
"KAMU KAN ORANG YANG ADA DIBALIK GEDUNG ITU?!"
Deg!
Perlahan Tama menurunkan posisi cutter dan membelalakkan matanya lebar tidak menyangka Aira mengetahui itu.
"Kamu kan muncikarinya?"
"Kamu yang mimpin semuanya?"
"Berarti kamu yang jualin perempuan-perempuan itu?"
Sekarang Tama yang diam tidak bicara.
"Shinta juga kan?" tiba-tiba saja Aira langsung mengarahkannya pada kasus Shinta.
Tama semakin membelalak kaget mendengar ucapan Aira.
"Foto Shinta yang tersebar di laman daring itu diambil di gedung itu kan?"
"Tahu dari siapa kamu?" Tama melirik tajam kearah Aira.
"Nggak penting-"
"Tahu dari siapa?!" Tama sedikit menaikkan nada bicaranya, memotong ucapan Aira.
"Sekarang jawabannya iya atau nggak?!" Aira mencondongkan badannya ke Tama.
"Kecurigaanku waktu itu bener kan?!"
"Jawab atau aku nggak akan ketemu mukamu lagi!"
Tama masih saja menunduk bingung menjawab apa.
"Maaf" Dengan nada rendahnya Tama mengatakan maaf.
"Maaf?!"
"Jadi bener?!"
Tama hanya diam.
"Tama?!"
"Jadi semua dugaan itu bener?!"
"Kamu muncikarinya?!"
Berkali-kali Aira menggoyangkan tubuh Tama agar Tama segera membuka mulutnya dan menjelaskan semuanya.
"Ngomong Tam!"
"TAMA?!"
Lebih mengejutkannya lagi, Tama menjawab pertanyaan Aira itu dengan anggukan yang pelan namun pasti. Tama merasa tidak ada cara lain untuknya mengalihkan pembicaraan ini. Mungkin ini waktunya Aira tahu tentang bisnis gelap itu.
Disisi lain Tama menyesal. Bukan menyesal karena telah menjalankan bisnis itu. Melainkan menyesal karena ia tidak menjaga baik-baik rahasianya hingga akhirnya Aira tahu. Tama menganggap dirinya bodoh dan tidak becus untuk ini.
Maaf Aira, aku nggak bisa menjaga kamu dari bisnis gelap ini. Dulu aku berjanji kalau kamu nggak akan tahu ataupun mendengar tentang apa yang aku lakuin. Tapi ternyata aku nggakbisa, batin Tama.
Aira melemas. Tangan yang semula menggenggam erat lengan baju Tama itu merenggang dan terjatuh. Aira tidak bisa berkutik lagi. Sebab kenyataan yang benar-benar tidak ingin ia yakini itu ternyata memang benar adanya. Nafasnya pun tersengal-sengal ketika ia harus mendengar pengakuan Tama. Tangis Aira hampir pecah. Benar-benar tidak percaya.
"Hahh...." menghela nafas tidak percaya.
"Kayaknya kita nggak usah ketemu dulu"
Aira langsung membuka pintu mobil dengan perasaan yang bercampur aduk itu. Marah, kesal, kecewa, nggak menyangka, nggak percaya, atau perasaan-perasaan lain yang sulit dijelaskan menjadi satu.
"Aira!" Tama sempat ingin menahan Aira pergi. Namun ia juga sadar, mungkin Aira membutuhkan waktu sendiri. Kalau dia memaksa untuk Aira tetap tinggal, yang ada keadaan semakin memburuk. Baiklah, Tama biarkan saja Aira pergi walaupun disisi lain Tama tidak tega melihat punggung Aira yang naik turun karena menangis itu mulai menjauh.
Tama memastikan dari jauh, dari kaca yang ada di tengah itu. Memastikan kalau Aira keluar area rumah sakit dengan baik-baik saja. Yang kemudian ketika Aira benar-benar pergi, ia memukul-mukul setir mobilnya dan berteriak penuh penyesalan.
"Aku harus gimanaaa?!" teriaknya.
Aira Pov
BOOM!
Tiba-tiba dia mengucapkan maaf. Apa itu artinya dia mengakui perbuatannya? Aku benar-benar tidak menyangka kalau itu memang dia. Orang yang ada dibalik gedung itu adalah dia. Apa yang dia pikirkan ketika melakukan itu? Bahagia kah? Senang kah? Atau ada rasa penyesalan kah?.
Saat itu juga aku memutuskan untuk tidak bertemu dengannya sementara. Sementara entah sampai kapan. Aku membutuhkan pikiran yang jernih untuk berpikir dingin. Walau sebenarnya perasaan ini ambyar.
