Strange School

Strange School
Diary Asma


__ADS_3

Author Pov


Tama berlari mencari keberadaan Aira dan Henna. Tama pun menemukan mereka didepan kamar mandi dan langsung menggenggam lengan Aira.


"Ai?"


"Kita pulang aja ya?" kata Tama


"Aku ambil tas dulu ya. Sekalian ijin wali kelas" kata Henna.


"Oke, aku tunggu di mobil aja ya" kata Tama.


Henna Pov


Aku benar-benar tidak tahu kalau sampai terjadi seperti ini. Aku menjadi khawatir melihat keadaan Aira yang sangat buruk sedari pagi, bahkan sedari kemarin yang sempat bertengkar dengan Tama.


Aku rela meninggalkan pelajaran sekolah untuk menemani Aira pulang kerumahnya. Lagipula, aku malah senang karena aku tidak mengikuti pelajaran hehe.


Tapi, yang membuatku kepikiran adalah, aku belum melihat Rida sama sekali setelah aku keluar kelas untuk menelepon Aira tadi. Rida seperti hilang ditelan bumi, tak meninggalkan jejak.


Saat ini, aku kembali ke kelas untuk mengambil tasku pun Rida tidak ada ditempatnya, hanya tas dan buku-buku yang masih berserakan di mejanya.


"Rida kemana si?!" gerutuku ketika membereskan buku-bukuku yang masih berserakan diatas meja juga.


"Biarin ajadeh, nanti juga dia nyusul" gerutuku lagi.


Sekarang aku sedang mengurus surat ijinku di ruang guru. Menunggu guru piket yang masih ke kamar mandi. Tapi disaat aku menunggu guru piket, aku melihat seorang murid yang perawakannya persis dengan Rida sedang berjalan mengendap masuk ke dalam UKS. Walau lumayan jauh, tapi aku bisa melihat kalau itu perawakan Rida karena sudah hafal dengannya.


Aku memicingkan mata agar bisa melihat lebih jelas. Aku pun berpikir,


"Ah, bukan! Aku salah lihat kali!"


"Lagian ngapain Rida ngendap-endap masuk ke UKS?"


"Mau ijin kemana?" tiba-tiba saja guru piket datang mematahkan lamunanku.


"Ah?"


"Ini pak, mau mengantar teman yang sakit"


"Emangnya orangtuanya nggak ada?" tanya guru piket.


"Ayahnya keluar kota pak, ibunya... Meninggal" ucapku ragu.


"Ini!"


"Makasih pak!" ucapku kemudian langsung berlari menuju parkiran.


Author Pov


Sementara itu, didalam mobil.


Aira dibantu Tama untuk membukakan pintu mobilnya dan naik ke mobil. Dan setelahnya, disusul Tama yang ikut naik juga ke dalam mobil. Begitu menduduki kursi, Tama langsung mencari barang yang ada dalam pandangannya. Bola mata sibuk memutar mencari barang tersebut.


"Nyari apa?" tanya Aira.


"Tisu basah. Kemana ya? Perasaan tadi masih disini" gerutunya disaat mencari tisu basah.


"Ah, sialan! Giliran dibutuhin malah nggak ada!" kesal Tama.


Karena tak kunjung ditemukan, jadilah Tama yang kesal itu menarik kasar dasi yang masih menggulung lehernya dan tiba saja dia membasahi dasinya itu dengan air mineral yang ada di sampingnya.


Byurrr!


Dia menuangkan sedikit demi sedikit air mineral yang tersisa setengah botol.


"Mau ngapain si?!" tanya Aira.


Rupanya, dasi yang ia basahi itu dipergunakan untuk membersihkan tangan Aira yang masih kotor karena darah yang mulai kering.


"Eh?" celoteh Aira karena tak menyangka Tama melakukan itu.


"Nanti kalo nggak segera dibersihin, darah kotornya ngresep ke kulit. Eh, tiba-tiba sifatmu jadi kayak dia kan bahaya!" celetuk Tama.

__ADS_1


"Emang ada ilmu kayak gitu?" Aira mengangkat alisnya.


"Ada lah!"


