
Suasana menjadi canggung semenjak Tama berkata demikian.
Hingga sampailah mereka berdua pada halaman rumah Tama yang disambut oleh satpam rumahnya dengan ramah.
"Loh, pak?" sapa Aira kepada satpam yang sudah ia kenal.
"Bapak ikut pindah kesini juga?" tanyanya.
"Eh, mbak Aira? Heheheh iya mbak. Lagipula, dirumah juga nggak ada orang mbak. Mbak kan tau sendiri kalau saya itu tinggal sendirian. Jadi ya, daripada dirumah dan nggak ada kerjaan, saya ikut deh dengan mas Tama" jelas pak Zainal, satpam Tama.
"Oh gitu, iya iya iya. Yaudah, saya masuk dulu ya pak" kata Aira.
"Iya, iya silahkan"
Krieeeet.....
Baru tiga detik Aira menginjakkan kakinya ke rumah Tama,
"Kamu tinggal sendiri?"
Tama mengangguk.
"Dirumah besar ini?!" Aira membelalak.
"Kita keatas ya" ajak Tama.
"Kemana?"
Krieeeet....
Tama membuka pintu ruangan.
Ruangan yang berukuran kurang lebih 6x5 meter itu mempunyai tempat tidur berukuran besar, dinding yang bercat abu-abu serta bergantung beberapa pigora foto, dan perlengkapan lainnya.
"Kamar kamu?" tanya Aira.
"Ya menurut kamu?" ucap Tama menaikkan alinya sebelah.
"Ehehehe" Aira cengengesan.
"Eh, aku numpang cuci muka boleh kan?"
"Ya masak nggak boleh"
"Mana kamar mandinya?" menerawangi kamar Tama.
Baru saja Tama melebarkan mulutnya untuk menjawab pertanyaan Aira, Aira terlebih dulu mendapat jawabannya.
"Oh, disana! Ehehe"
Melangkahlah Aira ke kamar mandi yang terdapat cermin sebesar dirinya pula.
Currrrrr......
Bunyi air yang mengalir.
Air yang mengalir dari kran itu ia tampung menggunakan telapak tangannya guna membasahi wajah.
"Ahhhhh.....segarnya" celoteh Aira begitu selesai mencuci mukanya.
Begitu Aira keluar dari kamar mandi, sudah tak nampak lagi adanya Tama. Hanya ada dirinya seorang yang sedang dikamar Tama. Karena situasi ini, Aira memanfaatkannya dengan membuka rak urutan pertama dari meja belajarnya.
Disana, Aira mendapatkan selembar foto wanita cantik berkebaya. Baru sedetik saja Aira memperhatikan wanita itu, Air langsung terkesima karena senyuman tipis yang ia pancarkan.
Tring....
Suara nada dering ponsel.
Lantas Aira cepat cepat mengecek pesan tersebut di ponselnya.
"Loh, bukan dari handphoneku" gerutu Aira.
Rupanya, nada dering itu berasal dari ponsel Tama yang digeletakkan begitu saja diatas tempat tidurnya, bersebelahan dengan tas ransel yang sempat ia lempar begitu saja.
"Siapa yang kirim pesan?" Aira penasaran.
Aira yang penasaran itu menyalakan layar ponsel Tama, namun apa daya ponsel itu terkunci dengan password.
"Yah....dikunci lagi" keluhnya.
Krieeeet.....
Tama datang, membawakan sekantong plastik berisi makanan dan minuman yang telah ia beli tadi.
"Eh, Tama?" Aira terkejut dengan kedatangan Tama.
"Kamu ngapain?" Tama yang tiba-tiba gugup karena mendapati Aira memegang ponselnya langsung merebut ponsel itu dari tangan Aira.
"Uhm...itu...tadi ada pesan masuk. Tapi aku nggak buka kok. Lagian kan kamu kunci" jelas Aira dengan terbata-bata.
Hampir aja ketahuan, batin Tama.
Tama langsung membuka layar, membuka kunci dan tentu saja membuka pesan yang baru ia terima. Begitu Tama membuka kunci ponselnya, sampailah ia pada layar beranda yang menampilkan wallpaper foto Aira dengan senyum cantik tentunya.
Oh, rupanya dia gugup saat Aira pegang ponselnya karena itu?
Pesan dari siapa nih?, alis Tama mengerut kebingungan.
"Tama!" panggil Aira menyadarkan Tama dari menatap layar ponsel.
"Eh...i...iya" jawab Tama gugup, terburu-buru memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Kok tiba-tiba kayak murung gitu?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Mikirin sesuatu ya?"
"Mikirin apa?"
"Tadi sms orang jahat ya?" tanya Aira bertubi-tubi.
"Ng..nggak sih. Kita makan aja yuk" kata Tama mengalihkan.
"Kamu mau nonton film apa?"
"Romantis? Horror?" tanya Tama yang sedang menyalakan televisi.
"Horror aja deh!"
"Alah.... Sok-sokan nonton horror. Paling juga takut. Sepanjang film merem kan pasti nanti" ejek Tama.
