Strange School

Strange School
Menyerahkan Diri


__ADS_3

"AKU AIRAAA, AKUUUUU!"


"SEKARANG KAMU UDAH DENGER KAN?"


"BERARTI MULAI SEKARANG KAMU MILIK AKU AIRA!"


"KAMU MILIKKU, KAMU PUNYAKU! HAHA!"


"NGGAKK!!!! AKU NGGAKMAU SAMA PEMBUNUH KAYAK KAMU!!!"


"Apa kamu bilang, HAH?!"


"PEMBUNUH?!"


"Nggak Aira, aku bukan pembunuh. Aku justru menyelamatkan dia!" nada Bian turun secara drastis.


"Kalau dia masih hidup di dunia ini, dia akan terus menderita karena sahabatnya itu Airaaa. Makanya kamu juga jangan terlalu percaya sama sahabat kamu, ya?. Ujungnya apa? Dia masuk penjara kan?"


"NGGAK!!" -Aira menepis tangan Bian.


"Aku anggap aku nggak pernah denger ini, aku nggak pernah kenal sama kamu, aku nggak pernah ketemu sama kamu, dan aku nggak akan melaporkan ini ke siapapun. Jadi tolong, anggap nggak pernah terjadi apa-apa diantara kita, anggap semua ini mimpi dan besok bangun udah nggak ada apa-apa lagi"


"Aku bener-bener nggak akan lapor polisi asalkan kamu nggak temui aku lagi. Ini juga udah bukan menjadi urusan aku!"


"Nggak, aku nggak bisa. Aku nggakmau!" Bian meraih tangan Aira memohon agar tidak mengatakan itu.


"Nggak!" Aira menepis tangan Bian.


"Kalian tuh sebelas dua belas!"


"Jadi aku harus percaya sama siapa kalo kayak gini?!"


"Aku mau pulang!"


"Iya aku antar, tapi kamu tarik kata-katamu dulu!"


"Nggak! Aku pulang sendiri!"


"Aira! Tarik kata-katamu itu!"


"Dibilang nggak ya nggak!"


"AIRAAA!!"


Aira berlari keluar meninggalkan Bian dan berharap menemukan taksi yang lewat.


"Taksi!" Aira melambaikan tangannya.


"Pak, keliling aja dulu menghindar dari mobil belakang itu" ucapnya begitu masuk taksi.


Aira yang panik, cemas, dan was-was itu terus menoleh kearah belakang berharap mobil Bian tidak terlihat lagi. Namun ternyata tidak, Bian justru gigih mengejar taksi yang ditumpangi Aira itu dengan berkali-kali menyalakan klakson memperingati Aira.


"Pak lebih cepet pak!"


"I-iya mbak"


"Masuk ke gang-gang aja pak!"


"Mbak, kayaknya udah nggak ada mbak"


"Huufffhhhhh....." Aira baru bisa menghembuskan nafas lega.


"Lanjut jalan pak" kata Aira.


Aira telah sampai dirumahnya. Ketika ia mengucapkan salam, tidak ada yang menjawabnya. Mungkin ayahnya sudah terlelap. Aira berjalan keatas dengan lesu. Aira melemparkan tubuhnya ke kasur dengan hembusan nafas kasar.


"Hufffhhhh...."


"Di kehidupan sebelumnya aku salah apa sih, sampe aku bisa bertemu bahkan dekat dengan PEMBUNUH?!"


"Hidupku memang sudah gila!"


"Kalau aku bertemu dengan mereka lagi besok, aku harus bersikap kayak gimana?"


"Pura-pura nggak tau kah?"


"Pura-pura nggak kenal kah?"


---


Keesokan harinya, Aira seakan ragu melangkahkan kakinya masuk ke area sekolah karena keresahannya jika bertemu dengan Tama ataupun Bian.


Beruntungnya, ketika sampai di tempat parkir, Aira belum melihat adanya mobil Tama ataupun mobil Bian yang terparkir. Aira menghela nafas karena itu, yang kemudian memberanikan diri untuk masuk.


"Eh! Tuan putri udah dateng, kok kelihatan pucet si? udah sarapan belum?" sambut Henna.


"Apaansih!" Aira risih.


"Eh, tapi belum sarapan sih. Kantin udah ada yang buka belum ya?" lanjutnya.


