
"Hey, hey, hey, hey!!" Aira berusaha melepaskan genggaman tangan Elang dari tangannya sebab Aira hendak putar balik untuk menghampiri gadis pemilik sepatu yang sama persis itu.
"Kamu cari mati mau balik lagi?" tegur Elang.
"Ng..nggak!! Itu, ada urusan yang lebih penting!" kata Aira.
"Apa urusan yang lebih penting dari harga dirimu?" kata Elang.
"Tap...tap-"
Elang malah menarik Aira lebih kencang dari sebelumnya.
Elang membawa Aira ke tempat yang paling hening di sekolah. Tempat yang membutuhkan tenaga lebih untuk sampai kesana, namun tenaga yang terbuang itu terbayarkan begitu sampai di puncaknya.
Ya, Elang mengajak Aira ke atap sekolahnya yang selama ini Aira cari.
"Woaaahhh!" dercak Aira kagum.
"Tunggu disini!" Elang buru-buru pergi.
"Mau kemana?"
Elang tidak menjawab pertanyaan Aira.
Sembari menunggu kembalinya Elang, Aira duduk di pinggiran bangunan, mengayunkan kakinya yang masih tak beralas dengan santai ditemani hembusan angin yang seakan menyapu rambut Aira.
Ditengah-tengah asyiknya waktu santai Aira, tak sengaja Aira menatap kebawah dan melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan berbincang di suatu ujung bangunan sekolah yang sepi.
"Mereka ngapain di tempat sepi berduaan?" heran Aira.
"Kok kayaknya mencurigakan gitu?" dahi Air mengernyit.
Cekrek!
Aira memperbesar kameranya lalu memotret mereka.
Kedua orang yang juga murid di sekolah ini seperti sedang bertengkar jika dilihat dari raut wajah ekspresi masing-masing. Karena Aira penasaran dengan apa yanh mereka bicarakan, Aira mulai merekam gerak-gerik mereka dengan ponselnya. Tak lupa, Aira memperbesar gambar rekamannya itu agar dapat menangkap dengan jelas wajah, ekspresi, serta gerak-gerik mulut mereka membicarakan apa.
"Ra?" Elang datang, mengejutkan Aira.
"Waa!!" hampir saja Aira menjatuhkan ponselnya.
"Ngapain?"
"Nggak, lagi foto pemandangan aja" elak Aira.
Karena kedatangan Elang yang tiba-tiba itu, Aira kehilangan momen terakhir mereka berdua. Pada saat Aira melihat kebawah lagi, laki-laki itu sudah pergi sementara perempuan itu masih disana menumpahkan air mata.
"Lihat apa sih?" Elang yang penasaran dengan apa yang dilihat Aira di bawah itu hendak ikut mengintip.
"Nggak ada apa-apa" Aira mencegah Elang untuk melihat kebawah.
"Sini!" Elang menarik kedua kaki Aira agar menghadap dirinya.
Nampaknya, Elang membawakan sepasang sepatu milik Aira yang sempat Aira jemur di luar kelas. Tak hanya membawakan sepatu, Elang pun membawakan beberapa makanan ringan serta makanan berat.
Usai menarik kaki Aira, Elang memasangkan sepasang sepatu itu lengkap dengan kaos kakinya. Perlakuan Elang itu membuat Aira canggung dengannya.
Jedug! Jedug! Jedug!
"Santai aja kalik nggak usah grogi!" rupanya Aira tak dapat menyembunyikan rasa groginya.
"Yah, ketahuan!" kata Aira secara terang-terangan ditambah dengan bibirnya yang manyun membuat Elang sedikit menarik bibirnya dengan manis.
"Makan" kata Elang, menyuguhkan sebungkus nasi pada Aira.
"Mas Elang nggak makan?" Aira keceplosan mengeluarkan gaya bicara aslinya.
"Mas?"
"Eh! M..maksudnya..kak, heheh" Aira malu.
"Makan sebungkus berdua enak loh!" celoteh Aira sembari membuka bungkusan nasi dari Elang.
"Masa?" kata Elang dengan nada datar.
"Cobain aja" kata Aira.
"Aaaa" Aira membuka mulutnya, namun mengarahkan sesuap sendok itu ke Elang.
Elang diam sebentar, berpikir. Sedangkan tangan Aira mulai pegal mengangkat sesuap sendok itu.
"Yaudah kalau nggak mau!" celoteh Aira, yang kemudian memutar balik arah suapan sendok itu hendak ia arahkan ke mulutnya sendiri.
Sebelum tepat memasuki mulut Aira, Elang menggenggam tangan Aira dan menyuapkan sesuap sendok itu ke mulutnya dengan tangan Aira sebagai perantara.
"Hmmmmm" Elang tampak menikmati suapan itu.
"Sini!" Elang merebut sendok dari tangan Aira.
"Aaaa" Elang membuka mulutnya, menyuapkan suapan nasi ke Aira.
Aira tertawa kecil melihat sikap Elang yang belum pernah ia ketahui.
