Strange School

Strange School
Rumah Rida


__ADS_3

Flashback On


Author Pov


Disuatu malam sekitar pukul 23.00. Elang pergi ke bar sendirian karena memang hari itu ia ingin menghabiskan waktu sendiri. Duduk di meja bar ditemani sebotol minuman yang saat itu tersisa separuh. Elang termasuk orang yang kuat terhadap alkohol. Jadi, setengah botol saja tidak membuatnya mabuk.


"Huufffhhhh" menghembuskan nafas kasar.


Keadaan bar semula tenang tenang saja. Tapi disaat ada laki-laki yang tiba-tiba saja berdiri sembari menggebrak meja, semua menjadi heboh. Arah mata menuju pada pria yang menggebrak meja tadi. Rupanya pria itu tidak sendiri. Melainkan bersama seorang wanita yang mungkin saja kekasihnya atau, sekedar teman minum?.


"Sial! Sudah enak enak suasana tenang!" gerutu Elang, menggertakkan giginya.


"Kamu bilang apa tadi, HAH?!" pria itu meluapkan amarahnya, menunjuk-nunjuk wanita yang ada didepannya.


Sementara, wanita itu hanya duduk terdiam dan menunduk ketakutan. Wanita itu terus menggenggam erat rok pakaiannya dan menahan tangis.


PLAK!


Pria itu menampar wanita malang.


"Aku sudah menghabiskan uangku hanya untuk membayar wanita sepertimu! Melayaniku itu sudah menjadi tugasmu!" kata pria itu.


"Ahhhh, aku sangat benci orang yang bikin kerusuhan!" Elang memutar lehernya yang menimbulkan bunyi tulang sembari memainkan lidahnya dengan lihai.


Tapi Elang tidak juga melakukan apa apa meskipun pria itu mengganggu ketenangannya ataupun sekedar membantu wanita yang malang itu. Elang malah hanya melirik tajam menyaksikan apa yang terjadi seolah tidak peduli. Justru Elang tetap menenggak minumannya dan menganggap itu seperti tontonan kala ia minum.


"Turuti saja perintahku!" kata pria itu.


"Ahhhhssss, wanita sialan!"


"Kau membuatku ditatap banyak orang!" timpanya.


"Sini! Jangan membantah!"


"Harga jual dengan pelayanan harus setimpal!" pria itu


"Satpam! Tolong wanita itu!" teriak pelayan bar kepada satpam yang menjaga diluar bar.


Dua satpam itu berusaha menangkap pria itu dan mengusirnya. Menyeret pria itu agar keluar dari bar dan menimbulkan keributan tambah parah.


"Apa hak kalian ngusir aku? Emangnya kalian mau ganti rugi uangku untuk membayar wanita itu?!" maki pria itu pada satpam.


Tak peduli, satpam itu tetap melanjutkan tugasnya. Menyeret pria itu hingga keluar dari bar dan menjadikannya tamu yang di blacklist di bar tersebut.


Bersamaan dengan keluarnya pria itu, Elang juga menaruh botol minumannya dengan kasar.


Brak!


Lalu ia berdiri tegap, merapikan kerahnya lalu meninggalkan meja bar.


Sebelum mengikuti kemana pria itu, Elang pergi ke mobilnya terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu. Setelah didapatkannya barang yang ia cari, Elang langsung berjalan membuntuti pria itu dalam radius sepuluh meter. Pria itu berjalan menuju gang sempit yang rupanya gang itu merupakan bagian belakang bar. Tempat itu sepi. Bahkan banyak sampah ataupun kardus-kardus yang tergeletak disana.


"Wanita macam apa yang kamu beri padaku?!"


"Nggak ada guna!"


"Aku mau ganti kerugianku!" pria itu memaki-maki orang melalui telepon yang mana pasti yang ia telepon itu adalah seorang muncikari.


Tanpa berpikir lama lagi, Elang berjalan mendekat dengan tatapan yang mengerikan. Elang berhenti dan berdiri tepat dihadapan pria yang masih tersambung dengan teleponnya.


