Strange School

Strange School
Hampir


__ADS_3

Asma POV


Dari hari pertama Aira dibawa ke gudang, aku memang mendengar suara kegaduhan di ruang sebelah. Namun aku masih belum tahu kalau ternyata Aira yang ia bawa, kupikir itu gadis lain. Karena jika dilihat-lihat, Tama ngejagain Aira dengan tulus dan nggak akan memperlakukan Aira seperti korbannya yang lain. Namun ternyata, obsesi yang mengubah segalanya. Tama telah termakan obsesi yang berlebihan untuk memiliki dan menjaga Aira terus. Terlebih, dengan masalah kejiwaan yang ia miliki.


Aku mulai tahu jika gadis yang ia bawa ternyata Aira adalah ketika Elang meneriakkan namanya. Waktu itu aku membaringkan tubuhku dikasur dengan tatapan yang menyedihkan seperti biasanya. Hingga tiba-tiba aku mendengar suara Elang meneriakkan nama Aira. Aku pun ikut terkejut. Sampai-sampai langsung mengubah posisiku duduk tegap di kasur nggak percaya. Apa benar Tama membawa Aira kesini? Apa benar Aira disekap juga?


Aku terus mendengar pembicaraan mereka. Dari Aira teriak minta tolong ke Elang, sampai Tama dan Elang yang ribut karena membawa Aira kesini. Aku bahkan melihat pertengkaran mereka melalui celah pintu.


Tak lama kemudian, aku melihat Tama menyeret gadis ruangan sebelah yang memakai dres cantik dan rapi. Saat aku mengintip keluar, benar saja. Gadis itu adalah Aira yang Tama dambakan. Bagaimana bisa Aira sampai kesini? Apa yang dilakukannya?


Beberapa saat kemudian setelah Tama pergi membawa Aira yang entah kemana, datanglah Hatta. Disini, hanya ada aku yang disekap seperti ini, juga Hatta.


Tak lama, kemudian ia menerima telepon entah dari siapa. Mungkin saja dari Tama ataupun Elang yang menyuruhnya bergegas mengerjakan sesuatu. Hatta pun langsung pergi begitu menutup teleponnya.


Tama pergi membawa Aira cukup lama. Hingga berjam-jam. Saat mendengar suara kedatangan seseorang, aku segera mendekati celah pintu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Tama dan Aira yang ada dibopongannya. Aira tak sadarkan diri. Wajahnya dan tubuhnya pun terdapat beberapa lebam. Apa iya Tama yang melakukan itu pada Aira?


Aku merasa kasihan pada Aira karena salah satu laki-laki yang ia percaya malah berbuat seperti itu. Tapi di sisi lain aku pun lega. Karena Aira sudah mengetahui sisi Tama yang sebenarnya sebelum Aira benar-benar tidak bisa lepas dari Tama.


Waktu berlalu. Hingga aku mendengar Tama pergi kembali, dan hanya ada Hatta yang menjaga. Aku menunggu momen saat Hatta ingin menyalakan rokoknya. Karena saat itulah, biasanya Hatta pergi keluar untuk merokok hingga beberapa batang. Aku terus memantau Hatta melalui celah pintu.


Dan, yap! Inilah saatnya.


Aku bergegas mengambil kursi kayu yang lumayan berat itu untuk kujadikan senjata membobol dinding yang untungnya tak terlalu kokoh ini.


Bruk!!


Bruk!!


Bruk!!


Terus memukul hingga dinding itu bercelah.


Brakk!!


Runtuhan dinding itu jatuh berserakan. Dan dinding itu berhasil kurusak hingga berlubang.


"Airaaaaaa" bisikku.


Aira POV


"Kam...kamu kokk?!"


"Ssssttttt! Jangan keras-keras" -Asma.


"Kamu kok bisa ada disini?!"


"Yang harusnya nanya itu aku!" -Asma.


"Berarti, kamu nggak masuk selama lima hari karena ini?!"


"Darimana kamu tahu aku nggak masuk lima hari?" -Asma.


"Aku nyariin kamu ke kelas. Kata temenmu kamu nggak masuk nggak ada keterangan udah lima hari!"


"Iyaaaa. Aku disini" -Asma.


"Sekarang, kita bisa kerjasama buat kabur dari sini. Kita harus pikirin cara. Aku juga nggakmau disini terus!"


Asma mengangguk cepat mengiyakan.


"Tapi gimana?"


Author POV


Suasana kembali hening. Asma berdiam diri di ruangannya, begitu juga dengan Aira yang juga hanya merenung meringkukkan badannya.


Suara langkahan kaki berasal dari anak tangga. Itu berarti ada yang datang. Begitu mendengar ada yang datang, Aira langsung bangun dan berusaha mendekati pintu.


Tok!


Tok!


