
Flashback On
Bel masuk telah berbunyi. Tama pun sudah duduk dibangkunya. Meski tubuh Tama tetap duduk terdiam di bangkunya, tapi pikiran Tama kemana-mana. Ia membayangkan apa saja yang terjadi antara Aira dan Bian yang tidak masuk sekolah secara bersamaan dan kemana perginya mereka.
Hingga akhirnya Tama memutuskan sesuatu. Pulang sekolah, Tama sudah berdiri didepan kelas Elang menunggu Elang keluar.
"Woahh!!" Elang tersentak karena terkejut dengan Tama yang berdiri tepat disamping pintu kelas.
"Ngapain si berdiri disitu?!" tegur Elang.
"Kita harus ke rumah Aira sekarang!" kata Tama.
"Ngapain?!"
"Udah cepetan!"
"Wehhh! Kalian belum pulang?!" disusul Hatta yang datang dari arah berlawanan hendak pulang.
"Kamu juga ikut!" celetuk Tama begitu Hatta datang lalu pergi meninggalkan Elang dan Hatta yang masih kebingungan itu.
"Dia kenapa si?!" gumam Hatta begitu Tama pergi.
"Turuti ajalah, tau sendiri kan kalau dia marah kayak gimana?" bisik Elang.
Tama berjalan menuju kelas Henna. Untungnya Henna belum pulang karena masih ada guru yang menceramahi mereka. Tama menunggu Henna didepan kelas hingga Henna keluar.
"Mengerti anak-anak?!"
"Mengerti buuuu!" seru yang lain dengan nada malas karena tidak kunjung pulang.
"Jangan lupa tugasnya minggu depan terakhir!"
"Iya buuuuu"
"Hahhh.... Udah bel pulang masih aja bahas soal?!" gerutu Henna ketika membereskan buku-bukunya.
Henna lantas keluar setelah membereskan buku-bukunya kedalam tas. Dia keluar dengan lesu. Ia merasa tidak semangat karena dua sahabatnya yang tidak masuk sekolah.
"Cepetan masuk mobil!" Tama mengejutkan Henna dengan tiba-tiba muncul didepan Henna.
"HUAAAA!!!" Henna tersentak melompat kecil kebelakang.
"Apaansih Tam?!" kesal Henna.
"Dateng dateng langsung nyuruh. Kenapa si?!" omel Henna.
"Udah cepetan!" Tama memasang wajah kesalnya.
Henna yang takut Tama marah itu lantas menurutinya saja walaupun ia juga tidak tahu diajak kemana. Henna berjalan menuju parkiran bersama Tama. Sesampainya disana, sudah ada Hatta dan Elang yang berdiri menyender mobil Tama menunggu kedatangan Tama karena mereka tidak bisa masuk kedalam mobil.
"Lah, kok ada mereka juga?! Emangnya kita mau kemana si?!" -Henna.
"Bawel!" celetuk Elang yang cukup membuat Henna kesal.
Merek telah sampai di halaman rumah Aira. Henna langsung ber-oh ria begitu tahu ia mau dibawa kemana.
"Kenapa nggak bilang daritadi kalo mau ke rumah Aira? Kalau kayak gini mah aku nggak bakalan cerewet daritadi kalik!" celoteh Henna.
Mobil ayah Aira sudah ada di garasi mobil. Tandanya ayah Aira ada dirumah dan sudah pulang. Tumben ayah Aira sudah pulang sore begini.
"Assalamualaikum!" Tama memimpin.
"Waalaikumsalam!"
"Eh, kalian?"
"Elang? Ayo mas-" Bernan membuka mata senang dengan kehadiran Elang, anak tirinya dirumahnya.
"Loh?! Aira mana?" ayah Aira mencari Aira di barisan mereka.
"Tadi Aira tidak masuk sekolah, katanya dia sakit. Makanya kami kesini" jelas Tama.
"Sakit?" kening ayah Aira berkerut.
"Yaudah kalian masuk dulu"
Wahhh, gawat! Aira bohong dong?, batin Henna.
Berarti, pas di kantin tadi, mereka pasti ngomongin Bian sama Aira. Sudah pasti, nggak ada yang lain.
Lagian, ngapain Aira bolos segala? Sama Bian lagi. Udah tau keadaan lagi begini.
Henna ikut bingung bagaimana menyelesaikan situasi ini. Lantas, begitu masuk rumah Aira, Henna langsung pamit ke kamar mandi dengan alasan membuang air kecil.
Sesampainya di kamar mandi dan memastikan pintu telah tertutup, Henna malah membuka ponsel dengan paniknya. Henna sibuk mencari nomor kontak Aira dengan tergesa-gesa. Ia mencoba menelelon Aira. Tapi nomornya tidak aktif. Sudah berkali-kali Henna mencoba, tapi hasilnya sama. Henna semakin panik karena situasi ini.
