
"Aira?!"
Aira mendengar suara lain yang memanggil namanya itu langsung mendongakkan kepala keatas dengan mata yang sembab.
"Tama kamu gila ya?!" Elang memarahi Tama.
"Berarti semalaman dia udah ada disini?!"
"Kak, kak tolong aku. Tolong lepasin aku kakk, aku pengen pulaaaang, hiks...hiks..." sebisa mungkin Aira menghampiri tempat berdirinya Elang.
"Tolong kak. Aira mau pulaaang, hiks..hiks.." Aira berlutut memohon-mohon pada Elang.
Elang hanya menatap ke Aira sebentar, lalu melempar tatapannya ke Tama mengisyaratkan tanda tanya. Tama hanya menatap sinis kearah Elang, membalas isyarat tanyanya seolah mengatakan "Nggak"
"Hufffhhh...." Elang menghela nafas kasar.
"Aku nggak ada urusan ya" ucap Elang pada Tama.
Mendengar itu, Aira tahu jika ia tidak ada kesempatan untuk keluar hari ini. Ia semakin memohon-mohon minta tolong pada Elang sampai tangisannya semakin kencang.
"KAK?? KAK?! TOLONG!"
Brak!
Elang malah mengunci pintu kembali, meninggalkan Aira yang sudah memohon-mohon padanya.
"Kamu se-tergila-gila itu sama Aira?" tanya Elang serius yang dijawab hanya dengan menaikkan bahu dan alis.
"Aku nggak ada urusan ya"
"Emang aku minta bantuanmu?" jawab Tama.
"Terserah kamu deh Tam. Aku bener-bener nggak ikutan kali ini"
"Terus kalo ayah Aira lapor polisi gimana?"
"Apalagi kita juga ada cewek sialan itu. Pasti polisi makin cepat curiga" -Elang.
Tama yang bodo amat itu hanya meniup asap rokok yang baru ia nyalakan.
"Arrrghhhhh! Terserah deh!" Elang pergi setelah meletakkan cangkir kopinya diatas meja dengan kasar.
Tama terus menghisap rokoknya disaat Elang pergi karena tidak terlalu mempedulikannya. Sesaat setelah itu, Tama kembali lagi ke ruangan tempat Aira berada bersama dengan batang rokok yang diapit oleh jari-jarinya tentunya.
"Huufffhhhh...." menghembuskan asap rokok.
"Belum abis juga?!" ucapnya datar.
"Daritadi ngapain aja?!"
"Aku nggak mau makan, aku cuma mau pulaaaang. Hiks" Aira masih dengan tangisannya.
"Airaaaa ini tu rumah kamu sekarang. Kamu nggak perlu pulang lagiii, ini rumah kamu, ngerti?!"
"INI RUMAH KAMU!" Tama mencengkeram pipi Aira.
"Hiks....hiks...hiks..." tatapan mata Aira sangat menyedihkan.
"Aduhhh, jangan nangis dong. Udah nangisnya, ya? Kita kan mau pergi senang-senang"
"Nggak! Aku nggakmau!" bantah Aira.
"Aku nggak minta persetujuan kamu"
"Aku cuma ngomong aja, nggak perlu persetujuan. Jadi mau kamu bilang mau apa nggak, bukan penghalang" kata Tama lalu pergi.
Tunggu, kalo beneran ke pantai, disana kan banyak orang. Aku kan bisa minta tolong sama mereka. Oke aku akan menurutinya kali ini karena aku yakin hari ini aku bisa keluar. Ya Tuhaaan, bantu aku!, batin Aira.
Tama datang dengan membawa sebuah tas dan langsung melepas ikatan tangan dan kaki Aira. Yang kemudian melempar tas itu ke lantai.
"5 menit harus udah selesai!" katanya lalu pergi.
"Hiiihhhhhh.....! Ya Tuhan, Kenapa aku kenal diaaa?!"
"Apa aku ini berdosa banget sampe aku nggakbisa tahu dia yang sebenarnya sebelum aku terjebak disini? Arrrggghhh!" Aira mengacak-acak rambutnya kesal.
5 menit tidaklah cukup untuk Aira. Karenanya, Tama yang terlanjur mematok jika 5 menit harus selesai, langsung menghampiri Aira yang masih berusaha mengenakan antingnya. Tama langsung menyeret Aira kasar hingga Aira kehilangan keseimbangannya karena memakai sepatu hak yang cukup tinggi untuk ukuran dirinya.
