
Henna Pov
Terkejut bukan kepalang begitu mengetahui yang sebenarnya. Aku sempat tidak percaya jika Rida menyembunyikan hubungannya bahkan dengan sahabatnya sendiri. Terlebih, Aira yang mengetahui itu juga tidak memberitahuku. Jujur, saat itu juga aku merasa tidak dianggap sebagai sahabat . Aku merasa tidak diprioritaskan. Diantara mereka hanya aku yang tidak tahu apa-apa. Sedih memang.
Tapi aku mencoba berpikir jernih karena aku tidak ingin menambah beban untuk mereka. Terlebih, sekarang sudah ada konflik diantara Rida dan Aira yang mana lumayan sulit untuk menghubungkan kembali. Setidaknya aku menyingkirkan kekecewaanku sebentar untuk membantu mereka kembali. Karena aku tahu jika aku ikut menebar emosi, yang ada masalah malah tambah panjang.
Ketika Aira menyadari kehadiranku, wajah paniknya terlihat jelas. Ia pasti takut dengan sikapku setelah mendengar kabar mengejutkan secara tidak langsung itu. Aku mencoba menunjukkan wajah "Tidak apa-apa" walaupun aku yakin masih ada bersitan wajah kecewa.
"Hen, maaf!" tangannya mencoba mengulur tanganku.
"Maaf untuk?" alisku naik sebelah.
"Aku nggak kasih tahu soal ini"
"Maafin aku" katanya.
"Aku nggakpapa kalik! Sans aja"
"Kamu boleh marah sama aku, asal kamu jangan jauhin aku yaaa" wajahnya memelas. Aku jadi tidak tega untuk marah walau sebentar.
"Iya iyaaa, tapi kamu punya utang"
"Utang apaan?" -Aira.
"Utang cerita! Kamu harus cerita gimana awalnya kamu bisa tahu soal Rida sama Bian!" kataku.
"Iya dehh, yang penting kamu nggak kabur"
Sementara Bian, begitu melihat Aira sibuk mengobrol denganku, dia langsung pergi kearah yang lain.
Aira Pov
Aku sangat lega ketika Henna tidak marah padaku atas kejadian tersebut. Tapi tetap saja aku masih takut kalau Henna memendam amarahnya itu dan bisa meledak kapan saja ketika dia marah.
"Oh iyaa, Damar!" sekilas aku kembali mengingat soal Damar.
Tapi, aku lupa Damar itu kelas apa. Apa sebaiknya aku tanya Henna? Tapi kalau dia bertanya apa alasan aku mencari Damar aku harus menjawab apa?
"Hen!"
"Kenal Damar nggak?"
"Dia kelas berapa si?!"
"Damar?" Henna mengerutkan dahi.
"Damar si jangkung itu?" -Henna.
"Kalo nggak salah sih kelas dua belas ipa enam. Kenapa emangnya? Kenal sama dia?"
"Atau jangan-jangan ada yang kamu sembunyikan lagi selain itu"
"Kemarin dia dm aku minta nomor whatsapp!" ucapku berbohong.
"Hah?! Serius?!"
"Terus kamu kasih?" -Henna
"Belum kubales sih, heheh"
"Dasar! Awas ada yang urusan lagi sama Tama!" -Henna.
"Ehehehe"
"Eh! Soal tadi.... Jangan kasih tahu Tama dulu ya. Nanti mereka berantem lagi" kataku memohon.
"Iyaaa, aku juga tau kalik!"
"Jadi gimana, nanti pulang ketemu sama Rida atau bagaimana? Kita selesaikan ini baik-baik" -Henna.
"Rencana sih gitu. Tapi, aku masih dalam pantauan Tama. Kalau dia tahu bagaimana?" keluhku.
"Udahh, soal itu gampang. Biar aku ngomong sama dia" -Henna.
"Serius Hen, wahhh makasih yaaa"
"Eh tapi nanti kamu bilang apa sama Tama? Jangan-jangan ember lagi"
"Udah tenang aja. Percaya deh" -Henna.
"Makasi lo yaaa, mwah!" spontan aku mencium pipi sahabatku itu lalu kabur.
"Idihhhh! Hiiiiiii basaaah"
"Airaaa!" kesalnya.
Aira Pov
Sebelum benar-benar meninggalkan sekolah, aku berniat untuk menemui Damar dikelasnya.
"Hen, kamu duluan aja ya. Aku mau ke ruang BK dulu. Bilangin ke Tama juga"
"Oh, oke"
Cepat-cepat aku berlari ke kelas Damar karena takutnya keduluan dia pulang.
Dapat!
