
Berhubung hari ini hari Jum'at, pukul 11.00 bel pulang sudah berbunyi. Anak-anak seisi sekolah pun bersorak gembira ketika mendengar bel pulang berbunyi bahkan 5 jam lebih awal dari hari-hari sebelumnya.
Begitu tiga sekawan itu menenteng tas ranselnya keluar kelas, salah satu dari mereka menyampaikan uneg-unegnya untuk mengajak yang lain pergi ke pantai menikmati angin laut, pemandangan laut, suara ombak, hingga nikmatnya makan ikan bakar di laut bersama teman-teman.
Rida menyampaikan uneg-unegnya itu dengan ekspresi yang ceria. Ya, begitulah dia. Selalu ceria setiap saat.
Henna dan Aira tentu saja sangat menyetujui rencana dari Rida itu, mengiyakan ajakan Rida dengan penuh semangat. Terlebih lagi, besok adalah Sabtu, hari libur.
Rida yang sangat antusias dari Henna dan Aira itu berjalan cepat menghampiri seseorang yang keluar kelas sembari memainkan ponselnya. Tak segan-segan, Rida langsung menepuk bahu orang itu dengan riang, sementara orang yang sapa itu belum tentu membalas sapaannya dengan ramah.
"Kak!" sapanya, menepuk bahu Elang cukup keras.
"Aira ngajakin ke pantai!" kata Rida.
"Katanya enak nih ke pantai, minum es kelapa, makan ikan bakar, pemandangannya bagus, angin sepoi-sepoi, camping disana" jelas Rida dengan mimik dan gerakan tubuh seolah ia sedang tampil musikalisasi puisi.
"Kok aku? Bukannya itu ide kamu?" Aira tak terima Rida memakai namanya atas idenya itu.
"Hmmm....." Elang memutar bola matanya mempertimbangkan ajakan Rida.
"Ayolah kak, yaaa?" Rida memohon-mohon pada Elang.
"Iya" jawab Elang singkat, namun membuat Rida mengangkat kedua tangannya.
"Ngerencanain apa kalian?" seseorang datang dari arah berlawanan, menenteng tas ranselnya.
"Nah! Pas banget nih!" celoteh Rida.
"Ada apa?" tanya Tama, seseorang yang baru datang.
"Ikut kita yuk!" ajak Rida.
"Kemana?"
"Pantai. Yaaaa, ikut yaaaa, plis lahhhhh" Rida seperti anak kecil yang meringik meminta mainan pada ayahnya.
"Boleh juga tuh!" Tama pun mulai bersemangat.
---
"*Selayaknya engkau tahu
Betapa ku mencintaimu
Kau, tenangkanku dari mimpi burukku......
Selayaknya kau mengerti
Betapa engkau ku kagumi
Engkau telah tinggal di dalam palung hati*...."
Mereka menikmati perjalanan dengan memutarkan musik keras-keras dan bernyanyi bersama, mulai genre mellow, hip hop, pop, hingga dangdut semuanya mereka putar.
Namun, berbanding terbalik dengan Elang yang hanya fokus pada jalanan, bahkan memasang ekspresi wajah kaku serta dingin seperti biasanya. Mulutnya pun tak sedikitpun terbuka untuk mengikuti yang lain bernyanyi. Benar-benar tertutup rapat. Hanya saja, dua bola matanya itu beberapa kali melirik kearah belakang, memandangi seseorang namun mencoba tetap tenang.
Awalnya, lirikan pertama ialah lirikan tanpa disengaja, yang mana lama kelamaan menjadi lirikan yang "nagih" untuknya.
Tak lama, mata lain telah menangkap lirikannya itu tanpa ia sadari. Mata yang melirik balik kearahnya, hingga membuatnya tersipu segera membuang lirikan terhadapnya. Lantas Henna mengerutkan keningnya ketika mendapati Elang sedang meliriknya.
Apa barusan dia melirikku?, batinnya.
Lirikannya aja membuatku merinding!, batinnya lagi.
Tak ingin mengingat lirikan menyeramkan itu, Henna mengalihkannya pada sebuah lagu dangdut yang sengaja ia putar.
