Strange School

Strange School
Sama Saja


__ADS_3

"HAH?!" Aira membelalakkan mata lebar begitu melihat pelaku itu.


"Ini mbak kembaliannya"


Tak dihiraukannya. Aira malah langsung pergi lari keluar minimarket tanpa mengambil uang kembaliannya.


"Loh? Mbak?! Mbak! Kembaliannya!" tapi Aira tetap saja pergi mengayuh sepeda dengan cepat.


Tak hanya di lingkungan sekitar. Di sekolah pun sama halnya begitu. Membicarakan berita yang sedang heboh. Begitu Aira sampai, banyak pasang mata yang menatapnya dan membicarakannya.


"Bukannya dia temannya?"


...


"Gimana perasaannya punya teman kayak gitu?"


...


"Nggak nyangka banget nggak sih?"


...


"Bisa-bisanya dia berteman sama orang gila itu!"


...


Blablabla.


Aira mulai berlari mencari Henna dikelas. Henna tidak ada disana. Tapi tasnya ada dibangkunya.


"Ada yang lihat Henna nggak?" Aira bertanya kepada semua teman sekelasnya. Tapi mereka kompak menggelengkan kepalanya.


"Tadi sih dia lari kayak nahan nangis gitu. Tapi aku nggatau dia lari kemana" ujar Popy.


"Hah? Kenapa?"


"Kaget kalik, denger berita itu. Dia juga diejekin sama yang lain perkara dia temennya" jelas Popy.


Aira berlari mencari Henna disetiap sudut sekolah. Ke perpus, ke lab, ke uks, hingga ke kamar mandi.


"Henna?!" suara Aira sedikit menggema.


Aira mendapati satu bilik kamar mandi yang tertutup tapi tidak ada suara kran yang terbuka. Aira yakin kalau Henna ada didalam sana.


"Henn?"


"Ya ampun, Henna?!"


Henna duduk lemas bersandar diatas wc duduk. Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Tatapannya pun kosong. Aira langsung mendekap Henna. Mungkin ini saking syoknya mendengar berita hari ini. Aira membawa Henna ke uks agar Henna bisa mengistirahatkan badannya sejenak.


Aira memberikan botol minuman yang baru ia beli dari minimarket untuk Henna minum.


"Minum dulu, biar tenang" katanya.


Tiring...tiring...


Panggilan masuk dari ponsel Aira.


Aira menjauh dari Henna untuk mengangkat telepon takut kalau Henna kembali syok.


"Halo?"


"Kamu sudah dengar beritanya kan pasti?"


"Iya mba. Itu belum pasti kan mbak? Itu masih dugaan kan? Masih disidang juga kan?"


"Bisa kamu datang ke kantor? Dengan temanmu satunya juga ya"


"I...iya mbak"


"Siapa?" tanya Henna dengan lirih begitu Aira kembali.


"Mbak Indah"


"Dia minta kita datang ke kantor"


"Kenapa kita nggak kesana sekarang?" -Henna.


"Nanti aja. Wajah kamu aja masih pucet"


"Aku nggak papa. Cuma agak syok aja tadi"


"Beneran?"


Henna mengangguk.


Aira Pov


Mbak Indah langsung menunjukkan barang bukti yang terbungkus plastik kepada kami membuat kami tidak percaya.


"Ini ditemukan di atap rumahnya. Di langit-langit kamar orang tuanya. Dibungkus kain dengan masih ada darah, lalu diletakkan begitu saja disana"


"Dan sulit dipercaya, sidik jarinya ada disana"


"Dia juga sudah mengakui perbuatannya"


"Maaf tidak mengabari kalian dulu. Aku tahu kalian pasti sangat terkejut"


"Memangnya apa alasannya mbak?" -Aira.


"Huffhhhh....." mbak Indah malah menghembuskan nafas seolah berat menjawab pertanyaan Aira.


"Dia bilang" jawab mbak Indah pasrah.


"Kamu"


"Aku?"


"Kenapa bisa Aira mbak?" -Henna.


"Dia marah. Marah karena ada laki-laki yang kamu rebut darinya. Laki-laki yang jagain Rida itu"


"Kalau dia marah ke Aira, kenapa yang dibunuh malah orangtuanya?" -Henna.


Flashback On


Tepat setelah Bian mengatakan yang sebenarnya pada Rida, Rida pergi ke kamar mandi untuk sekedar meredam emosinya. Begitu sampai, Rida mencoba membasuh wajahnya agar sedikit tenang. Tapi begitu ia melihat pantulan dirinya di kaca, amarahnya kembali muncul. Tatapan tajam itu terlihat jelas. Nafasnya pun berat saking marahnya.