"Tam! Pelan-pelan! Sakit!" keluhnya.
Tama malah semakin menarik Aira agar cepat-cepat bergerak tidak peduli dengan keluhan Aira.
Bahkan selama perjalanan, tangan Aira terus digenggam olehnya sembari memegang tuas mobil. Aira semakin tersiksa karena itu. Benar-benar tidak nyaman. Ini hanya menguntungkan sebelah pihak. Aira pun tidak berhenti berdoa agar rencana kaburnya berhasil.
Ditengah perjalanan, Tama membelokkan setirmya ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar karena perjalanan masih jauh dan bensinnya tinggal separuh. Di pom bensin, Aira tetap tidak bisa keluar karena mobil yang Tama kunci. Aira pasrah karena itu. Tapi disaat itulah, Aira bertemu dengan seorang pria yang sedang mengisikan bensinnya di bagian seberang. Pria itu terlihat membawa banyak barang didalam mobilnya. Tapi, pria itu sendirian. Tidak ada orang lain didalam mobilnya kecuali barang bawaannya yang sangat banyak untuk satu orang. Awalnya Aira menatap kearah pria itu biasa saja karena memang tidak ada yang istimewa.
Namun, lain dengan pandangan pria itu. Pria yang sedang menunggu tangkinya terisi penuh didalam mobilnya itu menangkap Aira yang sedang menatapnya dengan tatapan berbeda. Tatapan sedih, cemas, dan juga takut. Tidak ada tatapan bahagia dalam matanya. Pria itu sedikit merasakan ada yang berbeda, ada yang tidak benar. Namun, tidak terlalu memikirkannya. Tatapan Aira masih sama bahkan sampai pria itu memperhatikannya. Ya, Aira dan pria itu saling tatap seolah sedang berusaha memahami kode tatapan masing-masing. Pria itu menatap bingung apa yang terjadi. Sementara Aira menatap penuh kesedihan.
Sampai suatu ketika Tama kembali masuk kedalam mobil dan membuyarkan tatapan Aira. Aira langsung menundukkan kepalanya dan wajah sedihnya semakin jelas. Pria itu mulai yakin jika Aira benar-benar sedang sedih.
Oh, mungkin dia lagi berantem sama pacarmya itu, batin pria itu.
Tama melanjutkan perjalanannya. Ekspektasi Aira, ia akan dibawa ke restoran pinggir pantai atau sekedar ke pantai yang dikerumuni banyak orang. Nyatanya, Aira menginjakkan kaki di sebuah villa. Aira semakin cemas karena bisa saja hari ini dia tidak bisa bebas.
Di balkon villa yang menghadap pantai, sudah ada meja dan kursi yang ditata rapi bahkan ada lilin-lilin dan beberapa bunga untuk menghias meja itu seolah sudah dipersiapkan dengan matang entah siapa yang menyiapkan itu. Tama menyeret Aira agar duduk di kursi yang disediakan.
Makan siang yang dinantikan oleh Tama. Berarti mematikan bagi Aira. Aira hampir tidak ingin memakan semua yang disajikan diatas meja. Ia hanya menundukkan kepala.
"Ayo sayang, dimakan. Ini makan siang spesial loh!"
"Apalagi tadi kamu nggak sarapan kan?"
Aira hanya diam.
"Hufffhhhh...."
"Airaaaa?"
Perlahan-lahan Aira mengangkat sendoknya dan memakan makanannya dengan menahan tangis. Makanan enak pun tidak terasa di lidahnya karena saking takutnya ia tidak bisa terbebas dari ini.
"Nah gitu dong. Aku nggak akan kasar kalo kamu nurut"
"Enak kan?"
Tak berapa lama, mereka menyudahi makan siang. Tama pergi sebentar untuk mengambil minuman alkohol ditempat penyimpanannya, sementara Aira masih ada dibalkon melihat pemandangan pantai darisana dengan perasaan gelisah. Rasanya ingin melompat dari balkon agar bisa bebas.
"Sayang?"
"Ngapain bengong disitu?"
