Strange School

Strange School
Lapangan Sekolah


__ADS_3

Aira Pov


Aku bener-bener nggaktau harus apa sekarang selain menangis. Untuk mengangkat kepala dan menunjukkan wajahku saja aku tidak cukup berani. Dibelakang sekolah aku hanya berjongkok menundukkan kepala dan tentu saja menangis tersedu-sedu.


"Nih! Diminum!" seseorang menyodorkan sebotol minuman dingin.


Aku yang terlanjur malu karena wajahku yang mulai bengkak hanya mengulurkan tangan tanpa mendongakkan kepala.


"Jangan lihat!"


"Hadap sana!" kataku, menyuruhnya membelakangiku.


"Emangnya kenapa?"


"Hadap sa-" aku tak bisa berkutik begitu melihat orang yang memberiku minuman.


"Ck! Bian?!" aku menganga lebar.


"Ahssssss!" aku mendesis kesal, menjambak dan mengacak-acak rambutku sendiri.


"Tolong jangan temui aku dulu. Aku lagi nggak ingin berdebat!" ucapku, bangkit dari posisi jongkok.


"Aku minta maaf!" katanya dengan tergesa.


"Hm" jawabku singkat, ingin berjalan pergi karena tidak ingin menatap wajahnya terlalu lama.


"Kamu nggak tanya sama aku kenapa aku melakukan itu?" tanyanya.


"Memangnya aku tahu kalau pelakunya itu beneran kamu?"


"Ya kalau aku jadi kamu sih, aku bakal mencurigai aku" jawabnya.


Mendengar itu, aku hanya memutar bola mata malas yang kemudian berjalan kembali.


"Aku nggak tau!" katanya lagi, menghambat perjalananku.


"Aku nggak tau kalau aku bakal nglakuin itu"


"Karena waktu itu aku lagi mabuk!"


"Dan aku sedang emosi"


"Nggak tau kamu bilang?"


"Terus, sejak kapan foto itu ada?!"


"Emangnya ada orang yang nggak sengaja fotoin aku tapi bisa dapat foto sebegitu jernihnya dan nggak cuma satu foto!"


"Apa itu artinya kalau bukan kamu yang udah ngrencanain itu semua?!" tangisku kembali pecah.


"Nggak gitu"


"Seenggaknya kamu dengerin penjelasan aku kenapa aku bisa menyebar berita itu ke laman daring"


"Atau minimal kamu dengerin permintaan maafku dengan benar!"


"Aku juga sudah menghapus berita itu dan membuat pernyataan kalau semua itu nggak bener!"


"Buat apa?!"


"Semua udah terlanjur!"


"Semua sudah masuk di ingatan mereka!"


"Dan namaku sudah tercoreng!" balasku dengan tangisan.


"Sebentar lagi aku juga harus siap mental untuk menjelaskan semuanya ke guru BK walaupun mereka nggak percaya!"


"Nggak! Para guru nggak ada yang tahu!"


"Hanya murid yang tahu berita itu!" ucap Bian serius.


"Nggak mungkin mereka nggak tahu! Sementara berita itu sudah menyebar seisi sekolah!"


"Sekarang, jangan biarkan aku tambah emosi hanya karna melihat wajahmu itu!" kataku, menjauh darinya.


"Saat itu aku juga butuh kamu ra!"


"Aku butuh temen untuk mendengarkan keluh kesahku!"


"Dan Tuhan mengirimmu dengan cara itu!" -Bian.


"Andai aja kemarin kamu menerima ajakan aku dan mendengarkan semua cerita dari mulutku, kita saling bicara, bertukar cerita. Pasti aku tidak akan menjadi semabuk itu dan senekad itu!"


"Jangan mengatakan hal yang nggak mungkin hanya agar kamu nggak dianggap sepenuhnya salah!"


"Lagipun, aku sudah tahu hubunganmu dengan Rida!"


"Terus dia kamu anggap apa?!"


"Memangnya sepanjang kamu berhubungan dengan Rida nggak pernah saling bertukar cerita seperti apa yang kamu bicarakan?!, nggak ada pemanis yang kalian buat bersama-sama?! Itu hampir nggak mungkin!"


"Jadi, jangan jadikan 'butuh temen' itu sebagai alasan!"


"Karena itu alasan bodoh yang pernah aku denger!"


Tring....


Ditengah-tengah perdebatan kami, notif dari ponsel kami masing-masing berbunyi.


"BERITA YANG SUDAH TERSEBAR ADALAH BERITA BOHONG!! ITU HANYA KESALAHAN SI PEMBUAT BERITA DAN FOTO ITU HANYALAH EDITAN SEMATA!!!"