"AAARRRRGGGHHHH!!!!" Rida mengacak-acak rambutnya begitu ia mengingat kalimat-kalimat yang Bian ucapkan itu. Sungguh menyakiti hatinya.


Rida menghentak-hentakkan kakinya saat hendak masuk rumah. Bahkan ia tidak mengucapkan salam. Ditambah, begitu Rida membuka pintu rumah, ia langsung mendengar kegaduhan yang mengisi rumahnya. Itu sangat mengganggu. Tapi Rida seolah sudah terbiasa mendengar itu semua.


"GUK! GUK!" anjing peliharaannya tahu majikannya pulang.


"SAMPAI KAPAN KAMU SEPERTI INI?!!!"


"NGGAK MIKIR YANG LAIN APA?!!!"


"MINUM TERUS, MABUK TERUS, NGABISIN UANG TERUS!!!" terdengar suara wanita yang berteriak. Pasti itu suara ibu Rida.


Rupanya, sudah ada empat hari ini orang tua Rida pulang kerumah dan bertengkar setiap harinya. Itu membuat Rida muak.


"AAARRRGGGHHHH!!!!"


"SUKA SUKA AKU MAU NGLAKUIN APA AJA!!!"


"YANG PENTING AKU SUKA!!! AKU SENANG!!!" disusul dengan suara pria paruh baya yang mabuk.


"PASTI KAMU JUGA NYEWA JAL*NG KAN?!"


"BLABLABLA" dan masih banyak yang mereka gaduhkan.

__ADS_1


Saking terbiasanya, Rida mengabaikan kegaduhan itu dengan masuk ke kamarnya seakan tidak terjadi apa-apa. Ia lemparkan tasnya dan barang-barang lainnya begitu saja.


"BUG! BUG!"


"GRADAK!"


"PYAR!"


Suara-suara itu tak dihiraukan Rida. Ia malah segera memasang earphone ditelinganya dengan volume yang diatas batas. Bersandar diatas kasur dan meluruskan kaki.


Hari menjelang sore. Suasana rumah Rida kembali tenang. Rida pun sudah membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Lantas Rida turun kebawah karena perutnya kosong. Begitu turun kebawah, Rida sudah melihat banyak barang yang berserakan karena pertengkaran orang tuanya itu. Tapi Rida masih saja tidak peduli.


"GUK! GUK! GUK!" anjing peliharaannya langsung menghampiri Rida begitu melihat Rida turun dari tangga. Mungkin itu karena ia lapar sedaritadi tidak dikasih makan oleh majikannya.


"Ihhhh, apaansih! Brisik!" Rida malah mendorong anjingnya itu dan tak mempedulikannya.


Disaat Rida menuangkan air ke gelas dan menenggaknya, ia kembali teringat dengan kata-kata Bian serta perlakuannya. Mulai dari yang baik sampai yang bisa menyakiti perasaannya. Juga terlintas dipikirannya bagaimana wajah Aira yang dianggap merebut kebahagiannya. Kesal, amarah kembali tersulut. Karenanya Rida meletakkan gelas kaca itu cukup keras hingga menimbulkan suara. Nafasnya terengah-engah karena emosinya semakin memuncak.


"APALAGI?!!"


"PERGIII!!!"


"JANGAN GANGGU AKU LAGI!!!"


"BIARKAN AKU MELAKUKAN APA YANG AKU SUKA!!!" suara gaduh itu kembali terdengar. Entah itu teriakan adu mulut, barang-barang pecah, suara benturan, pukulan, hingga jeritan mengganggu telinga.


Rida nampak sangat muak. Tidak bisa disembunyikan lagi amarahnya.


Sret!


Ditariknya kasar pisau yang biasa untuk memotong sayuran dari tempatnya, lalu melangkah hendak keatas.


"GUK! GUK!" lagi-lagi anjingnya mengganggu jalannya. Saking marahnya,


SRING!


CRUAT!


Darah hewan peliharaannya mengenai baju dan tubuhnya. Bulu anjing yang semula putih bersih dan tampak lucu itu kini bersimbah darah tak ada kehidupan. Rida serasa sedikit terpuaskan dengan itu. Ia tersenyum lega setelah melakukannya.


Selepas itu, Rida berjalan menaiki tangga dengan pisau ditangannya. Menghampiri kamar kedua orang tuanya dengan membanting pintu. Sampai detik ini pun Rida masih mendengar pertengkaran mereka yang tak kunjung usai. Makanya, langsung saja Aira membalikkan tubuh ayahnya yang marah-marah membelakanginya.