"Sini"
Aira menurut. Ia mulai berbalik arah menghampiri Tama. Tapi sebelum itu, Aira menjumpai seseorang yang ada di balkon seberang, tepatnya balkon rumah sebelah. Orang itu juga sedang menikmati pemandangan pantai sendirian. Saat Aira menoleh kearahnya, Aira tersadar. Dia tidak asing. Aira baru menemuinya tadi di pom bensin.
Aira sedikit membungkukkan badan untuk menyapa orang itu. Dia pun membalasnya.
Sepertinya dia butuh bantuan, batin pria itu.
Ting tong!
Suara bel berbunyi.
"Biar aku yang bukain" kata Aira.
Namun tangan Aira ditahan oleh Tama.
"Nggak usah! Biar aku aja! Kamu masuk ke kamar"
"Ta...tapi?"
"Ck!" tatapan tajam.
"I...iyaaa" berjalan pelan menuju kamar.
Tama membukakan pintu. Rupanya pria rumah sebelah datang berkunjung membawa sepiring makanan.
"Iyaa, siapa ya?" sambut Tama.
__ADS_1
"Halo, selamat siang. Saya Raka, tetangga baru. Baru pindah hari ini. Ini ada sedikit makanan sebagai syukuran acara pindahannya lancar" kata pria itu.
"Oohhh, begitu. Terimakasih. Ayo mampir dulu mas, kita ngopi bareng"
"Boleh mas?"
"Boleh dong mas. Ayo silahkan masuk!" -Tama.
"Kalau boleh tahu mas asli mana?" -Tama.
"Saya asli Jawa Tengah mas. Pindah kesini karena kerjaan. Merantau saya mas, hehe"
"Ooo begitu. Sebentar ya mas, saya buatkan kopinya dulu"
Tama beranjak dari duduknya, menghampiri kamar yang ditempati Aira.
"Buatkan kopi, ada tetangga baru yang bertamu"
"I....iyaaa"
"Awas! Jangan sampe bertingkah apalagi ngomong macem-macem! Kalo sampe macem-macem, bukan dia aja yang bahaya. Kamu juga!"
Aira mengangguk.
Aira pergi ke dapur untuk menyeduhkan kopi. Keberadaan kamar serta ruang tamu yang hampir berdekatan itu membuat Aira bertemu tetangga baru yang duduk diruang tamu sebelum ke dapur. Aira menyapa sebentar dengan membungkukkan badannya lalu permisi pergi.
"Itu istri-nya mas?" -Raka.
"Masih calon mas, hehe. Doain aja semoga cepet nikah, hehehe" jawab Tama.
"Oooh, begitu. Amiiin maas saya doakan"
"Mas, saya boleh numpah ke toilet nggak?"
"Boleh, boleh mas. Mas tinggal lurus nanti belok kanan, toiletnya samping dapur mas"
"Baik mas. Saya permisi ya mas"
"Iya silahkan"
Pria itu bertemu dengan Aira didapur. Mengucapkan permisi pada Aira untuk menggunakan toilet.
"Permisi mbak. Saya mau numpang ke toilet"
"Iya silahkan mas" kata Aira.
Selesai nya dari toilet. Pria itu memberanikan diri untuk mendekati Aira mengajaknya berbincang sedikit.
"Permisi mbak" memanggil Aira yang sudah siap mengantarkan kopi.
"Ah, iyaa"
"Perkenalkan saya Raka, tetangga baru"
"Oh, iyaa" Aira hanya merespon singkat
"Maaf mbak kalo saya lancang. Tapi, mbak nggak papa kan?"
Pertanyaan itu membuat Aira menaruh sedikit harapan pada pria bernama Raka itu untuk membantunya keluar. Tapi, disisi lain Aira teringat dengan ancaman Tama. Aira bimbang, bagaimana ini. Tapi Aira ingin bebas.
"Uhmmmm, nggak papa kok mas. Saya permisi ya" Aira hendak berjalan ke ruang tamu lebih dulu.
"Tunggu mbak!" Raka memegang tangan Aira. Disana terlihat jelas jika ada bekas ikatan melingkar di kedua tangan dan kaki Aira. Raka melihat itu semua. Dan semakin yakin jika Aira memang membutuhkan bantuan.
"Cerita sama saya, saya akan bantu mbak"
"Maaf mas" Aira mulai tidak nyaman dan tidak enak jika harus melibatkan orang asing dalam masalahnya.