"Aduhhhh, Aira kemana siiii?! Nggak tau suasana lagi genting apa?" gerutu Henna.
Tak tahu lagi. Henna menyerah menelepon Aira berkali-kali. Akhirnya pun ia keluar kamar mandi dengan pasrah. Tapi rasa gugup dan deg-degan masih terasa. Kaki Henna gemetar ketika berjalan kembali ke ruang tamu karena Henna sudah memprediksi akan ada perang dunia dalam beberapa saat lagi.
Ayah Aira sedang sibuk didapur. Ayah Aira sedang membuat minuman untuk mereka, teman-teman Aira. Sembari mengaduk minuman itu, sembari berpikir kemana perginya Aira. Ayah Aira pun mencoba menghubungi Aira. Namun hasilnya sama dengan Henna tadi. Ayah Aira mulai khawatir. Tapi, disisi lain, ayah Aira menebak jika Aira sedang pergi bersama Bian. Terlebih, pagi tadi Bian mengatakan jika ia tidak masuk sekolah hari ini. Mengingat itu, ayah Aira sedikit lega dan yakin.
Tapi, lagi-lagi rasa khawatir itu kembali tumbuh ketika mengingat lagi kalau Aira dan Tama sedang ada sesuatu yang kurang mengenakkan. Bernan, ayah Aira berpikir, kalau Tama tahu Aira pergi dengan Bian, takut nantinya Tama marah dan pertengkaran mereka tambah parah. Akhirnya Bernan memilih untuk diam pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi.
Bernan kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisikan empat gelas minuman. Bernan menyuguhkan pada mereka dengan senang hati.
"Aira kemana om?" Tama mulai membuka mulutnya untuk menanyakan keberadaan Aira. Bernan bingung menjawab apa.
Tak berapa lama,
"Assalamualaik-"
Flashback Off
Aira datang dengan pakaian seragamnya yang ditutupi dengan cardigan rajut warna navy. Aira membelalakkan mata begitu melihat siapa yang bertamu di rumahnya. Disusullah dengan Bian dari belakang. Bian juga sama terkejutnya dengan Aira. Bian dan Aira melihat ekspresi Tama yang begitu tenang namun mematikan. Mereka melihat Tama yang sedang menenggak minumannya dengan lirikan yang mengarah ke mereka.
Matilah aku!, batin Aira.
Setelah berfokus pada Tama, Aira melemparkan tatapannya kearah Henna yang terlihat sama khawatirnya. Henna mengisyaratkan kalau dunia akan berakhir. Henna menyilangkan tangan dan menggelengkan kepalanya menyampaikan pesan pada Aira. Henna juga mengisyaratkan menggorok lehernya dengan ibu jari seolah ibu jari itu adalah pisau.
"Ayah" sapa Aira dengan perasaan bersalah.
"Om saya ijin bicara sama Aira ya" Tama sudah berdiri ditempatnya. Membuat suasana semakin mencekam.
__ADS_1
"Tunggu dulu. Biarkan Aira istirahat sebentar" tahan Bernan.
"Iya Tam, duduk dulu. Biarkan dia istirahat dulu" Elang menarik seragam Tama agar Tama duduk kembali.
Mau tak mau, Tama menuruti perkataan Bernan dan Elang. Tama kembali duduk ditempatnya.
"Sini Ai, Yan" Bernan meminta Aira dan Bian untuk duduk sekursi dengannya.
Aira pun berjalan mendekati ayahnya. Begitu juga dengan Bian yang mengikuti langkah Aira. Selepas itu, keadaan sangatlah canggung. Keadaan ini bertahan selama kurang lebih 3 menit. Yang kemudian dipecahkan oleh Bernan.
"Oh iya! Om lupa! Om kan barusan dari luar kota, om bawa oleh-oleh buat kalian!" ujar Bernan dengan penuh harapan bisa memecah canggung ini.
"Waaahhh! Serius om?! Mau dong om!" disahut oleh Henna yang juga membantu memecahkan canggung.
Bernan pergi mengambil koper hitam yang penuh dengan oleh-oleh. Dengan antusiasnya, Henna mengampiri Bernan dan membantu membawa koper itu.
"Boleh milih nggak om?" -Henna.
"Boleh dong!"
"Saya dapet nggak om?!" sahut Hatta.
"Pastinya. Pilih aja, yang mana kesukaan kamu" -Bernan.
"Kita bicara sekarang!" Tama sudah tidak dapat menahan hasratnya. Tama langsung berdiri dari tempat untuk kedua kalinya.
