
Aira Pov
Bulu kuduk berdiri tegak begitu ia duduk tepat disebelahku. Aku lihat, Asma juga sama demikian. Asma terus memalingkan wajahnya dan berkali-kali membenahi posisi topinya yang sebenarnya tidak ada masalah. Sementara aku terus menggenggam tangan Asma erat.
Saat itu suasana angkot penuh penumpang. Jadi, aku tidak ada pilihan lain selain berpura-pura baik-baik saja. Ya memang itu yang kulakukan daritadi kan?
Lebih mendebarkannya lagi, Tama menempel padaku. Bahkan, dia mengaitkan jari telunjuknya ke lubang pengikat pinggang yang ada di rokku tidak mau melepaskanku. Tatapannya masih sama dengan tatapan sebelumnya. Karena itulah aku terus menggenggam tangan Asma bahkan menarik-narik hoodienya.
"Awas kalau lari lagi!" Tama mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik.
"Aku khawatir sama kamu tau!" bisiknya lagi.
"Ini juga demi kebaikan kamu"
Cih, kebaikan apanya. Dia nggak sadar telah membuatku merinding?
"Kiri pak!" kata Asma.
Apa nih? Asma mau pergi meninggalkanku?
Aku menarik-narik hoodie Asma agar Asma tetap bersamaku. Tapi Asma malah mengedipkan matanya dan langsung pergi begitu saja.
Sial!
"Kiri pak!" kata Tama.
Tanpa ragu, Tama langsung memegang tanganku dan membawaku keluar dari angkot walau banyak pasang mata dari penumpang yang mengarah pada kami.
Aku sudah mulai menyerah. Aku seperti harimau yang lepas dari kandang dan tertangkap lagi.
Author Pov
Tama terus menggenggam tangan Aira erat-erat karena tak ingin kehilangannya lagi. Beberapa menit mereka berdiri dipinggir jalan, Tama menghentikan sebuah taksi. Mau tak mau, ikutlah Aira bersamanya.
"Ke perpusda pak" mereka kembali ke perpusda karena mobil Tama yang masih terparkir disana.
Aira hanya bisa memandang ke luar jendela dengan murung.
Aira Pov
Kami sampai di halaman rumahnya. Entah kenapa begitu sampai tubuhku gemetar dan bulu kuduk berdiri.
"Masuk!" katanya dengan tegas.
Masuklah aku dengan kaki yang gemetar dan jantung berdegup kencang. Sepanjang perjalanan menuju kamar Tama aku hanya bisa melangkah sembari menundukkan kepala tak seperti biasanya diriku.
"Kamu mandi aja dulu" kata Tama yang saat itu membelakangiku, sedang membuka kancing seragamnya satu per satu.
Detik itu juga, ponselku berdering. Tidak, bukan hanya detik ini. Tapi jam jam sebelumnya pun ponselku sempat berdering beberapa kali karena panggilan masuk.
"Rida"
Rida meneleponku berkali-kali karena memang hari ini kami ada janji bertemu. Tapi karena satu dan lain kejadian, aku membatalkan janji dengan Rida secara sepihak. Aku tidak mengabari Rida sama sekali bahwa hari ini aku tidak bisa.
Set!
Tiba-tiba saja Tama meraih ponsel dari genggamanku dan memutus panggilan begitu saja. Tak hanya itu, Tama bahkan mematikan ponselku dan melemparkannya begitu saja ke ranjang. Melihat hal itu, tentu membuatku semakin tak berkutik.
"Cepat mandi. Habis itu makan!" katanya lalu pergi keluar kamar bertelanjang dada.
Baiklah, aku menuruti perkataannya. Aku mandi. Tapi sebelum itu, aku menyembunyikan buku serta flashdisk dibawah sarung bantal begitu Tama keluar dati kamar.
Author Pov
Tama menyalakan rokoknya di balkon. Tak berapa lama ia menghembuskan asap rokoknya, ia menerima telepon.
"Elang"
"Halo?" jawabnya sembari mengapit rokok menggunakan bibirnya.
"Dimana?"
"Nggak berbuat aneh-aneh kan?"
"Aku aja nggak tau sama diri aku sendiri" ucap Tama.
"Maksudnya?"
"Aku mengurungnya di rumahku" jawab Tama enteng.
"Gila!"
"Kamu benar-benar nggak bisa mengontrol diri ya?"