"Kamu ya kalau ngomong" bantah Aira.
"Apa, apa? Hah?" tantang Tama.
"Ya bener sih...mau gimana lagi" Aira menggaruk kepala yang tak gatal.
Tama hanya tersenyum gemas melihat tingkah Aira itu.
Mereka menghabiskan waktu dengan menonton film sembari menikmati menu makanan mereka. Sepanjang film, Aira yang baru saja menikmati satu gigit makanannya itu sudah dikejutkan dengan efek suara ketika si hantu muncul.
JENGJENG!!!!!!!
"Uaaaakkkhhhhh!!!!" jerit Aira yang secara reflek memeluk lengan Tama dalam keadaan sepotong ayam yang masih berada dalam mulutnya.
"Hahahahahahaha" tawa Tama ketika melihat tingkah Aira yang menggemaskan.
"Ketawa lagi. Seneng? Temennya jantungan seneng?!" Aira memukul lengan Tama.
"Ya lagian kamu, bwahahahaha" Tama tak dapat menahan tawanya karena Aira.
"Itu....hahaha....ayam masih ada didalam mulut gitu" lanjutnya.
"Salahin hantunya lahhh. Orang...nyam nyam nyam, lagi makan baru muncul, nyam...nyam...nyam.... Giliran udah siap-siap tutup mata,nyam...nyam... tutup telinga dianya gajadi muncul kan bikin kesel!! Nyam...nyam...nyam..." gerutu Aira yang masih sempatnya melahap makanan.
"HUWAAAAAAA!!!!" Tama menjahili Aira dengan mengeluarkan teriakan seraknya.
"WAAAAAAAAA!!!!!" Aira yang terkejut itu tidak sengaja menjatuhkan sepotong ayam ke lantai.
"Yah...yah...yah.... Jatoh....huaaaa...hiks...hiks..." Aira pura-pura menangis ketika kembali memungut ayam itu.
"TAMA KURANG AJAAAARRRRR!!!!!" Aira berteriak kencang tepat di telinga Tama saking kesalnya.
"Untung masih bersih, belum lima detik! Masih sah kalau dimakan!" celoteh Aira yang kembali menggigit ayam yang baru saja ia ambil dari lantai.
Ditengah-tengah jalannya film, makanan yang sudah habis, minuman yang tersisa cup plastik dan sedotan, kini tinggallah Aira yang sudah lemas sebab telah puas dengan kekenyangannya tertidur pulas menyender di tempat tidur Tama.
"Astaga nih anak. Mulut masih banyak saos yang belepotan udah tidur aja" celoteh Tama.
"Ra.....ra. Lagi tidur aja bikin aku deg-degan!" kata Tama lirih.
---
Malam telah datang. Namun Aira masih terlelap di rumah Tama. Sementara Tama tertidur di lantai. Sekitar pukul 23.45, Tama terbangun dari tidurnya seperti sengaja ia bangun di jam tersebut.
Melihat kondisi Aira yang masih tertidur di tempat tidurnya, Tama terbangun mengendap-endap agar tak mengganggu tidur Aira.
Tama pergi ke kamar mandi, mencuci muka bantalnya dan pergi untuk mengganti pakaiannya. Dengan pakaian yang serba gelap, Tama bersiap untuk pergi di jam tengah malam dan entah pergi kemana. Mulai dari celana, jaket, serta topi hitam ia gunakan.
Mau kemana Tama tengah malam begini?
Tama berjalan keluar seraya memainkan kunci mobilnya dan bersiul.
"Mbak Aira masih tidur?" tanya pak Zainal begitu Tama keluar.
"Iya. Nanti kalau dia kebangun nanyain aku, bilang aja lagi ngopi sama temen-temennya. Atau kalau dia minta pulang, tolong bapak bilang kalau nginep disini dulu aja, pulangnya besok"
"Iya mas"
Bruummm....
Tama menginjak gas mobilnya menjauh dari rumah.
Di suatu tempat yang minim pencahayaan lampu Tama menginjak remnya. Tempat yang memiliki halaman yang luas, dan berdiri bangunan yang tak begitu megah namun juga tak begitu buruk.
Dari sana terlihat berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hampir sama dengannya seperti sedang menunggu kehadirannya. Dihampirilah orang tersebut.
"Jadi kamu nggak kuat?" kata orang itu, yang belum terlihat jelas seperti apa wajahnya.
"Ya gimana, terlanjur keiket sama kesenangan ini" kata Tama.
"Haha, kamu nggak salah Tam!" kata orang itu.
"Tapi dia bagaimana?" tanya orang itu.
"Siapa?" Tama mengerutkan dahi.
"Adikmu?" timpalnya.
Ternyata, tidak lain dan tidak bukan, orang yang menunggu kehadiran Tama itu adalah Elang, saudara tiri Aira.
"Udah tahu?" tanya Elang dengan nada sedikit menggoda Tama.
"Haha, ya belum lah!"