"Ah... Ganti dangdut dulu ahhh..." dengan ekspresi jahilnya Henna mengganti putaran lagu walaupun lagu sebelumnya belum berakhir.
"*Opo pancen wes nasibku.....
(nasibmu piyeeee)
Kudu pisahan karo sliramu.....
(mesakneeee)
Jaremu arep nompo opo anane nagning nyatane tresnaku mbok sepeleknee.....
Kudune kowe ngerteniiii
(ngerteni piyeeeee)
Kabeh mung titipane gusti....
(Duh....gusti*)"
~Balungan Kere - Ndarboy Genk
Mereka begitu bersemangat ketika menyanyi dibagian reff lagu. Tak terkecuali Aira. Aira ikut bernyanyi hingga otot-otot lehernya terlihat menonjol seolah Aira-lah yang paling AMBYAR!
---
"Wohooooooooooo!!!!!" seru Aira begitu ia menginjak pasir putih.
Tepat sebelum matahari tenggelam mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Dikeluarkan semua persiapan terutama tenda yang mulai mereka bangun diatas pasir putih. Satu persatu dirangkainya tenda agar bisa berdiri kokoh.
"Woooaaahhhhh!!!!" Aira berdecak kagum ditengah-tengah menyusun tendanya.
Suasana senja berhasil menarik perhatian gadis berambut ikal dan juga yang lain. Matahari perlahan meninggalkan dunia untuk mempersiapkan staminanya esok hari. Karena besok ia harus kembali bersinar terang setidaknya untuk menunjukkan orang-orang bahwa, "Hai, ini lo aku. Aku masih bisa menerangi harimu. Kenapa kamu tidak bisa?. Kenapa kita tidak sama-sama bersinar?"
Tak ingin melewatkan detik-detik disaat matahari mulai hilang, Aira memilih duduk menekuk lutut disamping tenda yang belum sepenuhnya tegak berdiri menatap langit senja. Tangannya mulai melingkar pada kedua lututnya yang tertekuk ketika ia mulai nyaman dengan suasana ini. Aira telah terjerumus pada keindahan senja ini.
"AIRA!" Rida memukul lengan Aira karena sedari tadi ia panggil namanya ia tak dengar.
"Hah?!" jawabnya dengan kaget.
"Dipanggilin daritadi bukannya nyaut. Perasaan jarak kita juga deket deh!"
"Woahhhh!" seketika Rida terbungkam oleh pemandangan senja.
"Luarrrrr biasaaaa!" celoteh Rida.
"Hennaaaaaa!!!!" panggil Rida antusias.
"Apasih Da?" Henna memunculkan kepalanya yang tertutup tenda.
"Liat deh!" kata Rida, menunjuk kearah matari yang mulai terbenam.
"Woooooooowww!!!" dercak Henna, berjalan mendekat kearah Rida dan Aira yang duduk terpaku.
__ADS_1
Mendengar suara Rida yang nyaring, membuat Tama dan Elang yang saat itu sudah menikmati tenda yang dibuatnya itu keluar dari tenda penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan.
Tak hanya ketiga gadis itu yang terpaku akan keindahan saat ini. Tama dan Elang pun demikian. Tama yang sedaritadi sibuk bermain ponsel didalam tenda itu sontak masukkan kedalam saku. Sedangkan Elang yang sempat menutup mata itu kembali melebarkan matanya kagum.
Jadilah deretan lima manusia yang duduk menekuk lutut di pasir putih, menyaksikan tenggelamnya sang matahari. Aira tampak tersenyum merayakan perpisahan dengan Matahari hari ini. Senyumnya begitu lebar hingga membuat laki-laki yang duduk disebelah Elang itu curi-curi pandang dengannya. Bahkan, ia menyempatkan diri untuk mengeluarkan kembali ponsel yang sudah ia kantongi, untuk mengambil gambar seorang gadis tersenyum manis yang berhasil meluluhkan hatinya.
