
Elang?"
"Kamu kenapa ada disini?" tanya Aira.
"Yah, ayah kenal sama dia?" Aira menatap Bernan.
Pertanyaan Aira tidak ada yang menjawab dari keduanya. Lantas, Elang dan Bernan hanya diam saling tatap. Dan entah mengapa, Elang kemudian lari seolah kabur dari kenyataan. Tentu saja Aira kebingungan.
Tak ingin hidupnya dihantui rasa penasaran, Aira mengejar Elang untuk mendapat jawaban darinya.
"Elaaang!!!" Aira memanggilnya tanpa embel-ebel "kak" sudah tak ia pedulikan.
"Aku butuh jawaban!!!"
"BERHENTIIIII!!!!!" teriakan Aira menggema di sebuah koridor kantor.
Namun Elang mengabaikan teriakan Aira yang sudah ia lontarkan sekuat tenaga sefta tak mempedulikan orang lain memandang dirinya aneh.
"Dia naik lift lagi" gerutu Aira, yang kemudian lari terbirit-birit menuruni anak tangga.
"Kalau gini caranya kan dia bisa keluar duluan!" Aira berlari masih dengan menggerutu.
Keluar dari pintu menuju tangga, Aira sudah tak menemukan keberadaan Elang. Aira kehilangan jejaknya.
"Basement!" Aira memikirkan suatu tempat yang mungkin Elang jamah.uu
Larilah Aira menuju ke basement bawah tanah dengan kaki yang bermodalkan sandal jepit. Aira mengorbankan kaki yang sudah pegal untuk menuruni tangga menuju basement.
"Elang?!" suara Aira menggema.
Bruummm.....
Ciiiiitttt....
Suara mesin mobil yang hendak keluar basement terdengar.
"Elang!" Aira mengejar mobil yang hendak keluar itu.
Berlari dan terus berlari.
"Elaaaaanggg!!!!!" Aira berteriak sekuat tenaga.
Ciiiiiiittttt......
Elang menginjak rem secara mendadak sebab Aira berdiri didepan mobilnya, merentangkan tangan.
Tin! Tiiiiiiinnnn!
Elang membunyikan klakson.
Aira memberi isyarat bahwa ia tidak mau pergi dengan menggelengkan kepalanya. Aira tetap berdiri didepan menghadang jalannya Elang.
"Minggir!"
"Kamu mau mati?!" kata Elang.
Aira tetap menggelengkan kepalanya tidak ingin meninggalkan tempatnya berdiri.
Brum...brum...brum...
Elang mengancam Aira dengan menginjak gas dan rem secara bersamaan. Sementara Aira hanya memejamkan matanya.
"Ck!!" Elang berdecit kesal, lalu keluar dari mobilnya dengan menyilangkan tangannya.
"Apa?!" Elang jutek.
"Aku cuma butuh jawaban kok, lagian kalau kamu udah kasih jawaban daritadi kita nggak bakalan kejar-kejaran!" ucap Aira.
"Jawaban apa?" Elang berpura-pura tidak mengerti apa yang Aira bicarakan.
"Gimana kamu bisa kesini?" tanya Aira.
"Emangnya kamu kenal sama ayahku?" timpalnya.
"Kenal" Elang menjawab singkat.
"Calon mertua" timpanya.
"Wow, aku terharuuuuuu" Aira bergaya centil.
"Ihhh!!! Serius!!!!" celoteh Aira, memukul lengan Elang.
"Terus apa alasan yang membuatmu ke-"
"Anak TIRI!!" Elang menyela pembicaraan Aira dengan jawaban yang mengejutkan.
"Ahahaha, lucu!!!!" ejek Aira, pura-pura tertawa oleh lawakan Elang.
"Emang wajahku lagi nglucu ya?"
Aira yang sempat menertawakan Elang itu seketika memasang wajah yang datar dan serius.
"Serius?" Aira bengong, matanya membelalak.
Elang mengangguk.
"Nggak bohong?"
Elang menggeleng.
"Jadi ini serius?"
