Strange School

Strange School
Admin Laman Daring


__ADS_3

Aira Pov


"Ehhh, jalan*nya udah dateng tuh!" ucap salah satu siswi kelas dua belas yang diketahui bernama Mayang berkata demikian sembari melirik kearah Aira.


Deg!


Aku langsung merasakan hawa kebencian yang tiba-tiba mengarah padaku. Aku belum tahu pasti apa yang menyebabkan ini terjadi. Tapi saat ini yang terlihat jelas adalah wajahku yang kebingungan. Aku terus bertanya, apa benar ucapan itu ditujukan padaku? Tapi kalau bukan, kenapa dia mengarahkan tatapannya padaku? Apa aku melakukan kesahalan yang tidak aku sadari? Tapi apa? Bahkan aku jarang berinteraksi dengan orang itu.


Tak hanya dia, Mayang si kakak kelas populer. Tapi hampir seluruh sekolah berbisik membicarakanku. Bola mataku terus menerawang sekeliling sekolah dengan bingung. Aku mencoba tidak mempedulikan itu dan terus berjalan.


"Hari ini ada apa sih? Kok gini banget suasananya?"Henna pun sama bingungnya denganku.


"Nggaktau aku juga"


"Tadi mereka nyindir aku ya?" kataku.


"Tauk tuh! Emangnya kamu habis ngapain?" -Henna.


"Ya makanya itu aku juga nggatauu!"


"AIRAAA!" Terlihat Rida lari terbirit-birit menghampiriku.


"Liat deh Ai!" Rida menunjukkan halaman laman daring.


"BERITA BARU!!!. SEORANG SISWI TERLIHAT MENGHADIRI ACARA PESTA SUATU KOMUNITAS PROSTITUSI. SIAPAKAH DIA?"


DUAR!


Harga diriku seketika turun. Bagaimana tidak. Aku melihat gambar diriku disana. Aku melihat foto-foto yang diunggah di laman daring itu. Mulai dari foto aku yang memasuki gedung itu, hingga foto aku ketika menggunakan topeng dan lainnya.


Hah? Apa ini semua? Dadaku langsung merasa sesak! Tangisku mulai tak bisa terbendung. Aku berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan semuanya disana. Henna dan Rida kutinggalkan begitu saja walau mereka sudah meneriakiku.


"AIRAAA?!" panggil mereka namun tak terjawab olehku.


"Udah biarin dia sendiri dulu" kata Rida pada Henna.


Aku terus berlari sembari mengusap pipi yang mulai basah karena air mata yang jatuh.


Brak!


Ditengah pelarian aku menabrak dada bidang seseorang.


"Maaf!" aku sempat mengatakan itu walau lirih, lalu kembali berlari.


Namun tangan itu mencegahku, mencengkeram tanganku. Saat itu aku mengira orang itu pasti juga akan menghinaku. Tapi ternyata salah, dia malah membawaku berlari menjauh ke kerumunan siswa yang menghinaku. Merasakan itu, aku yang mulanya terus menundukkan kepala langsung mengangkat kepalaku ingin melihat siapa orang itu.


"Tama?"


"Hiks...hiks..." begitu sadar, aku malah menangis semakin kencang dari sebelumnya. Aku semakin menumpahkan semuanya karena aku merasa nyaman dengan itu.


Tama dan aku berhenti di dibelakang sekolah yang sangat sepi.


"Gara-gara foto itu ya?"


"Huaaaaa...hiks....hiks..." terus saja aku menangis.


"Kamu udah tahu?" tanyaku ditengah-tengah tangisan.


"Oke, kamu nggak papa nangis aja. Yang penting satu hal yang harus kamu tahu"


"Disini bukan sepenuhnya salah kamu, oke?"


"Jadi jangan terus menyalahkan diri kamu"


"Kamu itu korban disini, paham?" Tama menggenggam kedua lenganku, menjajarkan wajahnya ke wajahku yang terus menunduk.


"Aku nggak tau... Hiks... Aku nggaktau kalau bakalan ngalamin kayak gini, hiks..." aku sesenggukkan.