Hingga pada detik tertentu ia menyadari ada sebuah benda yang menyorot dirinya, menolehlah ia kearah benda itu. Rupanya benar dugaannya. Kamera ponsel sedang mengawasi dirinya. Karena hal tersebut, Aira menatap tajam kearah kamera memasang wajah cemberut. Namun wajah cemberut itu tak bisa menghentikannya mengambil gambar. Justru ia tertawa kecil dan terus memencet tombol potret dan menangkap banyak gambar wajah cemberut milik Aira.
Wajah cemberut itu hanya berlangsung selama tiga detik. Selebihnya, Aira mulai menerima kehadiran kamera itu dengan menebar senyum kearahnya bersama mata yang menyipit seolah ikut tersenyum.
Cekrek!
Begitu Tama mendapatkan foto terakhir, ia tak ingin pemandangan senyum manis tertutup oleh ponsel. Lantas, ia turunkan ponsel miliknya, memilih untuk melihat pemandangan indah langsung dari matanya.
"Aku sudah memikirkannya. Aku harus mendapatkannya!", batin Tama ketika ia memandangi Aira.
Matahari berganti bulan. Bulan ditemani bintang. Api unggun menerangi mereka yang riang. Mereka semua duduk melingkari api unggun, bermain lempar lagu.
"*Tuhan tolong....
Jaga dirinya disana...
Aku disini...
Disini!!" Rida menunjuk Elang.
"Disini.... Disini....
Disini kau dan aku...
Terbiasa bersama
Menjalani kasih sayang*..."
"Sayang!" Elang menunjuk Henna untuk melanjutkan lagunya.
Henna yang saat itu sedang menguncir rambutnya tersentak karena ia ditunjuk oleh Elang. Terlebih lagi, sepatah kata yang ia lontarkan dengan begitu antusias. Ya, kata itu.
"Sayang?" Henna mengerutkan dahi dan memutar bola mata.
"Sayang.... Sayang..."
"Aduhhh Apanihhh" menggaruk kepala.
"Satu! Dua! Ti......" menghitung waktu bersama-sama.
"Eh, bentar, bentar, bentar"
"Ga!"
"Bentaaaaar"
"Serang!" seru Aira.
Diantara mereka terdapat sebuah wadah yang menampung serbuk bedak berwarna putih. Diraihnya serbuk bedak itu oleh mereka, yang kemudian membubuhkannya pada wajah Henna. Wajah Henna menjadi putih dalam sekejap yang mengundang gelak tawa yang lain sebab ekspresi wajah yang pasrah.
"BWAHAHAHAHAH!!!" tawa mereka menggelegar.
"Pffftttt!!!!" Henna menyemburkan bedak yang sempat masuk dalam mulutnya, lagi-lagi mengundang gelak tawa temannya yang lain.
Bermain beberapa permainan dan menyanyi beberapa lagu membuat mereka mulai lelah dan merasakan kantuk di jam yang mulai larut. Rida lah yang terlebih dahulu berpamitan masuk ke tenda.
"Sampai jumpa besok!" sapa perpisahan dari Aira.
Setelah satu-satu dari mereka pamit tidur, suasana menjadi hening. Hanya deburan ombak dan suara angin yang terdengar. Tak ada kebisingan kota, hanya saja suara jangkrik yang mengerik bersamaan.
Karena tidur di alam terbuka, jendela tenda terbuka, ditambah lagi sebelum tidur tak menyempatkan diri untuk memakai lotion anti nyamuk, Aira terpaksa bangun dari tidurnya karena pasukan nyamuk yang mengurumuni dan menginggiti kulitnya.
"Harrrrgghhhhh!!! Nyamuk sialan!" umpatnya.
Dikala ia membuka mata kantuknya lebar-lebar, ia merasakan ada sesuatu yang hampa dan kosong. Aira menyadari jika tempat tidurnya Rida telah kosong. Pertama kali Aira pikir itu karena matanya yang belum sepenuhnya terbuka. Namun setelah ia mengucek kedua mata dan membukanya lebar, tempat itu benar-benar kosong.
"Oh, mungkin lagi kebelet" gerutu Aira yang kemudian melanjutkan tidurnya.
Kresekk...kresekk....
