Strange School

Strange School
Permainan


__ADS_3

Author Pov


Usai meminum obat pemberian Tama, Aira pun tertidur sangar nyenyak hingga tak bermimpi apapun. Hingga waktu menjelang sore, Aira mulai terbangun. Perlahan membuka mata dan menguceknya.


"Jam berapa nih?" gerutunya.


"Ah iyaa, buku Asmaa" Aira teringat jika buku Asma yang terjatuh itu belum diambilnya.


Lantas, Aira mengintip ke kolong kasurnya melihat apa buku itu masih ada disana.


"Huffhhh, untung masih ada disana!" gumam Aira.


"Aira?" datanglah Henna yang mengejutkan Aira yang hendak mengambil buku itu.


"Wuaaa!"


Bruk!


Aira terjungkal jatuh dari kasur.


"Sial! Kamu sih Hen! Ngagetin segala!"


"Awww...!" Aira mengusap kepalanya yang sakit itu.


"Lagian ngapain sih pake nungging nungging gitu?"


"Kenapa?!" tanya Aira sewot.


"Idih! Gitu amat buk!" -Henna.


"Eh, ngomong-ngomong. Daritadi Rida aku telfon nggak diangkat. Aku wa juga cuma centang doang! Kenapa ya?" -Henna.


Jangan-jangan bener lagi, Rida marah sama aku, batin Aira.


"Ya mana kutahu?! Daritadi aja aku nggak ketemu sama dia. Ada urusan kali?!" kata Aira.


"Tapi aku tadi sempet lihat Rida ngendap-ngendap masuk UKS"


"Tapi nggak yakin juga sih, itu beneran Rida apa bukan"


"Tapi aku yakin banget perawakannya tuh percis!"


"Tapi dia ngapain ya?" Kata Henna yang banyak "Tapi" nya.


Mungkin dia mau ngobatin lukanya Bian kali ya?, batin Aira.


"Ck! Alaaah, udah belum tentu juga itu Rida kan?" ucap Aira.


---


Malamnya, pukul 22.12.


Henna sudah terlelap lebih dulu. Sementara Aira, pikirannya kemana-mana. Entah pikiran yang bingung dengan kejadian tadi, bingung dia harus minta maaf juga apa tidak dengan Bian karena Bian melakukan itu juga karena ucapannya, bingung dengan sikap Rida yang marah, dan juga isi dari diary Asma.


Lantas, Aira yang terbaring dari kasur itu terbangun perlahan untuk mengambil buju yang masih dibawah kolong.


Flashback, Asma Pov


Semenjak hari itu, karena aku merasa lega telah mengungkapkan apa yang aku pendam, aku menjadi kecanduan akan hal itu. Aku terus mencaci makinya agar semua bebanku menjadi ringan. Aku menjadi sering melakukan itu padanya.


Saat itu, aku sedang naik taksi perjalanan kerumah dari supermarket yang ada ditengah kota bersama kakak perempuanku. Aku yang duduk tepat dibelakang kursi pengemudi itu melihat keadaan jalanan melalui jendela. Malam itu malam yang sangat ramai mengingat hari ini hari Sabtu.

__ADS_1


Semua tampak begitu biasa saja di mataku. Sampai pada sebuah objek yang menarik bola mataku. Aku melihat dua orang yang terlihat tidak asing berjalan beriringan dengan canda tawa mereka hendak memasuki sebuah gedung. Seorang gadis, dan seorang laki-laki yang tampaknya sangat serasi.


Gadis itu sedang memakai dres yang panjangnya seatas lutut, dengan model dress yang cukup ketat, bahu terbuka, riasan yang tak sesuai dengan wajahnya, serta sepatu hak tinggi yang mana gadis itu terlihat tak nyaman memakainya.


Sementara laki-laki yang bersamanya itu tampak sumringah, tatapan yang aneh, senyum yang aneh, dan gelagat yang aneh seolah-olah hari ini adalah hari kemenangannya.


Tapi, aku sempat meragukan pandanganku ini. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat karena saat itu aku juga terlihat samar-samar. Akhirnya aku memutuskan untuk turun dan melihatnya lebih dekat juga untuk memastikan apakah dugaanku benar.


"Mbak, aku turun sini aja ya. Ada janji sama temen" bisikku pada kakak perempuanku.


"Kok mendadak banget? Jangan malam-malam ya pulangnya!"


"Iyaa" jawabku.


"Pak, saya berhenti disini!" ucapku pada sopir taksi.


Ciiiit!


Aku berjalan dari arah sebrang gedung itu. Mencoba menyamakan langkah mereka. Tapi sialnya, mereka sudah masuk ke gedung itu. Mereka hilang dari pandanganku. Tak sampai disitu. Aku bertekad untuk mengikutinya hingga masuk ke gedung itu walau dengan pakaian yang berbanding terbalik dengan pakaian yang gadis itu pakai.


Pada saat aku masuk, aku berhadapan dengan dua penjaga keamanan yang berbadan tegap. Mereka bertanya padaku dengan tatapan aneh mungkin karena pakaianku yang terlalu santai untuk masuk gedung ini.


"Tunjukkan bar code undangan anda" kata salah satu penjaga.


