Strange School

Strange School
Meja Hijau


__ADS_3

Beberapa polisi turun dari mobil sembari menodongkan pistolnya masing-masing.


"Jangan bergerak!" Pistol-pistol itu mengarah pada Elang dan Tama tentunya.


Disusul dengan mobil polisi yang terakhir dan mobil ambulan sampai di lokasi. Mobil yang terakhir itu terparkir paling belakang dari yang lain. Begitu sampai, semua yang ada di mobil terakhir itu keluar. Tak terkecuali pria paruh baya yang langsung lari menghampiri anaknya.


"AIRAAAA!"


Aira merasa lega sekali. Ia bisa mendengar suara ayahnya setelah berhari-hari. Aira langsung menangis sejadi-jadinya begitu melihat batang hidung sang ayah.


Bernan berlari mendekati Aira lalu memeluk putrinya erat, tak peduli bagaimana keadaan putrinya. Sementara itu, para polisi ada yang menggeledah masuk kedalam gudang, ada pula yang mengurus kedua psikopat itu.


"Ayaaaaaaahhhhhhh!" Tangis Aira begitu lepas ketika dipelukan ayahnya.


Bernan melepas pelukan sejenak, ingin memandang wajah putrinya yang penuh babak belur. Miris, berhari-hari tak bertemu putrinya, begitu ketemu sudah dihadapkan dengan kondisi seperti itu.


"Ya Tuhaaaaannn, Airaaa" Bernan mulai menitikkan air mata.


Aira dibopong ayahnya ke mobil ambulance untuk pengobatan pertolongan pertama. Aira juga masih syok. Ayahnya terus menyuruhnya untuk meminum air putih agar sedikit tenang.


Pada tegukan yang ketiga, Aira kembali teringat jika ia tidak sendiri.


"Asma!" Panggilnya.


"Apa?" Bernan bingung.


"Ada temen Aira yah, Asma! Dimana dia sekarang?" Tanya Aira panik.


"Asma siapa, ayah nggak tahu Asma yang mana"


"Asma yahhh, teman Aira"


"Ya ayah nggak ta-" belum juga Bernan menyelesaikan ucapannya, Aira buru-buru bangkit dari duduknya untuk pergi mencari Asma.


"Airaaa?!" Bernan khawatir.


Aira berlari masuk ke area gudang itu lagi. Di halaman gudang, terdapat beberapa polisi dan satu kantong mayat yang di tanah. Aira terdiam sejenak ketika melihat kantong mayat itu. Ia membeku tak percaya.


Mendekatlah Aira menghampiri kantong mayat itu, berlutut di tanah untuk bisa melihat jelas siapa yang ada di dalam.


Sreeekkk....


Suara resleting terbuka.


Tangisnya pecah ketika melihat kondisi mayat temannya. Banyak luka lebam, serta luka dileher yang masih basah akibat kawat yang membunuhnya itu. Aira sangat merasa bersalah karena tidak bisa membantunya bebas. Aira malah membuatnya mati ditangan orang yang salah. Aira menangis karena itu. Menangis sejadi-jadinya.


Tak berapa lama, beberapa polisi keluar bersama Hatta, Elang, dan juga Tama karena mereka harus menunjukkan sesuatu yang lain yang ada di gudang kepada polisi.

__ADS_1


"Aira" panggil Bernan lembut, mengusap-usap bahu Aira.


"Yuk" ajak Bernan lembut.


Aira masih berat melangkahkan kakinya meninggalkan Asma tidur sendiri di kantong mayat yang sempit dan panas itu.


Bernan menuntun Aira masuk kedalam mobil polisi yang Bernan tumpangi tadi. Aira duduk di kursi belakang sopir. Walaupun air mata Aira sudah tak jatuh lagi, namun isakan itu masih terdengar jelas. Aira masih tak percaya jika teman seperjuangannya mati sebelum bernafas lega itu membuka kaca mobil setengah agar bisa memastikan bahwa mereka membawa kantong mayat itu masuk ke dalam ambulance dengan baik.


Bruk!


Pintu ambulance telah tertutup.


Semua orang juga sudah masuk ke dalam mobil yang sudah dibagi masing-masing. Termasuk mereka para psikopat gila. Satu mobil ditumpangi satu orang psikopat karena mereka harus dijaga dengan ketat. Setidaknya, mereka harus satu mobil bersama 4 orang polisi. Satu polisi yang mengemudi, satu polisi yang menjaga di kursi dekat pengemudi, serta dua polisi yang menjaga pelaku.


Satu mobil polisi yang membawa Elang telah melaju, mereka melewati mobil yang ditumpangi Aira. Lebih tepatnya, mobil Elang dan Aira berpapasan. Terlebih, Aira duduk di kursi yang dekat dengan jalan akses. Maka itulah, Aira bisa melihat dia yang ada didalam mobil polisi yang melewatinya itu.


Ketika mobil Elang lewat, Aira hanya melirik hingga ujung matanya tidak bisa menjangkau pandangan ke mobil itu. Ketika mobil Hatta yang lewat, Aira juga melakukan hal yang sama.