Begitu kubuka notifikasi itu, aku membaca tulisan yang entah kenapa lebih menyakitkan dari berita sebelumnya. Bagaimana tidak, dengan seenak jidatnya dia menyebar berita itu hingga membuat semua orang percaya dan sekarang segampang itu dia bilang semua itu BOHONG?!


"Cih, hahah!"


"Ini yang kamu sebut pernyataan? Permintaan maaf? Atau semacam itu?"


"INI YANG KAMU MAKSUD HAH?!" teriakanku melengking.


"Segampang itu kamu membolak-balikkan keadaan?!"


"SEGAMPANG ITU?!"


"AKU JUGA BISA NGETIK HAHA HIHI TANPA KETAWA!"


"AKU JUGA BISA NGOMONG 'MAAF' TANPA ADA KETULUSAN!"


"KALAU KAMU BENER-BENER MINTA MAAF, TETESKAN DARAHMU KE TELAPAK TANGANKU!"


Entah apa yang aku bicarakan. Aku memang sudah tidak waras sekarang. Aku benar-benar tertular ketidakwarasannya. Aku berbicara yang tidak-tidak. Tapi, entah kenapa aku lega mengatakan itu dan yakin kalau dia tidak mendengarkan perkataanku itu dengan sungguh-sungguh atau bahkan benar-benar melakukannya.

__ADS_1


Sekarang, aku bingung harus kemana lagi. Sementara ke kelas saja aku tidak berani. Pikiranku saat itu menuju ke atap. Ya, aku berjalan ke atap sekolah sementara semua sedang melakukan kegiatan belajar mengajar. Aku hanya duduk bersila menatap langit-langit walau masih dengan isakan yang sesekali terdengar. Aku tidak tahu keadaan wajahku seperti apa sekarang. Mataku saja rasanya berat untuk berkedip.


"Aku tahu kamu ada disini!" aku mendengarnya. Aku mendengar itu. Suara yang sedang kutunggu-tunggu. Suara serak dan berat namun dapat menenangkan.


Entah mengapa, aku yang sempat berhenti menangis itu, yang mendengar suaranya dan tahu keberadaannya kembali memecahkan tangisan karena aku merasa nyaman jika menangis dihadapannya.


Hap!


Dia mendekapku. Ini yang aku harapkan sedari tadi. Ada orang yang mendekapku kala aku menangis untuk menutupi air mataku yang jatuh dan wajah yang mulai bengkak total.


Tama membiarkan dekapannya selama beberapa saat hingga tangisanku mulai mereda.


"Kamu nggak masuk kelas?" tanyaku dengan isakan yang masih ada.


"Kalo aku masuk kelas, berarti aku nggak disini lah!" jawabnya.


"Nih, dimakan dulu. Pasti kamu laper karena nangis terus" lanjutnya.


"Tadi aku ketemu Bian" aku mulai bercerita.


"Aku tahu. Aku ada disekitar kalian" -Tama


"Hah? Yang bener?"


"Berarti kamu denger semuanya dong?"


"Hmmm" Tama mengangguk.


Aku langsung menyalahkan diriku sendiri ketika tahu ada Tama disana. Bagaimana tidak, aku sangat ceroboh mengatakan bahwa aku tahu hubungan Bian dengan Rida sementara aku sudah berjanji pada Rida kalau aku tidak akan memberitahu siapapun. Tapi sekarang, secara tidak langsung aku memberitahunya pada Tama.


Author Pov


Beberapa menit kemudian, Aira mendapatkan telepon dari Henna untuk menanyakan keadaannya dan dimana keberadaannya.


"Kamu dimana?"


"Di sekolah" jawab Aira


"Iya tau, maksudnya disebelah mana?"


"Aku mau kesana nih! Mumpung jamkos"


Diwaktu yang bersamaan, terdengar suara pengumuman dari speaker sekolah.


"Eh, ada pengumuman tuh!" kata Henna.


"Pengumuman apaan?" tanya Aira.


Tama yang mendengarnya pun ikut nimbrung mendengarkan telepon dari Henna. Lantas, Aira dengan senang jati menyalakan loudspeaker agar Tama juga mendengarkannya.


"Pengumuman, pengumuman!"


"Untuk semua anak-anak mulai dari kelas sepuluh sampai dua belas, dari yang ipa maupun ips, diharap berkumpul ke lapangan sekarang juga!"


"Keknya aku kenal suara itu deh" ucap Henna.


"Emangnya ada apa kok disuruh ke lapangan?" tanya Aira.


"Aku juga nggak tau, aduhh..." Henna tertabrak para murid-murid yang hendak ke lapangan.


"Bentar, aku jalan ke lapangan dulu, jangan ditutup!" kata Henna.


"Video call coba!" pinta Tama pada Aira.


"Oh, oke!"


"Hah?!" Henna tiba-tiba mengagetkan.