Turun dari mobil tangisku langsung pecah. Berjalan sendirian sembari menangis tentu saja banyak pasang mata yang menatapku heran. Tapi aku teruskan saja jalanku karena mereka tidak tahu apa yang kurasakan saat ini.
Aku melambaikan tangan menghentikan taksi yang lewat. Aku masuk, bapak sopir taksi menatapku dengan kasihan karena aku menangis.
"Loh, kenapa mbak? Kok nangis?"
"Habis putus dari pacarnya ya?"
"Atau, pacarnya lagi sakit parah ya?"
"Nggak papa kok pak, jalan aja" ucapku seraya terisak.
Sampai dirumah, aku melihat lampu rumah yang sudah menyala padahal aku belum menginjak rumah sedari tadi. Aku melihat sekeliling rumah dengan mataku yang sembab sambil berpikir, siapa yang ada dirumah? Apa jangan-jangan ada maling ya?
Aku masuk rumah dengan mengendap-endap. Tak lupa, bersiap membawa sapu untuk dijadikan senjata seadanya. Saat di ruang tamu, aku mendengar suara gemelontang yang berasal dari dapur. Tapi kenapa maling ada didapur? Barang apa yang bisa ia curi didapur? Perlahan kakiku melangkah kearah dapur.
Benar, aku melihat ada orang yang sedang sibuk didapur. Lebih tepatnya aku melihat punggung yang lebar itu. Perasaan yang semula amburadul, acak-acakan perlahan memudar setelah melihat punggung orang itu.
"Ayah!"
Kupeluk tubuh ayah dari belakang. Hangat rasanya. Ini pelukan yang kuinginkan. Saking nyamannya, sampai tak terasa jika air mataku membasahi punggung ayah. Dan lama kelamaan isakan tangis mulai terdengar. Senang sekaligus terharu. Ternyata Tuhan tidak main-main merencanakan ini. Disaat aku memang membutuhkan pelukan yang menenangkan, ayah selaku cinta pertamaku ada dirumah.
Seketika aku menjadi teringat masa-masa kecilku. Masa-masa ibu masih ada. Masa dimana kami bertiga masih tinggal serumah dan pernah sebahagia itu. Masa sebelum perempuan jahanam merenggut semuanya. Sementara kusisihkan rasa benci yang pernah singgah untuk ayah. Tidak, mungkin bukan benci ayah, tapi wanita itu. Karena jika tidak karena wanita itu, kita bertiga masih bisa tinggal bersama.
"Aira udah pulang?" kata ayah.
"Loh, kenapa nangis Ai?" ayah menyadari jika punggungnya basah dan mendengar suara isakan tangisku. Ayah membalikkan badannya karena itu.
"Kenapa Ai?" ayah menyamakan tinggiku dan mulai mengusap air mataku.
"Hey, kenapa nangis putri ayah?"
Aku tidak menjawabnya. Melainkan memeluk ayah lebih erat dari depan. Bahkan isakanku semakin keras.
"Hussssttttt......" ayah mengusap punggungku lembut.
"Sejak kapan ayah pulangnya?"
"Kok nggak telepon Aira?" aku melepaskan pelukan. Bertanya sembari menangis manja didepan ayah sangatlah nyaman.
"Sengaja kasih kejutan, heheh. Yaudah, kamu mandi aja sana. Terus makan, baru deh kamu lihat ada apa di dalam koper itu" ayah melirik kearah koper hitam besar disamping tv.
__ADS_1
"Ayah bawa banyak oleh-oleh?" tanyaku antusias.
"Makanya cepetan mandi biar bisa cepet lihat oleh-olehnya"
"Iya iyaaaa"
"Ayah lagi ngalain tadi?" tanyaku, melirik kearah cangkir yang sudah diisi dengan kopi dan gula tanpa air.
"Lagi bikin kopi. Mau nuang airnya, eh! Tiba-tiba ada yang menerkam!" canda ayah.
"Sini biar Aira bikinin!"
"Nggausah, kamu mandi aja. Orang tinggal nuang air kok. Udah sana!" mendorongku agar segera mandi.
Begitulah ayah. Ayah tidak pernah bertanya apa masalahku. Tapi ayah paham betul apa yang aku rasa. Kira-kira, kenapa ayah tidak bertanya ya? Apa ayah nggak mau kalau aku mengingat masalah yang sedang aku alami?
Author Pov
Dirumah sakit, Indah selaku detektif yang menangani kasus Rida itu sedang berdiri disamping mayat yang sedang berbaring dimeja otopsi bersama dokter forensik tentunya.
Indah membuka kain putih yang menutupi tubuh mayat itu. Nampaklah seluruh tubuh mayat ayah Rida yang memiliki banyak luka tusuk.