SRING! JLEB!


Rida melakukannya. Rida menusukkan pisau itu ke dada kiri ayahnya. Bukan itu saja. Dikeluarkannya pisau itu dari dada ayahnya, ia pindahkan ke perut kiri lalu berpindah lagi ke tempat lain hingga ia benar-benar merasa puas. Tidak lupa Rida tambahkan bumbu kemanisan dengan senyumannya di setiap tusukan dan derita ayahnya. Ibunya sangat terkejut melihat melakukan itu.


Bruk!


Ayahnya sudah tergeletak bersimbah darah. Sementara ibunya berjalan mundur menghindari Rida. Dan, ya! Seperti apa yang ia lakukan sebelumnya pada ayahnya. Nasib ibunya pun sama.


Bruk!


Tergeletaklah ibunya tak jauh dari tubuh ayahnya.


"Mah...pah...." tangan Rida membelai rambut orang tuanya.


"Rida udah jadi anak yang berbakti belom? Heheh"


"Rida anak yang baik kan?"


"Buktinya Rida membantu kalian untuk berdamai, tenang, tentram. Iya kan? Heheeee"


Setelahnya, Rida mencari ponsel di sakunya yang kemudian ia mencari kontak seseorang. Benar, orang yang diteleponnya ialah Bian.


Flashback Off.


Author Pov


Aira dan Henna diijinkan untuk menemui Rida sebelum mereka dipisahkan oleh jeruji besi. Meski begitu, Aira haruslah tetap waspada mengingat Rida yang masih memendam emosi dengannya.


Kini mereka duduk berhadapan namun dengan kaca sebagai pembatas mereka. Keadaan Rida cukup memprihatinkan. Wajahnya pucat tidak ceria seperti Rida biasanya. Matanya sayu, tubuhnya semakin kurus, kuncir rambut yang asal-asalan, serta senyuman yang tidak terlihat.


Aira juga Henna memandangnya penuh simpati. Sementara Rida memandang Aira penuh dendam.


"Ridaa" panggilan lembut dari Aira.


"Nggausah panggil namaku pake mulut kotormu itu!"


"Rida?!" tegur Henna.


"Aku ngerti. Kamu emang marah sama aku. Karena itu aku minta maaf"


"Aku minta maaf atas segala yang terjadi karena aku" Aira tidak bisa menahan air matanya. Isakannya mulai terdengar.


"Aira, kamu apaansi?! Bukan kamu yang salah!" -Henna.


"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Soal Bian, hubungan kalian, dan atas kematian orang tua kamu. Aku bener-bener minta maaf"


"Aira! Udah!" Henna tidak ingin Aira menyalahkan diri sendiri yang mana jelas itu bukan salah Aira.


"Ini semua memang kesalahan aku. Aku bakal ngelakuin apa aja biar kamu maafin aku. Apapun itu, ya?" Aira memohon.


"Udah bacotnya?" -Rida.


"Pergi!"


Aira tak henti-hentinya meminta maaf pada Rida walau Rida tidak peduli bahkan jika Aira sampai berguling-guling dihadapannya Rida benar-benar tidak peduli.


"Aira, udah. Kita pulang ya. Stop nyalahin diri kamu sendiri. Kamu nggak salah, kamu nggak ada sangkutannya. Jadi udah ya?" Henna mulai mengkhawatirkan Aira jikalau Aira sampai melukai dirinya karena ini.


"Aku minta maaf Rida" Aira menyatukan kedua telapak tangannya memohon.


"Airaa, ihik, udaaah, hiks. Dibilang udah, ya udaaaah. Ayo kita pulaaaang" Henna pun tidak bisa menahan tangisnya. Tangis karena sahabatnya harus dikurung dalam jeruji besi, juga tangis untuk sahabatnya yang terus memohon meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia perbuat.


Henna mengajak Aira agar segera pergi dari sana. Namun sebelum itu, Henna sempat mengatakan sesuatu pada Rida.


"Rida"


"Kita emang kecewa sama kamu"


"Tapi, kalau kamu masih butuh sahabat, kita masih ada kok" ucap Henna sembari menangis. Sementara Aira menganggukkan kepala menyetujui ucapan Henna.


"Kita bakal lupain ini sama-sama. Kita mulai dari awal lagi. Hanya kita bertiga, nggak ada yang lain. Nginep bareng, karaoke bareng, nonton film bareng, ketawa bareng, sedih bareng, seeeemuanya. Oke?"