"Ijin om!" kata Tama, yang langsung menarik tangan Aira menuju ke kamar Aira.
"Woy! Kalo mereka berantem gimana?" bisik Henna pada Elang.
Tapi reaksi Elang hanya menaikkan bahu menyepelekan.
Aira dan Tama telah sampai di kamar Aira. Begitu sampai, Tama sedikit mendorong Aira karena kesalnya yang tak terbendung. Aira merintih kesakitan karena itu.
"Darimana kamu sama dia?!" Tama langsung meninggikan nada suaranya.
"Bagaimana bisa kamu pergi sama dia?!"
"Apa gara-gara persoalan kemarin?!"
"Begini caramu balas dendam?!"
"Kamu jalan sama orang yang bahkan sejenis denganku! Kamu tahu itu?!"
"Aku tahu!" jawab Aira tegas.
"Bian memang sejenis denganmu! Tapi nggak sama!"
"Seenggaknya dia nggak mun*fik!"
"Nggak kayak orang yang aku anggap baik tapi ternyata jauh dari kata itu!"
"Dia juga udah jujur kok sama aku. Dia udah cerita kalau dia terlibat dalam bisnis gelap itu!"
"Dan kamu marahnya sama aku?! Gitu?!" -Tama.
"Kamu marah ke aku sedangkan ke Bian nggak, gitu?!"
"YA KARENA AKU TERLANJUR BERHARAP BANYAK KE KAMU!" Aira mengelurkan powernya.
"Nggak salah dong aku lebih kecewa sama kamu?!"
"Dan bukannya aku udah bilang dengan jelas waktu itu?! Kalau kita nggak usah ketemu dulu?!"
"Kurang jelas?!"
Aira tidak ingin berlama-lama lagi menatap wajah Tama. Karena itu Aira langsung berbalik arah meninggalkan Tama.
"Kamu juga harus inget Ai!" teriak Tama berhasil membuat langkah Aira terhenti.
Tap...tap...tap...
Tama melangkah pelan mendekati Aira dan berbisik padanya.
"Kamu nggak akan bisa lepas dariku" bisiknya tepat ditelinga Aira.
"Aku udah pernah bilang itu kan?"
"Aku yakin kamu nggak lupa" timpanya, lalu pergi mendahului Aira.
Seketika Aira merinding mendengar bisikan itu. Ia menggenggam erat roknya, menggigit bibir bawahnya gugup.
Sesaat sebelum Aira dan Bian kembali, ada Hatta yang datang menghampiri Bian.
"Semalem kemana aja?!" Hatta memukul lengan Bian.
"Aku tahu kamu nggak ke tempat Rida buat jagain dia!"
"Aku tahu kalo kamu lagi menghindar kan dari Tama karena habis berantem di club kemarin?"
"Pake alasan mobil di bengkel lah, jagain rida lah, minta sharelock pula!" celoteh Hatta.
Hah?! Emang kapan aku bilang kayak gitu?, batin Bian.
"Udah jujur aja. Kamu emang nggak ke tempat Rida kan?" -Hatta.
"Bian! Kamu nggakmau oleh-oleh?" ucap Bernan pada Bian.
"Eh, iya om" Bian langsung menghampiri Bernan memilih oleh-oleh mana yang cocok dengannya.
"Guys, udah mulai malem! Ayo pulang!" ucap Tama begitu turun dari anak tangga terakhir.
"Om, kami pamit dulu ya. Makasih atas jamuannya, permisi"
Mereka semua pun berpamitan pulang. Tama, Elang, Hatta dan juga Henna. Terkecuali dengan Bian. Bian masih tetap tinggal dirumah Aira walau sudah diperingatkan dengan lirikan tajam dari Tama.
Begitu mereka pergi, Bernan menghampiri Aira dan bertanya apa yang terjadi. Mereka berdua di interogasi karena ketahuan berbohong.
"Kalian darimana?" -Bernan.
"Maaf yah" ucap Aira.
"Kenapa kamu bolos?" -Bernan.
__ADS_1
"Itu bukan salah Aira om. Itu salah saya sudah mengajak Aira. Aira sudah bilang nggak mau tapi saya maksa om" -Bian.
"Emangnya kalian kemana?"
"Ke pantai om" jawab Bian jujur.
"Hufffhhhh...." Bernan membuang nafas kasar.
"Apa kamu senang?" tanya Bernan pada Aira.
"Apa kamu udah lupa sama masalahmu?"
"Ayah nggak keberatan kalau memang begitu. Ayah mengerti. Ayah nggak marah"
"Maaf yah. Nggak ngomong ayah dulu. Tapi Aira sedikit lega"
"Maafin Bian juga om"
"Nggak papa. Makasih udah mau ngajak Aira. Walaupun caranya nggak om suka"
"Maaf om"
"Yasudah, pulang sana! Seharian kamu belum pulang kan?" -Bernan.