"Dilihat dari luka tusuknya, pelaku pasti menggunakan pisau yang tumpul" kata dokter forensik itu.
"Ini laporan hasil otopsinya. Tapi yang istrinya belum keluar. Mungkin dua atau tiga hari lagi" kata dokter forensik.
"Baik dok, terimakasih"
Indah melihat semua hasil laporan itu dengan teliti.
"Pisau tumpul?" gerutu Indah.
"Kenapa dia menggunakan pisau tumpul kalau memang niatannya untuk membunuh?"
"Apa dia sengaja biar korbannya mati tersiksa ya? Kalau gitu kan kesannya seperti balas dendam. Sedangkan temannya bilang kalau mereka nggak pernah ada masalah dengan siapapun"
Rumah Aira.
"Makan apa yah?" Aira turun dengan kepala yang masih terbalut handuk.
"Ayah tadi delivery ayam kesukaan kamu tuh!"
"Wooaaaahhh!" Aira kesenangan.
Aira makan dengan lahap. Ditengah-tengah menikmati makanannya, Aira teringat dengan koper hitam yang ada disamping tv itu. Karena itu, Aira menjadi tidak sabar. Langsung saja Aira menarik koper itu kesampingnya. Aira hendak membuka koper oleh-oleh itu walaupun makanannya belum sepenuhnya habis.
"Woaaaah! Berat banget!" keluhnya ketika menarik koper.
"Ayah bawa apa aja si?!"
Krieeeet....
Suara resleting koper terbuka.
"Woaaaaahhh, lucu-lucu banget barangnyaaaa" dercaknya kagum.
Pertama yang Aira jumpai adalah beberapa gantungan kunci yang memiliki bentuk lucu. Aira suka dengan gantungan kunci itu. Kedua, Aira melihat ada beberapa gelang yang tak kalah cantik. Semua Aira bongkar satu per satu sembari melahap makanannya yang belum habis itu.
Aira menemukan topi koboy ukuran besar. Dipakailah topi koboy itu karena menurutnya itu cocok untuknya.
"Ehhh, itu punya ayah" tegus ayahnya.
"Tapi aku cocok kan yah" celotehnya.
"Ayah ngapain beli kain batik yang motifnya sama?" protes Aira.
"Banyak lagi. Ada satu, dua, tiga, empat, lima, tujuh, delapan?!" Aira membeberkan kedelapan kain batik itu didepan ayahnya.
"Buat apa yah? Toh motifnya sama cuma beda warna aja"
"Mana ada yang sama persis lagi" protesnya.
"Tuh! Warna sama motifnya sama!" Aira menunjukkan kain batik yang ia maksud.
"Itu untuk kamu kasihkan ke teman-temanmu!" kata ayahnya.
"Serius yah?!"
"Waaah, pasti seneng tuh mereka. Tapi ini kebanyakan yah! Temenku cuma ada dua!"
"Kasihkan juga ke Elang"
"Terus satunya lagi?" -Aira.
"Tama lah, siapa lagi?"
Deg!
Aira menjadi teringat masalahnya dengan Tama begitu ayahnya menyebutkan nama Tama.
"Ohh, Tama ya?" raut wajah Aira berubah masam dalam sekejap.
"Kenapa?"
"Lagi ada masalah sama Tama ya?" kata Bernan, ayah Aira.
"Ah.. Ng...nggak kok yah"
"Kamu pikir ayah nggak tahu?"
Wajah Aira menjadi semu merah karena ia ketahuan berbohong.
Tingtong!
Suara bel rumah.
"Biar Aira aja yah" Aira langsung berlari keluar.
"Siapa ya-"
"BIAN?!"
"Kenapa mukamu babak belur gini?"
"Uhhh.... Bau apaan nih nyengat banget!" Aira mengipas-ngipas area hidung menggunakan telapak tangannya.
Betapa terkejutnya Aira kedatangan seorang Bian dengan kondisi seperti itu. Rambut berantakan, wajah lebam-lebam, sudut bibir yang berdarah, nafas tak beraturan, serta pakaian yang kusut.
"Nggak papahhh...." tiba saja Bian ambruk di bahu Aira saking lemasnya.
"Ehhh, eh, eh, eh?!" Aira kewalahan karena badan Bian yang sangat berat.
"Ayah! Yah tolongin yah!"
__ADS_1
Bernan berlari kearah Aira khawatir.
"Kenapa Ai?!"
"Dia siapa?"
"Tolongin yah! Berat nih!"
Ditidurkannya Bian di kamar Aira dibantu oleh Bernan.
"Buatin dia sup biar pengarnya hilang. Jangan lupa kompres juga lukanya. Ayah mau lanjutin kerjaan ayah dulu" kata ayah Aira.