"Ya gimana lagi. Tadi aja dia udah sempet ketemu sama nenek grandong itu"
"Asma?"
"Hmmmm" jawab Tama.
"Apa dia (Aira) tahu sesuatu?"
"Tau deh!"
"Gimana si?!"
"Tenang aja kali! Dia kan taunya cuma bisnis gelap itu, haha"
"Mulai sekarang kita nggak bisa anggap ini remeh!" nasehat Elang.
"Gini aja deh. Aku yakin saat ini Aira kebingungan dengan sikapmu hari ini. Dia juga pasti ketakutan. Itu pasti! Aku yakin sembilan puluh persen"
"Sekarang, tenangin dia lewat Henna"
"Kenapa lewat dia?"
"Kan kamu tahu sendiri. Sejauh ini yang bisa kita percaya sebagai sahabat Aira cuma dia. Emang kamu mau Rida yang ke rumah kamu?"
"Kan aku sendiri juga bisa!"
"Iya, tapi belum saatnya beg*! Yang ada nanti dia malah semakin takut deket kamu!"
"Biar ditenangin dulu, dijinakin dulu, abis itu baru deh kamu ambil bagian"
"Iya, iyaaa" jawab Tama malas.
"Jangan lupa kasih alasan dan karangan yang tepat ke Henna"
"Hmmmmmmmm" kemudian Tama menutup teleponnya.
Tak perlu berpikir panjang, Tama langsung mencari kontak Henna dan meneleponnya.
Tut....tut...tut...
"Halo?"
"Halo, Hen"
"Iya, kenapa?"
"Hari ini sibuk nggak?"
"Hmmm, nggak sih. Kenapa?"
"Boleh minta bantuan nggak?"
"Bantuan? Apa emangnya?"
"Jadi gini....."
Setelah menjelaskan panjang lebar, yang tentu saja ia tidak akan menceritakan semua kebenarannya, melainkan sedikit membumbuinya dengan cerita yang dibuat-buat. Henna yang dapat mengerti apa maksud Tama itu tanpa berpikir lagi langsung mengiyakan jika ia akan segera ke rumah Tama. Tapi sebelumnya, Tama juga meminta Henna untuk tutup mulut ke siapapun bahkan Rida. Bagaimana tidak, saat ini orang yang ia hindari kan Rida.
Ting tong!
Bel rumah berbunyi.
Tama sendiri yang turun dan membukakan pintu untuknya. Orang yang ditunggu datang. Henna datang dengan membawa tas ranselnya.
"Woaaaahhh... Ternyata ini rumahmu?" Henna berdecak kagum.
"Masuk Hen"
"Wehhh bawa apaantuh!" Tama melihat Henna membawa dua kantong plastik.
"Tadi nyempetin beli jajan, hehehe"
"Aira dimana?"
"Di kamar"
"Gila! kalian kayak udah pasangan suami istri aja!" goda Henna.
"Ya kan demi keselamatan juga kan Hen"
"Lagian, walau muka kayak berandal gini, masih tahu batesan kok!" jawab Tama dengan percaya diri.
"Paling dia udah selesai mandinya. Tolong tenangin dia ya Hen. Beri dia pengertian juga. Kalau udah cukup tenang, ganti aku yang bicara sama dia" kata Tama begitu mengantar Henna didepan pintu kamar.
"Iya iyaaaa tenang aja. Kayak sama siapa aja" kata Henna.
Tok tok tok!
Mengetuk pintu kamar.
"Ck! Ngapain pake ngetok pintu? Toh ini kamar dia kan?" gerutu Aira.
"Masuk aja" teriak Aira dari dalam.
Diluar kamar, Tama memberi isyarat pada Henna untuk langsung masuk.
"Airaaaa!" seru Henna, berniat memberi Aira surprise.
"Henna? Kok bisa ada disini?" raut wajah Aira senang sekaligus bingung.
"Bisa lah! Emangnya kamu aja?"
__ADS_1
"Heheheh" Aira cengengesan sebentar, yang kemudian kembali murung.
"Kenapa? Kok wajahmu begitu?"
"Nggak suka ya aku ada disini?"
"Hah? Ng...nggak nggak gitu kok. Seneng sih, tapi rada bingung juga"
"Tama yang nyuruh aku kesini buat temenin kamu. Pasti itu kan yang mau kamu tanyakan?"
"Heheheh" Aira cengengesan lagi.