Suara semak-semak membuat Aira merinding.
"Apatuh?"
Kresek...kresek....
Semakin didengar baik-baik, suara semak-semak itu perlahan menjauh dan hilang. Aira semakin penasaran dengan apa yang ada di balik semak-semak itu, keluar dari tenda mencari sumber suara. Tentu tidak mudah bagi Aira untuk mencari sumber suara itu. Terlebih lagi suara itu sudah tak terdengar tiga detik sebelum ia keluar tenda.
Aira yang masih terselimuti kain pantai itu berjalan perlahan mendekati semak-semak. Tangannya menyibak membuka jalan untuk dirinya. Namun ada suatu hal yang mengganjal dibawah kakinya. Rupanya ia menginjak batu. Tunggu, batu-batu itu warnanya sedikit berbeda dengan batu yang lain. Sepertinya batu itu telah diselimuti cairan kental yang tidak asing.
Jari telunjuk mencolek cairan kental diatas batu. Cairan itu menunjukkan warna setelah tersentuh oleh jari. Warna merah, dan kental. Diciumnya cairan itu, yang ternyata baunya menusuk hidung.
"Darah?!"
Tak hanya di satu titik. Namun darah itu seperti membangun sebuah jalan setapak diatas batu. Itu terlihat seperti genangan darah yang diseret suatu benda. Aira mengikuti jejak darah setapak dengan jantung yang berdebar kencang. Walau ia penasaran ia berwaspada jika ada suatu hal yang menimpanya.
Semakin ia mengikuti alur darah itu, semakin banyak ia temukan darah yang tergenang. Tak hanya menemukan darah, ia juga mulai mendengar suara benturan benda keras dan seperti pukulan dibalik semak-semak tinggi itu.
Bug! Bug! Bug!
"Aku nggak bisa menahannya!"
Bug!
"Aku nggak bisa menahannya!"
Bug!
Suara bariton terdengar diantara suara pukulan yang tak hanua sekali terdengar.
Disibaknya sedikit semak-semak tinggi membuat celah guna mengintip apa yang sedang terjadi. Di sisi ini Aira hanya bisa melihat benda tumpul yang diayun-ayunkan. Benda itu penuh dengan darah. Tangan yang mengayunkan benda tumpul itu memakai sarung tangan karet yang juga bersimbah darah.
"Darah, palu, sarung tangan, suara pukulan?" gerutu Aira.
Karena tak begitu jelas, Aira sedikit mencondongkan badannya lebih dekat. Alangkah lebih baik jika dia melakukan itu setelah membenahi kain pantai miliknya yang menjuntai menyentuh tanah. Sayangnya, kain pantai itu tak sengaja terinjak kaki kanan Aira yang menyilang ke belakang, menyebabkan ia tersungkur.
"Aww!!" rintihnya.
Dilihatnya seorang perempuan berambut sebahu, memakai atasan kaos oblong berwarna merah bata dipadukan dengan celana olahraga warna hitam tergeletak bersimbah darah tak bernyawa. Oh tidak, Aira bahkan bertatap muka dengan mayat perempuan itu.
Apa itu semua? Kepala yang pecah, muka yang tak berbentuk lagi, serta luka tusuk dimana-mana.
Aira segera bangkit agar ia bisa menangkap suasana ini. Ia berdiri dari tempatnya terjatuh. Saat ia berdiri, ia merasakan sesuatu yang lengket di tubuhnya. Ternyata cairan yang kental dan lengket berbau amis dan berwarna merah. Aira ingin muntah rasanya, tapi untungnya masih bisa ia tahan.
__ADS_1
Sementara, seseorang berperawakan tinggi, sedikit berisi, berkaos hitam panjang, bertopi hitam, bermasker hitam, bersarung tangan karet, pembawa palu berdarah itu hanya diam berdiri memandang gadis terlumur darah segar. Bukannya berlari karena aksinya telah diketahui, ia malah menatap mata Aira.
Tatapan mata itu membuat Aira bergidik. Ia takut jika dia yang akan menjadi korban selanjutnya. Namun saat itu Aira hanya berdiri diam membeku tak berkata apa-apa dan tak berbuat apa-apa.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Siap-siap berlari.