"Dia mabuk?" -Aira.
"Iya yah"
"Lagian kenapa begini sih?!"
"Lagian dia berantem sama siapa sampe kayak gini?"
"Mana dia mabuk lagi" Aira terus menggerutu.
"Bisa bisanya dia mabuk. Terus Rida sama siapa di rumah sakit?"
Aira sedang mengompres lukanya. Disaat itu juga, Bian perlahan membuka matanya. Betapa senang dia ketika membuka mata sudah ada Aira yang merawatnya. Tanpa sadar bibir Bian tertarik. Bian tersenyum walau keadaannya belum sepenuhnya membaik. Tapi, Aira masih belum menyadari jika Bian sudah terbangun. Aira masih sibuk dengan kompresan lukanya, hingga,
"WUAAA!" Aira terkejut karena mata Bian sudah terbuka.
"Ihhh!" memukul dada Bian.
"Ngagetin aja si?! Lagian sejak kapan bangunnya?"
"Ehehehe, eheeheheh" Bian senyum senyum tidak jelas.
"Idihhhh, ngapain nih bocah?!"
Aira berdiri dari duduknya berniat membersihkan wadah dan handuk bekas mengompres tadi.
Hap!
Tiba saja ada tangan yang mencegahnya.
"Mau kemana?"
"Disini aja napa" Bian dengan nada ala orang mabuk.
"Idihhh, apaansih! Sok imut tau nggak?!"
"Minggir! Emangnya mau air bekas kompresan aku siram ke mukamu?!" kata Aira.
"Lagian ngrepotin banget si?!" keluh Aira.
Aira kembali ke kamarnya dengan membawa nampan yang berisikan sepiring nasi, semangkok sup, dan segelas minuman hangat untuk Bian. Tapi setibanya dikamar, Aira tidak melihat Bian di kasurnya. Kemana dia?
Ia mencoba mencari di rumah pohon. Ternyata memang benar dia ada disana berdiri dan melamun sendirian.
"Ngapain si?!" Aira mengejutkannya.
"Nih! Dimakan!" menyodorkan nampannya.
"Hak!" Bian membuka mulutnya memberi kode agar Aira menyuapinya.
"Ogah! Makan sendiri!"
"Yaudah nggausah makan!"
"Yaudah terserah! Kan situ yang rugi!" -Aira.
"Kalo aku nggak mau makan, pengarku nggak ilang-ilang, terus aku masih mabuk, nggak bisa pulang, aku disini terus deh, ngrepotin kamu, ehehehehe" goda Bian.
"Issshhhh! Dasar anak ****!"
"Yaudah sini!" dengan terpaksa Aira meraih semangkuk sup itu.
"Nah gitu dong!" dengan riangnya Bian membuka muut menyambut suapan Aira.
"Ahhh, ahhh, ahhh" rintih Bian karena luka sudut bibirnya yang terkena kuah panas.
"Nah loh! Rasain!" celoteh Aira.
"Lagain kenapa bisa gini si?!"
"Mana kerumahku lagi. Nggak bisa apa mampir kerumah temenmu yang lain?!" gerutu Aira.
"Nggatau! Tiba-tiba setirku belok kesini, yaudahdeh!"
"Berantem sama siapa?!" tanya Aira sewot.
"Hmmmm, ternyata sewot sewot gitu masih ada rasa khawatirnya ya?" goda Bian.
"Ck! Udahdeh, jangan mulai!" kesal Aira.
"Tadi aku ketemu Tama" -Bian.
"Ya terus?" -Aira.
"Dia minum banyak!"
Aira terlihat tidak tertarik dengan topik pembicaraan Bian. Namun, itu tidak sepenuhnya benar. Aira diam-diam mendengarkan cerita Bian dengan seksama walau nampak luar Aira tidak peduli sama sekali.
"Udahdeh, jangan ngomongin it-"
"Aku barentem sama dia" jawaban Bian membuat ucapan Aira terpotong.
"Hahhhh" Aira menghembus nafas kasar.
"Ngapain lagi sih? Nggak bosen berantem sama dia terus?" kata Aira.
"Kamu tau nggak apa yang kita permasalahin?"
"Kamu inget kejadian di pantai itu?"
"Kamu lihat sendiri kan?"
"Kamu lihat dia mengayunkan senjatanya?"
"Bahkan kamu ngejar orang itu kan?"
"Ya terus apa urusannya sama Tam-"
"Tama orangnya!" secara tiba-tiba Bian mendekatkan wajahnya ke telinga Aira dan berbisik demikian.
"AHAHAHAHAHA!" Bian tertawa sengit begitu membisikkan kata yang membingungkan Aira itu.
__ADS_1