"Siapa kamu?" tanya pria itu tak suka.


Tanpa menjawab, langsung saja dikeluarkannya palu dan menunjukkannya pada pria itu. Raut wajah pria itu seketika berubah takut.


"M...ma..mau apa kamu?" pria itu melangkah mundur.


BUG!


Satu pukulan mendarat di kepalanya.


"Aarrggghhh!"


"Siapa kamu?"


BUG! CRUAT!


Percikan darah mengenai tubuh Elang.


"ARRRGGGHHH!"


"Apa masalahmu?"


BUG! CRUAT!


"Jangan bunuh aku"


BUG! CRUAAT!


Pukulan ini membuat pria itu diambang kematian. Tapi meski begitu, ia masih bernafas walau tersengal-sengal. Belum puas, Elang berjongkok menyamakan posisi pria itu agar bisa sejajar dengan wajahnya. Elang terus menatap wajah yang penuh dengan darah dan ekspresi ketakutan yang masih melekat.


"Akhhh....akhhh....." pria itu terus bersuara.


"Kamu tahu?"


"Aku benci keributan"


"Dan kamu telah mengganggu ketenanganku" Elang membisik.


"Woaaahhh...hahahah" Elang berdecak kagum seperti melihat pemandangan yang indah.


"Kamu tahu?"


"Aku saaaangat menyukai ini, hahah"


"Sudah lama aku tidak melihat hiburan seperti ini"


"Ini sudah berapa detik?"


"Sepuluh detik?"


"Apa itu sudah cukup untuk membuatmu merasakan kehidupan terakhir kali?"


"Baiklahhhhh"


"Sudah cukup. Aku sudah terlalu baik padamu. Karena biasanya aku hanya memberi waktu lima detik"


Elang bersiap mengayunkan palunya lagi.


"Akkkkhhhh.....akkkhhhhh....." pria itu semakin keras berteriak walau sudah tidak mungkin untuk orang mendengarnya.


BUG! CRUAT BUG! CRUAT! BUG!


Berulang kali dan tanpa jeda pukulan itu menghantam kepalanya hingga tengkorak kepalanya terpecah dan darah yang banyak menciprati seluruh tubuhnya.


"Sluurrrpppp!" darah yang menempel di sekitar bibirnya itu ia jilat menggunakan lidahnya seolah itu adalah santapan lezat.


Dan selepas itu, Elang menyeringai dan tersenyum senang. Namun itu hanya sesaat. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, mungkin sekitar lima meter berdiri ditempat dengan ekspresi terkejut, takut, bercampur tidak percaya. Entah sejak kapan dia berdiri ditempat itu menyaksikan semuanya.

__ADS_1


Ya, dialah Henna.


Henna melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Henna melihat semuanya. Henna melihat bagaimana wajah pria itu. Henna melihat bagaimana ekspresi gembira Elang. Henna melihat bagaimana Elang mengayunkan palu itu. Sampai pria itu benar-benar hancur, Henna melihat semuanya.


Begitu Henna saling kontak mata dengan Elang, Henna melangkah mundur menghindari Elang. Sementara Elang mulai melangkah maju mengejar Henna.


Mam*us, batin Elang.


Flashcback Off


"Kenapa baru ngomong sekarang?" kata Tama.


"Ada yang tahu lagi nggak selain kalian?"


"Aku ragu dia cerita sama Rida apa nggak" Elang mengusap-usap alisnya dengan jari telunjuknya.


Di waktu yang sama, ponsel Tama mendapat panggilan masuk. Dikeluarkannya ponsel itu dari saku celananya dan melirik nama yang menelfonnya itu.


"Bian"


"Ck! Baru juga diomongin" gerutu Tama, melirik kearah Elang.


"Ada perlu apa dia nelfon kamu?"


"Tauk deh!"


Elang memberi lirikan isyarat agar Tama mengangkat telfon dari Bian.