"Nah! Mari kita ke kantin!" Henna tiba-tiba menggandeng tangan Aira untuk pergi ke kantin bersama.


Di kantin, Aira memainkan sendok dan garpu di mangkoknya serta melamun memikirkan sesuatu yang mengganggunya.


Yang diomongin Bian kemarin bener nggak ya? Kalau bener, berarti bukan Asma dong pelakunya. Eh tapi kan, mayatnya ditemukan di sungai, dan saat itu juga Asma dan tiga temannya itu mendorong Shinta di sungai. Lalu, kenapa bisa Bian terlibat dalam hal ini? Kok jadi membingungkan gini?


"Aira!" Henna memukul lengan Aira menyadarkannya dari lamunan.


"Nglamunin apaansi?!"


"Ng...nggakk ada" Aira menggelengkan kepala cepat.


Asma sudah tahu tentang ini belum ya? Apa aku harus bicara dengannya? Sepertinya iya. Yaudah deh nanti aku ngomong sama Asma tentang ini, batinnya lagi.


Di jam istirahat pertama, Aira hendak pergi ke kelas Asma untuk membicarakan masalah itu.


"Aku ke toilet dulu ya" pamitnya pada Henna.


"Mau aku temenin nggak?"


"Nggak, nggak usah aku bisa sendiri kok" katanya lalu beranjak dari tempat duduknya.


Sialnya, saat perjalanan menuju kelas Asma, Aira bertemu dengan Tama yang berjalan sendirian. Aira berdecit kesal karena berpapasan dengan Tama, lantas membalikkan badannya berniat kabur dari Tama. Tak tinggal diam, Tama yang menyadari itu pun mengejar Aira.


"Aira! Tunggu!"


"Ck! Bikin males aja deh!" gerutu Aira sembari melanjutkan jalan cepatnya.


Hap!


"Aira!" Tama berhasil meraih tangan Aira.


"Ck! Apasih?!" Aira menghempaskan tangan Tama.


"Bukan urusan kamu!" jawabnya sewot.


"Kamu masih marah karena itu?"


Aira tidak menjawab, malah memutar bola matanya malas.


"Sekarang lepasin tanganku!"


"Nggak! Sebelum kamu maafin aku"


"Aku nggak bakalan maafin kamu sebelum kamu tinggalin bisnis haram itu!"


Tama hanya diam dengan tatapannya yang mengintimidasi.


"Lepas atau aku teriak!"

__ADS_1


Tama pun melepaskan tangan Aira dengan sedikit mendorongnya. Aira langsung meninggalkan Tama tanpa mengatakan sepatah kata ataupun sekedar menatap wajah Tama. Hanya pergi mengabaikannya begitu saja.


Didepan kelas Asma, Aira bertemu dengan salah satu perempuan teman sekelasnya. Aira bertanya pada temannya itu keberadaan Asma karena dilihat dari bangkunya, ia tidak melihat tas Asma atau pun tanda-tanda kehadiran Asma.


"Eh, tunggu. Asma-nya ada?" tanya Aira.


"Asma?"


"Dia udah nggak masuk beberapa hari ini dengan alasan yang kurang jelas. Wali kelas juga udah coba hubungin dia, tapi dia jawabnya cuma sakit gitu doang si, nggaktau sakit apa" jelasnya.


"Udah berapa hari?"


"Mungkin ada sampe 5 hari"


"5 hari?!"


Jangan-jangan ada yang nggak beres lagi, batin Aira.


"Yaudah kalo gitu, makasih yaaa"


"Iyaa" perempuan itu pergi.


"Jangan-jangan Asma nglakuin hal yang nggak-nggak lagi"


"Gimana kalo dia coba bunuh diri karena rasa bersalah?"


"Waduhh gawat juga nihhh"


Sekembalinya dari kelas Asma, Aira yang melewati kelas Bian itu mencuri pandang kearah kelas Bian dengan harapan ia tidak akan bertemu dengan Bian. Namun, begitu disadari bangku Bian juga kosong, Aira mengerutkan dahinya bingung, dimana Bian berada. Apa hari ini dia juga tidak masuk sekolah?


Tapi pada akhirnya Aira memilih untuk tidak peduli dengannya karena hal ini juga membuatnya lega tidak bertemu dengan Bian.