Empat detik
Lima detik
Dan, LARI!!
Tunggu, kenapa Aira masih diam ditempat? Sementara orang serba hitam itu berlari menjauh dari Aira seolah Aira menakutkan. Menakutkan? Bukannya seharusnya Aira yang merasakan takut? Kenapa malah orang itu?
Aira diam kebingungan ditempat sebelum pada akhirnya ia berteriak pada orang itu agar ia berhenti berlari. Aira mulai mengejarnya walaupun ia tahu itu sangat berbahaya untuknya yang seorang diri.
"WOY!" teriak Aira.
Orang itu memiliki kecepatan lari yang patut diacungi jempol. Sepertinya dia memang dikaruniai itu agar bisa lari dari orang yang hendak menangkapnya.
Aira sudah berusaha sebisanya untuk menyamakan langkah dengan orang itu. Namun tetap saja ia tidak bisa menyusulnya. Aira mulai lelah ditengah jalan. Ia berhenti berlari menekuk kaki dan bernafas terengah-engah.
"Sial!" umpatnya yang kemudian terus mengejar.
Aira kembali mengejar, namun ia memilih jalan ke kanan dengan harapan dapat menghentikannya dari depan.
"HIYAK!" Aira berhenti tepat didepan pelaku, merentangkan dan dan melebarkan kakinya menghadang jalan.
Orang itu sempat menghentikan larinya. Namun tetap saja ia tidak mau tertangkap oleh Aira. Ia kembali berlari ke arah yang berlawanan. Kegigihan Aira untuk mengejar dan dapat menangkap pelaku itu cukup kuat. Sehingga rasa lelah dan kaki yang mulai pegal bisa ia abaikan.
Berlari dan terus berlari.
Aira hampir saja mendapatkannya. Tangannya terus meraih kaosnya tapi ia masih bisa menghindarinya. Aira harus memikirkan cara agar bisa menghentikannya.
Yak!!!
Kaki kanan Aira berusaha mendekati kaki orang itu.
Brak!!
Orang itu tersungkur karena tersandung kaki Aira.
Hap!!
Bruk!
Aira menangkap kaki kanannya. Tubuh dan palu berdarahnya terjatuh. Tentu saja ia tak akan menyerah untuk kabur. Ia bahkan menendang tubuh Aira hingga Aira kewalahan.
Set!
Aira malah mendapatkan sepatu sebelah kanan miliknya.
Set! Bug!
Aira terjatuh karena didorong olehnya.
Set!
Palu berdarah itu berhasil Aira raih.
Bug!
"ARRRRGGGGHHHH!" orang itu mengerang kesakitan karena mata kaki yang dipukul palu.
Orang itu kabur lagi. Ia berhasil lari dari tangan Aira, namun tidak dengan barang bukti yang ada ditangan Aira. Dia tetap kekeh berusaha kabur walau kondisi dengan kondisinya yang pincang. Ia terus merintih kesakitan disepanjang jalan.
Sampai ia berhenti di sebuah gubuk tua, duduk bersandar dan melepaskan semua rintihan dan keluhan yang ia simpan.
"Akhhhhh.... Arrrgghhh.... Sial!"
"Aku merasa sesak nafas karena masker ini, sial!"
Masker hitam itu perlahan ia buka. Mulut serta hidungnya terlihat jelas. Namun saat ini matanya masih tertutup oleh topi hitam miliknya. Ah... Siapa laki-laki itu?
Oh, dia mulai membuka topinya.
1
2
3
Set!
Topi hitam menanggalkan kepala menyebabkan rambut berantakan.
"Ah, berantakan sekali!" keluhnya.
Sarung tangan yang masih membungkus tangannya itu ia lepas, berpindah tempat ke kepala untuk merapikan kembali rambutnya.
Set!
Ia menyibakkan rambutnya dengan gaya kerennya yang khas.
Dapat!
Dialah orangnya, seperti itulah wajahnya.
Tunggu, siapa itu?
"Hufh.... Hampir saja!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
- TAMA menyeringai.