"Halo!" jawab Tama jutek.


"Kenapa? Lagi butuh?!" kata Tama.


"Blek...blek...blek...yaaaaa" suara Bian tidak terdengar dengan jelas karena terkalahkan dengan angin kencang.


"HAH?! Ngomong apaansi?!" -Tama.


"Blek...Ai....lam....ya....."


Tama dan Elang saling melirik, saling bertanya-tanya dengan apa yang dikatakan Bian.


"Ngomong yang jelas!" ucap Tama.


"AIRA DALAM BAHAYA!"


Aira Pov


Aku memberanikan diri melangkahi tubuh orangtua Rida yang tergeletak. Menginjak darah yang berceceran tak peduli jika itu menciprat kemana-mana. Langsung berjongkok menyamakan posisi Rida yang meringkuk untuk menenangkannya. Rida terlihat sangat ketakutan. Saat aku memegang lengannya pun tubuhnya gemetar.


Sementara Henna dengan gugupnya berlari keluar kamar untuk mengambil air minum agar Rida merasa tenang.


"Ridaa, tenang. Udah ada aku sama Henna"


"Lagian, ini sebenarnya ada apa?"


Aku pun juga merasa gugup. Aku harus minta tolong pada siapa? Kalau Bian, nanti yang ada Rida malah tambah nggak tenang.


"Tama!" pikiranku terlintas Tama.


"Aku akan telfon Tama bentar ya" ucapku yang dengan gemetar pula mengambil ponsel di sakuku.


Jariku sibuk menscrol layar ponsel mencari kontak bernama "Tama"


Klik! Aku menemukannya.


Tut...tut...tut...


Nomor yang anda tuju sedang berada di panggilan lain.


Arrrggghhh! Kalau bukan Tama, terus aku harus minta tolong pada siapa? Apa iya aku harus menelfon Bian dalam keadaan seperti ini? Aduhhh... Cepatlah Aira, berpikir mau minta bantuan ke siapa lagi.


"Elang!"


Langsung saja aku mencari kontaknya.


SET!


Rida Pov


Aku rasa, inilah saatnya. Ini waktu yang tepat. Aku mengeluarkan pisau yang aku sembunyikan dibalik tanganku. Aku mendekatinya yang sedang membelakangiku.


SET!


Telah kutusukkan pisau ini ke bahunya.


"Akkhhh....akkkkhhh..." rintihnya


Rintihan itu, ekspresu kesakitannya itu. Entah kenapa aku menyukainya. Serasa bernada di telingaku.


SRING!


Kutarik kembali pisau itu. Darahnya mulai mengalir ketika aku mencabut pisau itu dari bahunya.


Tama Pov


DUAR! Seketika mendapatkan bom mengejutkan kedua kalinya. Apa yang dia maksudkan Aira dalam bahaya? Memangnya dia sekarang ada dimana dan bersama siapa?.


"Bagaimana kamu bisa tahu? Dimana dia sekarang?" tanyaku yang mulai panik.


"Cepat pergi ke rumah Rida!" perintahnya.


Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari masuk ke mobil yang disusul oleh Elang. Walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu bahaya apa yang sedang menimpa Aira.


Bian Pov


Hufffhhhh.... Akhirnya aku mengatakannya. Yas! Aku mengatakannya. Walaupun responnya begitu setidaknya aku berhasil mengeluarkan uneg-unegku.


Begitu pulang sekolah, aku tidak langsung pulang kerumah. Melainkan ke cafe bersama teman-teman kelas yang lain. Memesan es kopi favorit serta berbagai camilan. Dan tak lupa menghisap rokok sepuas hati.


"Udah magrib nih. Aku balik dulu ya. Badan juga udah lengket semua!" pamitku pada yang lain.


Semua capek serasa hilang. Tubuh berasa segar dan wangi tak ada keringat yang menempel. Aku keluar kamar mandi seraya mengeringkan rambutku dengan handuk.