Keadaan hening sejenak.


"Hmmm Tam?"


"Hm?"


"Soal obrolanku sama Bian, kamu jangan bilang ke siapa-siapa dulu ya" ucap Aira ragu.


"Soal?"


"Hmmm... Soal...."


Belum semoat Aira melanjutkan perkataannya, disusullah dengan Henna yang bernafas terengah-engah.


"Sorry, lama ya?" ucapnya.


"Nggak kok" jawab Aira.


"Rida kemana? Nggak ikut?" tanya Aira.


"Palingan dia nyusul"


"Ohhh..." Aira ber-oh riaa.


Tama melajukan mobilnya menuju kerumah Aira.


"Maaf ya, aku jadi ngerepotin kalian" ucap Aira begitu sampai dirumahnya.


"Udahh, santai aja kalik!" -Henna


"Cepat ganti bajumu, terus istirahat! Soal pakaianmu yang kotor kena darah, biar aku cuciin sini!" -Henna.


Aira telah mengganti bajunya. Dan Henna pun telah membawa seragam Aira yang kotor hendak dicuci olehnya. Takut mengganggu istirahat Aira, jadilah Henna yang mencuci baju di kamar mandi lain.


Aira merebahkan tubuhnya di kasur, memandangi langit-langit kamar memikirkan sesuatu. Matanya terus berputar ke kanan, kekiri, bahkan terpejam dan kembali terbuka lagi. Jemarinya pun tak bisa diam, terus bergerak.


Aku kan jadi nggak enak sama Rida


Rida pasti marah deh sama aku gara-gara ini.


Bian juga pasti kesakitan gara-gara aku.


Hahhh, lagian bodoh banget si aku ngomong kayak gitu!


"Oiya!" Aira yang tiba saja mengingat sesuatu itu langsung beranjak dari rebahannya.


"Soal buku sama flasdisk itu. Aku sampe lupa nggak membukanya" Aira menepuk jidat.


"Apa aku buka sekarang aja ya?"


Lantas Aira membuka nakas, mencari buku dan flasdisk yang Asma berikan padanya. Begitu menemukannya, Aira langsung membuka buku itu dan menuju ke halaman pertama.


Diary Asma, bab 1.


Ini kali pertama aku menulis buku diaryku. Karena aku tidak tahu lagi harus menceritakan ini kepada siapa lagi. Sementara aku sudah kehilangan orang yang aku percaya. Dan ini adalah ungkapan kebencianku padanya, SHINTA ARININGRUM. Awal pertemuan berjalan dengan baik. Sampai akhirnya aku bertemu dengan dia, laki-laki yang mampu menarik perhatianku, Damar Daniswara. Aku mulau menyukainya. Sebagai sahabat tentu aku bercerita masalah ini dengan orang yang kala itu masih aku anggaj sebagai sahabat. Tapi ternyata, beberapa hari kedepan, aku melihat "Sahabatku" berjalan serasi dengan orang yang aku suka. Aku merasa tertusuk dari belakang. Aku merasa salah mempercayainya.


Semenjak itu, hubungan kami merenggang. Lebih menyebalkannya lagi, Shinta tampak tidak mempedulikan itu. Bahkan dia menikmati masa kejayaannya yang telah menjuarai berbagai kompetisi akademik membanggakan sekolah. Aku terus melihat senyum lebar bahagianya itu dan bukan rasa penyesalan. Aku semakin membencinya. Aku benci senyuman itu.


Diary Asma, bab 2.


Hari ini aku sedikit merasa lega. Aku menumpahkan segala ucapan yang sempat aku pendam. Aku berhasil mengatakan semuanya tepat diwajahnya.


Flashback, lanjutan dari Diary Asma, bab 2


"Shinta! Kata Asma, kalian perlu ketemu nanti pulang sekolah!" teriak Dania dengan wajah sinisnya.


"Kenapa nggak dia langsung yang ngomong?" tanya Shinta pelan.


"Males kalik lihat wajahmu yang sok polos! Haha!" sahut Mahda.

__ADS_1


Raut wajah Shinta seketika masam dan terus menundukkan kepala pergu meninggalkan mereka, Mahda, Dania, dan Haliza.