Elang mengangguk.
"Kita kakak adek dong?"
Elang mengangguk.
"Emang kamu mau kita saudaraan?"
Elang menggeleng.
"Sama dong?"
Elang mengangguk.
"Terus gimana dong?"
Elang mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Kamu mah!!, ngangguk-ngangguk, geleng-geleng nggak ada tegang tegangnya!!!" celoteh Aira, yang ikut mengangguk serta menggelengkan kepalanya mengikuti gerakan Elang tadi.
"Terus aku harus gimana?" kata Elang.
"Ya kaget kek, apa kek. Suasana lagi tegang loh ini" kata Aira.
"Oke, ulang!" celoteh Elang.
"Haaaaa!!!!! Ternyata kamu adek tiri aku?!!!!!" Elang bergaya terkejut.
"Haaaaaa!!!! Ternyata kamu kakak tiri aku?!!!! OEMJIIIIII!!!!" Aira pun ketularan Elang.
"Kok gitu sih?" Elang seperti geli sendiri dengan tingkah mereka berdua.
"Nggak bakat akting!!" celoteh Elang.
"Iya juga. Udahlah nggak usah sok-sokan kaget. Udah telat!!!!" celoteh Aira.
"Berarti sekarang, kita udah tahu kalau kita ini saudara tiri, ya kan?" ucap Aira.
Elang mengangguk.
"Berarti aku boleh dong, minta uang jajan kalau uang jajanku habis di sekolah, eheheh" celoteh Aira.
"Enak aja! Pokoknya yang lain nggak boleh tahu soal ini, NGERTI!"
"Iya juga ya. Aku kan nggak mau punya mas modelan gini" Aira meledek Elang.
"Enak aja!" Elang membela diri.
"Yaudahlah! Pergi sana! Lagian kan aku udah tahu jawabannya!" ujar Aira.
Bukannya pergi, Elang malah berdiri diam menatap Aira tajam seolah ada yang kurang.
"Apa?!" Aira memelototkan matanya.
"Cium tangan dulu sama mas" Elang mengulurkan tangannya.
Bukannya menolak, Aira menuruti apa yang dikatakan Elang. Meraih tangan Elang yang mengulur, yang kemudian mencium tangan Elang.
"Mas pulang dulu" pamit Elang.
"Iya, waalaikumsalam!!" Aira sedikit menyindir Elang yang tak mengucap salam.
"Assalamualaikum!!" yang akhirnya Elang mengucap salam.
Kendaraan roda empat yang sempat terparkir di tengah-tengah basement itu kini perlahan menghilang dari jarak pandang Aira. Begitu Aira memastikan Elang benar benar pergi, Aira membalikkan badannya dan memulai ritual menggerutunya.
"Ooooh, ternyata Elang itu kakak tiri akuuuu" Aira mengangguk-anggukkan kepalanya cukup tahu.
"Ehhh!!!"
"Elang????!!!!"
"Elang kakak tiri aku?????!!!!!"
"Wahhhhh, waaaaahhhhh!!!"
"Berarti, tadi aku deg-degan sama abang sendiri?"
"Aku dituduh mesum sama abang sendiri?"
"Sama abang sendiri juga?!!!!"
"Waaaah, nggak bisa dibiarin!!" celoteh Aira.
Aira kembali menginjak ruangan kerja Bernan yang saat itu Bernan seperti sedang cemas dengan suatu hal. Pasalnya, Bernan melamun menatap jendela seraya menggigiti ujung jarinya.
"Ayah?" panggil Aira lirih.
"Aira?" Bernan menengok ke sumber suara.
"Ayah kenapa tegang gitu?"
"Ng..nggak" elak Bernan.
"Ayah memikirkan apa yang terjadi antara aku dan Elang?"
Bernan tidak dapat menyembunyikan pemikirannya lagi.
"Aira sudah tau kok yah. Dan Aira baik-baik saja. Tidak ada hal serius yang terjadi antara aku dan Elang. Kalau aku dan Elang emang saudara tiri yaaaa, yaudah! Emang kita itu ditakdirkan menjadi saudara ya mau gimana lagi" Aira berbicara dengan bijak.