"Hahhhh....." membanting tubuh ke kasur.


Ketika merebahkan tanganku ke kasur, aku teringat lagi dengan apa yang aku lakukan kemarin. Ya, saat aku sanggup menyayat tanganku agar Aira memaafkanku. Kulihat lagi telapak tangan kananku yang diperban. Walaupun lukaku ini bukan diobati dan diperban oleh Aira, tapi bayanganku selalu tertuju padanya.


"Hahah, perempuan sialan!" aku tertawa sendiri layaknya orang gila.


Tiring...tiring...tiring....


Ponselku berdering mendapat panggilan masuk.


"Rida"


Dia menelfonku. Dia menelfonku setelah selama satu hari tidak ada kabar. Oh iya. Masalah tadi, saat Aira menanyakan Rida kepadaku. Aku benar-benar tidak tahu kabar dan keberadaannya. Aku dengar juga, dia tidak masuk sekolah hari ini. Apa benar itu karena aku? Karena perkataanku kemarin?


"Halo" aku menjawab dengan jutek.

__ADS_1


"Hahh...hahh...hahh..." anehnya, dia bernafas dengan sangat berat seperti ingin mematahkan sesuatu. Apa dia sedang marah?


"Ha-" saat ingin menyapanya lagi, dia memotong pembicaraanku.


"Aku akan melakukannya sendiri!" katanya dengan nafas yang masih berat.


"Kalau kamu tidak mau melakukannya seperti dengan rencana kita sebelumnya"


"Aku akan melakukannya sendiri dengan caraku!"


"Apa maksudmu?" -Bian.


"Aku akan membunuhnya!"


"Jangan berbuat konyol!" -Bian.


"Aira ada dibawah perlindunganku!" -Bian.


"Ridaaaa" aku mendengar suara orang lain dari kejauhan selain suara Rida. Dan sepertinya aku mengenal suara itu.


"Ridaaaa" benar! Dugaanku tidak salah lagi. Aku mendengar suara Rida dan temannya yang satunya lagi.


"Ohh, dia datang sendiri tanpa kuperintah rupanya, hahah" aku mendengar ketawanya yang jahat.


"Jangan lakukan apapun! Diam ditempat!" percuma saja, ucapanku tidak digubris.


"Sampai jumpa. Aku akan membawa mayatnya untukmu" bisikan itu membuatku bergidik merinding.


Tut...tut...tut...


Panggilan berakhir.


"Aaaarrrrggghhh!!!!" mengacak-acak rambut.


Jaket yang ada di lemari langsung kupakai. Kunci mobil diatas meja belajar pun langsung kugapai. Tubuhku yang baru saja merasakan rebahan dan itu cuma sebentar langsung beranjak kembali.


Sepanjang perjalanan aku terus panik dan bingung harus melakukan apa. Dan bagaimana jika Rida sudah melakukannya.


"Oh iyaa, Tama" ucapku.


Langsung saja aku mencari kontak Tama dan menelfonnya. Kuharap dia langsung mengangkatnya karena ini menyangkut Aira. Kusingkirkan semua rasa marahku yang pernah membuat kami berseteru.


"Halo!"


"Kenapa? Lagi butuh?!"


"Aira bahaya!"


"HAH?! Ngomong apaansi?!"


"Aira dalam bahaya!"


"Ngomong yang jelas!"


Kadang suka kesal kalau ucapan kita tidak tersampaikan dengan baik walaupun kita merasa itu sudah cukup jelas.


"AIRA DALAM BAHAYA!"


Mulailah panik si Tama. Dia menanyakan keberadaan Aira. Bagaimana bisa dia membiarkan bersama orang yang bahkan Tama juga tahu orang itu bisa membahayakan kapan saja.


Author Pov


Butuh waktu setidaknya sampai 10 menit untuk Bian sampai ke rumah Rida. Untung saja, jalanan tidak seramai biasanya. Jadi Bian bisa menginjak gas, mengebut, dan menyalip sesukanya.