"Ai!"


"Kamu nggak bakalan percaya kalau kamu nggak kesini langsung!"


"Mending kamu kesini deh! Cepet!"


"Hah?! Emangnya ad-" belum sempat melanjutkan ucapannya dan melakukan video call, Henna lebih dulu menutup teleponnya.


"Lah? Dimatiin?" kata Aira pada Tama.


"Yaudah kita kesana" kata Tama.


"Tapiiiii" Aira ragu.


"Aku malu wajah aku bengkak" lanjutnya.


"Pake masker!"


"Tuh, aku udah siap beli masker tadi" kata Tama, melirik kantong plastik yang ada disebelahnya.


"Wowww! Hebat! Heheheheh" Aira cengengesan.


Tama dan Aira berjalan menuju ke lapangan. Benar saja, begitu mereka berdua turun dari tangga atap sudah banyak anak-anak yang berkerumun berjalan menuju ke lapangan.


Semua sudah berkumpul. Tak hanya murid, tapi juga para guru. Keadaan menjadi heboh. Aira dan Tama baru saja tiba dibarisan belakang. Karena tak terlihat siapa orang yang berdiri di papan pidato yang biasa digunakan saat upacara, Tama menarik Aira agar maju lebih dekat dengan orang yang ada didepan.


"Permisi, permisi" kata Tama membelah barisan.


"Aira!" panggil Henna.


Dan ternyata, Henna juga ada di barisan paling depan.


"Heh, ini ada ap-" ucapan Aira terpotong begitu Aira melihat kedepan.


"Bian?!" Aira benar-benar terkejut melihat Bian yang sudah berdiri disana seolah siap untuk berpidato panjang. Saking terkejutnya, Aira melepaskan maskernya dihadapan Bian. Bian dan Aira menjadi saling kontak mata.


Tak hanya itu. Semua guru pun seperti sedang menunggu apa yang akan dikatakan Bian dan tak merasa terganggu akan kejadian ini.


Apa yang akan dia lakukan?, Batin Aira.


"Selamat siang semuanya!" sapa Bian.


"SIAAAAAANG!" jawab semua serentak.


"Hari ini, aku, Biantara Abimanyu ingin mengucapkan permintaan maaf karena telah membuat kehebohan di sekolah ini dengan menyebarkan berita yang tidak benar adanya kepada kalian semua"


"Hah?! Jadi yang nyebar itu Bian?"


...


"Kenapa Bian melakukan itu?"


...

__ADS_1


"Jadi, akun itu milik Bian?"


...


Blablabla


Semua siswa mulai membicarakan Bian.


"Dan, permintaan maafku ini aku tujukan khusus kepada Aira yang sudah sangat dirugikan karena berita bohong ini. Aku benar-benar minta maaf untuk Aira. Aku akan menerima hukuman apapun agar kamu bisa memaafkanku"


Tanpa disadari oleh semuanya, Bian membawa sebilah cutter yang sedari tadi tersembunyi di tangannya yang selalu ia sembunyikan dibelakang. Perlahan, Bian membuka cutter itu agar semua tidak curiga dengan apa yang akan dilakukannya.


Dan,


Sring!


Bian menggenggam cutter yang tajam itu sengaja menggoreskan telapak tangan kanannya. Begitu selesai menggores, segera Bian menyembunyikan cutter itu didalam sakunya. Bian berjalan maju menuju ke barisan Aira sembari menggenggam tangan kanannya, berusaha menyembunyikan goresan dan tetesan darah.


Bian semakin dekat dengan Aira.


Tap...tap...tap


Hap!


Dan, Bian menghentikan langkahnya tepat didepan Aira. Mereka saling tatap. Bian menatapnya dengan tulus sementara Aira menatapnya dengan heran.


Bian mengulurkan genggaman tangan kanannya bertujuan untuk berjabat tangan dengan Aira. Tapi Aira tetap saja menatapnya dengan bingung den heran.


"UDAH MAAFIN AJA!" salah seorang siswa berteriak dari baris tengah.


"IYAAAA, UDAH MAAFIN AJAA" sorak semuanya hampir bersamaan.


Bian juga sudah mengkode dengan lirikan mata agar Aira mau berjabat tangan dengannya.


Sementara, Aira melirik kearah Tama dan Henna bertanya dengan bahasa isyaratnya. Henna mengangguk tanda mengiyakan, sementara Tama, ia hanya memalingkan wajahnya seperti tidak ingin ikut campur masalah ini.


Baiklah, Aira mulai mengulurkan tangannya.


Deg!


Mereka berjabat tangan.