"Aku udah dianggep jelek, hiks..."


"Mereka juga ngatain aku jalan*, hiks..."


"Aku nggaktau siapa yang nyebarin itu, siapa juga yang fotoin aku, hiks..."

__ADS_1


"Tapi, hiks..."


"Aku, hiks..."


"Kemarin, waktu jalan-jalan sama Henna, hiks... Ketemu Bian"


"Iyaa, terus?" Tama bertanya dengan nada yang sangat rendah.


"Bian ngajakin kita nggaktau kemana, dia cuma bilang 'udah ikut aja' hikss.."


"Karena aku nolak, Bian langsung kayak nggak seneng gitu mukanya, hiks...."


"Terus langsung pergi dan bilang 'Sampai jumpa besok' gitu, hikss..."


"Aku nggaktau ini berhubungan juga sama dia apa enggak, tapi entah kenapa, hiksss.."


"Tuduhanku mengarah ke Bian, hiks..."


Aku bercerita ke Tama sembari mengusap pipiku beberapa kali karena saking derasnya air mata yang jatuh.


"Aku takut bentar lagi aku bakal diapain sama seisi sekolah, hikss.."


"Bentat lagi juga pasti dipanggil sama BK, hiks..."


"Terus aku harus gimana?, hiks.."


"Kalau aku cerita semuanya, pasti nggak percaya, hikss.."


"Yasudah... Sekarang, kamu tunggu disini dulu, aku beli minuman dulu, ya?" kata Tama.


Aku mengangguk pelan.


Tama Pov


Aira baru menceritakanku sekarang, sebenarnya aku sedikit kecewa. Tetapi, karena keadaan sangat berat untuknya, aku mencoba membuang jauh-jauh rasa kecewaku.


"Bian sial*n!" batinku, begitu Aira menceritakannya.


Aku meminta Aira untuk menunggu sebentar. Namun, bukannya langsung ke kantin, aku malah mengarahkan langkahku ke taman belakang. Kuambil ponsel yang ada disaku, lalu mencari kontak bernama "Bian"


"Tumben-tumbenan nihhh telepon, ada apa siihhh, hah?"


Dengar nadanya itu, sudah membuatku muak! Cih, sok asik!


"Kamu kan yang nyebarin berita nggak bener tentang Aira?"


"Hah? Berita apaan?"


"Nggak usah pura-pura beg*!"


"Siapa lagi kalo bukan orang tol*l macam kamu?!"


"Berita apaansi?! Aku bener-bener nggaktau!"


Lah, kalau dia beneran nggak tau, terus siapa pelakunya?


Bian Pov


Aku sedang perjalanan menuju sekolah. Sedang asyik-asyiknya mendengarkan musik, ponselku berdering. Mendapatkan telepon dari Tama. Di telepon, Tama bilang kalau aku sudah menyebarkan berita yang tidak benar tentang Aira. Aku tidak mengerti dengan berita apa yang Tama maksud.


Akhirnya aku mengingat-ingat kembali, mencoba memutar waktu dengan apa yang terjadi kemarin.


Flashback (Masih Bian Pov)


Kemarin aku pergi ke club malam, meminum beberapa gelas alhokol. Karena aku rasa malam itu membosankan, tak lama kemudian aku memutuskan untuk pulang kerumah. Aku mengendarai mobil dalam keadaan sedikit mabuk. Kuinjak gas hingga mencapai ratusan km/jam.


Karena masih setengah mabuk, aku masih bisa mengingat semua yang ada di jalanan. Mulai dari penjual nasi goreng, tukang bakso yang masih keliling, hingga aku melihat ada dua orang gadis yang duduk di bangku pinggir jalan.


Aku dapat melihat dengan jelas jika itu Aira. Sedang memegang kaleng minuman soda dan sebungkus camilan. Sontak aku langsung menghentikan remku dan memutar balik arah.


