memperhatikan mereka berdua di UKS. Orang itu hanya diam berdiri dengan menenteng tas ranselnya, menatap dingin kearah Aira dan Tama dengan kondisi wajah yang babak belur belum terobati.


"Bian?" panggil Aira lirih.


Karena keberadaannya telah disadari oleh Aira dan mereka telah terjadi kontak mata, Bian memilih pergi meninggalkan UKS serta Aira dan Tama.


"Bian!" panggil Aira, mencegah Bian pergi.


Namun Bian semakin mempercepat langkah kakinya, mengakibatkan Aira kesusahan untuk menyamakan langkah dengannya.


"Bian!"


"Tunggu!" Aira berhasil menggapai tangan Bian yang lebih besar dari tangannya.


"Apa?!" ujar Bian, yang menghempaskan tangan Aira.

__ADS_1


"Hmmmmmm" Aira ragu mengatakannya.


"Itu..." Aira terbata-bata.


"Apa?!" bentak Bian lagi.


"Lukamu" jawab Aira lembut sembari menunjuk luka lebam yang ada diwajah Bian.


"Kenapa?!"


Aduh... Aku harus pake cara apa nih?, batin Aira.


Yang pada akhirnya, Aira memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya mempersilahkan Bian untuk menggandeng tangannya dan ikut dengannya.


Tentu saja Bian tak asal menerima ukuran tangan Aira itu. Bian terlebih dulu menanggapi uluran tangan itu dengan lirikan mata yang ia arahkan kepada Aira dan tangan Aira secara bergantian seolah ia baru pertama kali melihat uluran tangan dari Aira untuknya.


"Kenapa?"


"Kotor?" ucap Aira, mengecek telapak tangannya.


"Nggak tuh, bersih!" ucapnya yang membuat Bian tak lagi meragukan uluran tangannya.


Aira yang bergandengan tangan dengan Bian itu berjalan kembali menuju UKS untuk mengobati luka Bian.


Sebelumnya sampai depan pintu UKS, Aira dan Bian bertemu dengan Tama yang baru saja keluar dari UKS dengan menggendong tas ransel miliknya serta menenteng tas ransel milik Aira. Melihat Aira yang sedang bergandengan tangan dengan musuhnya, tentu saja Tama tidak terima.


Tahan Tam, lagi ada Aira, ujarnya menenangkan dirinya sendiri.


"Tama? Kamu kok keluar?" kata Aira.


Keadaan seketika canggung.


"Uhm... Kamu tunggu didepan sebentar boleh nggak?" ucap Aira dengan hati-hati.


Tama mengangguk dengan berat hati.


Seusai mendapat restu dari Tama, masuklah Aira dan Bian ke UKS dan segera mengobati luka Bian.


Aira mengobati luka Bian seperti halnya ia mengobati luka Tama. Dengan perlahan, dan jarak dekat tentunya.


Namun suasana menjadi canggung, hening seketika.


"Ssshhhhh....aw" rintih Bian.


"Sakit ya?"


"Daripada nggak diobatin sama sekali kan bisa infeksi lama lama" lanjutnya.


"Udah" kata Aira yang telah menyelesaikan mengobati luka Bian.


Merasa urusannya dengan Aira telah usai, Bian hanya berdiri beranjak dari ranjang UKS dengan ekspresi wajah yang masih dingin terhadap Aira.


"Makasih!" ucapnya singkat, lalu menenteng kembali tas ranselnya dan pergi.


"Bian!" cegah Aira.


Bian hanya menanggapi panggilan Aira dengan menghentikan langkahnya, dan menyempatkan untuk menoleh sedikit kebelakang.


"Apa alasan kalian berantem tadi?" tanya Aira.


"Emangnya harus ya aku kasih tahu kamu?" jawab Bian dengan datarnya.


"Tapi aku berhak!" kata Aira.


"Aku juga berhak nggak jawab pertanyaanmu itu!"


"Apa alasannya?!" Aira meninggikan nada bicaranya.


Tak ingin emosinya memuncak kembali, Bian memilih mengabaikan pertanyaan Aira dan melanjutkan berjalan meninggalkan Aira.


"Bian!"


"Emangnya susah ya pertanyaanku itu?"


"Kalian emang suka main tebak-tebakan?"


"Nggak Tama, nggak kamu, kalau ditanya sama aja. Nggak kasih jawaban yang jelas!"