Aira Pov


Aku benar-benar terkejut dengan apa yang Bian lakukan sekarang. Dengan mudahnya dia mengatakan permohonan maaf dihadapan yang lainnya, bahkan ada juga guru-guru yang menyaksikannya. Tatapan dan raut wajahnya juga menunjukkan keseriusannya. Sekarang aku menjadi sadar, bahwa dia tidak main-main ingin meminta maaf.


Dan sekarang aku mulai menhkhawatirkan perkataanku yang sempat aku ucapkan padanya.


Ya, kata-kata itu. Aku benar-benar takut dia akan melakukannya.


Hingga,


Deg!


Kami berjabat tangan. Awalnya aku meragukan jabatan tanganku karena tangannya yang selalu menggenggam seperti ada yang ia sembunyikan. Lantas aku melirik kearah Henna dan Tama. Henna mengangguk sementara Tama memalingkan wajahnya karena yang kutahu Tama berseteru dengan Bian.


Dan aku memutuskan untuk menjabat tangan. Tapi, ada yang aneh kurasa. Aku merasakan ada yang membasahi telapak tanganku. Aku mulai membelalakkan mata karena sekarang aku percaya hal itu terjadi. Ucapanku itu benar-benar terjadi. Aku menjadi gemetar ketakutan.


Aku ingin melepaskan jabatan tangan ini tapi Bian terus menggenggam tanganku dengan erat. Aku terus menatap Bian tanpa berkedip mengisyaratkan "Apa yang kamu lakukan?"


Yang kemudian, perlahan Bian melepas genggaman itu. Perlahan pula aku melihat kearah telapakku.


DEG! DUAR!


Seketika aku diam membeku ditempat. Aku benar-benar melihat ucapanku itu menjadi nyata. Dia menyanggupi ucapanku. Ada darahnya ditelapak tanganku. Telapakku menjadi merah begitu menjabat tangannya. Aku semakin gemetar dan menjadi lemas. Kakiku saja tidak kuasa menahan tubuhku. Aku hampir ambruk ditempat.


"Hah?! Darah?"


...


"Kenapa bisa ada darah?"


...


"Itu darahnya Bian?"


...


"Kok bisa?!"


...


Blablabla


Tatapan sayu kulemparkan kepada Bian. Nafasku pun menjadi sesak entah kenapa. Tanganku pun masih gemetaran.


Bug! Bug! Bug!


Kupukul-pukul dada yang sesak dan kemudian aku berlari menjauh dari lapangan. Aku berlari walau keadaan tanganku masih berlumur darah Bian.


"Aira!" Henna mengejarku yang terus berlari.


Sedangkan aku berlari entah kemana. Aku tidak tahu harus kearah mana. Hingga akhirnya aku tidak kuat lagi untuk berlari dan memilih berhenti didepan kamar mandi putri. Aku berhenti dan meratapi semua kejadian ini. Aku menggenggam rok abu-abuku erat dengan tangan berdarah itu. Darah itu pun juga berpindah ke rok abu-abuku dan mengotorinya.


Mecengkeram rok erat dan terus menangis dengan posisi berdiri membatu.


"Aira!" panggil Henna.


Begitu Henna melihatku yang berdiri kaku menundukkan kepala, mencengkeram rok yang ternodai darah disana langsung memelukku menenangkan.


Sementara aku masih tetap menangis di pelukan Henna dan tidak membalas pelukan itu karena kalau aku memeluknya Henna pasti juga akan terkena darah Bian.


"Hen, hiks...hiks...hiks..."


"Iyaaa, aku disini! Nangis aja kalau mau nangis" kata Henna menenangkanku.


"Hari ini kamu pulang dulu aja ya. Istirahat, besok juga jangan masuk dulu kalau kamu masih belum baikan"


Aku menangguk mengiyakan Henna.


"Sama kamu ya" pintaku pada Henna.


"Iyaaa, aku antar kamu sampai rumah"


Author Pov


Sementara itu keadaan di lapangan sangatlah kacau. Bagaimana tidak. Setelah melihat punggung Aira menjauh, Tama mendekati Bian dan langsung memukulnya dengan keras tanpa basa-basi. Dan jarang terjadi, Bian tidak membalas pukulan Tama. Tetapi dia malah menerima pukulan itu sembari menundukkan kepala dan masih menggenggam tangannya yang terus meneteskan darah. Beberapa tetes darah pun sudah sampai di lantai lapangan tempat ia berdiri sekarang.


"WUAAAA!" semuanya terkejut.


"BUKANNYA SELESAI TAPI KAMU MALAH MEMPERPARAH KEADAAN!" ucap Tama yang sudah muntab itu.

__ADS_1


Guru-guru pun segera melerai mereka.


"Awas aja kalo sampe ada apa-apa sama Aira!" kata Tama, kemudian pergi meninggalkan Bian karena menurutnya sekarang yang penting adalah Aira.


__ADS_2