Aira mengetuk pintu sebisa mungkin agar orang yang ada diluar bisa mendengarnya.


Tok!


Tok!


Aira melakukannya lagi.


"Ck!"


"Kenapa?!" tanya orang itu, Hatta.


"Pe...perutku sakit"


"Nyeri haid" ucap Aira.


"Ya terus?!"


"Toloooong. Sakit bangeeet. Shhhhh aaaawww!" Aira memegangi perutnya yang sakit itu.


"Kamu pura-pura kan?" -Hatta.


"Aarrrghhhh....ssshhh aawwww!" Aira terus merintih karena merasakan sakit yang luar biasa. Wajahnya pun sedikit pucat.


Hatta yang meragukan Aira itu langsung mengambil kunci dan membuka ruangan Aira berada. Ternyata sungguhan. Aira meringkukkan badannya di belakang pintu sembari terus merintih kesakitan. Hatta juga melihat wajah Aira yang pucat. Hatta menjadi panik karena jika Aira kenapa-napa, Hatta pasti akan kena juga dengan Tama.


"Arrrggghhhh! Terus aku harus gimana?!" Hatta mengacak rambutnya kebingungan.


"Tunggu bentar!" Hatta keluar dari ruangan Asma untuk membuatkan air hangat agar bisa mengompres perut Aira agar bisa mengurangi rasa sakitnya.


Saking paniknya, Hatta tidak mengunci kembali pintu ruangan Aira. Hatta meninggalkannya begitu saja dengan kunci yang masih menyangkut di pintu.

__ADS_1


Perlahan, Aira berdiri dari posisinya. Cukup sulit memang. Terlebih, telapak kakinya sakit karena pukulan palu itu. Tapi Aira tetap berusaha berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Tap!


Tap!


Tap!


Aira berhasil berdiri didepan ruangan itu. Aira berhasil keluar dari ruangan itu. Menolah ke kanan dan ke kiri mencari apa saja yang bisa ia gunakan untuk senjata. Dari jarak beberapa senti dari tempatnya, Aira melihat ada bangku kayu kecil yang bisa ia jadikan senjata.


Tap!


Tap!


Tap!


Aira mulai dekat dengan tempat berdirinya Hatta yang sedang membelakanginya.


HIYAKK!!!


BUG!!


BUG!!


ARRRGHHHHHH!!!


BUG!


Brukk!


Sekuat tenaga Aira memukul kepala Hatta berkali-kali dengan bangku kecil itu hingga Hatta tergeletak tak sadarkan diri.


"Hahh....hah...hah...!" Nafas Aira terengah-engah karena tenaganya yang terkuras.


Brukk!


Dijatuhkan begitu saja bangku kecil itu.


Set!


Meraih pisau di meja.


Srek!


Srek!


Srek!


Tes!


"Hah!" Aira lega karena pisau itu berhasil memutus tali di tangannya. Yang kemudian ia memutus tali yang ada di kakinya.


Aira terbebas dari ikatan itu. Akhirnya ia terbebas. Namun masih ada nyawa yang harus ia selamatkan. Terbersit dipikiran Aira jika ia harus mengambil ponsel milik Hatta. Karena bisa saja, begitu Hatta tersadar, Hatta menelepon Tama dan Bian. Selain itu, Aira juga bisa memanfaatkan ponsel Hatta itu untuk menelepon polisi, bukan?.


Sebisa mungkin Aira meraih kunci yang menyangkut di pintu ruangannya, lalu menuju ke pintu ruangan Asma untuk segera mengeluarkannya.


"Aarrrgghhhh!" terdengar rintihan lirih dari mulut Hatta.


Perlahan Hatta membuka mata, berkali-kali mengusap kepalanya yang sakit karena mendapatkan beberapa pukulan. Begitu terbangun, sudah melihat Aira yang sedang berusaha mencari-cari kunci yang cocok untuk ruangan Asma.


"Aaaaakkhhhh! Ternyata itu siasatmu yaa?" Hatta berdiri dengan sempoyongan karena kepalanya yang masih pusing.


"Jangan mendekat!" Aira menodongkan pisau yang ada ditangannya.


Karena tak cukup hanya dengan pisau, Aira kembali melangkah perlahan kearah bangku kayu itu berada agar bisa memukul kepalanya hingga ia benar-benar tak bisa bangun lagi.


Bug!


Bug!


Bug!


Tiga kali pukulan itu hanya mengenai lengannya karena Hatta yang cekatan melindungi kepalanya.


Set!


Bruk!!


Dengan cepat Hatta meraih tangan Aira hingga pisau yang Aira pegang terjatuh.


"Aarrghh!" rintih Aira.


Hatta berusaha merebut kembali kunci yang ada di tangan kiri Aira. Tentu saja Aira berusaha melindungi kunci-kunci itu dari Hatta. Sebisa mungkin ia menjauhkan tangannya dari Hatta.