"Kenapa sih Ai?"
"Ada apa?" tanya Henna lembut.
"Ada masalah?"
"Cerita dong" Henna mencoba mengembalikan aura ceria Aira.
"Sebenarnya Tama udah cerita sih. Tapi aku pengen denger langsung dari kamu"
"Tama udah cerita?" Aira yang terkejut itu spontan menolehkan kepala kearah Henna.
Henna mengangguk.
"Semuanya?" Aira mengangkat alisnya
"Yaa... Nggak sih, inti-intinya aja"
"Kalau menurutku sih yaaaa, Tama ngelakuin itu juga untuk kebaikan kamu. Dia nggak mau kamu kenapa-napa walau dengan cara dia yang sedikit salah. Dia ngakunya nggak ada cara lain karena kamu selalu keras kepala"
"Coba deh, sambil mengoreksi sikap Tama tadi, koreksi diri kamu juga"
"Gini aja deh. Coba kamu posisikan waktu berputar kembali saat kamu di sekolah tadi. Buang pikiran negatifmu, buang juga egomu"
"Kembali saat Tama bilang ke kamu, kalau kamu harus dirumah malam ini. Gimana kalau malam ini memang ada apa-apa, dan kamu nggak tahu. Dan Tama yang tahu, berusaha kasih tahu kamu dengan cara agar kamu nggak panik lebih dulu"
"Kamu coba percaya sama omongan dia. Kamu percaya kalau malam ini bakal ada kejadian yang membahayakan diri kamu"
"Coba deh kamu bayangin lagi ke hal yang lebih positif"
"Kamu curiga sama dia, kamu nggak percaya sama dia, kamu meragukan dia, itu semua karena pikiran negatif yang ada dikepalamu, sudah menempel di otakmu"
"Intinya ra, kalau kamu kayak gini terus. Bisa-bisa kamu yang membahayakan diri kamu sendiri"
"Kamu juga lihat kan? Dia sampai nyuruh aku untuk dateng nenangin kamu karena dia pikir kamu jadi takut sama dia"
"Dari sini kamu tahu? Tanpa sadar pikiran yang negatif itu menular. Dengan cara Tama sama-sama memikirkan yang nggak-nggak"
"Dia pun sama. Dia juga takut, walau sebenarnya nggak terlalu nunjukin takutnya itu"
"Entah dia takut kamu kenapa-napa, takut kehilangan kamu, takut kamu kecewa, atau bahkan takut lihat wajah sedihmu. Dan itu pasti" Henna menjelaskan panjang lebar dengan ketenangan.
Apa iya aku terlalu egois? Terlalu memikirkan kepentinganku sendiri?, alis Aira mengerut.
"Nih! Aku bawain gorengan pak Waras, batagor sama thai green tea, uh! Mantap syekali!"
"Nih, bawa ke Tama sekalian kamu ngomong sama dia" Henna menyodorkan satu kantong plastik berisikan batagor dan tangan kirinya menyodorkan satu gelas plastik thai green tea.
Aira memandang kearah makanan itu dan ke Henna bergantian, ragu akan apa yang akan dilakukannya. Henna meyakinkan Aira dengan menaikkan kedua alisnya dengan tegas. Diraihnya makanan pemberian Henna itu diiringi desahan nafas panjang.
"Nggak ah, aku nggak bisa! Nggak bisa sekarang!"
"Lah, kenapa?" heran Henna.
"Ge...gengsi..." jawab Aira dengan terbata-bata.
"Yaelahhh... Ngapain gengsi si?!"
"Besok aja deh, ngumpulin niat dan keberanian dulu" kata Aira sembari membuka bungkusan plastik makanan dan segera memakannya.
"Lah ini makanan Tama gimana? Siapa yang mau ngasih ke dia kalau bukan kamu"
"Kamu aja yang kasihkan sana. Lagi nggak mood liat mukanya!" ucap Aira.
"Huufffhhhh...." Henna menghela nafas panjang.
"Oke! Tapi kalau gara-gara aku nganter makanan ke dia, terus dia jadi suka sama aku, jangan sebut aku pelakor! Haha" goda Henna.
Henna keluar kamar untuk memberikan makanan pada Tama. Begitu keluar dari kamar, dilihatnya Tama yang sedang berdiri di pinggiran balkon sembari merokok.
"Nih!" dengan sengaja Henna melemparkan kantong plastik itu ke Tama.