Aku benar-benar sakit hati kala itu. Kenapa? Karena saat itu, aku sangat membutuhkan teman berbicara dan bercerita. Dan saat itu juga Tuhan memberikanku Aira yang seolah muncul secara tiba-tiba. Aku merasa cukup senang, tak terasa aku juga tersenyum saat itu. Tapi ternyata, Aira menolak ajakanku dan menganggapku remeh.


Mungkin karena terbawa suasana mabuk, jadi sedikit saja ada kata yang menyinggung, aku langsung terbawa emosi. Lebih sakitnya lagi, bahkan dengan ancaman, dia tetap saja tidak peduli, dan membiarkanku melihat punggungnya yang perlahan menghilang dari pandanganku.

__ADS_1


Tak tahu lagi, aku benar-benar ingin mabuk berat hari itu, aku ingin meminum beberapa botol lagi hingga aku tak sadarkan diri. Aku menginjak gas mengarahkan mobil ke rumah Rida, yang mungkin kuanggap sebagai "Pelampiasan".


Tok...tok...tok


Keluarlah Rida yang sedang memakai piyama bermotif kartun. Rida menyambutku senang.


"Kamu habis minum ya?" katanya, begitu aku tiba.


"Tapi belum sampe mabuk" ucapku.


"Waduhhh, gawat nih. Dirumah masih ada ayah sama ibu. Kita keluar aja, ya?" katanya.


"Udah kamu tunggu di mobil dulu aja" kata Rida.


"Aku mau nyapa dulu sama om sama tante"


"Nyapa gimana, orang kamu bau alhokol gini. Udah tunggu dimobil aja, aku ganti baju dulu"


Sekitar sepuluh menit aku menunggu, Rida keluar juga.


"Biar aku yang nyetir" katanya.


Aku membiarkannya menyetir karena itu biasa dia lakukan ketika aku sedang mabuk bersamanya.


"Kita ke club biasa?" tanya Rida sembari memantau jalanan.


"Hmmmm" jawabku lesu.


Kita mabuk bersama. Oh, tidak. Lebih tepatnya aku yang mabuk karena minum beberapa botol sekaligus, sementara Rida tidak terlalu banyak minum karena ia tidak terlalu kuat untuk meminum alkohol.


Karena mabuk berat, aku jadi membicarakan semua hal yang tidak seharusnya dilakukan maupun dibicarakan.


"Gadis sial*an!" tiba saja aku bangkit dari kursiku dan mengumpat.


"Hey, siapa yang kamu maksud?"


"Apa kau mengatakan itu kepadaku?" tanya Rida.


"Tidak! Bukan kamu, kamu malah gadis yang polos bagiku"


"Tapi dia, Aira si gadis sial*n!"


"Aira?" Rida mengernyit.


"Kirim aja foto-fotonya di laman daring. Buat berita yang menggemparkan dan yang bisa menghancurkan dia dalam sekali posting!" pintaku.


"Kamu gila?"


"Bukan hanya dia yang hancur tapi kamu juga!"


"Polisi jadi mencari tahu siapa yang ada dalam pesta itu. Dan mencari siapapun yang ada didalam bisnis gelapmu itu!"


"Arrrggghhhhh!" Aku mengacak-acak rambutku.


"Jangan membuat masalah lagi!"


"Rencana pertama kita menghancurkan dia juga belum berhasil kan?!" kata Rida.


"Huwekkk....!!!" seperti biasa Rida hendak muntah karena tidak kuat meminum alkohol terlalu banyak.


"Aku ke toilet dulu, huwekkk!!" Rida pergi.


Bodohnya aku. Aku melihat ponsel yang tergeletak begitu saja diatas meja membuatku semakin ingin memposting sebuah berita mengejutkan itu. Aku sudah benar-benar hilang akal. Sakit hati dan emosi bercampur menjadi satu. Aku mulai mengetik berita itu dan,


Klik!


Memposting....


Buru-buru mengembalikan ponsel diatas meja agar Rida tidak curiga.


Author Pov


Jadi, apakah admin laman daring yang sebenarnya adalah Bian?

__ADS_1


Tapi, bukannya dengan dia memposting itu dia juga akan dalam bahaya?


__ADS_2