"Auummm!" Aira melahap sesuap nasi dari Elang.
Sebungkus nasi telah habis. Istirahat pertama pun telah habis. Namun Elang dan Aira tetap berada di atap, tidak mengikuti pelajaran berlangsung.
__ADS_1
"Kakak sering kesini?" tanya Aira, sedang memandang anak kelas lain yang bermain basket di bawah sana.
"Hmmm (iya)"
"Jarang ada yang kesini ya?"
"Hmmm"
"Ham hem ham hem aja. Nggak tau ya kalau cari topik itu nggak gampang?" Aira memanyunkan bibirnya dengan perasaan yang malu.
Elang menanggapinya dengan senyuman tipis.
"Emangnya kamu mau aku jawab apa?" tanya Elang, menoleh kearah Aira yang masih sibuk dengan pemandangan yang Aira nikmati.
"Aku mau tanya hal penting ke kakak boleh?" Aira berkata ragu.
"Apa?"
"Pesta malam itu, sebenarnya pesta apa?"
"Hm?" Elang membelalakkan mata, bingung menjawab apa.
"Menurut kamu?" Elang balik bertanya.
"Kalau aku tahu aku nggak bakalan nanya!" kata Aira.
"Lukamu udah kering?" Elang malah membahas luka.
"Kamu mengalihkan pembicaraan?" tebak Aira.
Elang hanya diam.
"Terus, kenal Tama darimana?" tanya Aira lagi.
"Tama?" Elang mengulangi perkataan Aira.
Aira mengangguk membenarkan ulangan kata Elang.
"Kita dulu satu sekolah waktu SMP" jelas Elang.
"Oh ya? Dulu kamu tinggal di kotaku juga?"
"Hmmm" Elang mengangguk lagi.
"Terus, kenapa kalian melakukan itu? Di pesta itu?" Aira mulai memasang raut wajah seriusnya.
"Kalian pasti sudah melakukan ini jauh sebelum aku tahu kan?" sambungnya.
"Kenapa kita jadi bahas hal ini?" kata Elang.
"Seandainya kalian tidak melakukan itu, aku juga tidak akan bertanya ataupun membahas ini" lanjutnya.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Elang dengan santainya.
"Awalnya memang bukan. Tapi karena salah satu dari kalian melibatkan aku dengan pesta itu, mengajakku ke pesta itu, itu membuatku tidak bisa jika tidak ikut campur dalam masalah ini" terang Aira.
"Bisa kita membicarakan topik yang lain? Mumpung aku masih meminta dengan nada yang baik-baik" kata Elang.
"Aku hanya menanyakan 'kenapa kalian melakukan itu', apa susah untuk menjawab pertanyaan itu?" kata Aira.
"Kamu nggak perlu ikut campur!"
"Bagaimana bisa kamu bilang aku nggak perlu ikut campur?! aku sudah terlibat didalamnya!. Masuk selangkah di dalam gedung itu pun sudah membuatku terlibat!" kata Aira, sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Ada satu alasan yang membuatmu harus terlibat dalam masalah ini tanpa kamu sadari!" Elang menunjuk Aira dengan jari telunjuknya lalu pergi meninggalkan Aira di atap sendirian.
"Apa yang dia maksud? Apa alasannya?" Aira menggerutu memikirkan masalah itu.
Pada istirahat kedua, rasa bimbang yang sempat mampir di benak Aira kembali menghantam pikirannya. Bagaimana tidak, ajakan Tama untuk bertemu di perpustakaan itu tetap terngiang. Aira bingung, haruskah dia memenuhi permintaan Tama untuk bertemu, ataukah tidak?. Sementara Aira masih belum bisa untuk bertemu dengan Tama setelah kejadian di pesta itu.
Tring....
Pesan masuk.
"*Aku ada di balkon perpustakaan"
"Aku tunggu selama 10 menit dari sekarang*"
"Ck! Gimana nih?" Aira seperti dikejar waktu.
"Yaudah deh! Mungkin dia merasa bersalah banget" Aira memutuskan untuk memenuhi permintaan Tama.
Di perpustakaan yang ramai, Aira mencari-cari dimana keberadaan Tama. Sementara, balkon yang dimaksud Tama pun ramai dengan siswa siswi yang lain sehingga menyulitkan Aira untuk menemukan keberadaan Tama.
Set!
Tiba-tiba, sebuah tangan dari balik rak buku perpusatakaan menarik tangan Aira.
"Tama?"
"Sebelumnya makasih udah mau datang walaupun dengan berat hati" kata Tama.
"Ada apa?" tanya Aira.
"Aku hanya mau minta maaf soal sikap aku di pesta malam itu. Aku harap kamu bisa mengerti emosiku" jelas Tama.
"Itu aja?" kata Aira sinis.
__ADS_1
"Kamu meragukan permintaan maafku?" Tama sedih.
"Yaaa, bukan gitu. Mungkin aku masih kebawa perasaan saat di pesta itu" jawab Aira enteng.
"Jadi, gimana dengan permintaan maafku?" Tama menaikkan alisnya penuh harap.