Tama yang terkejut seketika reflek menangkap kantong plastik itu.
"Apa nih?" tanya Tama.
"Mayat!" jawaban Henna yang asal menciptakan suasana hening sejenak. Henna dan Tama saling tatapan bingung.
"Lagian, udah jelas-jelas bungkus makanan masih aja ditanya" kesalnya.
"Ya kali aja bawa yang lain"
"Nih!" Henna menyodorkan segelas minuman pada Tama di sisi tangannya yang lain.
"Auk deh! Lagian kalian habis ngapain si?!"
"Kamu habis ngapain dia?!"
"Atau jangan-jangan?!"
"Kalian udah ngelakuin itu ya?!"
"Terus kebablasan?!"
"Terus jadinya-"
"Apa?!" Tama memotong pembicaraan Henna.
"Dia hamil gitu?"
"Gila kali!"
"Aku bukan tipe cowok kayak gitu kalik!" balas Tama.
"Ya terus kenapa dong?"
"Kan aku belum tahu ceritanya gimana. Lagian kamu cuma cerita dikit, nggak detail. Mana tadi aku bohong lagi soal kamu udah cerita. Jadinya kan Aira nggak cerita sama aku" kesal Henna.
"Emangnya kenapa nggak kamu aja sih yang kasih penjelasan?" Henna mulai banyak tanya.
"Kan udah aku bilang, nanti yang ada dia malah tambah bete"
"Iya juga sih! Yaudahlah! Pokoknya urusan aku disini nenangin Aira yaaa, aku nggakmau ikut urusan kalian berantem atau apa segala macem!"
"Tapi, kalau sampe Aira kenapa-kenapa, bahkan aku lihat ada goresan di kulitnya, awas aja!" Henna mendekatkan jari telunjuk ke mata Tama dengan nada mengancam.
"Malem ini nginep aja. Aku akan tidur di lantai bawah"
"Tapi sesuai janji ya. Traktir makan di kantin selama seminggu" ucap Henna.
"Iya iyaaa"
Aira Pov
Begitu Henna pergi untuk mengantar makanan kepada Tama, aku berjalan mengendap mendekati pintu yang kemudian menempelkan sebelah telingaku ke pintu. Aku berusaha mendengar sejelas mungkin apa yang mereka bicarakan.
"Kamu habis ngapain dia?!"
"Atau jangan-jangan?!"
"Kalian udah ngelakuin itu ya?!"
"Terus kebablasan?!"
"Terus jadinya-"
Mendengar ucapan Henna itu, aku hanya bisa menggeretu sendiri. Henna sialan! Di kondisiku sekarang bisa-bisanya dia berpikiran begitu. Aku benar-benar ingin keluar menghampirinya dan mencitak kepalanya.
"Kan aku belum tahu ceritanya gimana. Lagian kamu cuma cerita dikit, nggak detail. Mana tadi aku bohong lagi soal kamu udah cerita. Jadinya kan Aira nggak cerita sama aku"
Jadi Henna nggak tahu semuanya?. Lalu, bagaimana bisa dia bicara seperti tadi seolah-olah dia tau semuanya? Bagaimana juga cara Tama menceritakan pada Henna hingga seperti orang yang tahu segalanya?
Tap...tap...tap
Aku mendengar langkah kaki yang mendekat. Segera aku menjauh dari pintu, bergaya sibuk dengan handphone.
"Airaaaa!" sapa Henna riang.
"Hmmm" jawabku karena mulutku saat itu sedang mengunyah.
"Ajakin aku keliling rumah ini kenapa Ai... Kan aku juga pengen tahu tiap sudutnya" rengek Henna.
"Ngapain sih? Nggak ada sejarahnya juga" jawabku.
"Kalau gitu, cari angin diluar yuk! Bentaran aja"
"Di balkon kan juga ada angin" kataku.
"Ihhhh beda Aiiii, maksud aku cari angin diluar, jalan-jalan gituuuu"
"Udah malem Hen, emangnya kamu nggak pulang? Nggak dicariin ibu kamu?"
"Kan, aku nginep disini hari ini"
"Kamu disuruh nginep disini sama Tama?"
Henna menangguk.
"Mau aja sih kamu" ejekku.
"Ya kan itu juga karena kamuuu"
"Tapiii, ada bagusnya juga sih" gerutuku.
__ADS_1
"Hah?"