Begitu pulang sekolah, Haliza, Dania, dan Mahda sudah menunggu Shinta didepan gerbang sekolah dengan wajah songong mereka tentunya. Tapi, Asma malah tidak terlihat bersama mereka, entah kemana perginya Asma.


Shinta berjalan mengikuti mereka bertiga dengan kepala yang terus menunduk.


Sampailah mereka di taman belakang sekolah yang sangat sepi karena semua murid sudah pulang. Tidak ada siapapun disana, terlebih lagi Asma.


"Kemana Asma? Katanya dia yang mau ketemu" kata Shinta.


"Heh! Nggakusah sok manis deh!"


"Kita tahu kok, apa yang kamu lakuin sebenarnya" -Mahda


"Bisa-bisanya ya, nusuk sahabat sendiri!" lanjut Mahda.


"Aku nggak ada nusuk sahabat sendiri" Shinta membela dirinya.


"Nggak ada kamu bilang?!" sahut Haliza.


"Cepet telfon Asma suruh kesini!" ucap Mahda kepada Dania.


Dania pun melaksanakan perintah Mahda dengan segera.


"Kamu pikir ketahuan jalan sama cowok yang Asma suka padahal kamu juga tahu Asma suka sama cowok itu, bukan nusuk dari belakang namanya? Hah?!" Haliza mulai membentak Shinta.


Tak lama kemudian, Asma datang ketempat mereka.


"Ngapain kalian nyuruh aku kesini?" tanya Asma begitu sampai.


"Aku tahu kamu nggak bakal ngelakuin hal ini duluan sebelum kita yang mulai dulu. Ya kan?" sindir Mahda pada Asma.


"Ngapain sih kalian ngurusin urusanku? Ngapain juga bawa dia kesini? Aku kan udah bilang nggakusah ngelakuin ini. Kalian kan nggak ada urusan sama dia"


"Udahlah, hari ini aku capek! Aku juga nggakmau urusan ini tambah panjang!" lanjut Asma, yang sudah membalikkan arah tubuhnya.


"Bukannya ada kata-kata yang kamu pendam untuknya? Kenapa? Nggak berani ngungkapin? Atau... Takut dia sakit hati? Hahah, ngapain? Dia aja nggak takut kamu sakit hati waktu dia jalan sama cowok yang kamu suka!" sindir Mahda.


"Asma..." bibir Shinta mulai berbicara lirih memanggil nama Asma.


"Aku minta maaf soal waktu itu. Aku nggaktau kalau aku akan menyakiti hatimu" kata Shinta, menundukkan kepalanya.


Asma yang saat itu sudah merasakan capek dan emosi yang ia pendam terlalu lama, mendengar pernyataan Shinta itu semakin tersulut emosinya. Asma yang awalnya tidak ingin memperpanjang ini semua, menjadu kebalikannya.


"Nggak tau kamu bilang?!" ucap Asma dengan nada tinggi.


"Aku udah cerita semuanya ke kamu dengan rasa bangga karena percaya sama kamu. Terus kamu bilang nggak tau?! Emangnya kamu nggak pasang kuping waktu aku cerita? Hah?!"


"Aku kamu anggap anjing yang menggonggong gitu?"


"Denger ya, disini itu kamu yang ANJ*NG, Ngerti?! Emang nggak ada otak!"


"Dasar busuk!!"


"Jauh jauh deh dari mukaku!"


"Jal*ang!"


"Aira?!" Tiba saja Tama mengejutkan Aira yang sedang serius membaca buku.


-flashback off


Saking terkejutnya, Aira tersentak dan tidak sengaja menjatuhkan buku diary Asma hingga ke kolong kasur.


"Iya?" jawab Asma dengan muka yang tegang.


"Kamu ngapain? Nggak istirahat?" tanya Tama yang membawa makanan untuk Aira.


"I..iya.. Ini mau tidur kok, hehe" Aira gugup.


"Yaudah, makan dulu aja"


"Habis itu minum obat biar nggak sakit" lanjut Tama.

__ADS_1


"Iya.. Makasih"


__ADS_2