"Bar code?" aku bingung dengan apa yang diucapkannya.


"Tidak punya, tidak bisa masuk!" tegasnya.


Aku bingung. Mereka membicarakan bar code apa? Undangan apa? Memangnya itu acara orang penting ya?.


Walaupun begitu, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku juga terlalu malas untuk berurusan lebih jauh lagi. Aku langsung pergi begitu penjaga itu menyuruhku pergi walau dengan hati yang berat dengan keingintahuan ada apa didalam gedung itu.


Ditambah lagi, Shinta yang dandan tidak seperti biasanya. Karena aku tahu betul Shinta tidak suka dengan pakaian seperti itu. Dan terlihat juga raut wajahnya yang tidak nyaman mengenakan itu. Ada apa ini sebenarnya?


Flashback Off


Author Pov


"Tunggu! Jadi, apa yang aku alami sebelumnya juga pernah Shinta alami?" gerutu Aira.


"Apa aku harus bertanya juga ya sama Damar itu?"


"Tapi kan aku nggaktau siapa dia, gimana bentuk wajahnya"


"Waktu itu, Asma bilang Damar kelas apa ya?" Aira mencoba mengingat kembali saat ia bertemu Asma di cafe.


"Dua belas ipa berapa ya?"


"Ah, besok aja deh! Aku harus ketemu sama Damar!" Aira bertekad.


Di waktu yang sama, Aira mendengar suara mesin yang dinyalakan. Aira langsung berpikiran jika itu adalah Tama yang hendak pergi. Tapi, malam-malam begini Tama mau kemana?


Aira mengintip ke jendela kamarnya dan benar, ia melihat Tama yang bersiap untuk pergi mengendarau mobilnya.


"Mau kemana Tama malam-malam begini?"


"Mukanya nggak santai lagi" gerutu Aira.


"Ah udahlah. Tidur aja, besok harus siap-siap ketemu Damar!"


Henna dan Aira terlelap. Sementara Tama sedang fokus menyetir dengan wajahnya yang sangat serius itu.

__ADS_1


Sampailah Tama disebuah tempat yang biasa untuk berkumpul sekawanannya, Elang dan juga Hatta.


Brak!!


Tama mengejutkan mereka semua dengan tiba-tiba membanting handphonenya diatas meja.


"Kenapa si Tam?!" tanya Hatta.


"Asma sialan!" umpat Tama.


"Dia mulai lagi?" tanya Elang yang sedang merokok.


"Kan udah aku bilang. Kalau dibiarin makin ngelunjak! Kamu sih pake batalin rencana jadi kayak gini kan!" kata Hatta.


"Lagian berani juga tuh nenek grandong, huffff" Hatta menghembuskan asap rokok.


"Kita udah peringatin berkali-kali, masih aja nyelonong!" sambungnya.


"Emangnya dia beritahu Aira apa lagi?" tanya Elang.


"Dia nulis buku diary. Dan di buku itu dia tulis semua yang dia tahu. Sekarang buku itu ada ditangan Aira" jelas Tama.


"Kok kamu bisa tahu buku itu ada di Aira?" tanya Hatta.


Flashback On.


Disaat Tama masuk ke kamar Aira hendak mengantar makanan padanya, Tama melihat wajah kepanikan di wajah Aira. Dan Tama juga melihat jika ada benda yang jatuh bersamaan dengan Aira yang tersentak ketika Tama memanggilnya. Yang padahal, menurut Tama, panggilannya itu sangatlah lirih sehingga menimbulkan keanehan jika Aira terkejut seperti itu.


Kenapa dia kaget?, batin Tama.


Kelihatannya dia juga panik.


Barang apa yang jatuh itu?


Setelah memastikan Aira menghabiskan makanan pemberiannya, meminum obat dan kemudian tertidur, Tama membersihkan piring sisa Aira untuk dibawanya ke dapur dan dicuci. Tapi sebelum itu, Tama menyempatkan diri untuk mengintip apa yang ada di kolong kasur.


Disana, Tama melihat ada sebuah buku yang tergeletak. Penasaran dengan buku apa itu, Tama meraihnya. Membuka halaman pertama buku itu. Mata Tama langsung terbelalak lebar begitu melihat apa isi buku itu.


Cewe sialan! Dia menantang rupanya!, batin Tama.


Aira udah baca sampe mana ya?


Yang kemudian Tama memilih untuk mengembalikan buku itu ke tempat semula dan pergu dari kamar Aira.


Flashback off.


"Lah, ngapain nggak diambil aja tuh buku?!" tanya Hatta.


"Nanti kalau dia baca lebih banyak kan bahaya!" lanjutnya.


"Yang ada dia langsung curiga sama aku" jawab Tama.


"Terus aku harus gimana?" Tama cemas.


"Kita ikuti aja" kata Elang sembari membuang abu rokok di asbak.


"Siapa? Asma?" tanya Hatta.


"Bukan!" jawaban Elang membuat Tama dan Hatta mengerutkan alis.


"Tapi permainannya!" jawab Elang dengan wajah yang tegang dan serius, ditambah lagi dengan tatapan tajam dan smirknya.

__ADS_1


__ADS_2