Sepulang sekolah, seperti biasa Aira hanya bersantai diatas kasurnya usai ia mandi. Sesekali Aira tertawa karena melihat beberapa video unggahan akun orang lain yang menurutnya lucu.


Beberapa jam kemudian, masuk ke jam makan malam. Ayah Aira yang kebetulan pulang lebih awal membawa fried chicken kesukaannya itu meneriaki nama Aira dari bawah mengajak makan bersama dibawah.


"AIRAAAA! AYO MAKAAN!"


"AYAH BAWA AYAM KESUKAANMU NIHHH!"


"IYA YAH SEBENTAAAAAR"


Sembari menunggu Aira turun, Bernan menyalakan televisi dan menonton channel yang menampilkan berita terkini.


"Selamat malam pemirsa, berita hari ini adalah berita yang cukup mengejutkan. Pasalnya, pelaku pembunuhan siswi SMA yang berinisal SA dari SMA EB hari ini mendatangi kepolisian setempat untuk mengakui semua perbuatannya. Pelaku yang merupakan teman satu sekolahnya, yang berinisal BA mengaku atas perbuatannya tersebut, blablabla"


"AIRAAAAA!" Bernan teriak dengan tidak sabar.


"Iya iya yaaaahhh, masih jalaaaan"


"CEPETAN KESINI!!!"


"Ada apa sih yahhhh teriak-teriak?"


"Bukannya itu...."


"Bian?" Bernan menunjuk kearah layar televisi channel berita tersebut.


"Pelaku mengaku, motif pembunuhannya ialah sakit hati karena korban menolak ajakan pelaku untuk melakukan hubungan yang tentunya dilarang untuk anak seusia mereka"


"Dan disana, sudah ada rekan saya, Gina yang sedang berada di kantor kepolisian tempat pelaku berada. Yak, Gina, bagaimana keadaan disana?"


"HAHHHHH?!!" Aira menganga selebar-lebarnya.


"Dia benar-benar sudah gila!"


Yap, benar! Pelaku yang sedang dibicarakan di channel berita manapun ialah Bian yang Aira kenal.


Tiring....tiring.....


Di waktu yang bersamaan, Henna memanggil Aira.


"Kamu udah tahu beritanya kan?" -Henna.


"Iyaa, udahh" jawab Aira dengan nafas yang tidak teratur.


"Aku bener-bener nggak nyangka tau nggak!" -Henna.


"Udah dulu yaa, kayaknya aku harus pergi kesana deh!" -Aira.


"Ngapain? Aku ikut!" -Henna.


"Oke, kita ketemu disana!" -Aira.


"Yah, Aira pamit ya. Bentar aja" Aira terburu-buru naik keatas untuk mengambil jaketnya di kamar.


Di waktu yang tepat, taksi Henna dan juga taksi Aira datang bersamaan. Lantas mereka langsung berlari ke kerumunan wartawan yang mengerumuni beberapa polisi serta pelaku yang akan dipindahkan ke lapas.


"Bagaimana perasaan anda saat ini?"


....


"Apa benar anda membunuhnya karena sakit hati?"


....


"Bagaimana perasaan keluarga anda mengetahui ini?"


....


"Mengapa anda akhirnya memilih mengaku perbuatan anda?"


....


Blablabla, dan masih banyak lagi.


Pelaku itu hanya menundukkan kepalanya tidak ingin tersorot kamera lebih jelas. Namun, ketika ia tidak sengaja melihat kearah lurus pandangannya, melihat orang yang berdiri di barisan belakang sana, Bian mulai menunjukkan senyuman smirk nya.


Haha, dia datang rupanya.


Aku berarti sudah melakukan dengan benar, batinnya.


"Dengar semuanya!" tiba saja Bian angkat bicara.


"Aku, melakukan ini karena aku tahu, kalau aku bersikap jujur, seseorang akan datang padaku. Terlebih, orang itu sangat tertarik dengan ini. Begitu juga denganku yang sangat tertarik dengannya" Bian mengatakan itu sembari menatap tajam kearah Aira.


"Dan juga, aku meyakini satu hal. Kalau aku mengakui ini, dia akan menjadi milikku seutuhnya. Dan lihatlah, dia ada disini, diantara kalian!"