Saat Aira mengambil langkah lagi, ia dikejutkan dengan Tama yang sudah berdiri dalam radius 10 meter dari mereka berdiri. Aira semakin takut, tangannya gemetar hingga kopi yang ia bawa bergoyang dan sedikit tumpah. Aira berusaha melewatinya dengan biasa saja. Tapi rupanya sulit.
"Ayo mas, kita ngopi didepan" Tama dengan senyum palsunya.
"Iya mas" Raka khawatir jikalau Tama mengetahui apa yang ia bicarakan dengan Aira tadi.
Tatapan Tama tajam ketika Raka berjalan melewatinya.
Set!
Sekali lagi Raka menggenggam tangan Aira.
"Mbak, percaya sama saya!" kata Raka meyakinkan.
"Sa...sayaa..." Aira gugup.
"Nggakpapa cerita aja"
"Sa..saya nggakbisa!" Aira menghempaskan tangan Raka lalu melangkah cepat pergi.
Tiba saja,
Deg!
Tama berdiri didepan kamar mengarah ke ruang tamu dengan membawa palu ditangannya. Tatapan iblisnya pun terlihat menakutkan. Aira takut dan cemas jika hal ini terjadi dihadapannya lagi. Lantas, ia berlari kearah Tama berniat mencegah hal itu terjadi.
"Tam, Tama jangan. Jangan lagi" Aira menggenggan kedua tangan Tama agar Tama tidak mengayunkan palu itu.
Set! Buk!
Aira terlelempar hingga punggungnya menabrak tembok, serta baki yang ia bawa terjatuh dilantai.
Tap!
Tap!
Tap!
Hap!
BUG!
AARRRKKKHHH!
"TAMAAAAAAA?!!" Aira histeris ketika palu itu menghantam kepala Raka sekali.
Tama mulai mengayunkan palunya yang kedua kali. Dengan segera Aira cegah, berlari mendekat dan menggenggam tangan Tama sekuat tenaga. Sementara Raka terus merintih kesakitan dan darah sudah mengalir dari kepalanya.
"Tama udah. Dia nggak salah!"
Tetap saja kekuatan Aira tak sebanding dengan Tama.
BUG! PRANG!
Vas bunga dipukulnya ke kepala Tama sebagai bentuk perlawanan dari Raka.
"Arrrkhhhhh...." rintih Tama.
"Ow, mau berperang?" tantang Tama.
"Udah! Tama! Raka! Berhenti!" Aira berdiri diantar mereka sebagai pemisah. Yang membuat Aira semakin takut ialah, Tama yang melangkah semakin dekat dengannya sembari menggenggam palu erat bersiap hendak memukul kepalanya. Aira menyembunyikan kepalanya dibalik lengannya yang tak seberapa dibanding lengan Tama.
BUG!
CRUATTTT!!
Darah menetes di wajah dan leher Aira bagian kiri. Aira tidak merasakan sakit, hanya merasakan cipratan darah yang mengenai hampir separuh tubuhnya. Yang kemudian Aira menoleh kebelakangnya,
CRUAAAATTTTT!!!!
Darah itu kembali mengenai tubuhnya bahkan hampir seluruh wajahnya. Itu sangat mengerikan. Aira melihat palu yang diayunkan, darah yang muncrat kemana-mana hingga melihat bagaimana kepala itu hancur. Aira menangis serta berteriak histeris.
"AAARRRRGHHHHHHH!!! HUAAAAAAA!!!!"
Aira tak kuasa lagi melihatnya. Ia berjalan mundur dengan kaki yang gemetar. Ia takut jika setelah ini gilirannya. Aira berlari mencari tempat persembunyian.
Aira menemukan gudang yang terdapat banyak barang bekas disana. Aira memilih satu almari kayu yang tampaknya cocok untuk tempat persembunyiannya.
"Hmmmmmmm" Tama mengendus serta menikmati bau darah kesukaannya.
__ADS_1
"Hahhhhhh. Enak sekali" gumamnya.
Tama selesai dengan urusannya. Raka, pria itu sudah tak bernyawa lagi. Kepalanya sudah tak terbentuk lagi. Darahnya berceceran ke lantai bahkan muncrat di segala arah. Dari sinilah Tama menyadari jika Aira tidak ada disampingnya. Dengan palu berdarah yang masih ada digenggamannya, ia berjalan mencari Aira.