Aku menemukan kelasnya. Untungnya, dikelasnya masih ada wali kelas yang sedang menutup pembelajaran hari ini. Aku pun menunggunya didepan kelas.
Satu persatu murid keluar dari kelasnya. Sementara Damar yang ditunggu-tunggu belum keluar juga.
"Kak Damar?" sapaku begitu melihatnya keluar kelas.
Damar terlihat seperti kebingungan kenapa aku menghampirinya hingga rela menunggunya keluar kelas.
"Bisa bicara sebentar?"
"Si anak baru berlagak populer itu kan?" ejeknya.
"Kenapa ya? Perasaan aku nggak ada urusan sama situ" katanya dengan angkuh, hendak pergi begitu saja.
"Tapi aku ada urusan sama kakak!"
"Kenapa? Suka sama aku? Mau minta nomorku?" ucapnya terlalu percaya diri.
"Nggak usah ngarep. Aku belum buka hati untuk siapapun!"
Saat itu juga aku ingin bilang, "Dih kepedean", "Sok kecakepan!". Dengan lagaknya yang membuatku dongkol itu ia berjalan membelakangiku.
"Shinta!" ucapku spontan yang rupanya berhasil menghentikan langkah gagahnya.
"Aku mau tanya tentang Shinta ke kakak!"
__ADS_1
"Emangnya ada urusan apa sama kamu?!" ia mulai terpancing.
"Nggak usah bawa bawa nama itu lagi. Apalagi ngungkit kasus itu!" tegasnya.
"Aku tahu tentang itu. Walaupun nggak semuanya!"
"Dan aku berharap menemukan bagian lain dari kakak!"
"Nggak ada yang bisa diharapkan! Urus saja masa depanmu yang belum tertata!" ucapnya.
Yang akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkanku tanpa jawaban sepeserpun. Aku pun merasa sedih karena tidak mendapatkan apa yang aku harapkan. Yasudahlah, mungkin bukan hari ini. Akhirnya aku berjalan keluar menemui Henna dan Tama yang sudah menunggu lama di parkiran.
"Hey! Nungguin lama ya? Maaf. Tadi banyak juga kakak kelas yang konseling masalah perkuliahan gitu" ucapku.
"Emangnya ada urusan apa di BK?" tanya Henna.
"Yaa, apalagi kalo bukan masalah kemarin" ucapku berbohong yang padahal masalah kemarin BK tidak pernah membahasnya entah mengapa aku juga bingung.
"Ai, nanti temenin aku ke mall yuk! Ada diskon loh!" kata Henna.
"Boleh kan Tam, aku pinjem cewekmu?" goda Henna.
"Aku harus ikut kalian!" kata Tama yang masih fokus dengan jalanan.
"Mana bisa? Udahlah percaya sama aku. Aku bakal jagain Aira. Aira juga bakal jaga diri kok" bujuk Henna.
Aku pun mengangguk menyetujui ucapan Henna.
"Nggak bisa!" kekeh Tama.
"Yaelah Tam. Kita juga bertiga sama Rida. Biarin aja lah kita nyaman jalan-jalan bertiga. Udah lama nggak jalan-jalan bertiga"
"Iyaa, boleh yaaa. Kalau ada apa-apa aku pasti kabarin kamu kok" bujukku.
"Hmmmmm"
"Serius?" aku dan Henna hampir bersamaan.
"Iya!" jawab Tama singkat.
"Jam 9 harus udah dirumah!" lanjutnya.
"Iyaaaaa" kataku.
Author Pov
Henna menjemput Aira menaiki motornya. Tumben sekali Henna membawa kendaraan sendiri.
"Tumben banget bawa motor" sindir Aira.
"Ya nggakpapa kalik!"
"Biar lebih bebas aja pergi kemana-mana" jawabnya.
"Ayoklah kalo gitu" -Aira.
Mereka berangkat ke rumah Rida dengan perasaan yang gugup. Bagaimana tidak? Begitu sampai mereka harus bicara dengan tepat dan benar agar masalah cepat selesai dan tidak menyinggung Rida. Aira pun mengeluhkan hal itu sepanjang perjalanan.
"Hen, gimana ya cara ngomongnya nanti?" suara Aira beriringan suara kebisingan.
"Ceritain aja apa adanya. Kalau kamu salah yaudah salah aja. Lebih baik cari solusi biar masalah cepet selesai daripada cari alasan agar kamu kelihatan nggak salah. Karena itu malah bikin masalah tambah panjang" nasehat Henna.
Tok!
Sampailah mereka di halaman rumah Rida. Tibanya disana, jantung mereka kembali berdegup kencang. Belum lagi saat mereka bertatap mata dengan Rida, entah bagaimana lagi keadaan jantung mereka.