"Gadis itu, sekarang adalah kekasihku!" Bian menunjuk Aira yang berdiri dibelakang para wartawan dengan bingung.


Karena pernyataan Bian, para wartawan itu menoleh kebelakang secara hampir bersamaan. Menujukan pandangan mata kearah Aira dan juga Henna yang berdiri tepat disamping Aira.


"Apa maksud anda, anda mengakui ini karena kekasih anda?"


....


"Anda ingin berubah karena kekasih anda?"


....


"Tolong jelaskan lagi maksud ucapan anda"


Para wartawan itu mengejar pelaku hingga pelaku tersebut masuk kedalam mobil polisi dan kemudian pergi. Sementara Aira dan Henna masih berdiam diri ditempat bingung dengan apa yang Bian katakan. Henna melotot kearah Aira tidak menyangka, begitu juga dengan Aira yang menganga kearah Henna.


Selepas ia pergi, para wartawan mulai mengerumuni Aira dan Henna dan menanyakan hal-hal yang menyangkut ucapan Bian tadi.


"Apa benar dengan apa yang dikatakan pelaku?"


....

__ADS_1


"Benar anda menjalin hubungan dengan pelaku?"


....


"Tolong jawab pertanyaan kami"


....


"Apa anda yang menyuruhnya untuk menyerahkan diri?"


....


Blablabla


Aira kewalahan karena para wartawan yang berdesak-desakan dan saling dorong untuk mendapat jawaban dari Aira. Tetapi karena Aira yang sama sekali nggak siap dan tidak ingin menjawab itu hanya menutup telinga dan menundukkan kepalanya.


"Sudah, sudah, tolong jangan memaksa dia ya" datanglah mbak Indah menolong mereka berdua yang terjebak dikerumunan wartawan.


Mbak indah mengajak mereka pergi ke lapas tempat Bian ditahan naik kendaraan polisi. Selama perjalanan, tubuh Aira gemetar, keringat dingin bercucuran, serta badan yang melemas. Aira bingung mau berkata apa jika dia sudah berhadapan dengan Bian.


Aira Pov


Aku telah duduk di kursi ruangan, menunggu dia datang dihadapanku dengan baju tahanannya lengkap dengan borgol di pergelangan tangannya. Dan, tak lama dia datang diantar oleh dua polisi pengawal. Dia tersenyum begitu melihat aku duduk menunggunya. Kali ini, tidak ada pembatas antara tahanan dan pengunjung. Melainkan hanya ada meja dan kursi.


"Hai" sapanya membuatku muak.


"Aku mau to the point aja. Terlalu males untuk ngobrol lama-lama sama narapidana kayak kamu!"


"Kenapa kamu tiba-tiba menyerahkan diri?"


"Kenapa juga kamu bawa-bawa namaku didepan wartawan tadi?"


"Emangnya aku ada sangkut pautnya dengan ini? Enggak kan?"


"Bukannya ini mau kamu? Waktu itu kamu juga memintaku meneteskan darah ditanganmu agar kamu mau maafin aku"


"Bukannya ini hal yang sama dengan aku mengakui semua perbuatanku dan ditahan, kamu akan jadi milikku?" -Bian


"Siapa bilang begitu?"


"Aku nggak ada nyuruh kamu buat menyerahkan diri"


"Aku juga nggak ada sangkut pautnya sama sekali!"


"Dan kalau memang kamu berniat menyerahkan diri, serahkan diri kamu atas nama kebenaran dan keadilan, bukan karena aku ataupun yang lain!"


"Jadi, walau aku udah melakukan sejauh ini sampai rela ditahan mengakui perbuatanku yang padahal aku bisa aja nggak ngaku karena semua koneksi yang ayahku punya, kamu tetep nggak menerima aku, GITU?!" Bian mulai meninggikan nada bicaranya.


"Koneksi? Ayah kamu?"


"Jadi selama ini kamu menutupi kasus yang melibatkan Shinta ini dengan KONEKSI ayah kamu itu?"


"Lagipula, kamu nggak ngaku semuanya tuh!"


"Kamu bohong kan soal motif pembunuhannya?!"


"Bukan itu kan motif yang sebenarnya?!"


"Kamu tahu nggak, dibalik perlakuan kamu ada orang yang tersiksa karena merasa bersalah!. Dia merasa kalau dia sudah membunuh temannya sendiri! Dan dengan enaknya kamu terbebas dari kasus ini dengan KONEKSI ayah kamu itu?!"