"Bahkan kalau kamu mau, kita bisa kok berdiri didepan pagar nungguin kamu keluar dari sini. Kita pasti seneng. Karena orang pertama yang kamu lihat begitu bebas itu kita"


"Kita pulang dulu ya. Lain kali kita dateng lagi buat jengukin kamu"


"Selamat tinggal. Jumpa lagi di beberapa tahun kedepan. Kita pergi dulu ya"


Aira Pov


Aku berpisah dengan Henna didepan lapas. Kita memutuskan untuk memesan taksi yang berbeda karena arah rumah kita yang berbeda juga. Tak lupa, ucapan selamat tinggal dan kata-kata saling menguatkan. Henna sempat mengusap air mataku, begitu juga denganku. Lalu kami benar-benar terpisah karena taksi yang ia pesan sudah datang. Henna melambaikan tangannya padaku lalu menjauh.


Giliran taksi pesananku yang datang. Begitu masuk, aku terus melamun. Sepanjang perjalanan aku melamun. Masih tidak percaya dan tidak menyangka ini terjadi. Ini seolah hadiah kejutan yang tidak pernah aku inginkan. Sampai saat ini pun, aku masih terdiam termenung di rumah pohon. Memikirkan bagaimana keadaan Rida di dalam sana.


Henna Pov


Hari ini sangatlah berat. Aku benar-benar tidak menyangka sahabat yang aku kenal selama dua tahun itu ternyata menyimpan banyak hal. Aku merasa telah gagal menjadi sahabatnya yang mengerti segala keadaannya. Aku kira, aku telah mengetahui semua tentangnya. Kebiasaannya, kesukaannya, kepribadiannya, dan yang lainnya. Tapi ternyata, semua yang ia tunjukkan padaku itu tidak nyata. Ia seolah menciptakan karakter sendiri didepan orang-orang lain, didepanku contohnya.


Dia sangat manis, ceria, menggemaskan, walau kadang juga menyebalkan. Aku mengenalnya yang tumbuh dengan keluarga yang baik dan harmonis. Dia selalu bercerita tentang bagaimana ia mendapatkan perlakuan manis oleh kedua orangtuanya, orang tuanya bekerja apa, dan segala hal. Dengan polosnya aku memercayai itu karena cara bicaranya yang manis. Rupanya aku terbuai oleh sikap manisnya.


Tapi bagaimanapun, aku sudah terlanjur mematok bahwa dia sahabatku. Sedih campur kecewa. Seperti kecewa dengan saudara kandung. Semalam sebelum tidur aku berdoa bahwa besok menjadi hari yang baik dari sebelumnya. Tapi ternyata, begitu aku membuka mata dengan senyuman dan sapaan sinar mentari, aku diterpa kabar itu. Itu terjadi secara tiba-tiba. Bahkan aku juga tidak mengerti tanda-tanda akan terjadi seperti ini.


Author Pov


Disaat Aira sedang asyik menikmati angin sepoi-sepoi dari rumah pohon, ia mendapatkan panggilan.


"Bian"


"Halo?" jawab Aira dengan lesu.

__ADS_1


"Apa kabar?"


"Kamu pasti sedih ya karena mendengar itu?"


"Hmmm"


"Daripada begitu terus, kita ketemu aja yuk. Aku udah ada di cafe yang nggak jauh dari rumah kamu"


"Nggak aja deh, aku lagi ngg-"


"Sebentar aja, ya?"


"Hmmmm"


"Ayolaaaah"


"Ck! Iya iyaaaa" Aira pasrah.


Aira memakai jaketnya dan berpamitan pada ayahnya. Karena ia sedang malas mengayuh sepeda, jadilah Aira yang naik taksi online. Sesampainya disana, ia melihat mobil Bian yang terparkir didepan cafe. Ia pun langsung masuk dan mencari keberadaan Bian.


"Ada apa? Biasanya juga langsung muncul depan rumah!" gerutu Aira ketika menemukan Bian.


"Aku cuma pengen ngomong berdua. Kalau dirumah kamu nanti ayahmu denger"


"Ngomong apa?"


Bian masih terdiam seolah ragu untuk mengatakannya.


"Cepetan!" -Aira.


"Malem lusa kemarin, kamu nggak ngapa-ngapain kan?" nada Bian mengintimidasi.


"Malem lusa kemarin? Malem waktu kamu mabuk di rumah aku?"


Bian mengangguk.


"Habis nyuci piring, aku balik ke kamar. Eh taunya lihat kamu tidur dengan posisi yang salah, ya aku benerin deh posisi kamu. Habis itu udah, aku tidur di kamar tamu" jelas Aira berusaha meyakinkan.