Namun ketika mobil terakhir yang membawa Tama, Aira langsung melemparkan lirikannya itu ke pandangan depan. Sementara Tama, dengan begitu ringannya menarik kedua sudut bibirnya keatas selebar mungkin ketika melewati Aira. Lirikannya pun masih sama hingga detik ini. Sampai mobil yang Tama tumpangi sudah melewatinya, Aira baru berani melirik kearah mobil Tama melalui kaca yang ada ditengah.


Deg!


Yang ternyata, Tama menoleh kebelakang, kearah Aira. Aira yang sadar akan hal itu langsung menundukkan kepalanya, mengakhiri lirikannya.


Aira dan Bernan diantar ke rumah sakit dengan polisi yang bertugas. Tentu saja Aira langsung ditangani oleh dokter dan para petugas medis karena keadaan Aira yang cukup darurat.


Aku terbangun dari tidur yang lumayan panjang. Selama tidur, aku terbayang-bayang lagi dengan langit-langit yang gelap itu. Sampai-sampai aku merasa bahwa aku akan bangun ditempat yang sama lagi dan takut bahwa ternyata aku belum terbebas dari mereka.


Hingga akhirnya aku memberanikan membuka mataku perlahan.


1


2


3


Ba!


Hah?!


Apa itu?


Langit-langitnya berwarna cerah. Hawanya lebih hangat dari ruangan yang gelap itu. Tanganku juga lebih hangat dari sebelumnya.


"Ayaaaahhh..." panggilku dengan suara yang parau.


"Ayaaahhh?" Panggilku sembari menangis saking tak percaya jika ini nyata. Aku benar-benar terbebas!

__ADS_1


Ayah benar-benar ada disampingku. Menjagaku, menggenggam tanganku, menungguku terbangun.


"Iya, Aira"


"Ayah disini" katanya sembari mengeratkan genggaman.


"Aku nggakpapa kan yah?"


"Aku bebas kan yah?" Ucapku seraya meneteskan air mata.


"Iyaaa, iyaa, sayang" ayah mengusap kepalaku lembut.


 


Beberapa hari kemudian.


Lukaku belum sepenuhnya kering. Lebam-lebam ditubuhku juga belum sepenuhnya hilang. Mataku yang sempat benjol itupun sudah semakin mengecil walau masih ada gradasi warna yang khas. Rasa sakit masih kurasa namun sudah semakin berkurang. Namun yang tidak bisa dihindari adalah kondisi kakiku yang benar-benar retak. Aku harus membawa teman untuk kedua kakiku untuk membantuku berjalan. Tapi tak apa, jika kakiku sudah sepenuhnya membaik, aku akan berjalan seperti biasanya. Ini lebih baik dari apa yang aku bayangkan ketika aku keluar dari gudang itu daripada aku hanya keluar dengan namaku.


Tepat hari ini, aku harus menghadiri sidang sebagai saksi sekaligus korban. Aku harus mengatakan apa yang terjadi sebenarnya tanpa kubuat-buat ataupun membumbuinya. Walau keadaanku masih belum sembuh total, tapi aku tetap kekeuh untuk datang ke sidang ini. Bagaimanapun, mereka harus dihukum secepatnya dengan hukuman yang setimpal.


Dengan tongkat yang kubawa serta bukti fisik yang ada ditubuhku, aku duduk diantara para pengunjung hingga akhirnya aku dipanggil dan dipersilahkan untuk maju kedepan mengungkapkan semua. Aku berjalan menuju kursi saksi dengan perlahan dan percaya diri. Walau sebenarnya hatiku gentar ketika melihat mereka bertiga yang duduk berjejer disana dengan tatapan mereka.


"Ayo Aira, kamu pasti bisa!" Ucapku menyemangati diriku sendiri.


Berhasil!


Aku sudah sampai ditempat duduk dan microphone yang juga sudah disediakan.


Dengan ini, aku menyatakan.


Aku, Aira. Disini sebagai perwakilan para perempuan yang mendapatkan perlakuan tak layak atas mereka, serta perwakilan dari salah seorang teman sependeritaan yang tidak bisa hadir di persidangan ini dan memastikan jika mereka akan dihukum setimpal.


Aku tidak duduk disini sendirian. Aku membawa serta sebuah buku kecil serta benda kecil namun berperan sebagai salah satu bukti penting dalam kasus ini selain bukti-bukti lain yang telah ada.


Buku diary Asma.


Selain buku itu, juga ada flashdisk pemberian Asma yang berisi foto-foto kejadian mengerikan itu.


Hingga,


TOK!


TOK!


TOK!


Palu telah diketok oleh orang yang berkuasa atas palu itu.

__ADS_1


Saat inilah nafas lega yang benar-benar aku rasakan. Aku membuang nafas lega berkali-kali dikursi saksi. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku menoleh kebelakang, kearah ayah dan tersenyum. Senyumanku mengatakan pada ayah, "Ayah, aku berhasil!". Ayah juga mengangkat kedua jempolnya bangga dengan putrinya.


__ADS_2