Strange School

Strange School
Bertemu


__ADS_3

Dilahan parkir bioskop, Aira sudah memasang raut wajah kecutnya. Dahi yang mengerut itu seperti sedang membutuhkan setrika agar kembali lurus.


"Mukanya kusut amat mbak" celoteh Bian sebelum dia turun dari mobil.


Aira hanya menggerak-gerakan bibirnya, meledek Bian.


"Mau nonton apa?" tanya Bian saat antri tiket.


"Terserah!"


Ya ampuuuun, semoga aja dia beli tiket film horror. Lagi pengen nonton film horror itu, tapi gengsi ngomongnya gimana dong, batin Aira, yang sedikit curi-curi pandang melihat poster film horror yang dia maksud.


"Theatre dua, dua ya mbak" kata Bian.


Hah? Theatre dua?!, Aira melirik kearah poster film.


Yessss!!!! Ihiiiiii, nonton horrorrr......, Aira menahan rasa girangnya, dengan menggigiti bibir bawahnya, tangan mengepal dan menghentakkan kakinya.


"Ayo!" ajak Bian, membuat Aira buru-buru mengembalikan sikap sok juteknya.


Disepanjang perputaran film horror itu, Aira terlihat sangat menikmati alur cerita sedangkan Bian sibuk menutupi telinga dan matanya ketakutan dan sesekali berteriak.


"Gitu kok ngajak nonton horor" ejek Aira.


"Kan kamu yang mau nonton horror" kata Bian.


"Hah?!"


"Ak....aku?" Aira salah tingkah.


Gimana dia bisa tahu?


"Habisnya kamu ngliatin poster film horor. Apalagi artinya kalau bukan pengen?" jelas Bian.


Sialan! Ketahuan kan.


"Heheheh" Aira menatap Bian cengengesan, yang kemudian membuang mukanya dari Bian dan menepuk dahinya.


---


Keluar dari bioskop, Bian tampak membuang nafasnya lega setelah hampir dua jam terjebak dalam film horor yang membuatnya bergidik. Namun, karena dia sedang bersama Aira, Bian mencoba untuk menjaga imagenya didepan Aira berpura-pura dia baik-baik saja.


Sesampainya didepan pagar besi hitam,


"Makasih!!" Aira mengucapkannya secara tak tulus.


"Senyum dong" goda Bian.


"Udaaaah, sana sana plulang. Pahit liat mukamu itu, sana sana sana"


"Nggak nawarin mampir dulu?"


"OGAH!!"


"Aku pulang dulu ya"


"Manis" Bian mengatakan itu dengan senyumannya.


Terlihat jelas Aira sedang menahan rasa tersipunya.


Tahan Ai, tahan.


Begitu kendaraan roda empat itu menjauh dari kediaman Aira, Aira menumpahkan seluruh rasa tersipu malunya dengan senyum-senyum sendiri dan pipinya memerah.


"Manis? Dia mencoba merayuku?" Aira memegangi pipinya yang merona.


Di rumah pohon yang menjadi markasnya, Aira melanjutkan gambarannya mengenai siapa saja kandidat yang patut dicurigai sebagai pembuat laman daring itu. Di buku note miliknya, Aira menggambar sebuah sketsa yang membahas tentang kematian Shinta.


"Tapi aku belum tau siapa Shinta itu, dimana rumahnya, siapa nama panjangnya. Apa besok cari tahu ya? Tapi gimana caranya?"


"Terus, perempuan yang ada di kamar mandi sekolah itu siapa ya?"


"Hufffhhhhhh, kenapa badan aku sakit semua ya? Padahal kan aktivitasku nggak banyak" Aira meregangkan otot-ototnya.


"Heheeee" Aira tertawa kecil saat melihat gelang tali pemberian Tama, karena itu mengingatkannya akan sosok Tama.


Tululit...tululit...


Panggilan masuk.


"Baru aja dipikirin" celoteh Aira.


"Halo?"


"Belum tidur?"


"Udah, ngok...ngok...ngokk" Aira menggoda Tama dengan berpura-pura tidur mendengkur.

__ADS_1


"Hahahahaha" Tawa tertawa gemas karena tingkah Aira.


"Kamu tidurnya ngorok ya?" Tama kembali menggoda Aira.


"Enggak!!!" Aira langsung terbangun dari tidue bohongannya mendengar ejekan Tama.


"Siapa yang bilang?!"


"Paling cuma....." Aira ragu melanjutkan ucapannya.


"Ngileran, hehe" lanjutnya.


"Sabtu luangin waktu ya. Kita jalan-jalan bareng. Boleh kan?"


"Serius nih? Boleh lah!! Boleh banget!!" Aira antusias.


"Yaudah, siap-siap sabtu ya!" kata Tama.


"Oke, see you hari Sabtuuuu" ucap Aira menutup telepon.


---


Bel pulang sekolah berbunyi.


"Ra, balik dulu ya" Henna pamit.


"Iya, hati-hati"


"Kamu nggak pulang?" tanya Rida.


"Nanti dulu deh"


"Aku duluan ya!" pamit Rida.


"Iyaaaa, hati-hati"


Seisi sekolah telah kosong. Hanya beberapa murid dan guru yang tinggal. Ruangan yang terdapat beberapa bangku, meja, papan nama setiap guru BK, serta rak kayu berisi dokumen-dokumen penting sedang Aira kunjungi saat ini.


"Hufhhh, untung nggak ada orang"


Aira mengambil buku dokumen data siswa kelas XI pada rak kayu berukuran 1,5x1m. Buku yang bersampul warna dasar putih dan memiliki halaman setebal 2cm itu Aira buka halaman demi halamannya.