"Akhhhhh, udah berapa menit ya ini?" Bian terus-terusan melirik kearah jam tangannya.


"Semoga aja dia belum bertindak!"


Disebuah perempatan lampu merah menuju rumah Rida, Bian dan Tama bertemu secara tidak sengaja. Tama dan Elang yang berada di jalur utara, sementara Bian berada di jalur selatan. Lampu kendaraan mereka saling sorot dan berhadapan. Beberapa detik sebelumnya, mereka tidak menyadari kehadiran mereka masing-masing.


Hingga Elang yang menyadarinya lebih dulu mencolek lengan Tama.


"Bukannya itu mobil Bian?" Elang memperhatikan nomor polisi mobil Bian dan ternyata benar.


Tama yang mengetahui hal itu menyalakan lampu dim beberapa kali agar Bian tahu dia ada disana.


Awalnya Bian kesal karena mobil yang ada diseberang itu terus-terus menyalakan lampu dim yang membuatnya sakit mata.


"Ck! Siapa sih ni?!" kesalnya.


Tama yang juga kesal karena Bian tidak juga memperhatikan itu mengeluarkan kepalanya ke jendela dan melambaikan tangan agar Bian segera mengetahuinya.


Lap!


Lampu di jalan Tama telah hijau. Karena itu, Tama mengirim isyarat dengan jari jempolnya yang ia arahkan ke jalan menuju rumah Rida.


"Kita kesana bersama!" mungkin itu kata isyarat yang Tama berikan.


Bian mengiyakannya dengan mengacungkan jempolnya pula.


Broom! Broom! Broom!


Tama sudah membelokkan setirnya kekanan, sementara Bian masih menunggu giliran lampu hijau.


Lap!


Lampu di jalan Bian sudah hijau. Saatnya Bian menginjak gasnya lagi, menyusul kecepatan mobil Tama.


Tin!


Bian membunyikan klakson memberi isyarat "Hey! Aku disini!"


Lalu mereka sama-sama mempercepat kecepatan mobil mereka agar cepat sampai ke rumah Rida.


CIIIIITTTTTTTT!


Mereka sama sama menginjak rem sangat cakram hingga membekas di aspal.


Langsung saja mereka membanting pintu mobil dan bergegas lari masuk kerumah Rida. Begitu masuk, terkejutlah mereka melihat kondisi rumahnya yang berantakan dan menemukan anjing berbulu putih bernoda merah kecoklatan tergeletak tak bernyawa.


"Sial!" umpat mereka hampir bersamaan.


"WOOAA?!" terdengar suara Henna yang cukup keras hingga terdengar dari bawah.


Mereka yang mendengar itu bergerak cepat menuju lantai atas karena pikiran mereka adalah sesuatu telah terjadi.


Tap! Tap! Tap!


Suara sepatu mereka bersahutan ketika berlari menaiki anak tangga. Sampai mereka menemukan tempat dimana Henna, Aira dan Rida berada.


"Aira?!" panggil Tama dan Bian hampir bersamaan begitu menemukan mereka bertiga.


Betapa terkejutnya mereka bertiga, terlebih Henna dan juga Aira yang saat itu sedang membantu Rida untuk minum segelas air putih agar Rida sedikit merasakan tenang. Aira yang saat itu berjongkok untuk membantu Rida minum dan untuk menyamakan posisinya dengan Rida sontak menoleh mendengar teriakan yang memanggil namanya. Begitu juga dengan Henna yang saat itu sedang menutup matanya dengan kedua telapak itu langsung menoleh ke sumber suara.


Sementara Rida,


"Heheh!" dia menyeringai dibalik ringkukkan badannya. Tak hanya itu, Rida kemudian mengangkat kepalanya menjangkau pandangan yang ada didepannya dengan tatapan tajam mengarah pada Bian. Tatapan itu seolah mengatakan,

__ADS_1


"Aku berhasil mempermainkanmu, haha!"


Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_2