"Hati-hati aja sama Bian, ya. Kamu tahu kan siasat dia dengan korbannya gimana?"
"Dari awal kan emang dia ngincar Aira" jawab Tama sembari menyulut rokoknya.
"Yuk masuk!" ajak Elang.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, terlihat dua pemuda yang merokok dalam bangunan yang belum dicat dan tak berlantai. Setelah dilihat lebih jelas lagi, ternyata dua pemuda itu ialah Bian dan Hatta.
Tunggu, Hatta?
Apa kalian ingat Hatta?
Ya, laki-laki yang pernah dilihat Aira ketika Aira di atap, sedang bersama Adiba siswi Elang Bangsa yang tewas menjadi korban pembunuhan. Laki-laki yang pernah bertemu dengan Aira di kamar mandi kantin waktu itu.
"Ehhhh, eh, eh, eh kapten bucin datang!" ucap Bian.
"Gimana bang? Katanya mau berhenti karena satu alasan penting. Tapi apa? Nggak bisa? Ahahahaha udah kubilang kan?" ejek Bian, berjalan perlahan mendekati Tama.
Huufffffhhhhhh......
Ditiuplah asap rokok itu mengenai wajah Bian.
"Hahah....hahahhahha" Bian tertawa mengejek.
"Hahhh....daripada lihat kalian berantem lagi, aku cabut dulu ah! Jam segini inceranku udah pulang!" ucap Hatta, beranjak dari tempat duduknya.
"Aku juga mau cabut, wanitaku sudah menunggu!" celoteh Bian yang hendak pergi meninggalkan tempat.
"Tam, sekarang dia dirumahmu kan? Hahah.." kata Bian, disertai tersenyum menyeringai.
Mendengar ucapan Bian, Tama langsung membelalkkan matanya dan mengejar Bian yang sudah memasuki mobilnya.
"SHIT!!!" umpat Tama, bergegas keluar.
"Woy! Jadi aku ditinggal sendiri nih?" teriak Elang yang diabaikan Tama.
"BIAN!!!!" panggil Tama pada Bian yang sudah menginjak gasnya.
"****!!!" umpatnya.
Brum....brum....
Tama segera mengejar Bian.
Tut....tut....tut....
Tama berusaha menghubungi pak Zainal agar bisa melindungi Aira namun tidak ada jawaban.
"Aarrgggghhh!!! Angkat dong pak! Giliran kayak gini nggak diangkat-angkat!!!!!" gerutu Tama.
Tin! Tin! Tin!
Tama terus membunyikan klaksonnya pada Bian agar ia menghentikan mobilnya.
Berbeda dengan Tama yang khawatir, Bian malah tertawa terbahak-bahak dalam situasi ini.
Bruak!!!
Tama sengaja menabrakkan mobilnya ke mobil Bian.
Tin! Tin! Tin!
Klakson terus berbunyi.
Ciiiiiiittt.....
Sampailah pada halaman rumah Tama. Benar saja, mobil Bian telah terpakir disana.
"Aira.... Aira... Aira...." bibir Tama terus memanggil namanya lirih.
Bruakkk!!!
Pintu kamarnya ia buka dengan kencang.
Kosong. Tak ada tanda-tanda Bian masuk kekamarnya. Hanya ada Aira yang masih tertidur pulas di tempat tidur. Lalu kemana Bian?
"Tama?" panggil Aira yang terbangun dari tidurnya.
"Hah.....hah....hufhhhh....hah...." nafas Tama benar-benar tak dapat diatur.
"Aira...." panggilnya, mendekati Aira.
"Kenapa?" tanyanya dengan polos.
Hap!
Tama langsung memeluk Aira sangat erat.
"Syukurlah...hah....hah....huhfffhhh...." gerutunya, dengan nafas yang masih terengah-engah.
Pelukan Tama semakin erat. Bahkan ia sempat membelai dan mencium kepala Aira. Tama benar-benar mengkhawatirkan perempuan yang ada didekapannya kini.
"Ada apa Tam?" tanya Aira dengan santainya ketika masih berada dipelukan Tama.
"Nggak...hah...nggak ada apa-apa...hah...." menggelengkan kepala dengan cepat.
"Udah, kamu tidur lagi ya. Udah malem, besok sekolah. Kamu tidur sini aja dulu"
"Kok kamu pakai jaket, mau kemana?"
"Nggak kemana-mana aku cuma disini. Udah, tidur lagi ya" belainya lembut.
Aira menggangguk mengerti.
Setelah memastikan Aira baik-baik saja, barulah Tama mencari keberadaan Bian yang telah mempermainkannya. Tama telah murka. Ia mencari Bian ke segala sudut rumahnya. Tak tahunya, Bian malah asyik bercanda gurau menikmati secangkir kopi di teras belakang rumah Tama bersama pak Zainal, selaku satpam di rumah Tama.
"Sialan!" gerutu Tama.
"Eh, Tama udah datang. Sini Tam, ngopi duku biar nggak tegang hahaha"
Dengan santainya ia menyeringai.
__ADS_1