"Kok gelap sih rumahnya?" ucap Henna.
"Tarik nafaaaas....."
"Buang....." Aira menstabilkan nafasnya sebelum mengetuk pintu.
"Udah sana cepetan!" Henna mendorong-dorong Aira agar cepat mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pertama belum ada respon.
Tok! Tok! Tok!
"Kok nggak keluar keluar? Masa iya dia nggak ada dirumah?" ucap Henna.
Tok! Tok! Tok!
"Apa coba telfon dia aja ya?" -Aira.
"Orang daritadi dia nggak aktif!" -Henna.
"Terus gimana?" Aira resah.
"Pintunya dikunci ya?" -Henna.
Mendengar kata Henna, lantas Aira mencoba membuka pintu itu.
Krieeeett....
Pintu itu terbuka. Membuat Henna dan Aira saling melemperkan tatapan terkejut dan heran. Dari celah pintu yang terbuka sedikit itu, yang terlihat hanyalah ruangan yang gelap. Dan tidak ada tanda-tanda ada orang dirumah.
"Udah langsung masuk aja" kata Henna.
"Ini rumah orang kalik, bukan rumahmu sendiri" tegur Aira.
"Alahhh... Aku udah biasa langsung masuk kerumahnya. Orangtua dia jarang dirumah soalnya" bisik Henna.
"Serius nih?" Aira ragu.
"Ahhh kebanyakan mikir! Sini!" Henna mengambil langkah depan untuk memimpin.
Henna membuka lebih lebar pintu rumah Rida, melirik lebih dalam dan menerawang seluruh ruangan yang gelap itu. Tak hanya gelap, tapi juga hening.
"Rida?" Henna mencoba memanggil sekali lagi.
"Rida?" Aira turut memanggil.
"Yosaaaaan" Henna memanggil entah siapa.
"Yosan? Siapa Yosan?" Aira bingung.
"Anjing" -Henna.
"Sialan! Ditanya baik-baik malah ngatain!" Aira memukul bahu Henna.
"Aaawww! Ck! Emang dasar cuma punya setengah ya gini nih" gerutu Henna seraya memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kok sepi banget? Biasanya juga ada anjingnya yang menggonggong kalau ada orang masuk" heran Henna.
"Jangan-jangan dia pindah rumah lagi" -Aira.
"Nggak mungkin ah!"
"Kalau iya kan pasti dia kabar kabar"
Mereka masuk lebih dalam kerumah Rida yang masih gelap itu. Perlahan berjalan dengan merentangkan tangan kedepan meraba-raba mencari stop kontak yang tak kunjung ketemu.
"Aduh! Sakit kalik!" keluh Henna ketika Aira tidak sengaja menginjak kakinya.
"Ya sorry! Namanya juga nggak keliatan!" -Aira.
Sreeet!
Selain tidak sengaja menginjak kaki Henna, Aira juga tidak sengaja menendang sebuah benda yang jatuh di lantai.
"Eh! Apaantuh?" heran Aira.
"Cepetan napa! nyari stop kontak kayak nyari jodoh!" omel Aira pada Henna.
"Ya bentar napa, orang yang aku liat cuma layar item mana bisa keliatan stop kontaknya dimana!" oceh Henna.
"Nah! Ketemu!" celoteh Henna.
Ceklek!
Lap! Lap!
Lampu telah menyala walau tidak semuanya. Setidaknya Henna dan Aira mendapat pencahayaan.
"Hen" Aira menarik-narik baju Henna.
"Apasih Ai?"
Terkejut bukan kepalang. Tergeletak seekor anjing berwarna coklat dan putih di lantai. Anehnya, bulunya yang berwarna coklat itu seperti bukan warna asli dari bulu si anjing. Mereka juga menemukan rumah Rida yang berantakan dimana barang-barang dirumahnya berjatuhan tak berarutan. Dan terdapat sebuah pigora kecil yang pecah tak jauh dari kaki Aira. Mungkin pigora itu yang tidak sengaja Aira tendang tadi.
"Ai!" Henna menepuk bahu Aira.
Henna dan Aira saling tatap heran dan langsung berlari naik keatas dengan paniknya.
"Ridaaaa" suara Henna dan Aira bersahutan memanggil Rida yang tak kunjung mendapat jawaban.
Sampailah mereka di kamar Rida yang mana mereka tidak menemukan Rida ataupun jejaknya.
"Ridaaaaaa" Henna dan Aira semakin panik. Terus menerus memanggil Rida.
Beralih ke kamar Rida, mereka mencari ke seluruh ruangan. Mulai dari kamar mandi, dapur, hingga ruangan-ruangan lain.