"Emangnya salah besar ya kalau aku tahu alasannya?"


Mendengar ucapan Aira yang bertubi-tubi itu, telinga Bian menjadi panas. Karenanya, Bian langsung meneriakkan sepatah kata yang cukup mengejutkan bagi Aira.


"KAMU!"

__ADS_1


Sontak, Aira yang semula terus berbicara menjadi diam membisu begitu mendengar jawaban Bian yang sama dengan jawaban Tama.


"Udah?" tanya Bian dengan nada ejekan.


"Emangnya apa salahku?" Aira mencoba tenang dalam keadaan ini.


"Tuhkan! Udah kutebak kalau kamu nggak bakalan bertanya cuma sekali!" ucap Bian lalu benar-benar meninggalkan Aira sendirian didepan UKS.


"Bian!" Aira mengejar Bian, namun tak bisa ia jangkau langkahnya.


Bian terus mengabaikan Aira yang mulai lelah mengejarnya itu dengan langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sekolah.


"Aira!!" Panggil Tama dari kejauhan.


"Kenapa?" tanya Tama.


"Huh... Nggak... Huh... Nggak papa huffhh...." jawabnya sembari menstabilkan nafasnya.


"Jadi mampir ke rumahku kan?" tanya Tama.


Aira hanya mengangguk, masih dengan nafas yang terengah-engah.


Dalam perjalanan kerumah Tama, Tama begitu menikmati perjalanannya sebab sebuah musik favoritnya yang ia putar dalam mobil. Tama ikut bernyanyi sesuai alunan musik favoritnya itu disertai jogetan jogetan kecil. Keadaan Tama berbeda dengan gadis disebelahnya yang tampak termenung memikirkan sesuatu dengan melamun menatap luar jendela.


Aduh... Tanya sekarang apa nanti nih?, batin Aira


"Ehem...." Aira mencoba menstabilkan pita suaranya.


"Tama" panggil Aira lirih ditengah-tengah kerasnya musik yang Tama putar.


Tentu saja Tama tidak mendengar panggilan Aira itu dan melanjutkan konser kecilnya di dalam mobil.


"Tama!!!"


Tetap tidak dengar.


"TAMAA!!"


Geram, dengan paksa Aira mematikan musiknya mengganggu kesenangan Tama.


"TAMAAAAAAA!!!!!" Aira mengganti alunan musik itu dengan teriakanny yang melengking.


"Aiiiiisssshhh apaansi Ra?!" Tama tampak kesal.


"Daritadi dipanggilin nggak denger!" celoteh Aira.


"Aku mau tanya!" gerutu Aira.


"Apa? Masalah tadi lagi?"


"Kalau masalah itu lagi aku no comment, ya? Aku nggak bisa jawab pertanyaanmu. Maaf sebelumnya" jawab Tama dengan entengnya.


"Iiiiiihhhhhhh!!!!!" Aira memukul lengan Tama.


"Apasih Ra?!" Tama benar-benar kesal.


"Apa bener alasan kalian berantem itu aku?!" tanya Aira dengan nada yang disentak-sentak.


"Pffftttt... Hahahah" Tawa menertawakan ucapan Aira itu.


"Ketawa?" Aira mengerutkan dahinya kesal.


"Kamu percaya kata-kataku tadi?" kata Tama.


"Gimana nggak percaya?!"


"Jawaban kalian itu sama!!!"


"Sama sama satu kata, sama sama mengarah ke aku!!!"


"Kalian sadar nggak sih bikin anak orang gonjang-ganjing karena masalah ini?!" celoteh Aira.


"Ra, udah ya? Aku aja udah lupa sama apa yang aku lakukan tadi. Bahkan aku nyaris nggak inget kalo aku ini abis berantem, pukul-pukulan" ujar Tama.


"Karena apa?"


"Karena kamu yang ngobatin lukaku!" jawab Tama dengan enaknya.


"Tuhkan!!! Dengan begini aku semakin yakin kalau alasan kalian berantem tuh karena aku!!!"


"Iya, iya, IYA!"


"Karena KAMU!!"

__ADS_1


"Memang karena KAMU!!" Tama mempertegas jawabannya.


"Ini semua salah KAMU!!!" Tama menekankan kembali kata-kata itu, bahkan nada bicaranya lebih tinggi dari sebelumnya. Terlebih lagi, Tama menggunakan jari telunjuknya dan mengarah ke Aira.


__ADS_2