Rupanya Henna tidak mendengarkan ucapanku.
"Hah? Apaan?" aku pura-pura tidak tahu.
"Tadi kamu ngomong apaan?"
"Hah? Nggak ngomong apa-apa tuh!" elakku.
"Udahlah, yok! Cari angin sebentaaaar aja" rengeknya.
"Hiiihhhh, yaudahdeh iya iyaaa" pasrahku.
Author Pov
Hanya berbekal hoodie, celana santai dan sandal jepit, Aira dan Henna bersiap untuk jalan-jalan malam sebentar untuk menghilangkan suntuk. Mereka berjalan menuruni tangga. Karena tangga dan ruangan kamar yang Tama gunakan hari ini berhadapan, jadilah mereka berpapasan dengan Tama yang keluar dari ruangan tersebut.
Sontak, Tama dan Aira melakukan kontak mata secara sekilas, yang mana Aira langsung membuang tatapannya.
"Mau kemana kalian?" tanya Tama dengan datar.
"Cari angin bentaran aja. Nggakpapa kan?" kata Henna.
Sebelum menjawab, Tama kembali melirik kearah Aira, ingin melihat reaksi Aira. Namun, Aira masih memilih untuk bungkam dan memasang tatapan malas.
"Ohh... Jangan lama!" ucapnya, yang kemudian ia berjalan menuju teras belakang untuk merokok.
Hissss, sudah berapa batang yang dia habiskan hari ini?, batin Aira.
Mereka sudah keluar dari kawasan perumahan Tama. Berjalan menuju minimarket terdekat untuk membeli beberapa cemilan atau bahkan jajanan pinggir jalan yang masih ada.
Mata Aira seketika membelalak melihat rak yang penuh dengan camilan. Ia ingin membeli semuanya. Satu, dua, tiga, empat. Beberapa bungkus camilan yang nampak berbeda warna bungkusnya itu dimasukkan ke keranjang dengan asal.
"Ya ampuuuun!" Henna membulatkan mulutnya melihat kelakuan Aira.
"Santai aja kalik ra!"
"Nggak bisa!" jawab Aira judes.
"Iyadeh! Nggak bisa ngapa-ngapain kalo udah kayak gini mah!" gerutu Henna.
Mereke berdua keluar dari minimarket dengan membawa dua kantong plastik besar. Daripada berjalan pulang kembali kerumah Tama, mereka memilih untuk duduk sebentar di bangku pinggir jalan yang mulai sepi pengendara itu.
Membuka bungkus camilan pertama mereka dan membuka kaleng minuman soda.
"Akkkkhhhh! Segerrrrr!" celoteh Aira begitu menenggak minumannya.
Ditengah waktu mereka, mereka melihat ada sebuah kendaraan roda empat yang melaju cepat dari arah utara. Tak lama kemudian, mobil itu berhenti mendadak dan putar balik asal begitu melewati tempat Aira dan Henna.
Ciiiiiitttt!!!
Menginjak rem tepat dihadapan Aira dan Henna. Tentu itu membuat keduanya saling tatap kebingungan bertanya dengan bahasa mata mereka masing-masing.
"Hey!" turun seorang laki-laki dari mobil tersebut.
"Bian?!" Aira dan Henna kaget bersamaan.
"Ngapain kalian disitu?!" Bian mengantongi kedua tangannya di saku jaket.
"Main baling-baling bambu!" jawab Aira asal.
Bian tertawa kecil mendengar jawaban Aira.
"Lagian udah liat masih aja nanya!" gerutu Aira.
"Kebetulan nih ketemu disini!"
"Daripada nggak ada kerjaan, cuma bengong duduk dipinggir jalan, mending ikut aku" ajak Bian.
"Kemana emangnya kak?" tanya Henna.
"Udahhh... Ikut ajaaa, yok!"
"Aku traktir apa aja deh!"
Waduhhh, gimana nih. Kalau Rida tau, pasti bakal rusak pertemananku!, batin Aira.
"Nggak, makasih! Yok Hen, balik!" Aira bergegas dari tempatnya.
"Lah, kenapa Ai? Kan enak ditraktir apa aja" jawab Henna polos.
"Didunia ini nggak ada yang gratis!"
"Siapa tahu abis ditraktir dia minta kamu nglakuin apa aja yang dia mau" katanya.
"Emangnya aku mau nglakuin apa? Hahah!" Bian tertawa sinis.