"Kalau kamu memaafkanku, datang di coffeshop baru yang ada di perbatasan kota jam tujuh malam. Aku tunggu disana ya"
Pulang sekolah, langit kembali mendung. Tanda-tanda hujan pun semakin jelas. Dalam keadaan ini, Aira kembali mengingat payung biru pemberian Elang yang ia letakkan di pojok kelasnya.
"Ra! Aku duluan ya" kata Henna.
"Iyaaa"
"Duluan ya, Ra" pamit Rida.
"Iyaaa"
Setelah berpikir, Aira memutuskan untuk mengambil payung itu dan mengembalikannya pada Elang.
Dengan percaya diri Aira berjalan tegak menuju kelas Elang. Namun tiba-tiba percaya diri Aira itu menciut ketika melihat segerombol anak laki-laki teman Elang serta Elang sendiri keluar kelas.
Hap!
Aira menutup langkahan kaki.
"Mati akuuuuu" gerutunya.
Lantas, Aira langsung membalikkan arahnya membatalkan niat mengembalikan payung.
"Aira?" namun Elang tahu kehadirannya lebih dulu, memanggil nama Aira ketika dia masih bersama teman-temannya. Tentu saja itu membuat Aira malu.
"Iiiiiii, gimana niiiiihhhh" Aira menggigiti bibir bawahnya.
"Tenang Ai, tenang" menenangkan dirinya sendiri.
"Kak, hehehe" Aira kembali memutarkan tubuhnya memberanikan menyapa Elang.
"Kenapa?" Elang datar.
"Iniii, cuma mau balikin payung, hehehe" Aira memberikan payung itu pada Elang.
"Nggak usah" jawab Elang singkat.
"Nggak papa" Aira tetap ingin mengembalikan payung itu.
"Nggak! Bentar lagi hujan. Pasti kamu kehujanan lagi"
Aku emang mau hujan-hujanan, kan udah pulang sekolah. Nggakpapa dong main hujan-hujanan.
Aduuuuh cepetan dong, kan malu sama temen-temenmu ituuu, batin Aira.
"Udah ya kak, aku udah ditunggu. Makasih ya" kata Aira dengan terburu-buru dan langsung pergi tak kuasa menahan malu.
Aira berjalan cepat buru-buru menghilang dari pandangan mereka. Sesampainya di tempat parkir sekolah, Aira menghela nafas panjang.
"Hahhhhh.... Rasanya nggak bisa nafas sebelum hilang dari pandangan mereka" celotehnya.
Tik...tik....tik...
Hujan telah turun.
"Nahh!!! Momen yang ditunggu, hehehehe" ujar Aira.
Mengetahui hujan turun, Aira dengan sengaja melepas sepatunya dan memasukkannya dalam tas dengan asal. Mulailah Aira mengayuh sepedanya dibawah air hujan.
Seseorang dari tangga menuju masuk ke gedung sekolah sedang berdiri terdiam menatap tingkah Aira di parkir sekolah tanpa sepengetahuan Aira. Dia adalah, Tama.
"Kamu masih sama ya" gumam Tama saat melihat Aira disertai senyuman tipis.
Sampai pada pekarangan rumahnya, seperti biasa Aira tidak melihat kendaraan roda empat milik ayahnya terparkir disana. Aira mendengus kesal karenanya.
"Kalau gitu aku tinggal aja sendiri!!!" celoteh Aira.
Usai mandi, Aira berniat membuat mie goreng pedas di kala hujan masih menerjang. Dengan handuk yang masih melilit kepalanya, Aira langsung menuju ke dapur.
"Ayah pasti belum makan, sekalian aja deh" kata Aira.
Dua kotak makan serta satu botol minuman yang besar Aira masukkan ke dalam kantong kertas. Sebelum berangkat, Aira memeriksa ponselnya lebih dulu.
"Orangnya udah didepan!" Aira panik begitu mengetahui jika taksi onlinenya sudah menunggu didepan gerbang. Lantas Aira langsung mengambil payung dan berjalan menuju gerbang utama.
"Jalan pak!" kata Aira.
Di meja informasi, Aira tidak bertemu dengan dua wanita penjaga. Meja informasi dalam keadaan kosong. Mungkin yang jaga lagi istirahat. Karena itu, langsung saja Aira naik tangga menuju ruangan ayahnya.
Dari jendela yang sedikit tertutup gorden, Aira melihat ayahnya sedang duduk di kursinya namun dengan raut wajah yang seperti menahan amarah. Aira heran, apa ada orang lain didalam?
"Ah, mungkin ayah lagi banyak pikiran aja" celoteh Aira, yang kemudian tetap masuk ke kantor ayahnya itu tanpa mengetuk pintu.
Begitu pintu sepenuhnya terbuka, menampilkan seseorang yang masih berseragan sekolah menengah atas duduk di sofa dengan santainya.
Siapa itu?
Begitu dia menoleh kearah Aira, Aira tertegun melihatnya.
"Elang?"
__ADS_1