Brak!
Henna membanting pintu yang tertutup.
"WUAAAAA!!!" Henna berteriak membuat Aira ingin menyelonong masuk ke ruangan yang Henna masuki.
"Apasih Hen?" Aira menyusuh Henna.
"As....taga" Aira sama terkejutnya dengan Henna.
Bagaimana tidak. Mereka menjumpai lantai yang penuh cairan kental berbau menutupi sebagian lantai. Barang-barangnya juga jatuh berserakan. Tergeletak juga dua orang yang tak sadarkan diri di sisi yang berbeda. Dua orang itu juga penuh dengan cairan kental.
"Rida" Aira menemukan keberadaan Rida yang sedang duduk meringkuk di balik kasur ukuran besar. Keadaan Rida bisa dibilang kacau. Wajahnya tampak sangat ketakutan, tatapan kosong, nafasnya pun berat. Terdapat darah di kedua tangan Rida dan juga cipratan darah ditubuh Rida.
Aira langsung menghampiri Rida untuk menenangkannya tak peduli ia harus menginjak darah yang berceceran.
Tama Pov
Malam ini seperti biasa Elang mengajak ke basecamp. Tapi, yang menjadi tidak biasa adalah nada dia ketika bicara melalui telepon. Dia sepertinya sedang lesu dan tidak bersemangat. Mungkin sedang ada pikiran.
Baiklah, aku langsung pergi ke basecamp. Lagipula, aku juga butuh hiburan seperti Aira yang saat ini sedang ke mall bersama teman-temannya walaupun aku sebenarnya juga meragukan kebenaran itu. Apa benar Aira pergi ke mall bersama Henna dan Rida?
Elang tiba disana lebih dulu. Tak ada orang lain selain dia dan aku yang baru saja datang. Hanya kami berdua malam ini yang ke base camp. Kulihat, tatapannya kosong. Elang juga sudah meminum setengah botol alhokol.
"Woy! Ngapain si?! Kok kayak murung mulu?!" aku menepuk pundahknya.
"Soal Bian. Dia nggak akan main-main soal omongannya kali ini. Terlebih ini sudah menjadi peraturan tetap kan? Siapapun saksi yang ada ditempat itu, harus mati saat itu juga!" kata Elang serius.
"Kenapa kamu jadi mikirin itu?"
"Nggak biasanya kamu mikirin itu sampe kayak gini" kataku.
"Apalagi sampai Rida juga campur tangan. Dia kan yang udah laporin kalo Aira lihat apa yang kamu lakukan di pantai itu?"
"Dia sekarang sama Rida" ucapku lesu.
"Ha?! Kok kamu biarin?"
"Ya gimana lagi, kalo aku bilang yang sebenarnya nggak mungkin kalik. Aira juga pasti nggak percaya"
"Kalo nglarang dia deket deket sama sahabatnya sendiri ya tambah mbangkang lah" jelasku.
"Cih, sahabat? Hahah" smirk Elang.
"Kamu juga harus hati-hati"
"Ini juga masalah untukmu"
"Aira kan saksimu. Berarti, kalau Aira harus mati, dia juga harus mati ditanganmu!" kata Elang yang berhasil membuat ketakutanku kembali.
"Udahlah, jangan bikin aku kepikiran lagi. Yok minum minum sampe ******!" aku meraih botol yang ada didepan Elang.
"Ini nggak bisa dianggap enteng Tam!" Elang menggenggam tanganku yang mengulur hendak mengambil botol minuman.
Disitu aku cukup bingung dengan sikap Elang yang tampak sangat khawatir. Memang sih ini menyangkut Aira yang juga adik tirinya. Tapi, selain kekhawatiran dengan adik tirinya itu, aku juga melihat kekhawatiran lain dimatanya, entah apa itu. Aku menatap matanya yang mulai sayu.
"Karena bukan Aira aja yang bahaya! Kamu, aku, dan-" Elang tidak melanjutkan ucapannya.
"Dan apa?"
Elang hanya diam.
"Ngomong jangan setengah setengah! "Dan" apa maksudmu?!" desakku.
"Henna juga dalam keadaan yang sama!" kata Elang mengejutkanku.
"Maksudmu?!"
"Henna juga berada di posisi yang sama!"
"Dia juga saksi!"
"Saksiku!"
__ADS_1
BOOM! Seperti ada yang meledak didalam tubuhku. Aku tidak menyangka. Elang baru berani untuk mengungkapkannya padaku. Mungkin sebab itulah dia sangat khawatir. Tapi, kenapa dia khawatir pada Henna? Sedangkan dia selalu bersikap acuh tak acuh pada Henna.