"Iya om. Saya permisi. Makasih ya om"
---
Paginya, seluruh kota dihebohkan dengan berita penangkapan pelaku pembunuhan beberapa waktu lalu. Seluruh channel televisi dipenuhi oleh berita mengejutkan itu. Banyak orang-orang yang membicarakannya pula. Mulai dari kalangan bawah hingga atas. Semua membicarakan itu.
"Terungkap! Pelaku pembunuhan suami istri, blablabla"
"Ck! Ck! Ck! Anak jaman sekarang!"
...
"Tega banget si?!"
...
"Anak nggaktau diri!"
...
"Emang sakit nih orang!"
...
Blablabla dan masih banyak gumaman lainnya.
Sebelum sampai disekolah, Aira menyempatkan diri untuk mampir di minimarket dekat sekolah untuk membeli obat sakit kepala sekaligus sebotol air minum. Karena sedari ia membuka matanya, Aira sudah merasakan kepalanya yang pusing.
Masuk minimarket pun, berita itu masih terdengar. Penjaga kasir terlihat mendongakkan kepala agar bisa menonton berita itu.
"Selamat datang, selamat berbelanja!" penjaga kasir dikejutkan dengan pelanggan ditengah-tengah ia fokus dengan televisi.
Lantas Aira langsung menuju ke rak obat-obatan dan mencari obat sakit kepala. Selepasnya dari rak obat, Aira menghampiri rak minuman dan mengambil satu botol minuman. Aira meletakkan barangnya diatas meja kasir. Namun, penjaga kasir itu belum menyadari kehadiran Aira. Aira sedikit kesal karena itu. Tapi pada akhirnya Aira malah ikut menonton televisi. Aira juga penasaran dengan apa yang membuat penjaga kasir itu tidak fokus bekerja.
"Dan sekarang, kami sudah berada di depan kantor polisi dimana pelaku itu berada"
Aira melihat berita itu. Berita yang saat itu sang reporter sedang berdiri didepan kantor polisi menunggu pelaku. Banyak juga para wartawan yang datang mengerumuni kantor polisi untuk melihat pelaku pembunuhan tersebut.
"Anak jaman sekarang. Nggak ngerti susahnya orang tua ngehidupin!" gumam penjaga kasir.
"Eh! Mbak! Udah lama ya? Maaf!" penjaga kasir baru menyadari adanya Aira.
Aira masih fokus pada layar televisi itu ingin tahu. Dan, saat yang ditunggu-tunggu tiba. Ada beberapa polisi yang sedang membawa pelaku keluar dari kantor. Pelaku itu hanya menundukkan kepalanya mungkin terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya. Semua wartawan langsung menyerbu mengerumuni mereka.
"Totalnya 15 ribu mbak!"
Aira masih bengong menatap televisi itu, menunggu pelaku menampakkan wajahnya.
"Mbak?"
"Mbak? Halo? Totalnya 15 ribu" penjaga kasir itu melambaikan tangannya didepan wajah Aira.
"Eh, iya? Berapa?"
"15 ribu mbak" sudah tiga kali ia mengulang.
"Ini mbak" memberikan uang senilai dua puluh ribu.
"Bagaimana perasaan anda saat ini?"
...
"Apa anda melakukannya sendiri?"
...
"Apa ada kaki tangan?"
...
"Tolong katakan perasaan anda saat ini"
...
"Tolong katakan sesuatu!"
...
Blablabla dan masih pertanyaan-pertanyaan yang lain.
"Hehe!" pelaku itu justru tertawa menyepelekan. Akibatnya, suasana hening seketika karena bingung apa yang membuatnya tertawa.
"AHAHAHAAHAHHA!" ia semakin menjadi-jadi. Pelaku itu tertawa keras sembari mengangkat kepalanya. Terlihat jelas wajah dari pelaku itu. Ia nampak pucat, lingkaran matanya gelap mungkin kekurangan tidur. Para wartawan menjadi sedikit melangkah mundur takut terjadi apa-apa.
Aira telah menerima barangnya. Namun ia masih menunggu penjaga kasir itu memberikan kembaliannya. Ia memanfaatkan waktu menunggunya untuk melihat lagi ke televisi.
"HAH?!" Aira membelalakkan mata lebar begitu melihat pelaku itu.
"Ini mbak kembaliannya"
__ADS_1
Tak dihiraukannya. Aira malah langsung pergi lari keluar minimarket tanpa mengambil uang kembaliannya.
"Loh? Mbak?! Mbak! Kembaliannya!" tapi Aira tetap saja pergi mengayuh sepeda dengan cepat.