"Kamu nggak keberatan dengan itu?" tanya Bernan.
"Kenapa aku harus keberatan?"
"Aku emang benci perempuan itu. Tapi bukan berarti aku benci dengan yang dia lahirkan"
"Lagian yang merebut ayah dari aku dan ibu kan perempuan itu, bukan Elang atau yang lain"
"Lagipula yah, aku hanya membenci sifatnya"
"Membenci sifatnya bukan berarti membenci orangnya kan?" sambung Aira.
Bernan hanya menampilkan senyuman bahagianya mendengar perkataan putrinya yang sebelumnya ia kenal kekanak-kanakan. Karena perasaan bahagia yang tak bisa dibendung, Bernan memeluk putrinya itu dengan perasaan yang penuh cinta.
Sesuai perjanjian, sebelum jam tujuh tepat Aira sudah siap untuk pergi ke tempat yang Tama katakan. Dengan celana jeans, dipadukan dengan pakaian rajut berwarna gelap tampak cocok dikenakannya.
Karena jarak lumayan jauh, tak memungkinkan untuk Aira mengayuh sepedanya dan Tama juga sudah mengatakan pada Aira jika dia tidak bisa menjemput Aira, lantas Aira kembali naik taksi online yang telah ia pesan.
Begitu Aira menginjak halaman coffeshop, batin Aira mulai merasakan hal yang tidak enak.
"Hufffhhhh, kenapa perasaanku nggak enak ya?" Aira me
"Semoga nggak ada apa-apa" kata Aira, yang kemudian membuka pintu kaca coffeshop.
Aira menerawang seluruh sudut coffeshop mencari keberadaan Tama. Herannya, dari sekian banyak pengunjung yang datang, Aira sama sekali tidak melihat tanda-tanda ada Tama. Hingga salah seorang pelayan menghampiri Aira.
"Mbak Aira ya?" kata pelayan itu dengan ramah.
"Iya" jawab Aira lembut.
"Sudah ditunggu ruang VIP atas mbak"
"VIP?" alis Aira menyatu.
Coffeshop ada ruangan VIP?, batin Aira.
"Iya mbak, mari saya antar" kata pelayan.
__ADS_1
Wah, pasti ada apa-apa nih.
"Kalau gitu, boleh saya ke toilet dulu?" kata Aira.
"Oh, iya silahkan. Dari sini belok ke kiri ya mbak"
Di toilet perempuan,
"Gimana niiiihhhh?"
"Perasaanku nggak enak"
"Tapi aku terlanjur datang kesini"
"Kalau nanti ada apa-apa aku harus minta tolong sama siapa?"
Aira terus mengkhawatirkan nasibnya kini. Lantas, Aira menenangkan diri dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan VIP yang dimaksud bersama pelayan yang menyambut Aira dengan ramah.
Didepan pintu yang berkaca buram, Aira diam berdiri. Bimbang, dia harus masuk kesana atau tidak.
Satu.....dua....tiga, ya Tuhan selamatkan aku!
Krieeettt....
"Woaaaaahhhh!" yang Aira lakukan begitu membuka pintu adalah berdecak kagum. Pasalnya, ruangan VIP yang ada dipikiran Aira ialah ruangan yang gelap, kedap suara, ruangan suram. Namun pada kenyataannya ialah balkon terbuka yang dihiasi banyak sinaran lampu, serta pemandangan kota pada umumnya.
Berdirilah seorang Tama di pagar pembatas balkon ditemani secangkir vanilla latte yang sedang memandangi gemerlap cahya lampu perkotaan.
Karena Tama belum juga menyadari akan kehadiran Aira, dengan sengaja Aira berjalan mengendap mendekati Tama.
"BUAAAAAA!!!!" Aira mengejutkan Tama.
"WUUAAAAA!!!"
"AHAHAHAHAHAAHA" Aira tertawa terbahak-bahak begitu melihat reaksi Tama yang tersentak.