"CUIH! Dasar manusia biad*b!" ucapku lalu beranjak pergi.


"AIRAAA!" Bian menahan tanganku.


"Tunggu aku sampai aku keluar dari sini. Aku akan buktiin kalo aku bener-bener serius sama kamu!" katanya.


"Cih! Kita nggak akan pernah ketemu setelah ini!" aku benar-benar pergi meninggalkannya.


Begitu keluar, Henna dan mbak Indah memasang raut wajah bertanya-tanya dengan apa yang terjadi didalam tadi karena melihat aku yang berwajah kusut begitu keluar darisana.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Henna.


"Hufffffhhhh...." aku hanya menghembus nafas kasar.


"Nanti aja ceritanya, aku pengen pulang sekarang" ucapku lesu.


"Beberapa hari ini hati-hati ya, jangan keluar dulu, atau kalau memang mau keluar pakai masker atau apapun itu biar nggak ada yang tay. Karena bisa aja wartawan ngejar kamu karena kejadian tadi" nasehat mbak Indah.


"Iya mbak, makasih ya mbak" ucap Henna.


"Besok, diadakan reka ulang adegan. Kalau kamu mau dan bisa, kamu boleh datang. Tapi, tetep hati-hati sama wartawan ya, apalagi sama Bian bisa-bisa kalau dia liat kamu datang kejadian tadi keulang"


"Sebenarnya bahaya juga sih buat kamu kalau kamu datang. Mending nggausah ajadeh"


"Aku bakal dateng kok mbak"


"Yakin kamu Ai?" -Henna.


"Pokoknya hati-hati ya. Besok telepon aku aja"


Aku mengangguk mengerti.


Sepulangnya dari rumah, aku membaringkan tubuhku diatas kasur dengan jaket yang masih kupakai. Pikiran masih tertuju dengan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Kejadian-kejadian itu cukup mengejutkan dalam hidupku. Bagaimana tidak? Ternyata aku bersanding dengan pembunuh? Ah, tidak! Mungkin psikopat lebih tepat.


Ini bener-bener gila! Memori otakku nggak bisa mencapai pemikiran ini. Ada dua pelaku pembunuhan disekitarku, disekolahku dan bahkan aku dekat dengan mereka.


Author Pov


Seorang pria paruh baya membanting pintu mobilnya dengan keras begitu sampai ditempat tujuannya. Pria itu ditemani dengan dua orang lainnya yang sepertinya dua orang itu asistennya. Pria itu masuk kantor dengan raut wajah yang serius. Tatapan tajam, senyuman tidak terlihat, dahinya terus mengerut, serta dadanya yang dibusungkan ketika berjalan menampilkan kesan "Sombong".


Pria itu telah masuk ke dalam ruangan sementara dua asistennya dipinta untuk menunggu diluar saja. Pria itu duduk di kursi yang sudah disediakan, menunggu seseorang yang datang menemuinya.


Orang yang ditunggunya telah datang, diantar oleh dua polisi yang mengawal. Orang yang tangannya diborgol itu seketika menundukkan kepala ketakutan setelah tahu orang yang menunggunya itu. Tubuhnya seketika gemetar seolah tahu pria yang menunggu itu akan melakukan sesuatu padanya.


"A...ayahh...?" ucapnya ketakutan.


"Sini!" pria yang diketahui ayah Bian itu menggerakkan tangan mengisyaratkan Bian untuk mendekat.


Dengan rasa takut, Bian mendekat perlahan.


Bug!


Perut Bian ditendang lumayan keras oleh ayahnya.


"Maksud kamu menyerahkan diri itu apa?"


"Berasa pahlawan? Hah?"


Bug!


Kaki Bian ditendang.


"Arrgghh! Ng....nggak yah"


"Nggak tau perjuangan ayah mengharumkan nama baik? Hah?!"


"Dasar anak nggak berguna!"


Bug!


Bug!


Bug!


Berkali-kali Bian dipukul oleh ayahnya.


"A...am..ampun yah... Ampun...." keluhnya.


"ARRGGHHH!"

__ADS_1


"Mulai sekarang, jangan panggil aku 'AYAH', NGERTI?!"


__ADS_2