"Yakin?"


"Hatta bilang, kemarin aku ada whatsappan sama dia. Tapi aku nggak ngerasa buka hape waktu itu"


Aira mulai gugup dan panik menjawab apa. Karena Aira merasa Bian sudah mulai curiga padanya.


"Uhmmmm, kamu udah dengar berita hari ini kan?" Aira mengalihkan pembicaraan.


"Udah jenguk dia?"


"Kamu nggak lagi ngalihin pembicaraan kan?" -Bian.


"Ngalihin pembicaraan soal apa?" -Aira.


"Soal kamu datang ke gudang"


Deg! Tiba saja jantung Aira berdetak cepat. Bian mengatakan itu dengan tiba-tiba dan cukup mengejutkan Aira.


"Gudang? Gudang apa yang kamu maksud?" -Aira.


"Kamu ke gudang kan malam itu?" -Bian.


"Gu..gudang apa? Ng..nggak!"


"Kamu bisa hapus semua pesan di handphone aku. Tapi kamu nggak bisa hapus pesan yang ada di handphone Hatta"


"Aku udah lihat semua disana"


"Lihat bagaimana caranya kamu menjadi aku yang minta lokasi gudang itu"


"Hatta juga udah cerita"


"Kalau ada orang yang menyusup ke gudang tapi nggak bisa menangkap orang itu"


"Hoodie hitam, celana training, topi berwarna mocca. Itu ciri-ciri yang disebut Hatta"


"Dan aku melihat itu semua ada di kamar yang kamu pakai kemarin"


Deg!


Jantung Aira semakin menjadi-jadi. Berdetak kencang tak karuan. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi karena bukti sudah jelas.


"Ak....akuu...."


"Udah, ngomong aja apa adanya. Aku nggak bakal ngapa-ngapain"


"Aku..."


"Iya kan? Bener kan?" Bian semakin mendekatkan wajahnya ke Aira memojokkan Aira.


Aira mengangguk pelan mengiyakan.


"Oke, nggapapa. Aku nggak akan marah"


"Tapi kamu mau nggak mereka tahu?"


"Nggak kan?"


"Kalau begitu, gimana kalau biar mereka nggak tahu, kamu sama aku. Kamu jadi milik aku, hm?"


"Ng....nggak bisa. Aku nggak bisa" tolak Aira.


"Kenapa? Aku bakal tutup mulut rapat-rapat kalau kamu mau pacaran sama aku Airaaa" Bian terus membujuk.


"Nggak, aku bener-bener nggak bisa"


"Soal Rida lagi?"


Aira mengangguk pelan.


"ARRRGGGHHHHH!" Bian yang kehilangan kesabaran itu menggebrak meja mengejutkan pengunjung cafe yang lain. Banyak pasang mata yang melihatnya namun tak dihiraukannya.


"Ayo kita pulang!" Bian menarik tangan Aira paksa dari cafe hingga masuk kedalam mobilnya.


"Sakit Bian!"


"Masuk!" -Bian.


Bian yang terlanjur marah itu menginjak gas mobil dengan kecepatan tinggi. Pada jarak beberapa meter dari cafe, Bian menghentikan laju mobilnya di bahu jalan yang sepi pengendara dengan amarah yang masih belum mereda. Nafasnya terengah-engah saking kesalnya. Sementara Aira mulai ketakutan karena ini mengingatkannya dengan Tama.


"Sekarang jawab sekali lagi. Kenapa kamu nolak permintaan aku?!"


Aira terdiam.


"Aku kurang apa, bilang?!"


"Apa kamu mau jawaban dari kasus Sinta itu, IYA?!"


"HAH?!"


"MAU KAN?!"


"Oke, aku bakal kasih tahu jawabannya kalau memang itu mau kamu. Tapi begitu kamu dengar jawaban dari mulut aku, saat itu juga kamu jadi milik aku, NGERTI?!"


"HAH?! NGERTI KAN?!"


Belum juga Bian mengatakan jawabannya, Aira sudah menutup telinganya terlebih dahulu karena perkataan Bian yang mana jika Aira mendengar jawaban itu Aira harus menjadi miliknya. Aira tidak menginginkan itu, makadariitu Aira memilih menutup telinga dan tidak mendengarnya.


"DENGAR BAIK-BAIK AIRA!"


"NGGAK, AKU NGGAKMAU DENGER!" -Aira.


"AKU PELAKUNYA!!!"

__ADS_1


"AKU YANG MELAKUKANNYA!!"


"AKU AIRAAA, AKUUUUU!"


__ADS_2