"Kuda-kudaan? Hahah" lanjut Bian.
Aira tak menggubris ucapan Bian tersebut. Melainkan ia memutar bola matanya malas lalu berjalan menjauh tak memedulikan Henna yang disibukkan dengan dua kantong plastik.
"AIRA! TUNGGU!" teriak Henna.
"Eheheh, maaf ya kak, mungkin lain kali aja. Maaf, permisi"
"CEPETAN! NGAPAIN PAKE PAMITAN SEGALA SI?! ORANG KAYAK DIA NGGA PANTES DISOPANIN!"
"Kamu mau tau soal kasusnya Shinta kan?!"
Hah, sejak kapan Aira tertarik dengan kasus itu?, batin Henna.
Deg!
Langkah Aira langsung terhenti.
"Kamu pikir selama ini aku nggak tau?" Bian berjalan perlahan kearah Aira.
"Satu, menerobos masuk ruang BK!"
"Dua, Membuka data pribadi siswa"
"Tiga, menyelinap ke sekolah malam malam"
"Jadi gimana?"
"Apa kamu masih mau tahu kelanjutannya?" menyeringai.
Sementara Henna yang masih tidak mengerti akan suasananya itu hanya diam berdiri di belakang Aira dan Bian, mencoba berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayo Hen! Cepet balik! Nggausah didengerin omongan orang GILA!" katanya, menekankan kata "Gila".
"I-iyaa"
"SEKALI AJA!"
"Serius!"
"Ini kali terakhir aku ganggu hidup kamu"
"Kalau kamu mau terima tawaran aku, perjanjiannya aku nggak akan ganggu kamu lagi!" ujar Bian.
"Emang aku percaya? aku peduli, gitu?"
"Hahah, NGGAK!"
"Yang bener?" Bian menaikkan alisnya.
"Oke!" Bian menyeringai.
"Sampai jumpa besok!" Bian melambaikan tangannya dan menatap Aira dengan tatapan yang membuatanya bergidik.
Perasaanku tiba-tiba aja nggak enak!, batin Aira.
"Sssttt! Ssstt!" Henna mendesis layaknya ular, memanggil Aira yang saat itu masih terpaku menatap tajam kearah Bian yang berjalan menjauh.
"Ada apa sih sebenernya?" tanya Henna.
"Udah, nggakusah dipikirin! Emang dianya aja udah nggak waras!" -Aira.
"Oiya, waktu pulang nanti, jangan bilang apa apa ke Tama" pinta Aira.
"Iyaaa, aku juga ngerti kalik!"
---
Esoknya, Hari Selasa.
Aira dan Tama masih saja saling diam. Terbukti, ketika Aira dan Henna sedang memasak sarapan bersama, Tama yang saat itu sudah bersiap sekolah menghampiri mereka ke dapur. Henna menyapanya, namun tidak dengan Aira. Aira hanya diam tanpa menatap apalagi menyapanya.
Aduhhh, belum baikan juga, gimana dong!
Kan aku jadi bingung harus gimana nengahinnya, batin Henna.
Mereka bertiga berangkat bersama. Aira yang biasanya duduk didepan menemani Tama menyetir itu berpindah posisi kali ini. Aira duduk di kursi belakang bersama Henna.
"Aku ke kelas dulu ya!" pamit Tama pada Aira dan Henna.
"Hmmm" jawab Aira dengan anggukan. Tam, hati-hati ya!"
Namun, pagi ini terasa sangat aneh dan tak nyaman bagi Aira. Bagaimana tidak, jarak lima meter dari koridor sekolah saja sudah banyak pasang mata yang menatapnya tajam. Tak sedikit juga yang berbisik membicarakannya.
Aira merasa ini aneh. Perasaannya tidak seperti biasanya. Begitu pula dengan Tama dan Henna.
"Ai, hari ini pada kenapa si?!" Henna berbisik.
"Tauk! Emangnya aku ada yang salah ya?"
"Apa bedak aku ketebelan?"
"Apa liptint aku?" Aira sibuk membenahkan diri.
"Nggak juga" kata Henna.
"Terus mereka ngapain dong ngelihatin sampe segitunya?"
__ADS_1
"Ehhh, jalan*nya udah dateng tuh!" ucap salah satu siswi kelas dua belas yang diketahui bernama Mayang berkata demikian sembari melirik kearah Aira.