"Airaaaaa?" berjalan perlahan.
"Kamu dimana sayaaang?"
"Aakhhhhssss....." sesekali ia merintih karena kepalanya yang terluka.
"Airaaaaaaa?"
"Kepalaku terluka. Obati lukaku"
"Kamu suka kan mengobati lukaku?"
"Kalo aku terluka juga pasti kamu yang mengobati"
"Sekarang aku terluka Airaaa. Kemarilah, obati lukaku"
"Kalau kamu yang mengobati pasti cepat sembuh"
"Aiiiiiraaaaaaa"
Sreeeeekkkkkk!!!!
Tama meninggalkan jejak palu berdarahnya di dinding menimbulkan suara yang mengiris.
"AIRAAAAAAA!"
"Keluar Airaaaa!"
"Apa kamu nggak dengar?! Aku terluka! Kepalaku sakit!"
"Aarrggghh! Darahku banyak!"
"Huuuuhhhhmmmmmmm" Aira menangis, namun mulutnya dibungkam oleh tangannya sendiri karena takut ketahuan oleh Tama.
"Airaaaaaa? Kamu disini ya?" Tama menjumpai almari yang sekiranya cukup untuk Aira sembunyi.
BRAKKK!!
Tama merusak almari itu dengan palu hingga berlubang. Tidak ada tanda-tanda Aira dalam almari itu. Ia melanjutkan perjalanannya mencari Aira.
"Airaaaaa?"
"Sayangkuuuuu?"
"Cintakuuuuuu?"
Brakkk!!
Prang!
Pyarrr!
Bug!
Tama benar-benar menghancurkan barang-barang yang ada disekitarnya sebagai pelampiasan kekesalannya tidak kunjung menemukan Aira.
Hingga suatu saat Tama menemukan sesuatu ketika melewati suatu ruangan. Tama hampir melewatkannya. Disaat melewati ruangan itu, ada sesuatu yang membuatnya berbalik melangkah mundur untuk memastikan sesuatu itu.
Begitu didekati, Tama semakin yakin dan senyumannya semakin lebar. Bahkan tawanya nyaring ketika menemukan gagang pintu yang terdapat noda darah disana.
Ah sial! Berarti Aira telah meninggalkan jejaknya. Aira akan dalam bahaya!
"Wuahhhahahhaha!" tertawa lirih namun mengerikan.
"Aiiiraaaaaaaaaa, hahahaha"
Hah?! Dia semakin dekat?!, batin Aira.
Aira semakin merapatkan bungkaman mulutnya hingga menahan nafasnya sebisa mungkin.
"Dimana yaaaaa?"
Tap!
Tap!
Tap!
Semakin dekat dengan almari itu.
Bug!
Bug!
Bug!
Memperingatkan Aira jika ia sudah semakin dekat dengan memukul barang disekitarnya beberapa kali.
Aira yang semakin takut itu semakin meringkukkan badannya, berusaha menahan nafas dan isakan.
Brakkk!!
Almari satu tidak ada.
Brakk!!
Almari dua tidak ada.
Brakk!!
Memukul dan terus memukul. Hingga pada almari terakhir.
"Ahahahahaha!" Tama semakin yakin. Tertawa cekikian sembari memainkan lidahnya karena kali ini dia yang menang.
Ya Tuhaaaan. Semoga aja dia nggak tahu!, batin Aira.
"Fufufufuuuuuuu......fufufuuuuu" Tama bersiul sembari memainkan palunya.
"Udah apa belom?"
"Aku itung sampe sepuluh yaaa"
"Satu....."
"Duaa...."
"Tigaaa..."
"Empat..."
"Lima...."
"Enaaaam"
"Tujuuuh"
"Delapaaan"
"Sembilaaaan"
"Seeee....."
"Puuuu...."
"Luh!"
Tama membungkukkan badannya agar bisa menyamakan celah-celah almari kayu tua itu.
Jangan.... Plis.... Tolong... Jangan, batin Aira.
BAAAAAA!!
Tidak sengaja kedua mata Aira bertemu dengan mata Tama melalui celah-celah almari kayu itu. Membuat Aira membelalakkan matanya terkejut sekaligus takut semakin menjadi. Ingin teriak namun tidak bisa karena saking paniknya.
__ADS_1
"Aku menang! Ehehehehe!"