"Shinta, Shinta, Shinta" bibir Aira terus bergeming mengucapkan nama Shinta.


"Nah!!!"


A. Keterangan Siswa


Nama Lengkap. : Shinta Ariningrum


Nama Panggilan. : Shinta


Jenis Kelamin. : Perempuan


Tempat, Tanggal Lahir : Tulungagung, 3 Mei 2001


Agama. : Islam


Kewarganegaraan. : Indonesia


Alamat. : Perum. Bumi Asri blok B no23


Jumlah Saudara. : 1


B. Keterangan Orangtua Siswa


Ayah :


Nama. : Adi Bayuaji


Tempat Tgl Lahir. : Tulungagung, 8 Mei 1971


Agama. : Islam


Pekerjaan. : Direktur Utama


Kewarganegaraan. : Indonesia


Ibu :


Nama. : Denisa Ariningrum


Tempat Tgl Lahir. : Tulungagung 20 Juni 1972


Agama. : Islam


Pekerjaan. : Manager Keuangan

__ADS_1


Kewarganegaraan. : Indonesia


"Gilaaa, ayahnya direktur, ibunya manager. Uangnya berapa gepok ya?" celoteh Aira.


Cekrek!!


Aira memotret data diri yang bersifat pribadi itu secara diam-diam.


"Lagi ngapain?" Seseorang muncul mengagetkan Aira.


"Waaaa!!!" Aira terperanjat tidak sengaja menjatuhkan ponsel serta buku induk siswa.


"Aduhhh ketahuaaaan kan" gerutu Aira.


Tap...tap...tap...


Orang itu semakin mendekat kearah Aira.


"Bian?!!" Aira membelalakkan matanya.


"Sial! Dia lagi?" gerutu Aira lagi.


Terburu-buru Aira mengembalikan buku induk siswa ke posisi semula.


"Budeg ya?" ejek Bian.


"Minggir!!" Aira jutek.


"Lagi ngapain tadi?"


"Bukan urusanmu! Minggir minggir!!" Aira hendak pergi.


Deg!


Bian berhasil meraih tangan Aira dan mencegahnya pergi.


"Ck!!" Aira mengeluarkan decitannya.


Tululit...tululit


Panggilan masuk, "Tama"


Layar ponsel Aira menarik perhatian Bian yang masih menggenggam erat tangannya. Bian melirik layar ponsel yang menampilkan nama "Tama" disana dan tersenyum sengit, sementara Aira memanfaatkan kesempatan ini untuk lepas dari genggaman Bian yang membuat pergelangan tangannya panas dengan menepiskan tangan Bian.


Tanpa mempedulikan Bian lagi, kaki Aira melangkah dengan cepat menjauh dari tempat Bian berdiri. Sedangkan Bian yang tertinggal itu mengikuti gerak-gerik Aira yang semakin jauh dengan bola mota yang melebar.


"Halo? Iya kenapa Tam?"


"Kemarin kamu kemana aja?" Tama berbicara dengan nada datar


"Dirumah. Emang kenapa?"


"Kemarin kamu kemana?!" sedikit menaikkan nada bicara.


Kaki yang semula melangkah itu seketika berhenti mendengar nada bicara yang tidak biasa Aira dengar.


"Aku dirumah Tam!!! Emang kenapa?!! Ada apa?!"


Tanpa menjawab pertanyaan Aira, Tama tiba-tiba memutuskan sambungan telepon.


"Lah? Dimatiin?" celoteh Aira.


Butuh waktu 10 menit untuk Aira sampai di rumahnya dengan mengayuh sepeda. Aira menikmati perjalanannya sembari menengok kanan kiri, melihat anak-anak yang asyik bermain dengan teman-temannya, ibu-ibu yang sedang berkumpul, serta matahari yang mulai meninggalkan bumi. Tak lupa, sesekali Aira mengangguk-anggukan kepalanya menikmati alunan musik yang mengalun dari earphone miliknya.


Gerbang besi hitam yang membatasi arah kota dengan arah rumahnya dibuka oleh Aira. Karena jarak gerbang besi hitam itu dengan rumahnya kurang lebih 500m, Aira harus mengayuh kembali sepedanya itu melewati jalan paving yang hanya cukup untuk satu mobil serta sepanjang jalan, bahkan sekeliling rumah Aira ditumbuhi pohon-pohon yang rindang bagaikan hutam milik pribadi.


Ciiiitttt.....


Aira menghentikan kayuhan sepedanya dengan perasaan yang amburadul. Sebab, seseorang dengan tiba-tiba berdiri didepan rumahnya dengan raut wajah gelisah, tanpa pemberitahuan dan tanda-tanda apapun.


Aira yang semula memakai earphone di telinganya, mendadak melepas earphone itu dari telinga dan terheran.


"Tama?"


Tanpa diduga pula, suara mesin kendaran roda empat datang tanpa diundang.


Siapa lagi yang datang?, batin Aira menoleh ke arah sumber suara.


Brak!!!


Pengemudi mobil itu menutup pintu mobilnya dengan keras.


"Bian?" heran Aira.


Tanpa perencanaan, Aira, Tama, serta Bian dipertemukan oleh Tuhan dalam keadaan yang sungguh membingungkan bagi Aira. Bagaimana tidak, Bian dan Tama saling melemparkan pandangan tidak menyenangkan seperti memiliki dendam tersendiri dari mereka masing-masing.


Aira yang masih berdiri diam tak berkutik diantara Bian dan Tama itu kebingungan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini? Apa yang Tama lakukan disini? Apa pula yang Bian lakukan disini?.

__ADS_1


__ADS_2