"Kamu balas dendam ya?" Tama menggelitiki Aira.
"Ahahahhaa, nggak. Ampun, ampun, udah"
"Macam-macam awas!" ancam Tama dengan nada bergurau.
"Jadi coffeshop ini milikmu?" tanya Aira.
"Bukan, tapi milik ayahku"
"Sama aja!" celoteh Aira.
"Jadi aku dimaafin nih?" Tama menggoda Aira.
"Tauk!" Aira sok sewot.
"Permisi mas, mbak" seorang pelayan mengantarkan makanan dan minuman untuk Aira dan Tama.
"Makasih ya mbak" ucap Tama pada pelayan.
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara bisingnya kota dari kejauhan, serta suara angin yang berhembus kencang.
"Hmmmmm" Aira seolah mempersiapkan pembicaraan wawancara.
"Aku boleh tanya nggak?"
"Apa?" Tama menoleh kearahnya.
"Kamu kenal Elang?" tanya Aira dengan ragu.
"Dia udah cerita ya?"
"Jadi kamu benar temannya waktu SMP?"
Tama mengangguk.
"Kalau kamu temannya waktu SMP kan kamu harusnya juga kelas dua belas, satu angkatan sama Elang. Kenapa kamu malah masih kelas sebelas?" tanya Aira mulai serius.
"Dulu aku putus sekolah selama satu tahun karena satu dan hal lain" jawab Tama sedih.
"Kamu kok nggak pernah ceritain ini ke aku?"
"Yaaaa, aku merasa nggak perlu di ceritain aja. Lagian, kalau aku cerita bikin aku ingat semua masa kelam itu lagi" ucap Tama lesu.
Masa kelam? Aira mengernyit.
"Yaaa, nggak masalah juga sih kamu cerita apa nggak. Lagian sedekat-dekatnya pertemanan kita juga perlu privasi kan?"
"Nggak perlu kok kamu ceritain semuuuuua kehidupan kamu"
"Aku cuma mempersilahkan. Kalau cerita ya silahkan. Aku siap menjadi pendengar yang baik bahkan kalau bisa aku juga kasih solusi. Kalau nggak juga nggak masalah, itu kan hak kamu"
"Walaupun sebenarnya ada rasa penasaran juga sih, hehehe" celoteh Aira.
"Berarti..... kamu sudah tahu dong, kalau......" Aira ragu untuk mengatakan hal yang sedikit pribadi untuknya.
"Kalian saudara tiri?" Tama yang berkata secara spontan itu cukup mengejutkan Aira.
"Kenapa kamu nggak kasih tahu aku sebelumnya?"
"Isssshhhh, kalian CURANG!" Aira mencubit lengan Tama.
"Aaaaw, aw, aw!" Tama merintih.
"Rasain!" Aira menggertakkan giginya kesal.
Aira dan Tama menikmati makan malam mereka di sebuah balkon terbuka coffeshop milik ayah Tama. Mereka saling bertukar cerita, bercanda bersama, tertawa bersama, melupakan sejenak masalah yang pernah singgah dalam kehidupan mereka.
"Jadi, apa kesan pertama mu sekolah disini?" tanya Aira, yang masih disertai tertawa karena lelucon yang baru saja Tama buat.
"Hmmmmm, cukup baik"
"Kamu tau nggak, anak cowok yang agak bencong itu?" kata Tama.
"Hah? Yang mana?"
"Oooohhhh, Rizal itu ya?"
"Kenapa kenapa?" Aira penasaran, antusias ingin mendengarkan cerita Tama.
"Begitu aku masuk kelas, disambut sama dia!"
"Iiiihhhhh ya ampun, ya ampun, subhanallah pangerankuuuuu uwuwuwuwuwuw" Tama menirukan gerakan serta suara Rizal yang mengundang gelak tawa Aira.
__ADS_1
"BUWAHAHAHHAAHAHHAHA!!!!!" mereka pun tertawa terbaha-bahak bersama.