"Asma!" dengan cermat Aira melemparkan kunci itu ke celah bawah pintu yang untungnya muat untuk mengantar kunci-kunci itu pada asma.


"Aarrggghhh!"


Plak!


Hatta yang kesal tak bisa merebut kunci dari Aira itu menampar Aira hingga pipinya memerah.


Bug!


Aira menendang bagian privasinya hingga berhasil membuatku berlutut kesakitan.


Set!


Srekk!


Aira tak mempedulikan pipinya yang memerah. Ia malah sibuk berusaha melempar pisau yang tergeletak dilantai dengan kakinya. Tentu saja melalui celah bawah pintu seperti kunci-kunci tadi.


Sreeet!

__ADS_1


Pisau itu sampai pada tempatnya. Asma segera mengambil pisau itu dan melepaskan ikatannya.


"STOP!!" dengan tegasnya Aira menyuruhnya berhenti ditempat.


"Berhenti disitu, atau aku akan telfon polisi sekarang" ancamnya, mengeluarkan ponsel Hatta dari sakunya.


Melihat ponsel yang ada ditangan Aira, membuat Hatta meraba-raba kantong jaketnya untuk memastikan jika itu memang ponsel miliknya.


"Ahhhsss Fu*k!!"


"Berani mendekat, satu langkah satu angka!"


"Begitu kamu melangkah, aku akan menekan satu angka untuk telfon polisi!" ancam Aira.


"Huuhhhh....." Hatta menghela nafas.


"Hahahaha" yang kemudian tertawa meremehkan.


"Oh yaaa? Apa benar begitu permainannya?"


"Hmmmmm. Okey"


"Aku nggak main-main!" Aira mulai membuka layar ponsel Hatta.


Hap!


"Satu langkah, hehehe"


Tut!


Aira benar menekan satu angka nomor polisi.


"Kamu yakin?"


"Setahuku, nomor polisi itu tiga angka ya? Tadi kamu udah tekan satu angka, iya kan?"


"Berarti, sisa dua lagi, aku benar kan? Hahahahaha"


"Aku aja nggak membutuhkan dua langkah lagi biar kamu bisa menelepon polisi. Lihat! Kakiku panjang. Satu langkah kakiku, itu dua langkah kakimu. Hahahaha!"


"Jadi, sebelum kamu menekan tombol hijau itu, aku duluan yang bisa menangkapmu"


Takut sebenarnya. Tangan Aira pun gemetar. Namun bagaimanapun, Aira harus menyingkirkan rasa takutnya itu agar bisa keluar dari sini.


Hap!


"Duaaa" nada Hatta seakan mengejek.


Tanpa menunggu langkahan selanjutnya, langsung saja Aira menekan dua angka sekaligus.


Tut!


Tombol hijau telah ditekan!


"Sial*n!" saat Hatta hendak mendekat kearah Aira, benda menghantam kepalanya keras.


JLEB!


Itulah dia. Asma yang terbebas dari ruangan itu menancapkan pisau yang telah memutuskan ikatannya itu ke lutut sebelah kanan Hatta agar ia tidak bisa berjalan.


AAAARRRRGGGGHHHHH!!!


Pisau itu tertancap disana. Bahkan tertancap kuat. Meskipun mendengar jeritan kesakitan Hatta, Aira tetap akan menelepon polisi. Sementara itu, Asma tetap memantau Hatta agar Hatta tidak bisa menjangkau Aira dan mencegahnya menelepon polisi.


"Halo?!"


"Halo pak polisi!"


"Pak, tolong kami pak!!"


Hatta yang merasakan sakit dikakinya itu tetap berusaha agar Aira tidak jadi menelelon polisi.


Hap!


Asma menginjak lutut kanan Hatta yang mana masih ditempati oleh sebilah pisau disana. Ia menjerit kesakitan karena itu.


"Apa yang terjadi?"


"Sebelumnya, tenangkan diri anda dulu. Lalu sebutkan nama anda dan ceritakan apa yang terjadi" kata polisi itu.


"Nam..nam..nama saya Aira. Sa...saya saat ini sedang diculik sama teman saya" saking paniknya Aira bicara dengan terbata-bata.


"Dimana lokasinya"


"Uhhmmmm, saya...."


AAARRRGGGHHH!


Hatta masih saja menjerit kesakitan


"Saya ada di... gudang yang ada di tengah hutan perbatasan kot-"


Set!


Tut!


Belum juga Aira menlanjutkan ucapannya, seseorang merebut ponsel dan memutus panggilan dengan polisi. Sontak membuat Aira menoleh kebelakang, siapa yang telah merebut ponsel itu darinya.


Tama,


dan juga,


Elang.

__ADS_1


Sudah ada dibelakangnya!


__ADS_2